NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: RESET, RESTORE POINT, & PERBEDAAN ANTARA 'MOVING ON' DAN 'MOVING FORWARD

Disclaimer: Bab ini mengandung trauma yang tidak bisa di-close tab-nya, proses healing yang tidak aesthetic, dan usaha membangun kembali di atas fondasi yang retak bukan dari reruntuhan.

---

Dua minggu pasca-gempa.

Kehidupan kembali berdenyut, tapi iramanya berbeda. Jakarta mulai bersih-bersih, perbaikan jalan, pemulihan jaringan. Tapi di dalam diri Kinan dan Ardi, ada gempa susulan yang tak kunjung reda: trauma.

Bagi Kinan, trauma itu berbentuk ketakutan akan keheningan total. Setiap kali listrik padam sebentar, atau HP-nya kehilangan sinyal, dadanya langsung sesak. Dia mulai meninggalkan pintu kamar terbuka, memasang lampu tidur, dan membeli powerbank ekstra besar seperti seorang prepper yang bersiap untuk kiamat digital.

Bagi Ardi, traumanya lebih halus: kecemasan akan pesan yang tidak terbaca. Setiap kali mengirim chat ke Kinan dan tidak langsung ada balasan (meski cuma 5 menit), pikirannya langsung melompat ke skenario terburuk. Dia sering mengecek "last seen" Kinan di WhatsApp, sesuatu yang dulu tidak pernah dia lakukan.

Mereka tidak membicarakannya langsung. Seperti dua orang yang kakinya patah tapi berpura-pura bisa berjalan normal, mereka mencoba kembali ke rutinitas "Low-Intensity" mereka. Tapi sekarang, rutinitas itu terasa seperti pertunjukan. Ada white noise ketakutan yang terus berdengung di latar belakang setiap interaksi mereka.

---

The First Fight After The Disaster.

Pertengkaran itu dipicu oleh hal sepele. Kinan sedang meeting online penting dengan klien dari Bandung. Ardi mengirim pesan: "Lo lupa bawa charger yang di sini?"

Kinan, yang sedang fokus, membaca tapi tidak langsung membalas.

30 menit kemudian, Ardi mengirim lagi: "Kin?"

Kinan masih dalam meeting.

1 jam kemudian, Ardi menelepon. Kinan tolak karena masih meeting.

"BUSY. NANTI." chat Kinan singkat.

Saat meeting selesai, Kinan membuka HP. Ada 7 pesan dari Ardi, dari pertanyaan charger sampai "Lo oke nggak? Kenapa nggak bales?"

Kinan yang lelah langsung tersulut. Dia menelepon.

"Ardi, lo bisa nggak jangan paranoid gitu? Gue tadi meeting penting!"

"Gue cuma nanya charger, Kin! Nggak perlu 1 jam buat bales 'iya' atau 'nggak'!"

"Karena gue lagi kerja! Lo tau dong gue punya prioritas selain ngebalasin chat lo 24/7!"

"Prioritas? Jadi sekarang gue nggak prioritas lagi?"

"Jangan muter-muter! Ini bukan soal lo prioritas atau nggak, ini soal lo nggak bisa demand respons langsung terus-terusan! Gue nggak bisa hidup kayak di ruang gawat darurat setiap hari!"

Diam di telepon. Pertengkaran pertama mereka setelah hampir kehilangan satu sama lain. Ironisnya, justru karena takut kehilangan.

"Maaf," akhirnya Ardi bersuara, suaranya lelah. "Gue… gue lagi berusaha. Tapi setiap lo nggak bales, gue langsung inget waktu gempa. Chat gue nggak ke-deliver, lo nggak bisa dihubungi…"

Kinan menarik napas dalam. "Gue juga. Setiap kali listrik mati sebentar aja, gue langsung panik. Tapi… kita nggak bisa hidup terus-terusan dalam mode siaga, Ard. Kita bakal kelelahan. Dan kita bakal saling menyakiti."

Itulah kebenaran yang pahit: trauma bisa mengikat orang, tapi juga bisa mengikis mereka perlahan-lahan.

---

The "Restore Point" Conversation.

Mereka memutuskan untuk time-out sehari. Tidak komunikasi. Masing-masing merenung.

Kinan pergi ke studio desainnya yang kosong. Dia tidak mendesain. Dia hanya duduk, memandang moodboard yang setengah jadi. Di tengah kesunyian itu, dia bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang ingin aku pulihkan? Keadaan sebelum gempa? Atau hubungan yang lebih sehat dari sebelumnya?

Sementara Ardi naik ke rooftop kosannya. Dia tidak membawa gitar. Dia hanya memandang kota Bandung yang tenang. Dia ingat malam saat dia menyetir ke Jakarta, ketakutan yang membekukan tulangnya. Lalu dia ingat pelukan Kinan di lapangan pengungsian. Apakah ketakutan itu sebanding dengan kelegaan yang dirasakan saat mereka bertemu? Tentu saja. Lalu kenapa sekarang mereka justru saling melukai dengan ketakutan yang sama?

Malam itu, mereka bertemu via video call. Wajah mereka tampak lelah, tapi lebih jernih.

"Gue pikir… kita butuh restore point," kata Ardi.

"Restore point?"

"Iya. Titik di mana kita setop, dan bilang: dari sini, kita move forward, bukan move on dari trauma. Tapi bawa trauma itu sebagai… pelajaran. Bukan sebagai penjara."

"Gimana caranya?"

"Kita buat perjanjian baru. Bukan pakai emoji kode. Tapi dengan jujur, kalau satu lagi ngerasa triggered."

"Contohnya?"

