"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Dirga berlari menerjang hadangan para satpam. Tanpa memedulikan seruan mereka, ia melesat menuju ruangan Pak Sanjaya. Di dalam, Pak Sanjaya yang sedang berbincang dengan Karin sontak terlonjak kaget melihat pintu ruangannya terbuka secara paksa.
Brak......
"Dirga! Apa-apaan kamu masuk ke ruangan saya tanpa izin?! Di mana satpam? Bukannya saya sudah suruh mereka mengusir kamu!" bentak Pak Sanjaya dengan wajah memerah.
"Pa, kenapa Papa pecat saya? Apa salah saya? Selama ini kinerja saya di kantor sangat baik, Pa!" seru Dirga dengan napas memburu.
Pak Sanjaya mendengus sinis. "Cih... jadi kamu belum menyadari kesalahanmu, Dirga? Kamu sudah mengkhianati Karin dan kamu masih merasa tidak bersalah? Saya akui kerjamu memang bagus, tapi kamu sudah tega mengkhianati putri saya. Sebagai ayahnya, saya tidak akan tinggal diam!"
"Tapi Pa, Dirga butuh pekerjaan ini. Laura sedang hamil... kalau saya dipecat, bagaimana nasib anak saya nanti?" ucap Dirga memelas, gurat keputusasaan mulai muncul di wajahnya.
"Itu urusan kamu, Dirga! Dan satu lagi, jangan panggil saya 'Papa' karena kamu bukan menantu saya lagi!" tegas Pak Sanjaya.
"Satpam! Seret orang tidak berguna ini keluar dari kantor saya!"
Dua orang satpam segera masuk dan mencekal lengan Dirga dengan kuat. Sebelum tubuhnya diseret keluar, Dirga menatap Karin dengan tatapan memohon.
"Karin, aku mohon... bilang ke Papamu, jangan pecat aku!"
Karin berdiri, menatap Dirga dengan dingin tanpa sisa kehangatan sedikit pun. "Pergilah, Mas. Aku tidak butuh kamu lagi."
Ia mengambil sebuah amplop dari meja dan menyodorkannya ke arah Dirga. "Oh iya, aku hampir lupa. Ini surat dari Pengadilan Agama. Aku harap kamu tidak usah datang ke persidangan nanti agar proses perceraian kita bisa selesai lebih cepat."
Dirga menahan pintu, matanya menatap Karin dengan tatapan nanar, mencoba mencari sisa-sisa kasih sayang di sana.
"Rin, apa kamu benar-benar sudah tidak mencintai aku lagi? Sampai kamu begitu tega menceraikan aku?" tanya Dirga dengan suara bergetar.
Karin tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan luka. "Cinta? Kamu bicara soal cinta, Mas? Sementara kamu sendiri tidak tahu apa artinya. Selama ini aku menjaga kesetiaanku, memberikan seluruh hatiku untukmu. Tapi apa balasannya?"
Suara Karin mulai meninggi, "Kamu berselingkuh dengan sahabatku sendiri! Kamu pikir hatiku tidak hancur melihat orang yang paling aku percaya mengkhianati ku dengan orang terdekatku?"
"Aku khilaf, Rin. Aku mohon, maafkan aku," ucap Dirga tanpa rasa malu, ia bahkan mencoba meraih tangan Karin. "Aku ingin kita seperti dulu lagi. Aku janji akan adil... aku akan bersikap adil padamu dan juga pada Laura."
Mendengar itu, Karin merasa mual. Ia menepis tangan Dirga dengan kasar.
"Kamu benar-benar sudah gila, Mas! Kamu pikir aku ini apa? Setelah semua penghinaan ini, kamu memintaku berbagi suami dengan perempuan itu?"
"Pergi, Mas! Pergi! Aku tidak butuh laki-laki bereng sek seperti kamu di hidupku!" bentak Karin dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Pak Sanjaya yang sejak tadi menahan amarah akhirnya kehilangan kesabaran.
"Satpam! Cepat seret dia keluar! Jangan biarkan orang ini menginjakkan kaki di kantor ni lagi!"
Satpam dengan sigap meringkus Dirga, menariknya paksa menjauh dari ruangan.
Setelah kegaduhan itu mereda, suasana ruangan menjadi hening. Pak Sanjaya melangkah mendekati putrinya. Ia menyentuh bahu Karin dengan lembut, berusaha menyalurkan kekuatan untuk menenangkan hati putrinya.
"Karin," panggil Pak Sanjaya. "Kamu harus kuat. Jangan biarkan dirimu lemah, apalagi sampai menjatuhkan air mata untuk pria bereng sek seperti Dirga. Dia tidak layak mendapatkan itu."
Pak Sanjaya menatap mata Karin dalam-dalam. "Kamu harus buktikan bahwa tanpa dia pun, kamu bisa jauh lebih bahagia. Papa yakin, suatu saat nanti kamu akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu, seseorang yang tahu cara menghargai kesetiaanmu."
Karin menghirup napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Ia tersenyum tipis, menatap ayahnya dengan penuh rasa syukur.
"Iya, Pa. Terima kasih karena Papa selalu ada untuk Karin," jawabnya lembut.
"Karin tidak menangis, kok. Karin hanya... sedikit bingung bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini. Tapi Papa tenang saja, Karin tidak akan menyerah."
Pak Sanjaya tersenyum bangga, lalu menarik putrinya ke dalam pelukan hangat seorang ayah yang siap menjadi garda terdepan bagi anaknya.
********
Didepan kantor......
Bruk....
Kedua satpam itu tidak sekadar menuntunnya keluar, mereka mendorong Dirga dengan kasar hingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas lantai lobi yang keras.
