NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Akting? Sandiwara! Too real...

*HALO! HAPPY YOU THERE, NICE DAY AND HAPPY RIGHT? SO LET'S DOING AGAIN! WITH OUR FAVORITE... YANG SUKA SAMA ARKAN, TOLONG DIKENDALIKAN... *JUJUR AUTHOR GA NYAMAN BUAT THIS CHARACTER... 🙄*

HAPPY READING! 🧋

Mobil Rolls-Royce Phantom milik Arkan sudah keluar dari halaman rumah, melihat dari kejauhan—Aluna dengan mata sembapnya menyentuh lehernya sendiri, ancaman tadi benar-benar halus tapi bisa membuat mental siapapun jatuh.

'Aku adalah barang, aku bisa dibeli dengan mudah... Mungkin benar kata mas Arkan, aku itu adalah wanita murahan—gampang dibeli dengan uang, '

Ia terasa tercekik disini, berkali-kali mencoba berdiri tetap saja pahanya serasa gemetar hebat. Ia mengusap wajah pelan, berjalan sendirian—linglung entah akan pergi kemana, menyusuri lorong mansion.

Saat fokusnya terus ke bayangan kakinya, ia secara tak sengaja malah menabrak, dahinya membekas karena menabrak garis-garis pintu. Aluna mengelus jidatnya—ia melihat sebuah pintu cokelat yang tidak bisa dibuka. Dari keseluruhan pintu yang ada, entah mengapa matanya malah tertarik diruang ini, seolah ada sesuatu yang ingin Aluna ketahui dari sini.

'Ini ruangan apa... Aku penasaran, '

Tangannya perlahan mengelus engsel pintu, ia memutar pelan dengan jantung berdebar—bagaikan ia takut kepergok takut berpikir macam-macam karena sembarangan membuka pintu. Untung saja pintu dikunci, Aluna mengelus keringat tak lagi takut.

"Nyonya! "

"Eh! Iya! "ia terperanjat, sama sekali tak menduga bahwa ada wanita datang menegurnya, dari blus putih, dan rok panjang Navy—Aluna ingat bahwa pakaian yang dipakai wanita didepannya sama persis seperti pembantu lain. Hanya saja rok mereka pendek semua.

"Tolong jangan sembarangan nyonya, tidak boleh masuk sembarangan. " tutur bu Lastri, dengan lembut tapi bila didengar betul-betul wanita itu seperti marah-marah padanya.

Aluna yang sudah bisa dibentaki langsung menunduk, ia seperti berhadapan dengan bos di pekerjaan lamanya. "Ma—maafkan saya bu... Tidak akan saya ulangi lagi. "

"Kenapa kamu disini nyonya? Tolong duduk dengan anteng, kamu bisa duduk di mana saja asal jangan mondar-mandir lagi. Saya tadi melihat kamu bingung sendiri, kenapa? Ada yang kamu butuhkan? " tanya bu Lastri, yang secepatnya wanita itu tanggap dengan gelengan kepala. Setelah selesai memberitahu, lantas Bu Lastri meluncur pergi menjauh.

...****************...

Di kala Aluna membaca majalah fashion yang bertumpuk diatas coffe table. Melihat kecantikan seorang model memukau—sejenak terbesit rasa iri dalam hati Aluna. 'Cantik sekali, kalau aku secantik ini apakah ada yang mencintaiku? ' gumamnya kecil hati.

Didepan pintu mansion, seorang wanita berjalan meliuk-liuk sambil ditangan kirinya memegang handbag yang bisa dilihat dari kejauhan saja miliknya adalah barang mewah luxury brand.

"Oh akhirnya, I get you... Dasar miskin, "

"Miskin sepertimu, cuih... Jelek sekali, kenapa Arkan bisa menyukaimu? Kau itu juga bukan orang penting, " kata wanita itu pedas, dia datang tanpa salam—sekali tiba langsung membuat lawan ciut.