"Contohnya… kalau gue ngerasa cemas karena lo lama bales, gue bakal bilang: 'Trigger: gempa. Bukan karena gue nggak percaya lo.' Dan lo, kalau lagi ngerasa overwhelmed karena tuntutan gue, bilang: 'Trigger: kehilangan kendali. Bukan karena gue nggak peduli.'"

Itu terdengar sederhana, tapi revolusioner bagi mereka. Sebuah sistem komunikasi yang mengakui luka, bukan menyembunyikannya.

---

The "Aesthetic" of Healing (Yang Tidak Aesthetic Sama Sekali).

Proses healing ternyata tidak photogenic. Tidak ada filter yang bisa membuatnya terlihat indah.

Bagi Kinan, healing berarti memberi tahu jadwalnya ke Ardi. "Meeting 10-12, mungkin nggak bisa bales chat." "Malam ini gue mau digital sunset, jam 9 matiin notifikasi." Ini bukan untuk membatasi, tapi untuk membangun kepercayaan: bahwa ketidakhadiran sengaja itu bukanlah bencana.

Bagi Ardi, healing berarti melatih diri untuk tidak mengecek last seen. Setiap kali dorongan itu datang, dia alihkan dengan membuat segelas teh, atau memetik satu melodi di gitar. Dia juga mulai menulis jurnal audio hanya rekaman suaranya sendiri yang bercerita tentang hari itu. Bukan untuk dikirim. Untuk didengar sendiri. Belajar menjadi sumber ketenangan bagi dirinya sendiri.

Mereka juga membuat ritual baru: "Weekly Check-Back, Not Check-Up."

Setiap Minggu malam, mereka tidak sekadar kirim voice note. Mereka video call, dan dengan sengaja menanyakan:

"Di mana kamu merasa triggered minggu ini?"

"Apa yang membantu kamu merasa aman?"

Pertanyaan-pertanyaan itu awalnya canggung, seperti terapi tanpa terapis. Tapi perlahan, itu membuka ruang untuk kelemahan tanpa penghakiman.

---

The Unexpected "Trigger" That Became a Bond.

Suatu hari, listrik di kompleks kos Kinan padam karena pemadaman bergilir. Dia sudah mempersiapkan diri: powerbank penuh, lampu darurat, buku. Tapi saat kegelapan benar-benar menyelimuti, panik itu datang lagi. Napasnya menjadi pendek.

Dia menyalakan HP, mengirim pesan ke Ardi: "Trigger: gelap total. Listrik padam."

Hanya 10 detik kemudian, video call dari Ardi masuk. Wajah Ardi terlihat di layar, diterangi lampu emergency di kosannya.

"Gue di sini," kata Ardi, suaranya tenang. "Liat, gue juga lagi gelap. Cuma ada lampu emergency ini. Kita… lagi di gelap yang sama."

Kinan memandang wajah Ardi di layar, suaranya yang tenang. Dia menarik napas pelan.

"Ceritain sesuatu," pinta Kinan. "Apa aja."

Dan Ardi bercerita tentang project musik barunya, tentang kucing Dadu di warteg yang sekarang punya anak, tentang hal-hal receh yang tidak penting. Suaranya menjadi jangkar bagi Kinan di tengah kegelapan yang menakutkan.

Listrik padam selama 2 jam. Mereka video call selama itu. Tidak selalu ngobrol. Kadang diam, masing-masing melakukan hal sendiri di ujung layar. Tapi koneksinya tidak terputus. Mereka membuktikan bahwa mereka bisa bertahan dalam kegelapan asalkan bersama.

Saat listrik menyala kembali, Kinan tersenyum. "Thank you."

"Anytime," jawab Ardi. "Kita berdua lebih kuat daripada listrik mana pun."

---

Moving Forward, Not Moving On.

Mereka tidak pernah move on dari trauma gempa. Itu akan selalu menjadi bagian dari sejarah mereka. Tapi mereka belajar untuk move forward dengan membawanya.

Mereka mulai proyek kecil-kecilan bersama lagi: bukan konten untuk viral, tapi "Digital First Aid Kit" sebuah panduan sederhana yang mereka bagikan gratis via newsletter. Berisi tips: cara menyiapkan emergency contact, aplikasi offline yang berguna, cara mengatur notification agar tidak memicu kecemasan.

Ini adalah cara mereka mengubah pengalaman buruk menjadi sesuatu yang berguna untuk orang lain.

Hubungan mereka sekarang seperti gedung yang direnovasi setelah gempa. Fondasinya sama, tapi strukturnya diperkuat dengan besi-besi baru: kejujuran akan ketakutan, komunikasi yang lebih dalam, dan pengertian bahwa cinta bukanlah tentang tidak pernah takut, tetapi tentang berani berkata "Aku takut" dan tetap memilih untuk memegang tangan satu sama lain.

LAST LINE: Di suatu sore yang tenang, mereka duduk kembali di Warung Kopi Klotok. Di antara mereka, di atas meja, ada dua benda: sebuah dadu LED (yang masih menyala) dan sebuah powerbank besar. Kinan melihat kedua benda itu, lalu menatap Ardi. "Kita nggak akan pernah sama kayak dulu, ya?" tanyanya. Ardi menggenggam tangan Kinan. "Nggak. Dan itu nggak apa-apa. Karena yang kita bangun sekarang… lebih kuat. Bukan karena nggak pernah retak. Tapi karena kita tahu bagaimana memperbaiki retakannya." Dan untuk pertama kalinya sejak gempa, ketakutan di mata Kinan benar-benar digantikan oleh kedamaian. Mereka mungkin tidak akan pernah sepenuhnya sembuh. Tapi mereka akan selalu saling menjadi restore point satu sama lain tempat untuk kembali, setiap kali dunia terasa seperti akan runtuh. 🔄💡❤️‍🩹

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!