NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pertahanan Terakhir di Gerbang Tulang

Udara di depan gerbang Kota Tulang mendadak menjadi statis. Rambut-rambut halus di tengkuk Jiangzhu berdiri tegak saat ia merasakan gelombang energi yang luar biasa besar sedang dikompresi di kejauhan. Bau ozon dan belerang yang terbakar memenuhi indra penciumannya, menenggelamkan bau amis darah dari mayat-mayat yang berserakan.

Di ujung cakrawala pasir abu-abu, tiga buah struktur logam raksasa berbentuk silinder muncul di antara barisan ksatria cahaya. Itulah Meriam Penghancur Roh. Alat terkutuk yang diciptakan oleh para alkemis gila Sekte Cahaya Suci untuk menguapkan nadi spiritual siapa pun yang mereka anggap sesat.

"Bocah, kau harus menyingkir dari lintasan tembak itu sekarang!" Penatua Mo berteriak di dalam kepala Jiangzhu, suaranya dipenuhi ketakutan yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Sekali tembak, tubuhmu akan hancur menjadi debu energi!"

Jiangzhu tidak bergeming. Ia berdiri tepat di tengah gerbang tulang raksasa, pedang hitamnya ditancapkan ke tanah, kedua tangannya bertumpu pada gagangnya yang retak. Ia bisa merasakan tatapan ibunya dan Awan dari balik jendela menara, sebuah beban yang lebih berat dari gunung mana pun, namun juga menjadi sumber kekuatan yang tidak masuk akal.

"Jika aku lari, kota ini akan rata dengan tanah. Ibu akan tertangkap lagi," desis Jiangzhu. Bibirnya yang pecah-pecah mengeluarkan darah segar yang segera ia telan kembali. "Aku sudah selesai dengan urusan melarikan diri."

Di barisan musuh, seorang ksatria dengan jubah putih panjang mungkin seorang Uskup Tinggi mengangkat tangannya. "Target terkunci. Nyalakan api pemurnian!"

Zzzzztttt!

Tiga meriam itu mulai bersinar dengan cahaya biru keputihan yang sangat menyilaukan. Suara dengingannya begitu tinggi hingga membuat telinga Jiangzhu berdarah. Udara di sekitar meriam mulai terdistorsi karena panas yang dihasilkan.

"Akan kutunjukkan pada kalian... apa yang terjadi jika kau mencoba memadamkan api dengan minyak," gumam Jiangzhu.

Ia memejamkan mata, membiarkan Segel Tiga Dunia di dadanya berputar ke arah yang berlawanan. Ia tidak lagi mencoba menahan energi Iblis atau energi Langitnya. Kali ini, ia membiarkan keduanya bertabrakan dengan sengaja di dalam nadinya. Rasa sakitnya luar biasa seperti ada ribuan pisau panas yang saling beradu di dalam pembuluh darahnya.

Sinkronisasi Darah Raja Iblis: 35%

Peringatan: Kerusakan Sel Tubuh Permanen Terdeteksi!

"Lakukan saja!" raung Jiangzhu.

BOOM! BOOM! BOOM!

Tiga berkas cahaya raksasa melesat dari meriam, membelah pasir abu-abu dan menciptakan parit api yang membara. Cahaya itu meluncur secepat kilat ke arah gerbang kota.

Jiangzhu tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap memegang pedang. Sebuah pusaran hitam-ungu raksasa terbentuk di depan telapak tangannya. Itu bukan perisai, melainkan sebuah Lubang Hitam Esensi.

Saat cahaya penghancur roh itu menghantam pusaran Jiangzhu, suara ledakan yang memekakkan telinga bergema hingga puluhan mil. Seluruh Kota Tulang bergetar hebat. Beberapa bangunan runtuh karena gelombang kejutnya.

Jiangzhu meraung kesakitan. Kulit di lengan kirinya mulai mengelupas, memperlihatkan daging merah yang mulai menghitam. Namun, keajaiban terjadi. Alih-alih meledak, energi dari meriam itu mulai tersedot ke dalam tubuh Jiangzhu melalui pusaran tersebut.

"Dia... dia memakan serangan meriam?" Uskup Tinggi di kejauhan terbelalak, wajahnya yang sombong kini dipenuhi horor murni. "Itu tidak mungkin! Tubuh manusia seharusnya hancur!"

Jiangzhu merasakan tubuhnya seperti akan meledak. Energi cahaya yang murni memaksa masuk ke dalam nadinya yang dipenuhi kegelapan. Ia merasa seolah-olah jiwanya sedang disobek menjadi dua bagian.

"Ibu... berikan aku... kekuatanmu!" batin Jiangzhu berteriak.

Dari arah menara, sebuah sinar biru jernih melesat keluar, menembus punggung Jiangzhu. Itu adalah energi dari Awan yang menggabungkan kekuatannya dengan doa dari Dewi Ling'er. Energi biru itu berfungsi sebagai penstabil, seperti air dingin yang disiramkan ke logam yang membara.

Jiangzhu membuka matanya. Seluruh pupil matanya kini berubah menjadi perak berkilau.

"Kembalikan pada pemiliknya!"

Jiangzhu mengayunkan pedang hitamnya dalam satu putaran penuh. Seluruh energi cahaya yang ia serap tadi dilepaskan kembali dalam bentuk gelombang sabit raksasa yang berwarna ungu-perak.

SRAAAKKKK!

