"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Opsi Istimewa.
Bumi Aksara menatap layar hitam pekat yang melayang di depan matanya. Dua pilihan yang diberikan sistem terasa seperti dua bilah pedang yang sama-sama mengarah ke lehernya sendiri.
[ Opsi A: Selamatkan sahabatmu dan hadapi ledakan.
Opsi B: Biarkan gedung runtuh dan serap energi kematian. ]
"Serap energi kematian?" Bumi tertawa getir, "Kalian menyebut diri kalian 'pelindung', tapi kalian tidak lebih dari sekadar iblis yang haus darah."
Bumi kembali menatap jendela lantai tiga, tempat Genta masih terlihat berjuang melawan ketakutan saat puluhan monster tampak semakin mendekat.
"Ayo kita mulai..." Bumi bergumam, aura ungu di sekujur tubuhnya meledak, menghancurkan aspal di bawah kakinya hingga retak sedalam sepuluh sentimeter. "Aku tidak akan memilih opsi yang kalian berikan. Aku akan membuat opsiku sendiri!" katanya dengan datar.
[ Peringatan! Detonasi dalam 10 detik... ]
Bumi tidak melompat ke arah pintu depan yang dijaga ketat. Ia justru berlari ke arah tiang listrik besar di pinggir jalan. Dengan kecepatan yang ia miliki, pemuda itu memanjat nya hanya dalam dua detik. Saat berada di puncak, ia melihat kabel-kabel tebal yang terhubung langsung ke atap apartemen.
"Structural Decay!"
Bumi tidak menghancurkan tiang itu, melainkan memanipulasi struktur kabel baja tersebut agar menjadi kaku seperti jembatan.
Lalu tanpa di duga Ia melesat di atas kabel, melewati barikade militer yang masih sibuk dengan detonator mereka.
"Ada penyusup di atas kabel! Tembak!" perintah Komandan militer.
RATATATATATA!
Peluru-peluru berdesing di sekitar telinga Bumi. Salah satu peluru menyerempet bahunya, namun kekuatan fisik yang mulai meningkat, membuatnya hanya terasa seperti disengat lebah.
Pemuda itu melompat dari kabel, menembus kaca jendela lantai tiga tepat saat monster parasit itu hendak menancapkan cakarnya ke tenggorokan Genta.
PRANGGG!
"Bumi?!" Genta berteriak, matanya membelalak tak percaya.
Bumi hanya melirik sekilas, dan tersenyum tipis. Kemudian dengan cepat menyambar kerah baju Genta dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya yang bersinar ungu menghantam kepala monster parasit itu hingga meledak menjadi serpihan debu organik.
"Pegang erat-erat tanganku, Genta! Jangan pernah lepaskan, apapun yang terjadi!"
[ Detonasi dalam 3... 2... 1... ]
BOOOOOOMMMMMMM!
Lantai dasar apartemen meledak. Kekuatan C4 yang dipasang militer meruntuhkan fondasi utama gedung. Bumi merasakan gravitasi menarik mereka ke bawah. Gedung itu mulai miring, semen dan besi mulai berjatuhan.
Dalam detik-detik kematian itu, Bumi mengaktifkan [ Structural Decay ] bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mencari _jalur distribusi beban_. Ia menyentuh dinding kamar Genta.
"Jika aku bisa menghancurkan titik tekanannya tepat waktu, kita bisa meluncur bersama reruntuhan ini!" pikir Bumi gila.
Ia menghantamkan tinjunya ke sudut pilar kamar. Detik itu juga pilar hancur lebur, menyebabkan lantai tempat mereka berdiri tidak runtuh secara vertikal, melainkan meluncur miring seperti seluncuran raksasa di tengah debu dan api.
SRAAAKK! BUG!
Bumi dan Genta terhempas ke tumpukan puing di luar zona ledakan utama. Debu tebal menyelimuti penglihatan mereka, membuat ke duanya langsung terbatuk-batuk, paru-parunya terasa dipenuhi semen kering.
Dengan panik, Bumi segera memeriksa keadaan Genta. Untung saja sahabatnya itu hanya pingsan.
