"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cintai aku, Dylan. ~ Natasha
"Apa? Jadi Dariush benar anaknya Damian Cassano? Harusnya aku tahu dari namanya kenapa aku tidak menyadarinya astaga." Ucap Dave resah ia duduk di kursinya setelah tahu apa yang saat ini terjadi.
Jay sendiri mencari info tentang Dariush dan keluarganya. Entah dari mana dia berhasil mendapatkan info rahasia itu.
Karena Dariush sendiri merahasiakan pada siapa pun identitasnya. Wajah Lorraine juga sama terkejutnya. "Ini takdir, honey."
"Kamu benar sayang. Setidaknya aku sekarang lega karena Dariush anaknya Damian, sahabatku. Seandainya dia masih hidup." Lirih Dave termenung.
"Jadi kita harus bagaimana sekarang?" Tanya Lorraine penasaran.
"Kita tunggu mereka pulang ke sini." Tutur Dave.
-
-
"BRENGSEK DYLAN..."
Sementara di club malam Natasha tengah menyiksa dirinya dengan minuman beralkohol di tangannya. Entah sudah habis berapa gelas dia meminumnya.
Sebelum dia kesini, dia mendapat telepon dari sahabat sekaligus bossnya yaitu Bella. Dia tidak menceritakan hal ini pada sahabatnya.
Kepalanya sudah terasa pusing sekali bahkan matanya kunang kunang, ketika dia berdiri dan hampir tumbang ada tangan yang sigap menahannya.
"Hmm kamu siapa?" Ucap Natasha dengan mata sayunya. Dia tidak menyadari siapa yang ada di hadapannya.
"Kamu sudah gila disini sendirian, Natasha? Gimana kalau ada orang jahat?" Geram Dylan, dia tidak sengaja melihat Natasha dari jarak beberapa meja saja.
Kebetulan Dylan bersama kliennya disana. Dia menghampiri Natasha yang sudah sempoyongan. "Vin, kamu pakai taksi tidak masalah kan?" Tanya Dylan pada asistennya.
"Aman bos."
"Oke, aku akan bawa dia pulang." Dylan memapah Natasha yang mabuk berat. Bahkan ucapannya tak di indahkan oleh sahabatnya itu. Alvin membukakan pintu mobil untuk bossnya. Dia pamit pulang.
Dylan menghela nafasnya dan menoleh ke samping, dimana Natasha tengah mengoceh hal hal yang absurd menurutnya. "Kenapa kamu seperti ini, Nat? Kamu tahu aku hanya mencintai Bella. Jangan rusak semua ini." Lirihnya.
Dia menjalankan mobilnya menuju apartment miliknya. Ketika sampai Dylan merebahkan sahabatnya itu ke kasur, namun ketika ingin pergi tangan Natasha menariknya.
"Kamu jahat, Dylan. Apa aku nggak berarti buat kamu hah? Dasar cowok brengsek! Di mimpi pun kamu nyakitin aku!" Lirih Natasha menangis di bawah tindihan Dylan.
Tangan Dylan menghapus air mata Natasha. Sungguh menyedihkan melihat wanita ini patah hati. "Kamu berarti buat aku, Nat. Tapi sebagai sahabat. Tidak lebih. Aku tidak ingin menyakiti mu."
Mata Natasha terbuka dan menarik kepala Dylan lalu mencium kasar bibirnya. Dia melumat menyesapnya penuh gairah. Dylan juga tidak menolak sepertinya. Dia membalas ciuman itu.
"Hmmp...Nat, aku pria normal. Jangan buat aku jadi jahat."
"Pria normal? Aku juga wanita normal ahh...!" Natasha melanjutkan lagi, dia menarik kepala Dylan ke lehernya. Meminta untuk di sentuh.
"Oke baiklah jangan menyesal."
Dylan menjamah tubuh Natasha malam itu. Desahan demi desahan keluar dari mulut dua orang yang dipenuhi hasrat. Entah kenapa wangi tubuh wanita itu membuat Dylan semakin bergejolak. Dia sendiri masih tak mengerti.
"Ahhh ssshh...Dylan.. Aku mencintaimu faster please...!" Natasha terus meracau di bawah kukungan Dylan. Badannya menggeliat saat pria yang ia cintai bermain di bawah sana.
Pergulatan cinta itu pun berlanjut hingga tengah malam sekali. Dylan ambruk di atas Natasha. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya.
Keduanya terlelap dalam mimpi. Dylan juga tak memeluk Natasha. Dia lebih memilih memunggunginya.
-
-
-
Matahari menyoroti kamar pria single itu, Natasha melenguh badannya terasa lengket dan pegal sekali. Ketika matanya terbuka perlahan, pandangannya blur ia merasa bahwa ini bukan rumahnya. Natasha menoleh ke pinggir ternyata ada seseorang disana.
"Astaga! Semalam aku_?" Natasha baru sadar ia bangun dan membuka selimutnya, ternyata tubuhnya sudah tak memakai apapun.