"Siapa kamu—"

"Kenalin, aku Sinta—sepupu Arkan yang jelas kekayaannya ini gak seharusnya dibagikan kepada orang rendahan sepertimu... ups. "

"Sakit ya? Maaf deh, "

Aluna berdiri, siapa yang tak sakit hati bila terus diejek? 'Bahkan sepupu mas Arkan sebelas dua belas dengannya, apa semua anggota keluarganya seperti ini? '

Sinta melempar handbagnya ke sofa, dia melirik sinis ke arah majalah yang baru saja dibaca oleh Aluna. Menjapit ujung majalah dengan kuku panjangnya, Sinta membuang salah satu majalah yang baru Aluna buka ke tong sampah tak jauh dari mereka.

"Apa yang kamu lakukan—"

"Terserah ku dong, kenapa? Mau ngelawan? Kalau nanti orang-orang kena bakteri karena dirimu bagaimana? Sebelum sakit lebih baik dicegah. "

Ia sakit hati, bukan lagi panas dada—tapi sudah merasa harus melawan, namun tangannya diangkat dengan jijik oleh Sinta.

"Oh My God, aku tau... pasti dirimu dan Arkan sedang bersandiwara kan untuk mendapat hati kakek? Pernikahan yang diadakan secara mendadak ini very suspicious"

Aluna mengepal tangan erat, napasnya bergejolak bak samudera pasang. "Jangan menuduh kalau anda tidak tau tentang kami—"

Wanita itu tak mau kalau ia hanya menjadi istri kontrak saja, ia tak mau bila hanya karena sepupunya Arkan bisa membuatnya lemah dengan mudahnya.

"Ah seriously?! Jawab jujur aja kenapa susah sih, "

"AKU BILANG TIDAK YA TIDAK! —"

"Aku dan mas Arkan adalah pasangan yang ideal, bagiku yang mungkin anda kira aku hanyalah orang yang tinggal di tempat kumuh pasti sangat menjijikkan! Namun, tidak bagiku. Mas Arkan memilihku karena dia mencintaiku apa adanya tanpa memandang apapun dengan sangat tulus, kakek juga sudah merestui! "

"HAH?! Gak masuk akal! Dari dulu hanya aku yang tau apa yang Arkan suka, dan pasti orang itu sangat-sangat benci dengan kotoran! "

Aluna menarik nafas keras, sudah dibilang masih ngeyel—walaupun ia berbohong mengatakan kalau pria itu mencintainya, jelas itu hanyalah sandiwara belaka saja. Ia juga tak berharap pria itu benar-benar akan mencintainya.

"Gak! Aku ga Terima!! " Teriak Sinta, suara pekikannya melengking tajam, menusuk gendang telinga.

Sampai-sampai Aluna menutup kedua telinga saking kerasnya lengkingan Sinta.

Wanita yang didera iri hati itu masih tak terima. Dengan kasar, ia menyenggol bahu Aluna hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Belum sempat Aluna bereaksi, tangan Sinta telah menyambar gelas berisi jus jeruk buatan Bu Lastri, lalu tanpa ragu diguyur tepat di atas kepala Aluna. Cairan lengket itu membasahi rambut hingga merembes ke seluruh dress pendek yang dikenakannya.

"Ah—" Aluna sesak sendiri dibuatnya, ia mengelap wajahnya nampak tak percaya dengan perlakuan apa yang baru saja dia Terima.

Di bawah naungan pilar marmer yang menjulang di teras mansion, Arkan berdiri dengan raut masam.

Sosok paling disiplin sedunia itu baru menyadari ada dokumen penting yang tertinggal di rumah, ia kembali kesini secepatnya.

Sambil melirik arloji di pergelangan tangannya, ia memastikan setiap detik tidak terbuang sia-sia. Namun, saat ia melangkah kembali ke dalam, langkahnya mendadak terhenti.

Arkan berdiri mematung, matanya menatap tajam pemandangan kacau di hadapannya. Arkan melangkah tenang.

Ia menepuk bahu sepupunya, lalu dengan gerakan cepat, ia mengambil gelas yang masih berada di genggaman jemari Sinta.

​"Kenapa kau ke mari?" tanya Arkan, suaranya rendah dan sedikit mengintimidasi.

​"Oh, akhirnya datang juga! Lihat wanita jalang ini, Arkan!" seru Sinta dengan wajah memerah. "Dia bilang kau sangat mencintainya. Aku sama sekali tidak percaya! Pasti kalian hanya mengarang hal-hal omong kosong agar Kakek semakin mencintaimu kan?!"