Gelombang itu menyapu padang pasir dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata. Barisan ksatria cahaya di depan bahkan tidak sempat berteriak. Zirah perak mereka meleleh seketika. Tiga meriam raksasa itu terpotong menjadi dua seperti mainan kayu, lalu meledak hebat, menciptakan awan jamur api yang membumbung tinggi.

Hening.

Padang pasir yang tadinya dipenuhi ksatria sombong kini hanya menyisakan kawah-kawah berasap dan potongan logam yang mencair. Jiangzhu berdiri di tengah-tengah kehancuran itu, napasnya terdengar seperti suara mesin yang rusak. Lengan kirinya kini lumpuh total, tergantung lemas dengan asap tipis yang keluar dari pori-porinya.

"Satu jam..." bisik Jiangzhu, menoleh ke arah menara. "Tabib... aku sudah memberikanmu... waktu."

Yue muncul dari balik gerbang, wajahnya pucat pasi melihat pemandangan pembantaian di depannya. Ia belum pernah melihat kekuatan seperti ini di tangan seorang pemuda yang baru saja bangkit dari kematian.

"Jiangzhu... kau gila," Yue mendekat dengan hati-hati. "Kau baru saja menghapus satu resimen penuh dengan tangan kosong."

Jiangzhu tidak menjawab. Ia jatuh berlutut, pedangnya menjadi satu-satunya penyangga agar wajahnya tidak mencium pasir yang panas. Ia menatap ke arah utara, di mana badai pasir yang lebih besar mulai mendekat.

"Ini belum selesai," gumam Jiangzhu parau. "Mereka akan mengirim yang lebih kuat. Kita harus... pergi sekarang."

Yue segera memapah Jiangzhu. Tabib Gu Mo keluar dari menara sambil menggendong Dewi Ling'er yang sudah tertidur karena pengaruh ramuan, diikuti Awan yang memegang tas obat-obatan.

"Lewat sini! Ada terowongan bawah tanah yang menembus hingga ke perbatasan Lembah Bayangan!" Gu Mo memimpin jalan dengan langkah cepat yang tidak terduga untuk orang tua bungkuk.

Saat Jiangzhu memasuki terowongan, ia sempat menoleh ke arah gerbang Kota Tulang untuk terakhir kalinya. Kota yang telah memberinya tempat berteduh sementara itu kini menjadi saksi bisu atas sumpahnya.

Aku tidak akan berhenti sampai matahari di dahi mereka padam oleh darah mereka sendiri, janji Jiangzhu dalam hati.

Kegelapan terowongan menelan mereka, membawa sang Penghubung Tiga Dunia menuju babak baru yang lebih berdarah di Benua Barat.

Jiangzhu bisa merasakan sisa-sisa energi listrik dari meriam tadi masih menari-nari di ujung sarafnya, memberikan sensasi gatal yang menyakitkan di bawah kulitnya yang mulai menghitam. Ia mencoba mengepalkan tangan kirinya, namun yang ia dapatkan hanyalah getaran hebat dan bunyi krek yang tumpul dari tulang sendi yang bergeser. Bau daging terbakar darinya sendiri menyengat hidung, bercampur dengan aroma ozon yang menyesakkan dada.

"Berhenti menatapku seolah-olah aku akan hancur jika kau menyentuhku," desis Jiangzhu ke arah Yue yang berdiri mematung di sampingnya. Suaranya pecah, lebih mirip suara gesekan logam berkarat daripada ucapan manusia. Ia meludah, gumpalan darah yang kini lebih mirip aspal cair keluar dari mulutnya, meninggalkan rasa logam yang tajam di pangkal tenggorokan.

Yue menelan ludah, matanya menatap kawah-kawah berasap di depan gerbang kota. "Kau baru saja membakar setengah dari resimen elit mereka, Jiangzhu. Kau tidak hanya membunuh mereka; kau menghapus keberadaan mereka. Langit tidak akan pernah melupakan ini."

"Bagus," gumam Jiangzhu sinis, kakinya gemetar saat ia mencoba melangkah. "Biarkan mereka mengingat namaku setiap kali mereka menatap matahari. Aku ingin mereka tahu bahwa kegelapan yang mereka buang kini sedang merayap kembali untuk mencekik leher mereka."

Ia menoleh ke arah Awan yang sedang mendekat dengan langkah ragu. Gadis kecil itu menatap tangan Jiangzhu yang hangus dengan mata yang berkaca-kaca. Jiangzhu segera menyembunyikan tangan kirinya ke balik jubah yang sudah robek-robek. Ia tidak ingin gadis itu melihat seberapa besar harga yang harus ia bayar untuk sebuah kemenangan.

Bocah, jika kau tidak segera masuk ke terowongan itu, sisa energi 'Cahaya' di tubuhmu akan meledakkan nadimu dari dalam, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar sangat letih. Kau sudah meminjam kekuatan yang bukan milikmu. Sekarang, bayarlah bunganya sebelum nyawamu disita.

Jiangzhu mengangguk pelan, setiap gerakan kepalanya terasa seperti ada pisau yang menusuk otaknya. Ia menyeret pedang hitamnya di atas pasir yang kini berubah menjadi kaca akibat panas ledakan. Bunyi decit pedang di atas permukaan kaca itu terdengar seperti jeritan jiwa-jiwa yang baru saja ia kirim ke neraka. Di Benua Barat ini, tidak ada pahlawan, yang ada hanyalah mereka yang mampu berdiri paling lama di atas tumpukan mayat. Dan Jiangzhu bersumpah, ia akan menjadi orang terakhir yang tetap berdiri.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!