[ Misi Darurat Selesai: Anda memilih Opsi A.
Pencapaian Unik Terdeteksi: 'Defying the System' (Menentang Sistem).
Hadiah: Peningkatan Skill Structural Decay menjadi Tingkat 2.
Bonus: Hubungan dengan Target 'Genta' terkunci sebagai 'Bound Fate'.
Melihat layar itu, Bumi tersenyum tipis dengan mencoba berdiri, namun berulang kali oleng sebab kakinya terasa lemas.
Di depannya, melalui kabut debu yang mulai menipis, ia melihat beberapa bayangan manusia mendekat. Mereka adalah... Unit Pembersihan.
"Target terdeteksi di koordinat runtuhan. Masih hidup," suara dingin itu terdengar.
Kapten Yudha muncul dari balik debu, pedangnya yang sempat retak oleh Bumi kini telah diganti dengan pedang baru yang memancarkan aura elektrik yang jauh lebih kuat.
"Luar biasa," Yudha menatap Bumi dengan pandangan sinis. "Kau mempertaruhkan nyawamu untuk sampah non -peringkat ini? Kamu punya potensi untuk menjadi dewa di dunia baru ini, Bumi. Tapi mentalitasmu masih mentalitas seorang kasir yang peduli pada recehan."
Bumi perlahan berdiri, meletakkan tubuh Genta yang tak sadarkan diri di balik bongkahan beton besar. Ia menyeka darah dari bibirnya dan menatap Yudha dengan sorot tajam menyimpan emosi yang hampir saja meledak.
"Recehan, katamu?" suara Bumi terdengar rendah, bergetar karena energi Master yang mulai tidak stabil. "Orang-orang yang kalian sebut sampah ini adalah salah satu alasan kenapa dunia ini dulu layak ditinggali. Sedangkan, Kalian... kalian hanyalah parasit yang mengenakan seragam. Cuih!"
Yudha mengangkat pedangnya. "Cukup! Persetan dengan omong kosongmu itu. Aku diperintahkan untuk membawamu hidup-hidup, tapi jika kau terus keras kepala, membawa mayatmu pun seperti nya tidak masalah. Poin yang aku dapatkan tetap sama." lanjut pria itu sedikit memiringkan kepala.
Setelah mengatakan itu, Yudha langsung melesat. Kali ini kecepatannya jauh lebih gila. Pedang elektriknya menebas udara, menciptakan sisa bayangan biru.
Bumi mengaktifkan [ Structural Decay - Tingkat 2 ]. Ia tidak lagi hanya menyentuh benda. Ia menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras.
"Area... Decay!"
Seketika, radius tiga meter di sekitar Bumi bergetar hebat. Puing-puing beton di bawah kaki Yudha hancur menjadi pasir dalam sekejap, membuat pijakan sang Kapten goyah. Yudha tergelincir sesaat, serangan pedangnya meleset hanya beberapa milimeter dari leher pemuda itu.
Bumi menggunakan kesempatan tersebut untuk menghantamkan belati militernya ke arah celah zirah Yudha di bagian ketiak.
Clang!
Yudha menangkisnya dengan gagang pedang, namun ia terkejut merasakan kekuatan fisik Bumi yang melonjak drastis. "Kau... levelmu naik lagi?! Mana mungkin!"
"Aku baru saja menyadari sesuatu, Kapten," Bumi berbisik di telinga Pria itu saat mereka saling beradu tenaga. "Kalian bisa memonopoli senjata, kalian bisa memonopoli Iron Cage... tapi kalian tidak bisa memonopoli rasa sakit yang kalian berikan pada kami."
Bumi melepaskan satu tangan dari belatinya dan menyentuh dada zirah Yudha.
"Hancur!!!"
KRETEK!
Zirah baja kelas militer itu pecah berkeping-keping. Yudha terlempar ke belakang begitu saja, dadanya memar hebat. Pria itu beberapa kali terbatuk keras dengan menatap Bumi dengan pandangan mata yang begitu jelas menahan amarah dan ketakutan.
Yuda mengusap sisa darahnya dengan punggung tangan,
"Semua unit! Tembakkan gas penahan energi! SEKARANG...!"
***