Spinn Off cerita dari Vira dan Firlan dari novel "Pesona Cinta Amartha". Kelakuan Vira yang seperti bocil dan sifat keras Firlan membuat hubungan cinta keduanya semakin sulit untuk dilanjutkan ataupun diakhiri. Kehadiran Gusti yang notabene duda beranak satu pun semakin memperkeruh suasana. Bagaimana akhir cerita dari Vira dan Firlan? apakah mereka akan bersatu dalam satu ikatan perkawinan? ataukah mereka memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Yang Membuat Ragu?
Saat ini Firlan tersenyum penuh kemenangan, sedangkan pria tadi sudah pergi. Vira hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd Firlan yang bukan kali pertama mengaku-ngaku sebagai suaminya.
"Astaga, apa nggak ada cara lain selain mengaku sebagai suami? suwer, nyebelin banget!" batin Vira yang menatap Firlan dengan tatapan sinisnya.
"Kenapa? kenapa kamu liatin aku kayak gitu?" tanya Firlan merasa aneh dengan tatapan Vira padanya.
"Senyum-senyum sendiri, kayak orang aneh!"
"Aku aneh juga karena mu, cinta!" jata Firlan yang garing.
"Kamu udah bener-bener nggak tertolong!" sindir Vira.
"Ya sebagai lelaki aku harus dong mempertahankan milikku yang mau diserobot orang. Aku paham mata-mata lelaki, Vira. Dia tertarik sama kamu, dan aku nggak akan biarin itu..." ucap Firlan yang mengarahkan sendok yang dipegang Vira yang berisi gellato ke mulutnya.
"Kamu itu manis kayak gellato ini, jadi aku harus selalu waspada!" lanjut Firlan menunjuk gellato dalam gelas kaca.
"Terserahlah..." Vira malas berdebat dengan Firlan.
"Aku mau nyari mama sama papa, aku mau ajak pulang ke kontrakan aja..." kata Vira tiba-tiba mencari orangtuanya.
"Vira, minggu depan aku ajak kamu ketemu sama ibu, ya?"
"Ibu siapa?" tanya Vira.
"Ibu ku lah, emangnya ibu siapa lagi?" kata Firlan.
"Belum siap," kata Vira yang sudah pasti menolak, karena sebenarnya dia takut menghadapi yang namanya calon mertua.
"Belum siap apanya? kamu cukup ikut dan aku yang urus semua. Kamu nggak liat papa kamu udah ngarep banget aku jadi menantunya? masa kamu tega ngecewain papa kamu Vira?" bujuk Firlan.
"Cih pede banget. Apa tadi? ngarepin kamu jadi mantu?" Vira tertawa mendengar Firlan yang kini berubah jadi orang super pede sejagat raya.
"Kita melangkah ke jenjang yang lebih serius, apa sih yang kamu raguin dari aku, Vira? kalau buat memberi nafkah kamu, aku udah sangat- sangat mampu. Tabunganku udah banyak, aku udah punya rumah mobil," Firlan menggebu.
"Astaga, emang aku sematre itu?" celetuk Vira.
"Lalu yang bikin kamu ragu itu apa? aku serius banget tau sama kamu, Vira..." ucap Firlan seraya menggengg tangan kekasihnya.
"Aku emang nggak matre, tapi seenggaknya kamu modal dikit. Masa iya ngelamar aku di kawinan orang? yang bener aja," sindir Vira.
"Jadi? kamu setuju kalau aku lamar?" tanya Firlan.
"Bisa jadi," kata Vira cuek.
"Maaf maaf, Ay. Aku ngerusak moment kita dengan ngomong disini," kata Firlan yang senang mendapat respon seperti itu dari Vira.
Sementara Vira hanya tersenyum tipis.
"Aku nggak ngerti, tapi biarkan semua mengalir apa adanya..."batin Vira.
Sedangkan senyum Firlan jelas terlukis di wajahnya ketika mengetahui kalau Vira bersedia untuk bertemu dengan ibunya.
"Aku akan kenalin kamu sama ibu, aku yakin ibu bakalan suka sama kamu, Vir. Dan akan aku buat ibu merestui hubungan kita..." ucap Firlan dalam batinnya.
"Aku mau nyari mama papa," kata Vira yang kemudian beranjak dan mengambil dompetnya.
"Aku temani," kata Firlan yang juga berdiri merapikan jasnya lalu menggandeng Vira untuk menembus sekumpulan orang-orang yang sedang menikmati pesta.
"Mana ya?" gumam Vira yang belum menemukan Raharjo maupun Dewi.
"Coba kamu telfon," kata Firlan.
