Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Telepon keluarga selalu sukses meruntuhkan wibawa yang selama ini Cyan bangun dengan baik. Bahkan kalau dia berdiri dengan sepatu hak paling tinggi pun, suara-suara rumah itu membuatnya seperti menjadi anak kecil yang diam dan hanya bisa menghela napas.
Dan pagi ini, hal itu terjadi lagi.
“Cyaaannn, kabarmu piye, Nduk?” Suara Bude Sri menyapa dari seberang sana. Seolah jarak mereka hanya dipisahkan sebuah pos ronda.
“Baik, Bude. Ini Cyan udah mau—”
Belum selesai berbicara, Cyan rencananya ingin langsung menekan tombol merah. Namun, terlambat sudah, ia telanjur mendengar suara kencang memekikkan telinga itu.
“HALOOOO, CYAN! TEMANMU ADA YANG MAU MENIKAAAH!”
Cyan membeku, pandangannya berubah kosong. Pikirannya melayang-layang, menduga apa lagi tragedi hidup yang membuatnya depresi berkepanjangan.
“Iya loh Cyan, teman SD-mu itu baru lamaran. Tinggal kamu nih yang belum. Kapan, Nduk? Di kampung loh udah rame ngomongin kamu.”
Cyan menutup mata. “Bude, Cyan ....”
Bude Sri kembali menyela, “Kemarin pas arisan keluarga, semua orang bilang, ‘Iki Cyan kok durung nikah-nikah? Opo karepe?’ Kamu itu loh, Nduk ... sudah saatnya.”
Mamanya mengangguk seolah menerima wahyu. “Iya, nanti keburu jadi perawan—”
“MA!”
“—tua.”
Cyan ingin sekali menutup telepon lalu menenggelamkan diri ke kasur. “Bude, Cyan tutup dulu ya. Ada meeting.”
“Tapi—”
Telepon ditutup lebih cepat dari kecepatan gosip di grup keluarga. Cyan menatap layar ponselnya yang gelap, lalu ia jatuh berbaring dan menghela napas berat. Perawan tua?
Sungguh hanya dua kata, tetapi menyengat bagai racun. Membekas di benak dan hatinya, akan menjadi alasan mengapa ia harus lebih giat bekerja sekarang.
***
Cyan masuk kantor dengan langkah pelan, tidak seperti biasa yang cepat terburu-buru seolah ditunggu zombie lift di ruangannya. Kini ekspresi wanita itu cenderung kaku, lengkap dengan embusan napas kasar yang beradu. Bahkan aroma kopi dan teh yang menyapa paginya tidak mengubah apa-apa.
“Cyan? Kok muka lo kayak abis disetrap Pak RT?” tanya Alya sambil memiringkan kepala, penasaran dengan gaya.
“Jangan tanya apa-apa,” jawab Cyan datar, bahkan enggan menoleh ke arah lawan bicaranya.
“Oke, noted. Gue mundur teratur.” jawab Alya sambil berjalan menjauhi wanita itu.
Cyan langsung menuju cafe kecil di lantai satu. Untuk hari ini saja, ia butuh waktu seorang diri untuk mengisi ulang energinya. Tanpa gangguan orang lain, bahkan Alya sekalipun yang selalu bersama Cyan ke mana pun gadis itu melangkah.
Ia duduk dan memesan kopi hitam tanpa gula. Saat sedang menatap kosong ke dinding, tiba-tiba sebuah kursi digeser dan seseorang duduk tanpa permisi.
“Permisi, Bu Syan cantik.”
Cyan tidak menoleh. Ia sudah tahu suara itu.
Magenta.
Dia mengedip ke arah Cyan, kemudian menyengir kecil. “Tumben banget kamu ngumpet di kafe sendirian. Biasanya bareng Alya atau gak sambil bentak-bentak aku.”
“Aku lagi gak mau diganggu,” balas Cyan datar, enggan mendongak lagi setelah tahu siapa yang datang.
“Oke, tapi kamu tau gak? Hari ini muka kamu ....”
“Jangan nambahin bebanku, Genta. Sumpah demi apapun. Aku serius.”
Magenta menutup mulutnya dua detik, lalu membukanya lagi.
“Kamu tuh marah-marah mulu dah Syan, nanti jadi perawan tua loh.”
Kopi di tangan Cyan hampir jatuh.
“MAGENTA.”
