Diusianya yang baru menginjak 16 tahun, Bianca Rosaline terpaksa menikahi pria yang lebih tua 12 tahun dari dirinya. Semuanya terjadi ketika kedua orang tuanya dengan tega menjual dirinya pada lelaki asing.
Ditengah penolakannya, Bianca mau tak mau harus menemui pria itu—Alan Drax. Pria yang tanpa ragu membeli dirinya dengan harga mahal.
Dan ketika pertama kali bertemu, Bianca tak mampu mengalihkan perhatiannya saat iris hitam legam Alan menatapnya tajam. Sekalipun wajah pria itu tak menampakkan ekspresi apapun.
Note :: Kalo udah baca, jangan lupa ninggalin jejak yaahhh. Biar aku tau kalo kamu itu ada #eeaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyya Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat Buruk
Setelah turun dari bus, Lily masih harus berjalan sekitar sepuluh menit untuk sampai ke rumahnya. Jam masih menunjukkan pukul tujuh malam. Selama perjalanan menuju rumahnya, Lily tak henti-hentinya bersyukur di dalam hati. Sebab, ketika baru saja tiba di kafe tempatnya membuat janji bertemu, Lily tak langsung menghampiri pria itu, ia memutuskan untuk mengamati dari jauh terlebih dahulu. Dan keputusan yang diambilnya berbuah manis, orang yang dikenalnya melalui forum pecinta novel misteri tersebut ternyata adalah seorang pria tua mesum bertubuh tambun.
Lily akhirnya memutuskan untuk pergi seraya bergidiki ngeri.
“Ya Tuhan.” Ucap Lily seraya menghela napas. Beruntung tak terjadi sesuatu padanya.
Lily kembali mengingat kejadian yang tadi menimpanya. Seingatnya, ia tak punya musuh. Apalagi kedua orang tuanya yang hanya bekerja sebagai seorang karyawan biasa. Kehidupannya memang lebih dari cukup, tapi tak sampai membuat orang lain merasa iri hingga berniat mencelakainya.
***
Bianca kembali memejamkan matanya seraya menutup telinga. Sudah hampir dua puluh menit Alan terus memarahinya tanpa bosan. Ketika baru saja sampai di rumah dan Alan mendapati kedua lututnya yang terluka, pria itu langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Dan berlanjut ketika mereka telah selesai makan malam.
“Aku baik-baik saja.” Ucap Bianca seraya menatap Alan datar. Ia beralasan pada Alan jika dirinya terjatuh tanpa sengaja.
“Baik-baik apanya? Hari ini kedua lututmu yang terluka dan aku tak tahu besok apalagi yang akan terjadi.” Alan menggeram marah. Kedua tangannya terkepal kuat. Ia tak bisa lagi tenang ketika bahaya terus menghampiri Bianca.
“Mungkin saja dia sedang mabuk.” Seru Bianca seraya menatap Alan lekat. Bianca yakin jika mobil sedan yang tadi hampir menabrak Lily bukan lah karena unsur ketidaksengajaan. Tapi ia juga tak ingin asal menuduh selama tak punya bukti. Menganggap sang pengemudi sedang mabuk adalah satu-satunya jalan keluar terbaik.
“Apa sebaiknya kau sekolah di rumah saja?” Tanya Alan seraya menatap Bianca. Jika Bianca tinggal di rumah, ia bisa lebih bebas mengawasi wanita itu. Juga tak perlu khawatir jika ada yang berniat buruk padanya.
“Alan!” Protes Bianca. Ia telah berjanji pada Alan untuk selalu membawa ponsel yang pria itu berikan dan juga memberikan kabar padanya. Membuatnya bersekolah di rumah tidak akan membuatnya merasa bahagia. Sebanyak apa pun uang yang Alan keluarkan.
“Lalu aku harus berbuat apa? Bagaimana jika orang itu kembali lagi untuk mencelakaimu disaat aku atau Jimmy sedang tak berada di sisimu? Aku tak ingin lagi merasakan hal yang sama!” Alan berteriak frustasi seraya menatap Bianca dengan wajah sedih. Ia tak ingin lagi kehilangan Bianca untuk yang kedua kalinya.
“Apa kau ingin menjadikanku seperti seekor burung di dalam sangkar?” Tanya Bianca ketus. Ia sadar betul jika Alan punya hak atas dirinya. Tapi Bianca juga merasa jika ia berhak untuk membuat pilihan. Pun melakukan sesuatu yang membuatnya senang.
“Bianca, kumohon, mengerti lah.” Lirih Alan. Dengan cepat, ia merengkuh tubuh Bianca. Kecupan-kecupan kecil ia berikan pada surai hitam wanitanya.
“Alan, aku tahu. Terima kasih karena sudah peduli padaku. Tapi, untuk kali, aku ingin kau percaya padaku. Aku berjanji jika hal yang sama tidak akan pernah terulang lagi.” Bianca berujar mantap seraya menatap Alan penuh keyakinan tanpa rasa ragu sedikit pun. Hanya untuk kali ini saja, Bianca ingin menghadapinya seorang diri. Tanpa harus selalu melibatkan Alan. Bianca tahu betul jika ia terlalu bergantung pada Alan, maka ia tidak akan pernah bisa melindungi pria itu.
“Berjanjilah padaku.” Bisik Alan. Ia menyerah. Alan bahkan terkejut ketika mendapati dirinya menuruti permintaan wanita itu.