"Aww! Sakit!" rintih Dirga sambil memegangi sikunya yang berdenyut nyeri. Ia mendongak dengan tatapan penuh amarah.
"Kalian kurang ajar sekali berani mendorongku seperti ini! Awas saja, akan ku balas kalian nanti!"
Namun, ancaman itu hanya dianggap angin lalu. Para petugas keamanan tersebut sama sekali tidak menghiraukan ucapannya. Mereka berbalik badan dengan dingin dan langsung kembali masuk ke dalam kantor, meninggalkan Dirga yang kini menjadi tontonan beberapa karyawan yang lewat.
Dirga memukul lantai dengan kepalan tangannya. "Ah, sial! Kenapa semuanya jadi kacau begini?"
Ia berusaha berdiri sambil membersihkan debu di celananya. Wajahnya yang tadi penuh amarah kini berubah menjadi pucat pasi saat mengingat sesuatu.
"Aku harus bilang apa pada Laura? Kalau dia sampai tahu aku dipecat secara tidak hormat, dia pasti akan marah," gumamnya frustrasi.
Dirga akhirnya pergi meninggalkan kantor itu. Sebelum pulang ke rumah, ia mampir sebentar ke ATM untuk menarik uang. Ia berniat membelikan Laura makanan dan beberapa bahan masakan.
"Aku ambil lima ratus ribu saja. Seharusnya ini cukup untuk bertahan selama satu minggu," ujarnya pelan.
Setelah mengambil uang dari ATM, Dirga pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan, lalu segera pulang menemui Laura.
Sesampainya di rumah, Dirga mengetuk pintu lalu masuk dan mendapati Laura yang masih tertidur.
"Laura... Mas pulang, Sayang. Kok kamu masih tidur?" tanya Dirga sambil menyentuh bahu Laura pelan.
Laura mengerjap, lalu melirik jam di dinding dengan heran. "Mas Dirga? Kok jam segini sudah pulang? Apa di kantor ada masalah?"
Dirga menghela napas panjang, ia duduk di tepi ranjang dengan wajah sayu.
"Iya, Ra. Aku... aku baru saja dipecat oleh Pak Sanjaya. Makanya aku bisa pulang secepat ini," jawabnya dengan suara lemas.
"Apa?! Dipecat?" Laura sontak terduduk, matanya membelalak kaget. "Terus sekarang kamu jadi pengangguran, Mas?"
Melihat reaksi Laura, Dirga buru-buru menenangkan. "Kamu tenang dulu ya, Ra. Besok aku langsung cari kerja lagi. Siapa tahu ada lowongan yang cocok untukku. Kamu jangan stres, ingat kandungan kamu."
Dirga kemudian menunjukkan kantong belanjaan yang ia bawa.
"Tadi aku sudah beli makanan siap saji dan beberapa sayuran untuk kita seminggu ini. Kamu tidak perlu masak, biar Mas saja yang kerjakan semuanya ya?"
Laura menyandarkan kembali punggungnya ke kepala ranjang, wajahnya tampak tidak puas namun ia mengangguk pelan.
"Iya, Mas. Kebetulan badan aku juga masih lemas sekali."
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Mas ke dapur sebentar ya untuk menyiapkan makan siang." Dirga mengecup dahi Laura singkat, lalu beranjak menuju dapur dengan perasaan yang masih berkecamuk.
Tak butuh waktu lama, Dirga akhirnya selesai memasak dan menata hidangan di meja makan. Aroma sederhana masakannya memenuhi ruangan.
"Laura… sayang, Mas sudah selesai masak. Ayo cepat sini, kita makan bareng," panggilnya lembut.
Laura keluar dari kamar sambil memegang perutnya. "Wah, cepat banget masaknya. Aku sudah tidak sabar, perutku sudah lapar banget."
"Ya sudah, cepetan kamu cicipi masakan Mas," ujar Dirga sambil menarik kan kursi.
"Iya, Mas."
Baru beberapa suap masuk ke mulutnya, wajah Laura langsung berubah pucat.
"Hoek…"
Laura buru-buru menutup mulutnya, menahan mual, lalu memuntahkan makanan itu ke tisu.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Dirga panik, langsung berdiri menghampirinya.
Laura menatapnya lemah. "Mas… masakan kamu asin banget. Kamu bisa masak tidak, sih?"
Dirga terdiam sesaat, lalu meraih sendok. "Asin? Masa si, Ra."
"Kalau kamu tidak percaya, kamu coba sendiri, Mas."
Dirga pun mencicipi sedikit masakannya. Ekspresinya langsung berubah masakannya memang benar benar asin, ada rasa bersalah yang jelas tergambar di wajahnya.
Dirga menatap Laura dengan wajah penuh rasa bersalah. Tangannya meremas sendok kecil di jemarinya.
"Maaf ya, Ra. Kalau begitu Mas masak lagi. Kamu jangan marah, ya," ujarnya pelan, suaranya nyaris tenggelam.
Laura hanya menggeleng lemah. Tangannya menyeka sudut bibir, lalu menarik napas panjang.
"Sudahlah, Mas. Aku sudah tidak nafsu makan," ucapnya datar.
Tanpa menunggu jawaban, Laura berbalik. Langkahnya pelan namun pasti saat meninggalkan meja makan, meninggalkan Dirga yang masih berdiri terpaku, menatap piring-piring yang kini terasa tak lagi berarti.
Bersambung........
Jangan lupa like, komen dan subscribe nya ya kak, supaya aku bisa lebih semangat lagi 🙏 Terimakasih 😊😁
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak