Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXXIV
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi
Aku tidak tahu kenapa ini terjadi
Yang aku tahu semua sudah berganti
Semua sudah berlalu dari rasa di hati
Kenangan indah telah berlalu
Waktu sudah berlalu
Buang rasa yang linu
Semua bukan lagi untukku
*****
Jam istirahat akan segera berakhir. Alan dan Anne yang sedang pergi ke klinik karena ada keperluan menjadikan kesempatan untuk Anna yang ingin bertanya sesuatu pada Larry.
"Emmhhh... boleh bertanya tentang kemarin?" Anna segera bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Tentang apa?" Larry pura-pura tidak tahu apa maksud dari pertanyaan Anna padanya.
"Ibu Ayu dengan Om Tio?" Anna menjelaskan pertanyaan yang diajukan olehnya.
"Oh, kamu dengar juga kan kemarin?" tanya Larry tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan Anna untuknya.
"Iya dengar, tapi kan tidak jelas. Aku tidak mau berpikir yang tidak-tidak jika tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya." Perkataan Anna di benarkan oleh Larry dalam hati. Dia tahu jika Anna bukan orang yang cepat mengambil kesimpulan begitu saja.
"Nanti aku cerita yang benar jika ada waktu luang. Sepertinya di sekolah tidak ada waktu yang cukup untuk cerita soal ini. Begitu juga cerita aku soal adikku. Aku ingin bercerita juga dan bertanya tentang sesuatu padamu." Jawaban dari Larry justru menjadikan Anna semakin penasaran. Tentang adik Larry yang Anna tidak pernah ketahui.
"Adik?" tanya Anna memancing. Tapi Larry hanya mengangguk dan tersenyum samar karena Alan dan juga Anne sudah terlihat dari beberapa meter di tempat mereka berada saat ini. Anna pun akhirnya tidak kembali bertanya lagi.
"Yuk balik!" Alan mengajak keduanya kembali ke kelas karena waktu istirahat sudah hampir selesai.
"Kapan-kapan kita jalan yuk kalau ada hari libur yang bukan Sabtu Minggu!" Larry memberikan usul saat berjalan di lorong sekolah menuju kelas.
"Ide bagus!" jawab Alan antusias.
"Gimana?" tanya Larry pada Anne dan juga Anna.
"Tidak tahu" jawab Anne singkat. Tentu saja dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Larry. Selain dia memang tidak bisa memutuskan, dia juga tidak banyak waktu hanya untuk sekedar jalan-jalan layaknya anak-anak yang lain. Mereka harus membantu yang lain jika ada waktu luang saat libur.
"Nanti kita coba ijin sana ibu Ayu saja." Alan memberikan usulan. Larry mengangguk setuju, sedangkan Anne dan juga Anna hanya saling pandang tanpa menjawab dengan pasti.
*****
Siang menjelang sore hari sepulang sekolah. Anna dan juga Anna berjalan menuju halte tempat menunggu angkutan kota seperti biasanya. Alan yang belum pulang dan masih menunggu Dinda pun menemani mereka sembari bercanda ria layaknya anak-anak pada umumnya.
"Inne, kalau misal dari kalian berdua jadi pacar aku tidak ada masalah kan?" Tiba-tiba Alan bertanya sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Anne dan Anna juga.
"Maksudnya apa?" tanya Anne cepat. Dia belum tahu jika Alan pernah bersandiwara saat jadian dengan Anna di depan Dinda.
"Begini Inne. Kemarin itu aku pernah bilang sama Dinda jika kami jadian agar Dinda berhenti menganggu Anna." Alan menjeda ceritanya, menunggu reaksi dari Anne.
"Benarkah? kapan, kenapa aku gak tahu?" tanya Anne sedikit terkejut dan langsung menatap ke arah Anna yang diam saja tanpa melihat juga ke arahnya.
"Kemarin waktu kamu dan Larry ada acara lomba." Alan menjawab pertanyaan dari Anne yang masih saja bingung.
