NovelToon NovelToon
Perfect Partner

Perfect Partner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Karir / Duniahiburan / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Romansa
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.

Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.

Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinner

Apa yang akan kalian kenakan untuk pergi makan malam bersama teman baik yang sudah tidak ditemui selama lebih dari sepuluh tahun?

Karena saat ini, Sena benar-benar kesulitan menentukan pilihan. Dia tahu, Andy bukan tipikal yang akan menjudge selera berpakaiannya. Namun, Sena tetap ingin memberikan kesan yang baik malam ini.

Dia berdiri di depan cermin, memilah padanan outfit mana yang paling cocok untuk dikenakan. Andy memberitahunya untuk mengenakan pakaian yang membuatnya nyaman, toh itu bukan makan malam mewah atau sejenisnya.

Sena mengitarkan pandangannya, memindai beberapa pasang pakaian yang berjajar di atas kasurnya, sebelum akhirnya mengambil celana beige favoritnya dengan gerakan penuh ragu. Dia memutuskan mengambil kaos putih dan sweater vest untuk layering di atasnya. Setelah menambahkan beberapa aksesoris, dia merapikan rambutnya dan mengecek penampilan finalnya di cermin. Ia mengangguk, berputar sedikit untuk melihat dari beberapa sisi.

Demi menambah percaya diri, Sena mengambil foto selfie dengan menyembunyikan wajahnya, lalu memostingnya ke Instagram story. Tak lama setelah foto itu diunggah, pesan masuk dari Andy muncul di pop up notifikasi. Sena membuka pesannya, yang berisi pemberitahuan bahwa Andy baru saja berangkat untuk menjemputnya. Sena membalas ok, dan melanjutkan persiapan akhirnya; memasukkan dompet ke dalam tas selempang.

Sena keluar kamar dan duduk di sofa, sembari mengitarkan pandangannya. Hana belum pulang ke rumah rupanya. Detik berikutnya, Nan datang, langsung duduk di dekat kakinya, dan menatapnya dengan sorot mata yang polos. Sena tersenyum dibuatnya. Dia membungkuk, mengusap kepala anjing kesayangannya itu dengan kedua tangan, mengundang gerakan antusias dari ekor Nan.

"Aku penasaran, seperti apa obrolan kami akan berlangsung setelah sekian lama," gumamnya, menatap Nan yang tampak seperti serius mendengarkan.

Tidak peduli seberapa banyak ia meyakinkan diri, Sena tetap saja merasa gugup. Momen ini sudah dinantikannya sejak lama. Dia berpikir segalanya akan baik-baik saja saat momen ini tiba, tapi ada sisi di dalam dirinya yang ragu-ragu.

Karena jika ada sesuatu yang tidak berjalan baik, dan pertemuannya kembali dengan Andy malah berakhir canggung, atau dia dan Andy menyadari bahwa mereka sudah tidak match lagi, itu artinya Sena akan betulan kehilangan Andy kali ini.

Lamunannya buyar saat bel rumahnya berbunyi. Sena membungkuk lebih dalam, mengecup puncak kepala Nan.

"Dia sudah datang, Nan. Doakan aku yang terbaik," bisiknya seraya bangkit dari sofa.

Sena mengintip dari monitor kecil di sisi kanan pintu, mendapati Andy berdiri di sana. Wajahnya tertutup masker, hanya menyisakan ruang untuk kedua matanya mengintip. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sewaktu Sena membuka pintu, Andy mengangkat kepala dan seketika tersenyum.

"Hai!"

"Hai, Andy!" Sena balas tersenyum, merentangkan tangannya lebar. Andy menyambut rentangan tangannya, memeluk Sena erat.

Setelah beberapa detik, Andy melepaskan pelukan dan melangkah mundur. Ia menatap Sena naik-turun. "Oh, aku suka outfit-mu hari ini."

"Terima kasih. Aku berusaha keras untuk tampil maksimal. Aku juga suka penampilanmu."

Andy hanya tersenyum. "Siap berangkat?" tanyanya.

Sena mengangguk cepat. Dia berbalik untuk menutup pintu. "Aku pergi dulu, anak-anak. Baik-baik di rumah!" serunya, lalu menutup pintu dan menggiring Andy pergi.

"Kau bicara dengan siapa?" tanya Andy, tatapannya penuh kebingungan.

"Oh," Sena terkekeh, memahami kebingungan di wajah Andy. "Hewan peliharaanku. Aku punya seekor kucing dan seekor anjing."

Mata Andy melebar dan ia tampak tersentak. "Serius?! Dan kau tidak memperkenalkanku pada mereka?!"

"Itu adalah strategi yang sudah kusiapkan," balas Sena, sengaja bermain-main. "Dengan begitu, kau akan punya alasan untuk datang lagi ke sini."

Andy mencebik. "Tanpa itu pun, aku pasti akan datang lagi," gerutunya.

Sena tidak menanggapi gerutuan Andy, merasa cukup menggoda teman baiknya itu hari ini. Mereka pun melanjutkan perjalanan, sampai tiba di samping sebuah van hitam. Andy berjalan lebih dulu, membukakan pintu van untuk Sena.

"Wah ... gentleman." Sena bergurau, lalu akhirnya naik.

"Ini Jungho, manager kami." Andy  memperkenalkan pria yang duduk di balik kemudi setelah duduk di sebelah Sena dan menutup pintu.

"Senang bertemu denganmu," kata Sena, seraya menunduk sopan. Jungho membalikkan badan untuk balas sapaan Sena, kemudian berbalik lagi dan mulai melajukan kendaraannya.

Sena merasa sedikit canggung dengan keberadaan Jungho. Dia tidak yakin apakah bisa leluasa berbicara dengan Andy di sini, ataukah dia harus menunggu sampai tiba di restoran saja. Namun, Andy segera memecahkan kecanggungan itu ketika ia berbicara.

"Bagaimana kabarmu?"

Sena menoleh padanya. Andy menatapnya lembut, menanti jawaban.

"Aku baik-baik saja. Sedikit sibuk, tapi over all baik. Bagaimana denganmu?"

"Aku juga."

Sena mengangguk kecil. "Omong-omong, kita mau ke mana?" tanyanya. "Apakah tempatnya cukup familier untukku? Atau itu adalah tempat mahal, yang hanya bisa didatangi para selebriti?"

Andy terkekeh dan menggelengkan kepala. "Bukan tempat mahal semacam itu. Namanya Hera's Dinner, letaknya di dekat gedung perusahaan, itu sebabnya kami sering ke sana."

Sena hanya berdeham menanggapi. Ia tidak familier dengan nama tempat itu, belum pernah ke sana juga. Untungnya, letaknya tidak terlalu jauh dari apartemennya, sehingga mereka tiba dalam waktu relatif singkat. Sena berterima kasih kepada Jungho, disusul Andy melakukan hal yang sama. Mereka pun bergegas masuk, sebelum ada yang menyadari keberadaan Andy dan memungkinkan tertangkap radar paparazi.

Staf di bagian pintu masuk, langsung mengenali Andy dan menyapa serta membungkuk sopan. Sena dan Andy lantas digiring menuju private room di bagian belakang restoran. Mereka mengambil posisi duduk sementara menunggu staf lain menyiapkan orderan.

Sena menatap Andy, tersenyum lembut. Pria itu menatap balik dan melakukan hal serupa, senyumnya bahkan terasa lebih hangat.

"Kita harus mulai dari mana?"

Andy terkekeh. "Entahlah."

"Kalau begitu, coba ceritakan apa yang terjadi setelah kau pindah ke sini. Mari kita mulai dari yang paling awal."

"Oke," sahut Andy. "Pertama, aku diperkenalkan kepada beberapa orang di perusahaan, seperti koreografer, guru vokal, dan para staf lain di belakang layar. Kemudian ... mulai pelatihan. Mereka mengajariku banyak hal, termasuk pelajaran etika. Sejujurnya, aku kebingungan waktu itu," Dia tertawa selama jeda. "Mempelajari budaya Korea sebagai seseorang yang lahir dan besar di Kanada adalah sesuatu yang sulit. Ada beberapa hal yang sudah diajarkan oleh ayah dan ibuku ketika aku kecil, tapi begitu datang ke sini, aku sadar ada banyak sekali hal yang masih asing."

