TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian
Vino menghela napas kasar. Ia hanya bisa melihat kepergian Gio dan Kinara di balik gerobak abang–abang tukang rujak.
"Ini Mas rujaknya, sepuluh ribu saja," ucap abang tukang rujak sembari menyerahkan seporsi rujak ke arah Vino. Vino menerimanya dan membayarnya. Ia tak enak hati jika ia hanya menumpang duduk di sana tanpa membeli barang dagangannya.
"Eh besar sekali uangnya Mas. Ada yang pas saja tidak?" tanyanya.
Pasalnya Vino menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada abang tukang rujak itu. Dan abang tukang rujak tak mempunyai kembalian untuk uang sebesar itu, karena baru saja ia mulai berjualan di hari itu di depan sekolah.
"Buat Mas saja," ucap Vino tulus.
"Beneran ini mas?"
"Iya."
Abang tukang rujak itu bersorak girang. Uang dari Vino bagaikan rejeki nomplok di awal ia berjualan di hari itu.
"Terimakasih Mas, semoga rejeki Mas berlipat dan berkah," ucap abang tukang rujak berulang kali. Vino tersenyum canggung. Vino yang risih dengan kata terimakasih yang berulang kali terucap pun segera pergi dari sana.
"Aiss rejeki nomplok …Hatur nuhun Gusti …" ucap abang tukang rujak. Ia mengipas–kipaskan selembar uang itu sembari menatap bahagia mobil Vino yang menjauh.
"Laris manis tanjung kimpul."
**********
Di sinilah, di ruang ICU, Kinara hadir lagi menemui sang ayah yang masih saja terbaring di sana. Ia tersenyum sendu melihat sang ayah yang tak bisa membalas senyumnya saat ini.
Tak lama kemudian, hadirlah seorang suster yang membawa sebaskom air dengan kain lap.
"Mbak, Anda boleh keluar sebentar. Saya akan membersihkan tubuh Pak Broto terlebih dahulu," pintanya ramah pada Kinara.
"Sus, boleh tidak saya saja yang membersihkan tubuh ayah saya?" tanya Kinara. Ingin sekali ia melakukan pekerjaan itu saat ini. Hal yang belum pernah ia lakukan, dan baru pertama kali ini ia meminta.
"Boleh Mbak. Tapi hati–hati ya," ucap perawat itu mengingatkan. Kinara mengangguk mengiyakan. Perawat itu meninggalkan Kinara sendirian bersama dengan sang Ayah.
Perlahan namun pasti, Kinara mulai mencelupkan kain itu ke dalam baskom berisi air. Ia memerasnya kain itu sampai tersisa sedikit air di kain itu.
"Yah, Kinara bersihkan dulu ya," ucapnya.
Kinara mengusapkan perlahan pada bagian tubuh Broto yang ingin dia bersihkan. Ia mengusapkannya dengan lembut, agar tak menyakiti ayahnya.
Kinara mengulang kegiatan yang sama sampai semuanya selesai ia bersihkan.
**********
Di tengah gelapnya hari yang mulai malam, Vino memacu kendaraanya kencang, bahkan tak mematuhi peraturan yang berlaku. Lampu lalu lintas di persimpangan jalan ia trabas tanpa batas. Ia tak peduli dengan keselamatan orang lain bahkan dengan nyawanya sendiri.
Pada akhirnya, ia memutuskan diri untuk menginjakkan kaki, ke tempat yang beberapa hari ini tak ia datangi. Ke club malam.
Suara hingar bingar terdengar kala ia masuk ke dalam tempat itu. Lampu remang dan kerlap kerlip menyambut netranya pertama kali. Banyak dari mereka berjoget ria, hanya untuk bersenang–senang belaka atau untuk melupakan sejenak beban berat yang dialami.
Vino berjalan ke tempat biasa dia di sana. Ia menghampiri bartender dan duduk di kursi yang ada di sana.
"Seperti biasa," pesan Vino. Bartender di sana sudah mengetahui tabiat Vino tatkala Vino menghabiskan malam sendirian.
"Ini Bro."
Bartender itu meletakkan sebotol minuman beralkohol dan satu gelas kosong di depan Vino. Bartender itu adalah teman Vino di club malam itu.
"Hem," sahut Vino singkat. Vino menuang cairan itu ke dalam gelasnya. Ia menenggak cairan itu dengan tatapan mata yang kosong.
"Kenapa kau Bro? Terlihat masam sekali wajahmu!" tanya bartender itu.
Vino menatap sekilas bartender itu. "Gak!" jawabnya singkat nan ketus. Vino tak berniat menceritakan masala hidupnya padanya. Ia kembali fokus pada minuman di depannya.
Bartender itu berdecak malas. "Vino Vino apa sih masalah hidupmu? Uang? ada. Rumah? ada. Kerjaan? mapan. Kaya? Jelas iya. Sultan sejati malahan. Apa lagi sih yang kau pikirkan?" ucapnya. Ia selalu memandang kebahagiaan orang dari segi materiil. Segi yang dapat dilihat langsung secara gamblang oleh mata.
Vino meliriknya sekilas namun tajam menusuk. "Ck gak usah urusin hidup orang. Sudah sana lanjutkan pekerjaanmu!" usir Vino.
Vino hanya ingin sendiri saat ini. Menikmati waktu dan tenggelam dalam pikirannya. Untuk kemudian berharap bisa melupakannya sejenak dengan minuman laknatt di depannya ini hingga ia tak mampu meminumnya lagi.
"Dasar gila!" gumam bartender itu lirih sembari menggelengkan kepalanya heran. Vino yang terlihat rapuh dengan tatapan matanya yang kosong. Itulah Vino saat ini.
Tbc
Vino mabok lagi, menurut Bunda-bunda sekalian dia ngapain abis ini😙