"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30. Elsa dalam bahaya
Seorang wanita berumur berdiri dihadapan Saruji, dengan menatap tajam pria tua itu.
Hamda dan Rusdi, beserta para isteri juga tercengang melihat kehadiran wanita tua, yang seharusnya sudah tidak ada disini karena sudah berbulan-bulan dinyatakan meninggal dunia saat itu.
"eh kok mirip simbok Minah ya?" tanya Bu Tuti
"itu memang simbok loh" Jawab Bu Mutia
"Bagaimana mungkin? kita semua melihat jenazah simbok waktu itu" ucap pak Hamdan
"Jika yang sekarang memang simbok Minah, lantas siapa yang kita kubur waktu itu?" tanya Rusdi heran
"bagaimana kau bisa ada disini?!" Saruji masih tak percaya jika yang ada dihadapannya kini adalah isterinya, yang telah ia bunuh waktu itu.
flashback on
"Kang, sudahlah. Hentikan semua ini! Semua hanya sia-sia karena Maya tidak mungkin bisa hidup kembali" ucap mbok Minah memperingati suaminya
"diamlah! kau hanya bisa bicara tanpa melakukan apapun! Aku yakin tuan Ku pasti bisa mengabulkan permintaan Ku" ucap Saruji sangat yakin
"Kang! Iblis itu hanya memperdaya dirimu! Jangan menjadi juragan Sapto yang pada akhirnya hanya menyisakan penyesalan dan malapetaka!" Teriak mbok Minah
"Ya!! Aku memang ingin menciptakan malapetaka itu untuk keluarga Wijaya!! Aku akan menuntut balas atas kematian Maya!" bentak Saruji
"Aku akan gunakan Nadira sebagai umpan agar tuan Ku bangkit sepenuhnya saat ini juga!" Saruji menyeringai mengingat Nadira yang saat ini sudah tiba di rumah warisan ini.
"Jangan macam-macam Kang! Nadira tidak tahu apa-apa disini" Ucap simbok Minah
"Dia tidak tahu apa-apa. Tapi dia lah darah pilihan. Maka dia yang harus dikorbankan!" Tegas Saruji
"kau sudah buta mata hati kang Saruji! Kenapa sebegitu inginnya kau menghidupkan Maya? Aku yakin hanya itu tujuan mu" mbok Minah menatap tajam ke arah Saruji
"Heh kau ingin tahu? Sangat ingin tahu?" Saruji menatap mbok Minah
"Maya adalah putriku bersama Weni, isteri keduaku!" tegas Saruji
Duarrrr
Mbok Minah serasa di sambar petir mendengar pengakuan dari sang suami. Ia sangat tak menyangka jika suami yang ia temani lebih dari tiga puluh tahun itu, ternyata memiliki isteri yang lain.
"Aku menikahi Weni dan kalian melahirkan dihari yang sama" Ucap Saruji memandang kedepan
simbok Minah masih terdiam. Ia ingat jika saat ingin melahirkan bayinya dulu, Saruji menghilang dan baru datang ketika ia baru sudah selesai melahirkan.
"Weni meninggal ketika melahirkan putri kami. Dan anak yang kau lahirkan juga meninggal tidak lama setelah di lahirkan. Itu adalah kesempatan ku untuk menukar bayi Weni dengan bayi yang kau lahirkan" Cerita Saruji membeberkan semuanya
Mbok Minah sungguh terkejut. Tidak ada kata-kata yang bisa ia keluarkan dari bibirnya. Ingin menangis, ingin marah? Untuk apa? Semua sudah terlanjur terlalu lama.
"dan mulai sekarang, jangan pernah campuri urusanku! Jika kau menghalangiku, maka aku tak segan untuk melenyapkan mu!" ancam Saruji menatap tajam simbok Minah.
Setelah hari dimana Saruji mengungkap Identitas Maya, Simbok Minah tidak pernah bertemu suaminya lagi. Ia merasa cemas akan nasib Nadira. Ia sangat menyayangi gadis itu karena waktu kecil dulu, ia yang sering mengasuhnya.
"Ya Allah bagaimana agar aku bisa menghentikan Kang Saruji?" Simbok Minah bangkit dari tempat tidur dan melakukan sholat malam.
Namun, ia merasa merinding ketika selesai sholat. ia merasa ada seseorang yang mengawasinya.