Sena mengangguk setuju. Sama seperti yang Andy katakan, ia pun sempat mengalami culture shock saat pertama kali datang ke sini. Orang-orang memperlakukan satu sama lain dengan cara yang 180 derajat berbeda, dan dia harus cepat-cepat menyesuaikan diri.

"Apalagi, aku masih dalam tahap belajar Bahasa Korea, jadi cukup sulit bagiku untuk mengerti apa yang mereka ajarkan."

Sena tahu Andy tidak tumbuh besar dengan diajari Bahasa Korea sebanyak dirinya. Orang tuanya hanya sesekali mengajarinya hal-hal dasar, tidak sampai mengawal hingga Andy bisa berbicara dengan fasih. Bisa dimengerti, mereka mungkin hampir tidak berpikir Andy akan pindah ke Korea, setidaknya di umurnya yang masih sangat belia.

Sementara Sena, ia dibesarkan dengan berbagai macam bahasa. Percakapan yang terjadi di rumah, sesekali dilakukan dalam Bahasa Korea. Hal itu dimaksudkan agar Sena tidak kehilangan jejak leluhurnya. Agar ia tidak terlena dengan budaya Kanada dan melupakan bahwa ada darah Asia mengalir di tubuhnya.

"Itu adalah perjalanan yang panjang, sampai akhirnya kami debut di 2018." Andy mengakhiri.

"Sejujurnya, terasa aneh saat melihatmu debut pertama kali. Melihatmu menari, bernyanyi, dan bahkan melakukan rap. Tapi aku bangga padamu," kata Sena. "Sampai kapan pun, aku akan selalu bangga."

Wajah Andy berseri, dipenuhi kelegaan dan perasaan senang. Dia sudah terbiasa mendapatkan pujian, tetapi rasanya tetap berbeda saat seseorang yang dekat dengannya memberikan masukan yang penuh cinta. Andy selalu mengapresiasi setiap pujian dari fans, bagaimana pun bentuknya. Tapi, pujian yang datang dari teman dan keluarga selalu berarti lebih baginya.

Pintu ruangan mereka terbuka, staf masuk mendorong troli berisi semua pesanan. Sena dan Andy berterima kasih pada staf perempuan itu setelah ia meletakkan semua pesanan di meja. Setelahnya, staf perempuan itu pergi usai membungkuk sopan, menutup kembali pintu private room untuk memberikan waktu privat pada sang idol dan temannya.

Keduanya mengambil sumpit. Sena sudah menggerakkannya untuk mengambil sepotong daging dari piring, ketika ia menyadari Andy menutup  mata dan menggumamkan sesuatu. Ia tersenyum, senang melihat Andy masih patuh berdoa lebih dulu sebelum menyantap makanannya. Sena menunggu sampai Andy selesai, sebelum mulai makan bersama.

"Apa yang terjadi di Vancouver setelah aku pergi?" Mark bertanya. Sena menelengkan kepala, tampak berpikir ke belakang, mengingat kembali hidupnya bertahun-tahun lalu sebelum pindah ke Korea.

"Teman-teman di sekolah mengira kau mati," celetuknya, langsung memberikan statement yang menusuk.

Andy tertawa lebih dulu, sampai ia menyadari apa yang Sena katakan dan berakhir membulatkan mata terkejut. "Hah? Apa?" serunya.

"Ya..." Sena terkekeh. "Kau menghilang begitu saja tanpa jejak, jadi aku mengerti kenapa mereka bisa berpikir demikian."

Andy menggeleng, menyesap minumannya sedikit. "Tapi pikiran mereka terlalu ekstrem, kau tahu? Bagaimana bisa mereka berpikir aku mati, di antara banyaknya kemungkinan lain."

"Benar. Terkadang aku hanya menjawab bahwa kau pindah, lalu kami perlahan melupakan soal kepergianmu, dan melanjutkan hari-hari tanpamu."

"Jangan bicara begitu," Mark mencebik, pura-pura merajuk. "Itu menyakiti perasaanku."

Sena mengedikkan bahu. "Kau yang pergi, ingat? Kami harus apa jika bukan tetap menjalani hidup tanpamu."

