NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Konsep Foto Pre-wedding yang Berlebihan

Lampu indikator smart lock di pintu apartemen Nadinta berkedip hijau, diikuti bunyi bip pelan saat pintu terbuka. Nadinta melangkah masuk ke dalam unitnya yang sunyi. Dia melepaskan heels-nya yang terasa menyiksa seharian, lalu menghela napas panjang.

Keheningan apartemen ini adalah kemewahan yang langka setelah seharian penuh menghadapi drama di kantor—mulai dari tatapan benci Rudi, bisik-bisik karyawan, hingga tatapan mengintimidasi Maya.

Nadinta melempar tas kerjanya ke sofa, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia butuh air hangat untuk meluruhkan ketegangan di otot-otot bahunya.

Di bawah guyuran shower, Nadinta membiarkan air membasuh wajahnya. Dia bukan lagi staf biasa yang bisa diinjak-injak. Dia adalah pemegang kendali. Namun, dia tahu permainannya belum selesai. Arga masih ada dalam gambar, seperti noda membandel yang sulit dihapus.

Dua puluh menit kemudian, Nadinta keluar dari kamar mandi.

Tubuhnya yang basah hanya dibalut selembar handuk putih tebal yang melilit dari dada hingga paha. Rambutnya yang basah dibungkus handuk kecil lainnya seperti turban. Kulitnya memerah karena uap panas, membuatnya terlihat segar dan bercahaya alami tanpa riasan sedikitpun.

Baru saja dia hendak melangkah ke walk-in closet untuk mengambil baju tidur, bel pintu apartemennya berbunyi.

Ting-tong.

Nadinta menoleh ke arah pintu utama. Dia mengernyit.

Dengan langkah pelan, Nadinta berjalan menuju pintu. Dia mengintip lewat lubang peephole.

Arga.

Pria itu berdiri di sana, mengenakan kemeja kerja yang lengan bajunya sudah digulung tidak rapi. Wajahnya terlihat lelah, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat menatap pintu, seolah dia tahu Nadinta ada di balik sana.

Nadinta menarik napas dalam, memasang mode "tunangan", lalu membuka kunci pintu dan menarik gagangnya.

"Mas?" sapa Nadinta.

Arga mendongak dari ponsel yang sedang dia pegang. Senyum di wajahnya melebar, namun sedetik kemudian, matanya terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, dan ponsel di tangannya nyaris tergelincir.

Dia menatap Nadinta dari ujung rambut yang terbungkus handuk hingga kaki jenjangnya yang telanjang dan masih basah.

Aroma sabun mandi yang segar dan wangi body lotion mahal menguar dari tubuh Nadinta, memukul indra penciuman Arga yang seharian hanya mencium bau kertas, debu kantor, dan asap rokok yang dia hisap beberapa menit lalu.

Di mata Arga, Nadinta saat ini terlihat berbeda. Bukan Nadinta yang kucel dengan kemeja kebesaran. Ini adalah Nadinta yang... matang. Kulitnya yang lembap dan bahunya yang terekspos memancing insting lelaki Arga.

"Wow..." gumam Arga tanpa sadar, suaranya memberat. Matanya menggelap. "Kamu... wangi banget, Din. Seger banget kelihatannya."

Tanpa permisi, Arga melangkah masuk, menutup pintu dengan tumit kakinya, dan langsung merentangkan tangan.

"Sini peluk dulu," ujar Arga, mendekat dengan gerakan impulsif. "Seharian aku pusing di kantor, butuh recharge."

Namun, sebelum tangan Arga menyentuh kulit bahunya yang terbuka, Nadinta mundur satu langkah dengan cepat dan luwes. Dia mengangkat telapak tangannya, menahan dada Arga.

"Eits, jangan, Mas. Stop di situ," tolak Nadinta. Suaranya tidak marah, tapi tegas dan sedikit manja untuk menyamarkan penolakannya.

Arga berhenti, bingung. Tangannya menggantung kaku di udara. Keningnya berkerut kecewa. "Kenapa? Kamu kan calon istriku. Masa peluk doang nggak boleh?"

"Bukan nggak boleh, Mas. Tapi aku habis luluran pakai minyak perawatan khusus dari Bali," alasan Nadinta dengan wajah polos, berbohong dengan sangat lancar.

"Ini lengket banget lho, belum meresap ke kulit. Nanti kemeja Mas kotor kena minyak, susah hilangnya. Mas kan mau pakai kemeja ini lagi besok, kan?"

Nadinta menatap kemeja Arga.

"Mas belum gajian kan buat laundry mahal? Sayang kalau kemeja branded-nya rusak kena minyak."

Alasan itu terdengar masuk akal, sekaligus menyindir kondisi keuangan Arga secara halus. Arga, yang memang sedang berhemat mati-matian soal pengeluaran, langsung menarik tangannya.

Dia melihat kemejanya sendiri. Benar juga. Dia tidak punya uang untuk dry clean kalau kena noda minyak.

"Oh... iya juga sih," gumam Arga kecewa, menurunkan tangannya. Gairahnya sedikit surut digantikan oleh realita dompet. "Yaudah. Kamu ganti baju gih sana. Jangan lama-lama pakai handuk, nanti masuk angin. Atau... mau aku bantu ganti?"

Arga menyeringai nakal, mencoba mencairkan suasana dan menggoda Nadinta lagi.

Nadinta menatapnya. Tatapan itu sekilas terlihat dingin—tatapan seorang atasan yang sedang melihat bawahan yang melontarkan lelucon tidak pantas—sebelum kembali berubah netral.

"Jangan mesum, Mas. Aku mau pakai piyama," kata Nadinta datar, mematikan imajinasi liar Arga.

"Mas tunggu di sini saja. Nyalain TV gih. Jangan masuk kamar ya, berantakan banyak baju kotor."

Tanpa menunggu jawaban, Nadinta berbalik badan, berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.

Arga menatap punggung Nadinta, leher jenjangnya, dan betisnya yang bergerak menjauh hingga pintu kamar tertutup dan terdengar bunyi kunci diputar.

Klik.

Arga menghela napas kasar, menyisir rambutnya dengan jari. Dia merasa ada tembok tebal yang tiba-tiba berdiri di antara mereka.

Dulu, Nadinta akan tersipu malu jika digoda, bahkan mungkin akan membiarkan Arga memeluknya. Sekarang, wanita itu terasa dingin, berjarak, dan penuh perhitungan.

Mungkin dia cuma lagi capek.

Arga berjalan ke ruang tengah. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang empuk—sofa yang dibeli dengan uang bonus Nadinta tahun lalu. Dia mengambil remote TV, menyalakan layar datar 50 inci itu, dan mencari saluran olahraga.

Dia meletakkan kakinya di atas meja kopi tanpa melepas sepatu, bersikap seolah dia adalah raja di istana ini, padahal dia hanyalah tamu yang numpang berteduh.

Sepuluh menit berlalu.

Pintu kamar terbuka. Nadinta keluar.

Arga menoleh, berharap melihat pemandangan yang sedikit terbuka. Namun, harapannya pupus.

Nadinta tidak mengenakan lingerie seksi atau daster tipis. Dia mengenakan setelan piyama sutra lengan panjang berwarna biru tua yang tertutup rapat, kancingnya terpasang sampai leher. Rambutnya yang basah sudah dikeringkan setengah matang dan disisir rapi ke belakang.

Dia terlihat seperti wanita yang mau rapat direksi, bukan wanita yang mau tidur dengan tunangannya.

"Udah selesai?" tanya Arga, mematikan volume TV.

"Udah, Mas," Nadinta berjalan ke dapur sebentar, mengambil segelas air mineral dingin. Dia berjalan ke ruang tengah, tapi tidak duduk di sebelah Arga di sofa panjang.

Dia memilih duduk di sofa single di seberang meja, menciptakan jarak fisik yang aman.