"Berisik banget mana dengar," kata Vira.
"Ya udah kita cari pelan-pelan, nanti juga ketemu..." kata Firlan yang mengajak Vira untuk berkeliling.
"Kok nggak ada ya? huh, capek..." kata Vira yang mulai lelah karena memakai high heels.
"Minum dulu," Firlan menyodorkan satu gelas minuman dingin saat mereka berdiri tepat di belakang stand khusus minuman.
Glek.
Glek.
Glek.
Vira yang kehausan langsung menyambar minuman yang Firlan berikan untuknya. Dan wanita itu menaruh gelas kosong diatas nampan pelayan yang kebetulan lewat.
"Apa mama sama papa udah nggak disini, ya?" tanya Vira pada Firlan.
"Kemungkinan, Ay! kita udah nyari sampai ke sudut-sudut nggak ada, coba kita keluar terus kamu telfon dulu deh..." usul Firlan, Vira mengangguk.
Firlan menggandeng Vira keluar dari ballroom, mencari tempat yang tenang untuk menelepon Raharjo.
Vira mengeluarkan ponselnya dan men-dial nomor Dewi.
"Halo, Maaa?" sapa Vira saat panggilan tersambung.
"Iya, Sayang..."
"Mama dimana? aku nyariin loh daritadi," tanya Vira.
"Mama sama papa ada di kamar hotel. Semalam waktu kami datang, Ricko memesankan kamar katanya supaya kami bisa langsung istirahat kalau capek saat pesta resepsi," jelas Dewi.
"Ooh, aku kira ada dimana. Kamar berapa, Ma? aku dan Firlan mau kesitu..."
"Kamar 250," sahut Dewi.
"Ya sudah, Vira kesitu ya, Maa..." ucap Vira.
"Iya, Sayang..." jawab Dewi sebelum panggilan telepon itu diputus oleh Vira.
"Mama sama papa ada di kamar 250 di lantai 5, kita kesana sekarang..." kata Vira pada Firlan.
"Apa nggak ganggu istirahat om dan tante?" tanya Firlan.
"Nggak lah, ganggu mah kalau orang lain. Kalau aku kan anaknya," ucap Vira.
Dan mereka berdua pun pergi menuju kamar yang ditempati Raharjo dan juga Dewi saat ini.
"Hati-hati, Viraaa..." Firlan mengingatkan saat mereka menaiki sebuah lift.
Firlan tak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun. Pria itu seakan tak memberi celah Vira untuk menjauh apalagi pergi darinya.
"Udah berasa ngalahin truk, gandengan mulu..." celetuk Vira menggoyangkan tautan tangan mereka.
"Sengaja, biar kamu nggak bisa kemana-mana..." sahut Firlan.
Dan...
Ting!
Pintu lift terbuka, Firlan mengajak Vira untuk keluar dari kotak besi itu. Mereka berjalan menyusuri lorong hotel.
"250!" gumam Vira saat menemukan kamar yang ditempati orangtuanya.
Firlan pun memencet bell yang ada di depan kamar itu.
Ceklek.
Pintu pun terbuka, dan memperlihatkan sosok Dewi yang masih mengenakan baju yang sama ketika ada di pesta.
"Mamaaaa..." Vira memeluk Dewi.
"Ayo, masuk dulu, Sayang..." kata Dewi yang menyuruh Vira untuk masuk.
"Masuk, Nak Firlan..." kata Dewi pada Firlan.
"Papaaa! Vira kangeeen..." ucap Vira pada Raharjo.
"Halah, kangen-kangen juga jarang pulang!" kata Raharjo yang mencubit hidung anaknya.
"Kan Vira sibuk cari uang," Vira beralasan.
"Duduk, Nak..." Dewi memoersilakan Firlan untuk duduk.
Vira pun duduk di samoing Firlan, sedanfkan Raharjo duduk di sofa single sedangkan Dewi duduk di tepi ranjang yang super besar itu.
"Jadi Mama sama Papa udah dateng dari semalem? dan nggak ngabarin Vira? Vira udah dicoret dari KK apa gimana nih? sampe-sampe, Mama sama Papa kesini aja Vira nggak dikasih tau?" Vira mulai cemberut, dia melipat tangan di depan dada.
"Hahahaha, idenya Ricko. Lagipula udah malem banget kita nyampenya..." ucap Raharjo.
"Sudah jangan cemberut, wajah kamu jadi jelek begitu, iya kan Nak Firlan?" kata Dewi yang menyindir Vira yang cemberut seperti anak-anak.
...----------------...
ceritamu selalu bisa bikin hati hanyut thor. semangat Thor ❤️