​Arkan tidak membalas cercaan itu dengan kata-kata.

Ia hanya melemparkan tatapan tajam yang membuat nyali Sinta seketika menciut. Sedetik tanpa jawaban, Arkan justru berbalik, menghampiri Aluna yang masih terduduk di lantai, lalu mengulurkan tangannya dengan lembut—tak seperti sifat asli pria itu.

​"Pergi." ucap Arkan dingin tanpa menoleh.

"Jika tujuanmu di sini hanya untuk mengusik istri tersayang saya, lebih baik kau melenggang pergi sekarang juga."

​"Ap—kau?!" Sinta melotot. Ia tak menyangka Arkan akan membela si miskin itu di depannya. Sinta mengepal tangan erat, matanya menyalang penuh kebencian menatap pemandangan di hadapannya.

"Masih bicara? Atau ku panggil orang untuk membawamu pergi? "

"Arkan—kau ini! Ti—tidak mungkin, pasti wanita ular itu menghasutmu dengan sesuatu kan! Dulu kau selalu bilang padaku kalau dirimu tak akan menikah dengan orang miskin!! Dasar munafik! "

Mendapat celaan seperti itu, dia terdiam tak menjawab. Tangan dingin Arkan yang memegangnya, terasa hangat untuknya.

Entah mengapa pipinya bersemu memerah.

"I—itu juga salah dia Arkan! Dia tadi juga membentak ku! Aku tak suka di bentak! Apalagi dengan orang miskin—" bela Sinta mencari kebenaran. Namun jelas saja, pasti dimata siapapun nampak pria itu sedang tergila-gila dengan istrinya hingga dibela mati-matian. Seolah Sinta tak lagi diberi ruang, dia berdecak kesal dan terpaksa pergi dari sana meninggalkan keduanya yang seperti benar-benar saling mencintai.

Setelah kepergian Sinta, mata pria itu menukik ke bawah. "Kenapa diam saja? Mau tunggu pahlawan datang? "

"Ti—tidak bukan begitu mas, tadi dia dorong aku seenaknya—"

"Jangan buat alasan! Kau tau kalau bermasalah dengan sepupu saya kau bisa mendapat masalah! Kenapa tidak diam saja, dan jangan melawannya! Bikin repot saja. "

Aluna mengepal tangan erat, kini hatinya tak lagi berdebar karena malu setelah dipegang tangannya. Ia seakan lupa dalam sekejap bagaimana sifat asli pria itu, seharusnya ia sadar diri dari awal.

"Kalau sampai terjadi lagi, setelahnya saya tak akan mau ikut campur. Paham! "

"Akh—"

"Kenapa lagi... "

Aluna geleng kepala tidak tau, ia memijat pergelangan kakinya yang malah cenat-cenut di saat-saat seperti ini. Dirinya malu harus meminta tolong, sehingga ia mencoba berdiri tapi naasnya ia kembali terjatuh.

Nampak Pria itu sudah stress, dia memegang kedua pinggang tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.

Pria itu berjongkok, mata mereka tak sengaja saling bertemu. Aluna kembali merona, dia segera memalingkan wajah cepat—takut terpesona dengan ketampanan Arkan.

"Lemah sekali jadi wanita, setiap hari kau kerja berat untuk apa? Otot mu kecil semua, apa yang dibentuk? "

Aluna tak menjawab, dia menepis air matanya yang entah mengapa malah jatuh tanpa izin.

"Kenapa? Sekarang nangis? "

"Gak... Pergi aja kamu mas, kamu kan mau berangkat kerja... "

"Kakimu—"

"Gak papa cuma kram dikit nanti bisa—"

Pria itu langsung menggendong Aluna ala bridle Style.

"Jangan sok kuat, padahal aslinya lemah. "

Arkan segera menarik tangannya begitu Aluna mendarat dengan aman di atas ranjang. Ia membuang muka ke arah lain, menutupi bibirnya dengan kepalan tangan.

​"Masih sakit?" tanyanya datar.

​"Um... tidak lagi. Terima kasih," jawab Aluna lirih. Ada rasa gengsi yang tertahan di tenggorokannya, namun ia tetap tahu diri untuk membalas kebaikan Arkan.

