Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17.
David menjatuhkan tubuhnya duduk di tepi tempat tidur.
Raut wajahnya terlihat linglung mendengar jawaban Giana, dan tiba-tiba merasa semakin hampa di dasar hatinya.
Ia seharusnya tidak seperti ini, ia seharusnya merasa puas mengetahui semua foto pernikahannya dengan Lara, tidak satu pun lagi terlihat di vila Lorenzo.
Bukankah dia sangat mencintai ku? bahkan dia diam saja melihat aku selalu bersama dengan Cindy! bisik hati David memikirkan sikap Lara yang begitu mencintainya selama ini.
Sampai bertahun-tahun dia bertahan mengejar ku! kenapa setelah aku pulang selama satu bulan dari perjalanan bisnis, dia tiba-tiba jadi berubah dingin padaku! bisiknya lagi memikirkan perubahan sikap Lara.
Atau, jangan-jangan ada seseorang yang membuat ia berubah? pikirnya lagi merasa curiga.
Tapi kemudian David menggelengkan kepalanya, tidak! kenapa aku memikirkannya! Cindy lah yang aku cintai, perceraian ini sudah lama sekali ku impikan, sekarang aku sudah menikah dengan Cindy!
David bangkit berdiri dari duduknya, begitu ia teringat pada Cindy.
"Aku melupakan Cindy karena perempuan licik itu!"
Dengan raut wajah dingin seperti biasanya kalau mengingat Lara, David keluar dari dalam kamar Lara.
"Aku mau mencari Cindy, dia pasti merindukanku!" gumamnya menuju kamarnya.
Saat ia membuka pintu kamar, ia melihat keadaan dalam kosong.
Ia tidak menemukan Cindy dalam kamarnya.
"Kemana Cindy, sudah jam berapa ini, kenapa dia belum pulang?" tanyanya pada diri sendiri.
David mengambil ponselnya, lalu menghubungi Cindy, "Halo, Cindy! kamu dimana? kenapa belum pulang ke vila?"
David mendengar jawaban Cindy, dan ia pun terlihat marah mendengar apa yang dikatakan Cindy.
"Keterlaluan! berani sekali dia memukul kamu! aku akan datang menjemput kamu, dan memberi pelajaran padanya!!" jawab David dengan tekanan suara yang begitu marah.
Tanpa menunggu jawaban Cindy, ia pun memutuskan panggilan ponselnya pada Cindy.
Dengan raut wajah yang terlihat begitu marah, ia bergegas memakai kembali jasnya dengan tidak sabaran.
"Lara! aku tidak akan membiarkanmu semakin keterlaluan! kamu penuh dengan kecemburuan! aku sepertinya perlu memberi peringatan lebih keras padamu! agar tidak semakin sesuka hati mu menindas Cindy!!"
Langkah kaki David dengan cepat menuruni anak tangga.
Ia tidak sabaran ingin membalas Lara dengan caranya sendiri.
Ia akan membuat Lara menyesal, dan berlutut meminta maaf pada Cindy.
Sementara itu di apartemen Lara.
Stefan meraih selembar kertas bergambar dari atas meja makan Lara.
Sebuah draf desain perhiasan kalung.
Desain yang tampak begitu akurat, dengan goresan desain yang tegas, memperlihatkan kalau pembuatnya seseorang yang sudah begitu profesional.
"Kak, apakah kamu yang mendesain ini?" tanya Stefan memandang dengan nanar, draf desain kalung pada selembar kertas putih tersebut.
"Hem, iya!" jawab Lara dengan nada asal saja, karena ia merasa Stefan hanya ingin memuji hasil goresan tangannya pada draf desain kalung itu.
Stefan menyunggingkan senyuman senang mendengar jawaban Lara.
Ia tidak tahu, ternyata Lara memiliki keahlian dalam merancang perhiasan.
Lara meletakkan selimut dan bantal di sofa, "Istirahat lah, sudah semakin larut malam, agar tubuhmu kembali bugar besok pagi!" kata Lara tidak menanggapi lagi rancangan perhiasan yang masih di tatap Stefan.
"Oh, iya!"
Stefan meletakkan gambar desain kalung yang ia pegang ke atas meja makan, dan melangkah ke sofa.
"Kak, aku ingin mendi, sedari siang aku belum menyentuh air!"
"Oh!" Lara menggaruk tengkuknya merasa canggung.
Seorang pria masuk ke dalam kamar mandinya, dan membersihkan diri di sana, rasanya sangat tidak pantas sekali dengan situasi dirinya yang baru bercerai.
