NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kata-kata yang Menyakitkan

Aruna berangkat ke kantor lebih awal, mengenakan kemeja putih sederhana dan rok kerja berwarna gelap. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Di dalam lift gedung perusahaan pelayaran tempatnya bekerja, Aruna berdiri tenang, menatap pantulan dirinya sendiri di dinding baja mengilap.

Ia tampak baik-baik saja. Setidaknya begitu yang ia yakini. Namun menjelang siang, ketenangan itu mulai goyah. Seorang rekan kerjanya, Maya, menghampiri Aruna di pantry kantor. Maya adalah perempuan ramah yang bekerja satu divisi dengannya tidak terlalu dekat, tapi cukup sering bertukar cerita ringan.

“Run,” ujar Maya pelan, ragu-ragu. “Aku mau nanya, kamu gak apa-apa, kan?”

Aruna menoleh, sedikit terkejut. “Maksudnya?”

Maya menarik napas, seperti merasa tidak nyaman. “Aku gak yakin harus cerita atau gak. Tapi aku kenal kamu dan aku tahu kamu orangnya gak suka dibohongi.”

Jantung Aruna berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. “Cerita aja.”

Maya menelan ludah. “Beberapa hari lalu aku ke mall di Senayan. Aku lihat seorang pria, yang aku yakin itu suami kamu.”

Dunia seolah menyempit di sekitar Aruna.

“Dia jalan sama perempuan muda,” lanjut Maya cepat, seolah ingin segera menyelesaikan kalimat itu. “Mereka gandengan. Cukup dekat. Aku tahu itu suami kamu, karena aku kan datang ke pesta pernikahan kamu.”

Kata-kata itu tidak langsung menghancurkan Aruna. Justru sebaliknya terasa dingin, sunyi, dan kosong.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Maya menatap Aruna dengan cemas. “Aku minta maaf kalau ini buat kamu gak nyaman. Aku cuma merasa kamu perlu tahu.”

Aruna tersenyum tipis. Senyum yang terlalu rapi untuk situasi seperti ini. “Terima kasih ya, kamu udah jujur.”

Ia kembali ke mejanya, membuka laptop, menatap layar tanpa benar-benar membaca apa pun. Huruf-huruf berbaris rapi, tapi pikirannya melayang jauh.

Ia tahu. Jauh sebelum Maya bercerita, Aruna sudah tahu.

Namun mendengarnya dari orang lain, membuat rasa sakit itu berubah bentuk. Lebih nyata. Lebih memalukan.

Sore harinya, Aruna pulang lebih awal. Ia menemukan Revan sudah berada di rumah. Jasnya tergantung rapi, laptop terbuka di meja ruang kerjanya. Revan menoleh sekilas saat Aruna masuk, lalu kembali menatap layar.

“Kak Revan,” panggil Aruna pelan.

Revan menoleh, alisnya sedikit berkerut. “Kenapa?”

Aruna berdiri beberapa langkah darinya. Ia tidak duduk. Tidak ingin percakapan ini terasa santai. “Aku mau bicara.”

Revan menghela napas tipis, lalu menutup laptop. “Tentang apa?”

Aruna menarik napas dalam-dalam. “Ada teman kantorku yang melihat kakak di mall Senayan bersama seorang perempuan.”

Hening. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat jantung Aruna berdebar lebih cepat.

Revan menyandarkan tubuh ke kursi, wajahnya dingin. “Lalu?”

“Dia bilang kakak terlihat sangat dekat.” Nada suara Aruna tidak menuduh. Lebih mirip pernyataan. Fakta

Revan tertawa pendek. “Dan kamu percaya begitu aja?”

Aruna menatapnya. “Dia datang ke pernikahan kita. Dia tahu wajah Kak Revan.”

“Terus?” suara Revan mulai meninggi, tidak sabar. “Kamu mau apa sekarang? Interogasi?”

Aruna menggeleng pelan. “Aku cuma mau bilang kalau kakak memang punya hubungan dengan perempuan lain, tolong jaga sikap. Jangan sampai orang luar melihat.”

Revan menanggapinya dengan dingin. “Kamu pikir kamu siapa, Aruna?” katanya tajam. “Istri yang tiba-tiba berhak mengatur hidupku?”

Dada Aruna terasa sesak. “Aku istrimu.”

Revan berdiri. “Istri karena perjodohan. Jangan lupa itu.” Kata-kata itu seperti pisau.

“Aku gak pernah menjanjikan apa pun padamu,” lanjut Revan tanpa empati. “Aku menikah karena keluarga. Bukan karena perasaan.”