Bianca tersenyum senang seraya mengecup bibir Alan. Ia tak lagi merasa kikuk ketika mengambil inisiatif terlebih dahulu. Lagi pula, ia hanya sekadar mencium, tidak lebih.
Hanya sebuah ciuman.
Alan yang merasa tak puas, segera menahan tengkuk Bianca ketika wanita itu ingin melepaskan tautan bibir mereka. Bibirnya menyeringai kecil tatkala Bianca menatapnya dengan mata membulat tak percaya.
“Biarkan aku beristirahat.” Pinta Bianca seraya menatap Alan memohon.
“Tapi sayang, aku tak bisa lagi menunggu.” Jawab Alan cepat seraya menyeringai nakal
Bianca tak bisa menolak. Apalagi ketika Alan menatapnya tanpa kedip. Ia membiarkan pria itu untuk kembali memilikinya. Membuat hati serta pikiran mereka larut dalam pusaran kenikmatan.
***
“Brengsek!” Umpat Cathy. Ia masih merasa kesal ketika rencananya tidak berjalan dengan sempurna. Menurutnya, akan jauh lebih baik jika ia membunuh Bianca secara langsung.
“Tidak. Tidak.” Gumam Cathy seraya membayangkan wajah Alan. Jika ia sampai menyakiti wanita itu, Alan pasti tak akan tinggal diam. Dibanding Wilson, Alan jauh lebih berbahaya. Pria itu bisa melakukan hal apa pun yang diinginkannya termasuk membunuh seseorang. Dan setelahnya, Alan akan menggunakan uangnya untuk menghilangkan jejak.
“Tak ada pilihan lain.” Cathy kembali berniat untuk mencelakai gadis yang dilihatnya sedang bersama Bianca—Lily. Ia yakin jika gadis berkacamata itu adalah sahabat Bianca. Membuat sahabatnya terluka karena Bianca bisa memberikan banyak hasil. Misalnya, Bianca yang merasa bersalah dan akhirnya memutuskan untuk pergi serta menghilang dari kehidupan Alan.
***
Setelah bel pulang berbunyi, Bianca langsung menarik tangan Lily—menahan gadis itu untuk pulang seorang diri.
“Aku hanya ingin pergi ke toilet.” Protes Lily. Sadar jika Bianca tak akan membiarkannya pulang seorang diri.
“Aku ikut.” Seru Bianca cepat.
Sebelumnya, ketika dalam perjalanan menuju sekolah, Bianca sudah memberi tahu Jimmy agar pria itu tetap berada di dalam mobil, apa pun yang terjadi. Awalnya Jimmy menolak, takut jika Bianca kembali terluka dan berakhir dengan Alan yang murka.
Namun karena Bianca terus meyakinkannya, Jimmy memilih untuk setuju. Kali ini, ia akan percaya pada Bianca.
***
Cathy masih terus menatap fokus di sekitarnya. Mata hijau terangnya berkilat tajam. Menanti sosok yang sedari tadi dicarinya. Dan ketika ia menemukan Bianca bersama temannya, bibirnya tersenyum licik. Secara tak sabaran, ia menancap gas. Melaju dengan kecepatan tinggi.
Dilain sisi, Bianca mengawasi sekitarnya dengan hati-hati. Ia sengaja menarik tangan Lily untuk berada sedikit di dekat jalan raya, bukan di depan gerbang sekolah.
“Di mana Jimmy?” Tanya Lily. Merasa aneh karena tak menemukan keberadaan pria tampan bermata biru itu. Padahal biasanya Jimmy sudah siap menunggu Bianca.
“Masih di jalan.” Jawab Bianca asal. Berharap Lily tak curiga sama sekali. Ketika Lily masih berada di dalam toilet, Bianca mengirimkan pesan singkat pada Jimmy dan meminta tolong pada pria itu untuk mengikuti mobil sedan tersebut.
Melalui sudut matanya, Bianca melihat sebuah mobil yang tak asing melaju dengan kecepatan cepat. Namun yang tak ia duga adalah, ketika Lily justru melangkah maju seraya menunduk untuk mengambil jepit rambutnya yang terjatuh di atas aspal. Dengan sekali lihat, Bianca yakin jika tubuh Lily akan menjadi sasaran empuk mobil sedan tersebut.
“Lily!” Teriak Bianca panik. Dengan segera, ia memegang tangan Lily. Namun belum sempat ia menarik gadis itu menjauh, suara dentuman yang cukup keras ditangkap oleh indra pendengarannya.
Mata Bianca membulat takut. Ia segera menatap Lily dan mendapati wanita itu tengah berdiri mematung dengan wajah pucat. Tak terjadi apa-apa pada sahabatnya.
Mobil sedan tadi hanya berhasil menabrak tas sekolah Lily yang ia sampirkan di bahu. Lily memang gemar memakai tas bertali panjang yang menjuntai sampai menyentuh pahanya.
Bianca menghela napas lega seraya bersyukur. Matanya segera menatap keberadaan Jimmy yang memarkirkan mobil di dekat pohon besar. Pria itu sudah tidak ada. Dan Bianca yakin jika Jimmy sedang mengikuti orang yang berniat menabraknya dan Lily.
Siapa pun yang melakukannya, Bianca bersumpah jika ia tidak akan pernah memaafkannya. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu pada Lily, ia tidak akan segan memohon pada Alan agar bisa membalas orang itu.
btw makasih kakakk author..
senang dengan karyamu.💗