"jangan ganggu aku, aku tidak pernah mengganggumu!" ucap simbok Minah ketika ia melihat dua sosok menyeramkan di sudut kamar
"kami nggak ganggu kok mbok, kamu cuma mau ngasih tau aja, sebaiknya simbok segera pergi dari sini" ucap sosok gosong
"kenapa aku harus pergi?" tanya simbok
"karena suami simbok berencana ingin memb*nuh simbok besok malam" ucap sosok kribo
"kenapa aku harus percaya dengan ucapan setan seperti kalian?" tanya simbok yang masih tidak percaya
"Karena kami merupakan tahanan dia. kami tidak mau lagi menuruti kemauannya. pergilah, dan kami akan mengurus sisanya" ucap Sosok gosong
"jika aku pergi, bagaimana dengan Nadira dan Elsa?" tanya simbok yang mencemaskan Nadira
"akan ada yang menggantikan simbok nanti. Walaupun dia beraura gelap. Tapi dia tidak berbahaya" dua sosok tadi langsung menghilang setelah menyuruh simbok agar segera pergi dari rumah
Simbok Minah masih tertegun antara mau percaya atau tidak. Ia tidak percaya jika sang suami akan tega menghabisinya. Tapi, jika diingat kalau suaminya sekarang sudah bersekutu dengan iblis, maka bisa saja ia melakukan hal kejam itu.
"Aku akan mencoba mengikuti kata-kata dua setan tadi, jika memang benar maka aku harus melakukan sesuatu untuk melindungi Nadira" Akhirnya, simbok memutuskan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan siapa pun.
Ia bersembunyi dan mempelajari sebuah kitab ilmu putih yang ia dapat dari orang tuanya dulu.
Sedangkan Saruji, pria itu menyelinap ke kamar simbok Minah pada tengah malam. Ia melihat istrinya sedang tertidur pulas. Tanpa rasa iba, ia membekap Simbok Minah dengan bantal hingga isterinya itu kejang-kejang.
Setelah memastikan sang isteri meninggal, ia mengambil sebuah tali yang ia bawa. Ia ikatkan keleher isterinya dan digantung di kayu atap kamar.
Flashback off
"yang kau bekap itu hanya batang pisang. Dan lihatlah, betapa kau sangat mudah ditipu meskipun sudah bersekutu dengan iblis!" Ucap mbok Minah tajam
rombongan Rusdi dan Hamdan yang mendengar semuanya sangat terkejut dan tak menyangka. orang tua yang dari dulu tampak pendiam dan tak neko-neko justru menyimpan rahasia yang begitu besar
"jika kau tidak bertobat sekarang juga, maka terpaksa aku akan melenyapkan mu kang" Ucap mbok Minah pelan
"Hahaha kau kira aku takut? Aku punya tuan yang kuat! Dia akan segera mengalahkan mereka dan sebentar lagi dendamku terbalas! Dan kau akan ku cincang seluruh tubuhmu itu!" teriak Saruji
"Tuanmu yang mana? Ku lihat, dia mulai kewalahan dalam pertarungan" ejek simbok Minah
Saruji menoleh ke tempat dimana kolonyowo bertarung dengan Nadira dan Ki Satya. Ia melihat jika sang junjugan sudah terluka parah, akibat sabetan pedang naga Nadira dan serangan Ki Satya.
Nadira dan Ki Satya kompak bergerak lincah kesana kemari. Meskipun tubuh mereka juga terluka, namun mereka tidak berhenti menyerang hingga kolonyowo hampir kehabisan energi.
"Aku butuh darah suci, jika tidak maka aku akan musnah di tangan mereka" batin kolonyowo
"kenapa Hem? Kau sudah tidak sanggup?" ejek Nadira
"K*rang ajar! Ku habisi kau!!" Kolonyowo menyerang Nadira dengan brutal. namun, Nadira dengan lincah menghindar
"Belahan pedang naga!!"
Aaagghhhhh
kolonyowo mengerang kesakitan setelah dadanya terkoyak lebar akibat pedang naga Nadira.
"sedikit lagi nduk, ambil batu merahnya!" ucap Ki Satya yang masih melempar serangan kepada kolonyowo agar iblis itu tidak bisa bangkit.
"Darah suci, mana darah suciii" kolonyowo menatap kesana kemari. Jika menargetkan Nadira saja, sudah pasti ia akan kalah duluan.
hingga tatapannya mengarah ke Elsa. Gadis itu masih tak sadarkan diri. kolonyowo merasa senang karena akhirnya mendapat apa yang ia inginkan.
"mau kemana kau?!!" Nadira mengejar kolonyowo yang menuju ke tempat Elsa
"Jangan kau sentuh Elsa!" teriak Nadira yang melesat cepat ke arah Elsa
Nadira dan kolonyowo sama-sama hampir menggapai Elsa. dengan Sekuat tenaga Nadira berusaha mengambil Elsa agar tak disentuh kolonyowo.
"Darah sucii..." Lidah kolonyowo sudah menjulur panjang siap menembus tengkorak kepala
"Tidaakkkkkk!!!!!!"
Craaasssss
Aaaagggghhh