"Ini seperti kamar_"
Dylan berbalik dan menatap Natasha. Dia bangun dan menyandarkan dirinya ke pinggir kasur. "Kamu sudah bangun? Ayo mandi setelah itu kita sarapan. Aku harus meeting." Ucapnya.
Tidak ada kemarahan di raut wajah Dylan seperti pertama kali. Natasha cukup kaget otaknya masih belum bisa berpikir jernih.
"Tunggu Dylan! Kenapa aku di sini? Apakah kita_"
"Hmm kamu sangat liar sekali semalam. Lihat!" Dylan menunjukan leher dan dadanya yang penuh kissmark dari Natasha.
Air mata Natasha tiba tiba menggenang di pelupuk matanya. "Maafkan aku Dylan. Aku pergi sekarang. Anggap saja tidak terjadi apa apa." Lirihnya, dia terbesit bayangan ketika Dylan mengusirnya tempo hari. Hatinya masih terasa sakit.
Natasha membuka selimutnya dan berdiri memunguti bajunya. Lalu Dylan hanya menatapnya. Dia ikut berdiri dan memeluk wanita yang kini ada di hadapannya.
"Dylan_" Badan Natasha membeku ketika pria itu memeluknya dari belakang dan menghirup ceruk lehernya.
"Aku akan bertanggung jawab kalau kamu hamil, tapi maaf aku tidak bisa menikahi mu." Ucap Dylan jelas dan menohok.
GLEG
"Lepaskan! Tidak perlu! Kalau pun aku hamil aku akan menggugurkannya. Tenang saja! Kamu bisa mengejar cintamu." Tuturnya, dia menghempaskan tangan Dylan kasar.
Matanya sudah berkaca kaca. Tega sekali Dylan berucap seperti itu. Sudah cukup baginya perlakuan Dylan tempo hari, sekarang pria itu justru berucap yang membuatnya makin hancur.
Dylan membalikan tubuh Natasha. "Jangan ngaco kamu! Anak itu tidak berdosa! Yang berdosa kita! Bukan kita! Aku tepatnya." Geram Dylan ketika mendengar perkataan konyol Natasha.
"Untuk apa aku mempertahankan anak ini kalau kamu saja tidak mau menikahi ku, Dylan? Lagipula aku belum hamil, kita juga baru melakukannya beberapa hari ini." Sanggah Natasha dengan tersenyum getir dan menyayat hati.
Mata keduanya bersitegang, baik Dylan atau Natasha tak ada yang mau mengalah. Tangan Dylan memegang bahu wanita itu.
"Nat_aku_"
Dengan nafas naik turun Natasha menampar keras pipi putih pria yang di cintainya. Sudah cukup baginya mencintai pria seperti Dylan. Kesabarannya sudah habis.
PLAK
"Kamu jahat, Dylan! Aku mau pulang!" Tegas Natasha, dia melewati Dylan dan masuk ke kamar mandi, ia memakai lagi gaun yang semalam ia kenakan saat di club. Tak perduli apa pandangan orang nanti saat keluar dari apartment ini.
Tangan Dylan memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Natasha. Namun itu bukan perkara besar baginya. Dia menyusul Natasha. "Buka pintunya Natasha! Kita harus bicara!" Teriaknya.
Tak ada jawaban apapun dari dalam. Dylan menggedor gedor pintu kamar mandinya. Tak lama kemudian, Natasha keluar dari sana dengan wajah sembabnya. Tatapan mata keduanya bertemu, Dylan menangkup wajah Natasha.
"Aku nggak mau jadi pria jahat. Aku sayang kamu, aku juga enggak mau menyakitimu. kalau kita menikah nanti tapi aku masih mencintai orang lain apa kamu bisa menerimanya? Hati kamu akan semakin hancur, bukan kamu saja. Aku juga, Nat !!"
Bibir Natasha keluh untuk bicara, bulir air matanya mengalir deras. Dylan menariknya ke pelukannya. "Beri tahu aku kalau nanti kamu hamil, itu anakku. Karena aku yang pertama menyentuhmu. Jangan sembunyikan apapun dari ku. Aku akan bertanggung jawab padamu dan anak kita." Ucap Dylan.
Dylan mencium kening Natasha dalam. Natasha juga tak menolaknya,matanya terpejam masih dengan isak tangisnya.
"Tunggu disini, Alvin sebentar lagi datang membawa baju untuk mu. Kamu wanita baik baik, jangan keluar pakai baju ini. Kita sarapan dulu."
Natasha mengangguk pelan dia menuruti Dylan keluar ke meja makan. Sementara pria itu memasak sarapan. Tatapan Natasha kosong seperti ada batu yang menghantam dadanya, sakit memang!
Dia berdiri menghampiri Dylan dan menyambar bibir prianya tanpa aba aba. Dylan cukup terkejut. "Nat_hmmmp_"
"Cintai aku, Dylan."