“Apa? Aku cuma mengulangi pepatah dari ibu-ibu kantor lantai dua tadi.” Ia berkedip cepat, lagi-lagi tidak merasa bersalah. Tidak peka bahwa dua kata itu sangat sensitif di telinga Cyan.
Cyan memejamkan mata, menahan diri agar tidak melempar gelas ke arah Magenta. “Aku bilang jangan nambahin beban, Genta.”
“Syan, kamu kenapa sih? Serius, kamu kalau lagi down itu kelihatan. Dari raut kamu aja aku udah tahu ada yang dipikirin.”
“Gak ada apa-apa, Genta. Tolong pergi aja dari sini dalam damai,” ucap Cyan lebih tegas, sengaja agar Magenta tahu dirinya tidak main-main saat ini.
Namun, Magenta tidak bergerak satu sentimeter pun. Seolah ia tidak mau mendengar kalimat tajam pengusiran itu yang ditujukan untuknya. Entahlah, terbuat dari apa kepala lelaki ini? Keras sekali.
“Gak. Aku gak akan pergi sebelum kamu baik-baik aja.”
“Aku ditelepon keluarga semalam. Mereka nanya kapan aku nikah. Terus aku juga mulai jadi omongan keluarga besar di kampung. Bahkan Bude aku bilang aku ini perawan tua.” Cyan menghela napas panjang, lalu kembali menikmati kopinya.
Sesuatu yang berbeda pun terjadi. Magenta langsung diam, menunggu kalimat selanjutnya. Tidak seperti biasanya, pria itu seolah tahu tempat dan situasi. Kapan ia menyimak rendah hati, kapan mengeluarkan jokes spontan yang mengundang gelak tawa satu ruangan.
“Syan,” panggil Magenta pelan, hampir seperti berbisik.
“Stop. Tatapan kamu udah kayak pewawancara uang kaget. Aku gak butuh dikasihani.”
“Aku gak mengasihani. Sabar dulu, dengerin aku ngomong. Aku cuma paham rasanya digosipin keluarga. Orang-orang Jogja itu kalau udah bahas nikah, topiknya nggak akan mati tiga tahun,” pungkas Magenta seakan tahu segalanya.
“Aku capek banget, Gen,” ujar Cyan mengusap wajah, setengah menunduk.
“Kamu butuh solusi cepat gak?”
“Solusi apa? Mindahin keluargaku ke Mars?”
“Bukanlah. Tapi aku ada ide yang lebih gila dan ekstrim dibanding itu.”
“Magenta, ide kamu biasanya bikin aku pusing. Perasaanku juga mulai gak enak.” Gadis itu menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Dijamin, kamu pasti butuh banget. Gimana kalau aku pura-pura jadi calon suamimu?”
“HAH?” Cyan bengong, matanya memelotot syok, terkesiap mendengar ucapan Magenta barusan.
“Stop ngaco, Genta. Ini masalah serius,” sambungnya.
“Aku juga serius.”
“MAGENTA.”
“Syan, kamu cuma perlu seseorang buat dikenalin ke keluargamu, ‘kan? Setidaknya biar gosip berhenti, terus kamu juga lepas dari tekanan dari mereka. Masa sih kamu gitu aja nggak paham?” pungkas Magenta menyandarkan tubuhnya.
Cyan membuka mulut ingin menimpali, tetapi urung seketika. Belum sempat memilah kata, Magenta begitu cepat melanjutkan kalimatnya.
“Kalau kamu butuh banget stuntman dari pada bayar orang, aku bisa kamu pajang ke keluargamu. Aku nggak jelek-jelek amat. Mereka juga pasti cocok sama aku karna aku juga orang Jogja.”
Cyan mengambil napas panjang, seakan oksigen di dunia ini hanya miliknya seorang. Ia menyingkirkan perasaan malu, jengkel, juga letih yang terlalu mengaduk isi kepala. Sementara Magenta duduk di seberang sana, sendirian. Menunggu jawaban dengan ekspresi tenang, padahal kakinya bergerak seperti sedang menggunakan mesin jahit.
“Syan. Coba pikirkan sekali lagi. Kamu tuh cuma perlu seseorang buat dikenalin ke keluargamu. Seseorang yang, ya, setidaknya bisa bikin bude kamu berhenti ngatain perawan tua tadi,” ucap Magenta kembali mengulang.
“Aku paham, tapi bisa gak jangan ulangi dua kata itu? Kayaknya kamu sama aja, suka ngejek aku juga,” cerca Cyan.