​Arkan berbalik, menatap Aluna dengan tatapan tajam.

"Malam nanti Kakek ingin melihatmu. Pastikan aktingmu sempurna. Jika kau mengacaukannya sedikit saja, aku tidak akan segan-segan menghukummu!"

​Aluna memejamkan mata, membayangkan ancaman Arkan yang terdengar mengerikan setiap kali pria itu memberikan ancaman. Ia mengangguk cepat, tak berani membantah barang satu kata pun.

"I—iya... "

Setelah mengamankan dokumen penting dari ruang kerjanya, Arkan segera berlalu pergi untuk melanjutkan jadwalnya yang padat.

Langkah tegapnya bergema di selasar marmer menuju mobil yang sudah menunggu di depan.

​Begitu pintu mobil tertutup rapat, Arkan menyandarkan punggungnya pada jok kulit Leather Grade yang empuk. Ia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan.

​"Benar-benar melelahkan," gumamnya pelan sambil memijat otot lehernya yang kaku.

...****************...

Aluna tampak seperti kehilangan kewarasan. Ia berdiri mematung di depan cermin kristal yang memantulkan bayangannya.

Ia berkali-kali menarik sudut bibirnya, berusaha menciptakan senyum manis.

​"Selamat malam, Kakek... saya Aluna," gumamnya, mengatur nada bicara agar tidak terlalu kaku.

​"Iya, Kakek... saya sangat mencintai Mas Arkan. Dia pria paling baik yang pernah saya temui... dia benar-benar pangeran untukku, Kakek."

​"Iya, Kakek... hehe..."

​Tawa riang yang ia buat-buat itu perlahan memudar. Tawanya melambat, lalu berhenti total.

Aluna tertegun menatap pantulan matanya sendiri. Apakah Arkan memang sebaik itu? Apakah berbohong adalah jalan yang benar? Apakah semua ini... pantas ia lakukan?

​Ia segera menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir keraguan yang mulai merayap.

Plak! Plak!

Ia menepuk kedua pipinya pelan untuk mengembalikan kesadaran. Ia harus bertahan. Ini hanya kontrak satu tahun, tidak lebih.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan pintu memecah lamunannya. Aluna tersentak, wajahnya menoleh cepat ke arah pintu dengan jantung berdegup kencang.

Suara Aluna sedikit bergetar, ​"Si—silakan masuk..."

​Arkan melangkah masuk dengan MacBook di tangannya. Tanpa membuang waktu, ia menyalakan layar dan memulai panggilan video.

Di seberang sana, sang kakek tampak baru saja terjaga dari tidurnya. Begitu sambungan terhubung, Arkan melakukan gerakan yang tak terduga— ia melingkarkan lengan kokohnya di belakang pinggang Aluna, menarik tubuh gadis itu hingga mereka saling merapat, dan membiarkan kepala Aluna bersandar di bahu bidangnya.

​"Kakek... lihat, ini Aluna. Cantik, kan?" Arkan berucap dengan nada suara yang berubah drastis—hangat dan bangga.

​"Wah!" Kakek berseru takjub. Aluna yang tiba-tiba dipuja setinggi langit hanya bisa terpaku, pipinya seketika bersemu merah padam.

​Sang kakek tertawa renyah. "Kalian ini baru saja kenal sudah langsung jatuh cinta. Memang jodoh tidak akan kemana! Ya, kan, Arkan? Sudah Kakek bilang, turuti saja perintah Kakek. Kau pasti suka dengan pilihan Kakek."

​Arkan melirik Aluna sekilas, lalu kembali menatap layar. "Terima kasih, Kek. Saya benar-benar suka dengan yang satu ini," ucapnya sambil mempererat rengkuhan di pinggang Aluna, seolah tak ingin melepaskannya.

Aluna terkejut mendengarnya.

Rupanya ini belum berakhir. Tanpa ada pemberitahuan sama sekali, Arkan meraih wajah Aluna, mendekatkannya, dan mendaratkan kecupan ringan di keningnya. Kakek sampai mengedipkan mata, terperangah melihat cucunya yang biasanya bersikap acuh kini bersikap begitu romantis.

Bersambung...

Hai guys... Jangan lupa like, follow terus ya...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!