"Kenapa?" tanya Anne lagi. Anne tidak habis pikir dengan apa yang direncanakan oleh Alan. Tapi kenapa dia jadi tidak senyaman sebelumnya sekarang ini. Anne sedikit bingung kenapa dengan dirinya saat mendengar perkataan dari Alan tadi.
"Aku hanya berpikir jika Anna jadi pacar aku, Dinda tidak lagi menganggunya. Tapi ternyata tidak. Dinda lebih peka jika semua ini hanya akal-akalan yang aku buat saja." Alan mengatakan semua yang terjadi waktu kemarin itu. Terdengar hembusan nafas lega dari Anne tanpa sadar. Tapi ini tidak luput dari perhatian Anna yang ada di sebelahnya.
"Apa kamu tidak berpikir, seandainya ini benar-benar terjadi? maksudku kamu benar-benar jadian dengan Anna?" tanya Anne mencoba mencari tahu tentang perasaan Alan maupun Anna sendiri.
"Apa maksudnya inne?" tanya Alan tidak mengerti.
"Apa kamu tidak ada rasa sedikit pun untuk Anna...?" tanya Anne hati-hati. Anna yang ada di sebelahnya jadi kaget mendengar pertanyaan dari Anne barusan.
"Inne... kamu ngomong apa sih!" Anna segera memotong perkataan Anne. Dia tidak mau Alan jadi serba salah dengan masalah ini seperti kemarin dulu.
"Aku cuma tanya saja. Jika ada kan lebih baik Anna..." jawaban dari Anne malah semakin membuat Anna tidak enak hati. Sedangkan Alan hanya diam saja sambil tersenyum samar.
"Sudah gak usah di bahas lagi. Ayok, itu angkutan kota sudah datang!" Anna segera berdiri dan berjalan ke arah angkutan kota yang datang dari arah depannya. Anne mengikuti sambil tersenyum pada Alan. Mereka melambaikan tangan bersamaan dengan Alan yang berdiri juga dari tempat duduknya. Alan kembali ke sekolah, menunggu Dinda yang sedang ada kegiatan lainnya.
*****
"Kak...!" Alan segera menoleh saat suara Dinda terdengar memanggil namanya. Dia segera berdiri dari bangku panjang yang ada di area parkir tempatnya menunggu Dinda.
"Maaf ya agak lama!" Dinda meminta maaf karena Alan harus menunggu dirinya.
"Iya gak apa-apa. Tapi traktir kakak makan ya, lapar nih!" Alan mengajukan syarat untuk permintaan maaf dari Dinda.
"Ih... gak ikhlas banget!" kata Dinda dengan bibir manyun karena cemberut.
"Hahahaha... iklhas si, cuma kalau ada traktiran juga kan lebih afdol!" Alan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"Iya deh, tapi Dinda uang tentukan makan apa nantinya!" Dinda menyetujui syarat dari Alan. Begitupun dengan Alan yang setuju dengan persyaratan Dinda tentang menu makanan yang akan mereka makan nantinya.
"Ayok!" Alan segera menghidupkan mesin motornya dan meminta Dinda memakai Helm serta segera naik. Tak lama mereka berdua meninggalkan area sekolah dan mencari warung makan yang sesuai dengan keinginan Dinda.
"Mau makan apa Din?" tanya Alan dengan suara kencang agar terdengar oleh Dinda.
"Cari soto ranjau saja!" jawab Dinda tak kalah keras, agar suaranya juga terdengar oleh Alan karena bersaing dengan suara mesin motor.
"Hai, mana ada jam segini soto ranjau masih sisa? jam makan siang saja kadang sudah tidak kebagian!" Alan menduga jika ini hanya akal-akalan Dinda saja agar batal mentraktir dirinya.
"Ada, cari ke arah sana!" Seru Dinda sambil menunjuk ke arah jalanan yang arahnya berlawanan dengan arah menuju kompleks perumahan mereka. Alan pun menurut dan mencari warung yang di sebutkan oleh Dinda tadi.
lanjut...