Walau Stefan masih muda, tapi ia seorang pria.
Pria muda yang sudah bisa melakukan sesuatu kepada seorang wanita, dan bahkan dapat membuat seorang wanita hamil.
Lara menggelengkan kepalanya membuang pikiran, yang seharusnya tidak ia pikirkan tentang Stefan seperti itu.
Stefan dapat merasakan, kalau Lara ragu untuk membiarkannya masuk ke dalam kamar mandi Lara.
"Kak, badanku lengket!" katanya dengan nada memelas.
"Stefan, bagaimana kalau kamu tidur di apartemen mu saja, aku lihat sepertinya kamu sudah tidak begitu kesakitan lagi!"
"Akh, aduh.. kepalaku kenapa tiba-tiba jadi sakit lagi!"
Stefan memegang kepalanya, dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajah meringis menahan sakit.
Lara seketika menjadi panik melihat tubuh Stefan yang jatuh ke sofa, "Apakah kamu serius? Stefan, jangan berpura-pura!"
"Akh! akh!!"
Stefan membuat tubuhnya nyaris menggelung sambil memegang kepalanya, dan merintih kesakitan.
Lara menjadi panik melihat tubuh Stefan yang sepertinya tidak berpura-pura kesakitan.
Ia pun menghambur ke sofa, lalu duduk di tepi sofa untuk memeriksa keadaan Stefan.
"Stefan, kamu jangan menakut-nakuti aku, apakah sakit pada lukamu kembali kambuh?"
Lara menarik tangan Stefan dari memegang kepalanya, lalu menyentuh bagian kepala Stefan yang terluka.
Dengan lembut tangannya kemudian mengelus, untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasakan Stefan.
"Bagaimana? apakah sakitnya sudah hilang?"
Stefan menganggukkan kepalanya pelan, "Sudah, kak! aku sepertinya harus mandi, agar tubuhku merasa nyaman!"
Lara terpaksa memperbolehkan Stefan masuk ke dalam kamar mandinya, dan dengan hati berat membiarkan Stefan menginap di apartemennya.
"Baiklah, kamu pakai bathrobe yang ada di kamar mandi, semoga saja tidak kekecilan kamu kenakan!" kata Lara dengan nada terpaksa.
"Terimakasih, kak!" jawab Stefan, lalu bergegas melangkah ke kamar mandi Lara.
Hah?! Lara hanya bisa termangu melihat langkah kaki Stefan, yang terlihat begitu bersemangat setelah ia mengijinkan Stefan memakai kamar mandinya.
Lara merasa, apakah ia terlalu berani membiarkan seorang pria menginap dalam apartemennya?
Lara mengedipkan matanya melihat Stefan, tidak lama kemudian keluar dari dalam kamar mandi.
Baju mandi miliknya yang di pakai Stefan, terlihat kekecilan pada tubuh jangkung Stefan.
Kaki panjang Stefan terlihat jelas, dan tampak masih basah.
Stefan tersenyum melihat tatapan mata Lara melihatnya memakai bathrobe Lara yang kekecilan.
"Kak, rambutku masih basah, apakah aku boleh meminjam hairdryer mu?"
"Oh, eh! iya, sebentar!" Lara kembali mengedipkan matanya.
Dengan langkah bergegas ia mengambil hairdryer, lalu memberikannya kepada Stefan, "Nah!"
Selesai memberikan hairdryer, Lara dengan langkah cepat masuk ke dalam kamarnya.
Mematikan lampu kamar, lalu menyalakan lampu tidur.
Ia kemudian masuk ke balik selimutnya, lalu memejamkan mata.
Di luar kamar Stefan tersenyum memandang pintu kamar Lara yang tertutup.
Setelah rambutnya kering, ia mengembalikan hairdryer ke tempat dari mana Lara mengambil alat pengering rambut tersebut.
Ia meraih selimut yang Lara letakkan di sofa, lalu membaringkan tubuhnya ke sofa.
Ia menyelimuti tubuh jangkungnya, yang terpaksa ia tekuk sedikit, karena panjang sofa tidak dapat menampung sepenuhnya kaki panjangnya.
Satu menit kemudian, Stefan membalikkan posisi tubuhnya karena merasa tidak nyaman.
Lalu satu menit kemudian, ia kembali membalikkan posisi tubuhnya, yang terasa semakin tidak nyaman untuk memejamkan mata.
Bersambung.........