Senyum di wajah Andy perlahan sirna setelah kalimat itu keluar dari bibir Sena. Ekspresinya berubah serius. Dia tahu itu adalah gurauan, tapi kemudian dia teringat pada kehidupan lamanya yang dia tinggalkan begitu saja tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

"Sejujurnya..." Dia memulai. Nada suaranya yang kedengaran serius mencuri perhatian Sena. "Maaf sudah pergi. Tidak pernah terpikir olehku, seberapa banyak itu telah menyakitimu."

"Andy," Sena berkata lembut, memaksa Andy menatap matanya. "Jangan bicara begitu."

"Tapi, bukankah itu benar?" tanyanya.

Sena menghela napas rendah, mengelap bibirnya menggunakan tisu. "Tentu saja rasanya berat melihat teman baikku pindah ke negara lain. Kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama, sehingga menjadi terbiasa. Rasanya sulit saat tahu kau tidak lagi ada di sisiku tapi," ungkapnya, menatap Andy intens. "Melihatmu bisa mencapai banyak hal di sini, sudah cukup untuk menebus semua kesulitan yang kulalui selama bertahun-tahun belakangan ini. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, itu saja."

Andy menatap Sena lekat-lekat. Ia tahu gadis itu berucap jujur, ketulusannya bahkan terpancar dari kedua matanya. Tapi tidak bisa dipungkiri, Andy tetap merasa bersalah. Terlebih lagi sekarang, saat akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Teringat lagi olehnya masa-masa di mana mereka tidak saling tahu kabar masing-masing. Dia terlalu sibuk mengejar mimpi di sini, tidak tahu bahwa teman baik yang selalu mendukungnya ternyata harus menjalani kesulitan seorang diri, selepas ia pergi. Adalah sebuah penyesalan bagi Andy, meninggalkan Sena seperti itu.

"Andy," kata Sena, menariknya dari lamunan. "Jangan memikirkan sesuatu yang buruk."

Andy mendesah panjang, mendongakkan kepala dalam upaya mencegah air matanya tumpah.

Melihat itu, Sena segera mendekat. "Kemarilah," katanya. Lengannya yang terbuka, menutup sempurna saat tubuh Andy akhirnya masuk ke dalam pelukannya. Ia membiarkan pria itu membenamkan wajah di lehernya. Punggung Andy diusapnya lembut, sementara wajahnya bersandar di bahu teman baiknya itu.

"Aku hanya," bisiknya. "Aku hanya sangat merindukanmu, Lara."

Sena merasakan sesuatu memberontak di dalam dirinya setelah mendengar pengakuan itu. Dia mengeratkan pelukan. "Aku juga merindukanmu, Andy. Jangan salahkan dirimu, yang terpenting sekarang kita sudah bersama lagi." Dia menarik kepalanya menjauh, tersenyum tulus.

Andy mengangguk. "Ya ... bersama lagi." Akhirnya senyum muncul juga di wajahnya, sebelum akhirnya dia memeluk Sena sekali lagi.

Bersambung...

1
Zenun
jiaelah babang
nowitsrain: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Zenun
🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Zenun
teman yang lebih dari teman🤭
Zenun
benarkah begitu😁
Zenun
setuju dengan Andy sih
Zenun
waduh
Zenun
bisa bahasa qalbu😁
Zenun
dan teman-temannya Andy datang
Zenun
Kirain Andy menjaga jarak
Zenun
mungkin Andy jadi canggung karena dia sebenarnya hanya menganggap teman😁
Zenun
Kasihan kamu Andy😄
Zenun
benarkah begitu? 😁
Zenun
kayanya mereka kompak mau mngerjaimu, Andy
nowitsrain: Andy yang malang
total 1 replies
Zenun
kalau begitu kredit aja
nowitsrain: No no ya
total 1 replies
Zenun
weh, gak mau jagain mereka😁
nowitsrain: Wkwk ditinggal biar berduaan
total 1 replies
Zenun
hayoloooo
Zenun
bisa main bareng lagi ya Sena😁
nowitsrain: Yoyoyy.. Bersama mengguncang dunia
total 1 replies
Zenun
akankah pertemanan itu akan berubah menjadi asmara?
nowitsrain: Jeng jeng jeng
total 1 replies
Zenun
Nah, coba saran Hana ini
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
Mungkin sebenarnya Andy ngeh, tapi lagi mengingat-ingat kaya kenal muka tapi lupa nama😄
nowitsrain: Wkwk bisa juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!