“Oh, ya, maaf. Tadinya mau pakai istilah lain, tapi takut makin gak enak didenger. Emm, gadis kadaluarsa? Cewek expired?” Hm, andaikata ada Alya dan Raka di sini, sudah tentu tawa mereka pecah seketika.
“Udah lupain aja. Jadi apa tadi? Kamu mau mengorbankan diri dan nyawamu demi aku?” balas Cyan mengalihkan pembicaraan.
“Ya, aku bersedia, Syan.” Ia menjawab cepat, tanpa keraguan sedikit pun. Tidak perlu berpikir panjang untuk keputusan seperti ini.
“Kenapa? Kamu itu Magenta. Kamu itu sumber keributan hidupku. Apa jadinya kalau kamu nyamar jadi pacarku? Makin kacau aja idupku ini,” kata Cyan meremehkan.
“Eits, jangan salah. Aku keributan yang punya kontrol, gak asal-asalan. Lagi pula, kamu butuh sesuatu buat nutup mulut keluargamu dan aku rela tanpa dibayar sepeser pun.”
“Kamu rela karena apa? Karena kamu bosan hidup?” tanya Cyan menyelipkan senyum.
“Bukan. Karena aku gak tahan lihat kamu kayak gini. Kamu itu biasanya tegas dan keren, tapi sekarang kayak karyawan biasa juga. Gak seru banget.”
Hati Cyan mencubit pelan. Ia menunduk dan diam sesaat.
“Kalau aku terima tawaranmu, apa kamu gak ngerasa rugi?”
Magenta menaikkan alis, seolah jawaban Cyan sudah jelas. “Gaklah. Aku malah senang. Ini kesempatan emas jadi calon suami paling berprestasi.”
“Aduh ampun Tuhan.” Cyan memijat pelipis, seketika sakit kepalanya bertambah parah.
“Syan. Kamu butuh bantuan, aku nawarin. Sekarang tinggal kamunya aja bilang iya atau tetap stress sendiri sampe lebaran monyet.”
Cyan terdiam. Kembali merasakan semua kalimat keluarganya semalam kembali berdengung di telinga. Kapan nikah, perawan tua, kapan nyusul, dan satu-satunya orang yang muncul menawarkan tali penyelamat justru pria menyebalkan ini.
Ah, mengapa harus Magenta? Setidaknya ada yang lebih baik, yaitu Raka, meski pria itu nyalinya lebih kecil dibanding Magenta.
“Okedeh,” katanya mendesah panjang.
“Okedeh apaan?”
“Oke. Aku mau kamu jadi calon suami palsuku, tapi jangan GR. Ini murni karena aku butuh bantuan, bukan karena aku tertarik sama kamu.”
“Deal banget dong jelas,” balasnya senang, tersenyum puas seolah habis menang undian, “tapi ....”
“Nah, ‘kan. Ampun. Udah kuduga bakal ada tapinya.”
“Syarat. Kalau aku terlambat masuk rapat, bikin onar, atau aku nyeletuk seenak jidat, kamu gak boleh marah kayak kemarin.”
Cyan tersentak. “HAH?!”
“Tone marahmu harus diturunin 30% minimal. Ya, anggap saja bayaran karena aku gak minta secara materi.”
“Bayaran buat apa?” tanya Cyan lagi.
“Karena aku udah mau jadi calon suami dong. Astaga, Syan, jadi muter-muter gini. Sekarang aku yang pusing.”
“Magenta, kamu sadar gak, marah itu bentuk pertahanan semua orang. Kalau gak marah, yang ada orang-orang menyepelekan.”
“Makanya aku minta cuma turunin nada marahmu 30%. Jangan rakus, bertahap aja.”
“Duh yailahh ribet banget idup ini pusing dah.”
“Lho, Syan kalau mau aku bantu, kamu juga harus bantu aku dong.”
“Iyasih.”
“Kalau udah deal aku udah siap mau jadi pacar kamu. Jadi gimana, kita oke kan?”
Cyan menelan ludah. Sebenarnya ia lega karena syaratnya begitu sederhana, tidak mengeluarkan banyak tenaga. Hanya itu? Mudah sekali. Cyan yakin bisa melewati. Setidaknya sampai badai tuduhan ‘perawan tua’ itu berlalu.
Beberapa detik, ia hanya menatapnya, lalu mengangguk pelan.
“Okedeh. Syarat diterima. Tapi kamu harus meyakinkan ya didepan keluargaku?”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