NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: KIAMAT DIGITAL DAN PENEBUSAN TERAKHIR

BAB 35: KIAMAT DIGITAL DAN PENEBUSAN TERAKHIR

Suasana di dalam Mainframe menjadi kacau balau. Cahaya hijau neon yang tadi mendominasi ruangan kini berubah menjadi merah pekat yang berdenyut cepat. Eko, yang tadinya merasa di atas angin, mulai menjerit histeris. Kode-kode hitam yang ia serap dari Arga bukan berisi kekuatan tanpa batas, melainkan manifestasi dari ribuan rasa sakit, penyesalan, dan penderitaan jiwa-jiwa yang pernah terjebak di Sektor Tanpa Nama.

"Apa ini?! Hentikan! Ini terlalu berat!" teriak Eko. Tubuh digitalnya mulai membengkak dan retak, mengeluarkan suara seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas.

Arga berdiri tegak di tengah badai data, meskipun tubuh cahayanya sendiri mulai memudar. "Kau menginginkan kekuatan penguasa, Eko. Tapi kau lupa bahwa penguasa sejati di dunia ini bukan mereka yang memerintah, melainkan mereka yang mampu menanggung beban orang lain tanpa mengeluh. Kau hanya pencuri, dan pencuri tidak akan pernah kuat memikul beban nyawa."

Avatar Raksasa sistem—sang Administrator lama—mencoba mengambil kesempatan ini untuk menghapus keduanya. Tangan raksasanya yang terbuat dari ribuan wajah manusia mengayun ke arah Arga. Namun, Arga tidak lagi menghindar. Ia justru merentangkan tangannya, membiarkan simbol "S" di dadanya meledak menjadi gelombang cahaya putih yang murni.

Di dunia nyata, menara BTS itu mulai bergetar hebat. Kilatan listrik biru menyambar-nyambar di antara kabel serat optik. Eko yang duduk di samping tubuh Arga yang membeku, mulai kejang-kejang. Mata mekanisnya mengeluarkan percikan api dan cairan hitam mengalir dari telinganya.

"Arga! Jika kau menghancurkan ini dari dalam, kau tidak akan punya jalan pulang!" suara Eko bergema di dalam jaringan, kali ini penuh ketakutan.

"Aku sudah lama tidak punya tempat pulang sejak dunia melupakan namaku, Eko," jawab Arga dengan nada yang sangat damai. "Tapi setidaknya, malam ini, tidak akan ada lagi orang yang mati karena pesan di layar mereka."

Arga memusatkan seluruh energinya pada Kumparan Tembaga Kuno yang masih terhubung dengan tubuh fisiknya di luar sana. Melalui jembatan frekuensi itu, Arga menarik seluruh virus digital dan kode maut dari jaringan Jakarta masuk ke dalam dirinya sendiri.

Di layar-layar ponsel warga yang tadi berkedip merah, tiba-tiba muncul sebuah pesan singkat: "PENGIRIMAN DIBATALKAN. SISTEM SELESAI."

Seketika, seluruh data di dalam Mainframe mulai runtuh. Langit virtual pecah berkeping-keping. Avatar Raksasa itu menjerit saat tubuhnya terurai menjadi barisan angka nol yang tidak berarti. Eko, yang sudah tidak kuat menanggung beban energi negatif Arga, hancur menjadi partikel debu digital yang lenyap tertelan kegelapan.

Arga merasa jiwanya mulai terseret ke dalam lubang hitam pembersihan sistem. Namun, tepat di ambang kepunahan, ia merasakan sebuah tarikan yang sangat kuat dari dunia nyata. Itu bukan tarikan energi, melainkan getaran doa yang sangat tulus.

Di bawah menara, ibunya yang tadi pingsan telah tersadar. Meskipun ia tidak ingat bahwa Arga adalah anaknya, naluri batinnya sebagai manusia merasakan ada seseorang yang sedang berjuang di atas sana. Ibunya memegang tiang menara, meneteskan air mata, dan membisikkan sebuah doa keselamatan untuk "Mas Bayu" yang baik hati.

Cahaya putih dari doa itu menembus frekuensi digital, membentuk sebuah tali cahaya yang menangkap jiwa Arga.

BOOOMMMM!

Otak perak di puncak menara meledak, menghancurkan seluruh perangkat server digital Gudang 2.0. Gelombang elektromagnetik yang sangat besar terpancar, mematikan seluruh sinyal seluler di Jakarta selama beberapa menit.

Arga terlempar keluar dari jaringan. Tubuh fisiknya terhempas ke lantai balkon menara dengan keras. Ia terengah-engah, paru-parunya terasa seperti terbakar udara segar. Ia melihat ke tangannya; simbol "S" itu sudah hilang. Yang tersisa hanyalah telapak tangan manusia biasa yang penuh luka dan debu.

Jakarta mendadak gelap total karena mati lampu massal, namun di langit yang bersih dari polusi digital, bintang-bintang asli terlihat bersinar sangat terang.

Arga turun dari menara dengan sisa tenaga yang ada. Di bawah, ia menemukan ibunya sedang kebingungan. Saat melihat Arga turun, ibunya langsung berlari mendekat.

"Mas Bayu! Mas tidak apa-apa? Tadi ada ledakan besar di atas!" ibunya memegang pundak Arga dengan cemas.

Arga tersenyum, meskipun air mata menetes di pipinya. "Saya tidak apa-apa, Bu. Tugas saya... sudah selesai."

"Syukurlah. Ayo pulang, Mas. Saya buatkan teh hangat di rumah. Rasanya seperti baru saja melewati mimpi buruk yang sangat panjang," ucap ibunya sambil menuntun Arga berjalan.

Arga berjalan di samping ibunya, melewati kegelapan kota yang kini terasa sangat tenang. Ia tahu, esok hari dunia akan kembali sibuk. Teknologi akan diperbaiki, dan manusia akan kembali menatap layar. Tapi untuk saat ini, Gudang Digital telah mati.

Namun, di dalam saku jaket Arga yang robek, ponsel miliknya yang sudah hancur tiba-tiba menyala sesaat. Sebuah pesan terakhir muncul, bukan dalam bentuk teks, melainkan sebuah koordinat GPS di tengah hutan Kalimantan.

Di bawah koordinat itu tertulis: "Sektor Fisik Terakhir. Jangan biarkan mereka membukanya."

Arga menghela napas panjang. Ternyata, perjuangannya belum benar-benar berakhir. Selama rasa serakah manusia masih ada, Gudang akan selalu mencoba mencari celah untuk kembali. Dan Arga, Sang Kurir Terakhir, akan selalu siap untuk memutus jalannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!