"Kenapa duduk jauh-jauh?" protes Arga, menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Sini dong, deketan."

"Biar enak ngobrolnya, Mas. Kalau deketan nanti Mas nggak fokus," elak Nadinta, menyesap airnya.

"Katanya tadi di chat Mas mau bahas soal konsep Pre-wedding? Emang Mas udah punya konsepnya?"

Wajah Arga berubah serius, namun matanya berbinar antusias. Dia menegakkan duduknya, melupakan rasa kecewanya barusan. Topik ini adalah topik favoritnya: Citra Diri.

"Iya, Din," kata Arga semangat. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya sedikit retak, lalu membuka galeri foto.

"Aku seharian mikirin ini pas lagi jam kosong di kantor. Aku udah nemu beberapa konsep foto prewedding kita buat weekend ini."

Nadinta meletakkan gelasnya. "Oh? Coba lihat," pinta Nadinta sembari membuka telapak tangannya, meminta Arga untuk meminjamkan ponselnya.

"Nih," jawab Arga singkat sambil menyodorkan ponselnya.

Nadinta berhenti sejenak untuk berpura-pura melihat konsep foto Pre-wedding yang digagas oleh Arga. Meski sebenarnya dia sudah tahu, konsepnya adalah casual di taman bunga.

Tunggu dulu.

Nadinta tertahan. Kedua alisnya bertaut dan terangkat bersamaan. Alih-alih melihat foto pasangan suami istri yang sedang berfoto di tengah taman bunga, Nadinta justru mendapati sebuah pemandangan yang jauh berbeda.

Ini berbeda dengan kehidupan sebelumnya.

"Karena sekarang posisi kamu udah naik jadi Pjs Manajer, dan aku Senior Supervisor, kita nggak bisa pakai konsep casual yang biasa-biasa aja kayak di taman bunga atau studio foto ruko. Itu terlalu basic, Din. Nggak level sama jabatan kamu sekarang."

Arga menggeser layar ponselnya, lalu menunjukkannya pada Nadinta dari seberang meja.

"Lihat ini. Aku mau konsepnya 'Royal Executive' atau 'Crazy Rich Asian' gitu. Kita foto di kawasan Kota Tua pas malam biar dramatis, atau kalau bisa di dermaga yacht di Pantai Indah Kapuk (PIK)."

Arga menatap Nadinta dengan mata berapi-api, penuh imajinasi.

"Aku udah bayangin, aku pakai jas midnight blue, terus kamu pakai gaun malam yang mewah, yang glamour, warna merah atau emas. Kita pose di depan gedung-gedung tua yang artistik, atau di atas kapal. Keren banget kan?"

Nadinta menatap contoh foto di ponsel Arga. Foto pasangan model yang terlihat angkuh, kaya, dan tidak tersentuh.

Lalu dia menatap Arga. Pria yang saldo rekeningnya sekarat.

Sebuah ironi yang menggelikan.

"Terus nanti fotonya kita cetak gede banget, kita pajang di pintu masuk resepsi," lanjut Arga, semakin bersemangat. "Biar semua orang, termasuk Pak Mahendra, lihat kalau kita itu pasangan yang berkelas. Power Couple. Biar mereka nggak mandang kita sebelah mata lagi."

Nadinta bersandar di kursinya. Dia melihat betapa menyedihkannya upaya Arga untuk menutupi kekosongannya dengan kulit luar yang mengkilap.

"Konsepnya bagus, Mas. Mewah," komentar Nadinta pelan.

"Iya kan? Aku tahu kamu pasti suka."

"Tapi Mas..." Nadinta memiringkan kepalanya sedikit. "Mas tahu kan, sewa lokasi di PIK itu bayarnya per jam dan mahal? Belum lagi sewa gaun glamour yang Mas mau itu nggak mungkin murah. Fotografernya juga pasti minta charge tambahan kalau pindah-pindah lokasi dan lighting malam."

Nadinta menatap mata Arga lurus-lurus. Tatapannya berubah menjadi perhitungan.