Aruna menggigit bibirnya, menahan getar. “Aku tahu itu. Aku juga gak pernah menuntut cinta.”

“Kalau begitu, jangan sok terluka,” potong Revan. “Kamu tahu dari awal pernikahan ini seperti apa.”

Air mata menggenang di mata Aruna, tapi ia tidak membiarkannya jatuh.

“Aku hanya minta satu hal,” katanya lirih. “Hormati aku sebagai istrimu.”

Revan menatapnya dingin. “Hormati dulu dirimu sendiri. Jangan berharap lebih dari yang bisa kuberi.” Itulah kalimat yang akhirnya merobohkan sesuatu di dalam diri Aruna.

Ia tidak menangis. Ia hanya terdiam. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Aruna menyadari bahwa bukan hanya cinta Revan yang tidak ia miliki, tetapi juga belas kasihannya.

Tanpa berkata apa pun lagi, Aruna berbalik dan masuk ke kamarnya. Di balik pintu tertutup, ia duduk di tepi ranjang, menunduk. Tangannya gemetar. Ia mencintai masih sangat mencintai Revan. Namun setiap kata-kata kasar, setiap penolakan dingin, perlahan mengikis keteguhan yang selama ini ia bangun.

Di luar kamar, Revan berdiri lama, napasnya berat. Ia tidak mengejar Aruna. Dan tanpa ia sadari, kalimat-kalimat yang ia ucapkan hari ini akan tinggal jauh lebih lama di hati Aruna, dibandingkan cinta yang tidak pernah ia beri.

Keesokan harinya, Viona muncul di lobby Kantor Maheswara & Partners tanpa pemberitahuan. Gaun hitam yang seksi melekat di tubuhnya, rambut tergerai rapi, dan langkah penuh percaya diri membuat beberapa karyawan menoleh. Ia tidak peduli. Yang ia cari hanya satu orang.

“Revan,” panggilnya ketika pria itu baru saja keluar dari ruang rapat.

Revan membeku sesaat. Rahangnya mengeras, ia langsung menarik Viona ke ruangannya. Pintu ruang kerja Revan belum tertutup rapat ketika suara itu sampai ke telinga Adisti.

Adisti baru saja keluar dari lift, membawa map hasil pemeriksaan pasien yang hendak ia berikan pada Revan permintaan kecil kakaknya untuk dicek oleh kenalan dokter di rumah sakit tempat Adisti bekerja. Langkahnya terhenti saat mendengar suara perempuan yang terlalu dikenalnya.

“Kapan kamu akan nikahi aku?” suara Viona terdengar tajam. “Aku capek jadi rahasia, Revan.”

Adisti refleks berhenti. Ia berdiri di balik dinding, ragu untuk melangkah masuk atau pergi. Namun kalimat berikutnya membuat kakinya seperti terpaku ke lantai.

“Sekarang belum bisa,” jawab Revan rendah tapi tegas. “Kalau aku menceraikan Aruna sekarang, warisan itu akan jatuh sepenuhnya ke tangan, kamu tahu siapa.”

Viona mendengus. “Adikmu?”

“Iya,” jawab Revan tanpa ragu. “Papaku tidak akan segan-segan untuk menarik semuanya.”

Adisti menahan napas. Dadanya terasa sesak.

“Jadi aku harus menunggu?” tanya Viona, nada suaranya turun. “Sampai kapan?”

“Sampai semuanya aman,” balas Revan. “Kamu jangan sering ke sini. Jangan muncul di tempat umum. Setidaknya sampai warisan itu resmi jadi milikku.”

Beberapa detik hening. Lalu suara Viona melembut bukan karena pengertian, melainkan karena ambisi.

“Kalau itu alasannya,” ucap Viona pelan, “ok, aku akan menunggu.”

Langkah kaki terdengar mendekat. Adisti cepat-cepat menjauh, jantungnya berdegup kencang. Map di tangannya terasa berat, seberat kenyataan yang baru saja ia dengar.

Ia tidak marah karena kakaknya menyebut namanya. Ia marah karena kakaknya tega menyakiti Aruna. Istri yang diam. Istri yang sopan. Istri yang tidak tahu bahwa pernikahannya sedang dijadikan penyangga sementara.

Adisti berdiri di lorong kantor itu, menggenggam map erat-erat. Dan satu pertanyaan menggantung di kepalanya, menuntut jawaban yang tidak mudah.

Haruskah ia diam demi keluarganya atau membuka mata Aruna sebelum semuanya terlambat?

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!