"Mas Arga ada dananya?"

Wajah Arga menegang. Senyumnya luntur sedikit. Pertanyaan tentang uang selalu berhasil mematikan fantasinya.

"Kan kemarin katanya Mas lagi... berhemat? Kartu kredit Mas juga bukannya sudah limit?" tembak Nadinta tepat sasaran.

Arga berdeham, menggeser posisi duduknya dengan tidak nyaman.

"Y-ya, itu kan bisa diatur, Din. Namanya juga momen sekali seumur hidup," elak Arga. "Masa kita pelit buat kenang-kenangan? Nanti aku cari pinjaman lagi deh, atau..."

Arga menatap Nadinta dengan tatapan penuh harap.

"Atau mungkin... kamu bisa talangin dulu? Kan kamu baru naik jabatan, pasti ada tunjangan kan? Nanti aku ganti pas bonus proyek cair."

Nadinta tersenyum tipis. Sangat tipis.

Inilah Arga yang dia kenal. Selalu punya mimpi besar, tapi selalu memakai dompet Nadinta untuk mewujudkannya.

Mokondo.

"Mas," ucap Nadinta lembut. "Tunjangan jabatan aku baru turun bulan depan. Dan uang tabunganku yang kemarin kan udah Mas pakai buat DP mobil Pajero itu. Ingat?"

Wajah Arga memerah. Dia lupa.

"Jadi sekarang, kita harus realistis, Mas. Kalau Mas mau konsep mewah itu... Mas harus cari dananya sendiri. Aku udah nggak pegang cash."

Arga terdiam. Fantasi Royal Executive-nya terancam bubar karena realita saldo ATM.

"Tapi Din... masa kita foto pakai baju biasa? Malu dong sama mobil baru," keluh Arga.

"Ya terserah Mas. Kalau Mas bisa usahakan dananya minggu ini, kita jalan. Kalau nggak..." Nadinta mengangkat bahu. "Mungkin kita foto pakai kamera hp aja di taman apartemen."

"Gila! Nggak mau lah!" seru Arga gengsi.

"Aku nurut sama kamu, Mas." Nadinta

Arga terdiam, wajahnya berubah memerah penuh rasa kesal. Seluruh rencananya telah gagal. Dia menatap Nadinta seolah wanita itu adalah penyebab utama emosi yang berkelut di hatinya.

Arga berdecih. "Ya udah. Kita pake konsep foto casual."

Nadinta tersenyum dan bertepuk tangan seperti anak kecil. "Yeay! Emang kadang minimalis itu kemewahan, Mas."

Arga tidak menjawab.

"Eum, sebagai gantinya... nanti aku beliin kamu jas yang bagus deh. Biar kita pake baju yang couple. Gimana?" rayu Nadinta.

Arga menoleh, menunjukkan ketertarikan luar biasa. Nadinta lagi-lagi mampu membuat pria itu menghilangkan harga dirinya sendiri.

Pria itu menghela napas. "Oke."

Nadinta menatap kedua manik mata pria itu lamat-lamat. Senyuman miring tanpa sadar menghiasi wajahnya.

Lihatlah dirimu, Mas. Benar-benar menyedihkan.

1
Afriyeni
ckckck, otakmu brilian sekali nindi,, kamu pintar menggiring si Arga masuk lubang dan terjerat hutang 🤦
Afriyeni
Nindita, kamu licik banget ya. Hebat, kamu bisa berubah pintar dalam seketika 🤭
Afriyeni
hooekk.. Nindita pasti capek nih pura pura lebay dekat si Arga 😅
Blueberry Solenne
makin bangkrut si Arga
sjulerjn29
alesan ah km Rudi bilang aja gk ada ide kan?🤣
Blueberry Solenne
males banget nemu orang kek gini, sok ngatur si maya
sjulerjn29
bukan divisi kita...itu mah demi hidup mati km kali Rudi
sjulerjn29
kebayang baunya ihh..pasti langsung auto pingsan 🤭🤣
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!