"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Kantin sedang ramai sore itu dan meja tempat Leana duduk terasa seperti pusat perhatian. Di depannya, Aaron, pria yang dikenal sebagai playboy kelas kakap kampus sedang bersandar dengan gaya sok keren, memamerkan kunci mobil sport-nya di atas meja.
"Ayo, Lea. Hanya satu malam. Makan malam bersamaku di restoran rooftop paling mahal di Milan. Apa susahnya?" bujuk Aaron dengan senyum miring yang menurutnya menawan.
Leana memutar bola matanya malas. Ia tetap fokus pada layar ponselnya. "Sudah berapa kali kubilang, Aaron? Aku tidak tertarik. Cari saja mangsa lain."
"Mangsa? Kasar sekali," ucap Aaron seraya melirik ke arah teman-temannya di meja seberang yang sedang memperhatikan sambil tertawa-tawa. "Aku serius. Aku bisa memberimu apa pun yang tidak bisa diberikan oleh pengawal kaku yang selalu membuntuti mu itu."
"Jangan bawa-bawa dia. Kau tidak ada apa-apanya dibanding ujung sepatunya," ketus Leana.
Aaron mendengus kesal. Ia merasa harga dirinya terluka karena ucapan Leana. Semetara di meja seberang, teman-temannya berteriak, "Oi, Aaron! Ingat kalau gagal, mobil kesayanganmu akan jadi milik kami!"
"Dengar, cantik. Aku tidak suka ditolak. Dan aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan," bisik Aaron mengabaikan ucapan teman-temannya.
"Cobalah kalau berani," tantang Leana sebelum berdiri dan melenggang pergi.
"Sial! Awas kau Lea. Sudah tak perawan, masih saja menyombongkan diri!" batinnya.
*
*
Leana berjalan menuju parkiran melewati lorong belakang laboratorium yang cukup sepi. Jimmy tadi mengirim pesan bahwa dia sebentar lagi sampai.
Tiba-tiba, jalan Leana dihadang oleh Aaron dan tiga orang temannya.
"Mau ke mana buru-buru, Lea?" tanya Aaron. Wajahnya tidak lagi ramah, seringai jahat terukir di sana.
"Minggir, Aaron. Aku tidak punya waktu untuk leluconmu." Leana mencoba menerobos, tapi satu teman Aaron mencengkeram lengannya.
"Lepaskan!" teriak Leana.
"Tidak sebelum kau ikut kami sebentar." Aaron mengeluarkan sebuah saputangan kecil dari sakunya. "Kami hanya ingin kau ikut ke pesta pribadi kami. Kalau kau tidak mau dengan cara halus, terpaksa kami memakai cara kasar."
"Kau gila! Ayahku akan membunuhmu!" ancam Leana Ia mencoba merogoh ponsel di tasnya, tapi teman Aaron yang lain merampas tas itu dan melemparnya ke lantai.
"Ayahmu jauh di Italia, Sayang. Dan pengawalmu yang sok jagoan itu tidak tahu kau ada di sini, kan?" Aaron maju selangkah, hendak membungkam mulut Leana dengan saputangan yang sudah dibasahi cairan bius.
"Siapa yang bilang aku tidak tahu?" Suara dingin itu datang dari kegelapan lorong.
Aaron dan teman-temannya tersentak seraya menoleh ke belakang. Di sana, Jimmy berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
"Jimmy!" teriak Leana. Ia bisa saja menghajar Aaron saat ini juga. Tapi, jika ada tiga pria jelas kekuatannya tak sebanding dengan mereka.
Jimmy melepas jam tangan mahalnya, lalu menyimpannya dengan tenang ke dalam saku jas.
"Satu... dua... tiga... empat anak ingusan," gumam Jimmy seolah sedang menghitung sampah.
"Heh, pak tua! Jangan ikut campur! Ini urusan anak muda!" bentak salah satu teman Aaron yang bertubuh besar.
"Anak muda katamu? Kalian hanya sekumpulan bocah yang belum pernah melihat darah sendiri mengucur di lantai," balas Jimmy dingin.
"Habisi dia!" teriak Aaron panik.
Dua teman Aaron mulai menyerang Jimmy. Sayangnya, Jimmy berhasil menghindar. Ia menangkap lengan salah satu dari mereka dan memutarnya ke belakang dengan kasar. Lalu, satu tendangan kuat ke arah ulu hati membuat pria lainnya terkapar sambil memuntahkan darah. Hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, dua orang sudah tumbang.
Jimmy beralih menatap Aaron yang kini gemetar hebat.
"Kau pria yang ingin mengajak putri Diego Frederick kencan sebagai taruhan?" Jimmy melangkah mendekat, auranya begitu pekat hingga udara disekitar Aaron seakan sulit dihirup.
"A—aku... aku minta maaf! Aku tidak tahu dia—"
Jimmy mencengkeram leher Aaron, mengangkat pria itu hingga kakinya menggantung dari lantai.
"Kau menyentuh lengannya dengan tangan kotor mu tadi!"
Jimmy memutar tangan Aaron ke belakang dengan sangat keras.
"Aaarrgghh!" teriakan Aaron pecah.
"Jika aku melihatmu mendekati Leana, aku tak hanya mematahkan tanganmu. Tapi juga memastikan, kau tak bisa berjalan lagi seumur hidupmu. Mengerti?"
Jimmy mendorong Aaron ke lantai seperti sampah dan segera melarikan diri.
"Sudah kubilang jangan lewat lorong sepi," ucap Jimmy wajah datar khasnya.
Leana tidak menjawab. Ia justru menghambur ke pelukan Jimmy, memeluk pria itu erat-erat.
"Aku tahu kau pasti datang, Jim," ucapnya.
Jimmy mematung di tempat, tangannya yang masih mengepal perlahan rileks. Awalnya ia ragu tapi akhirnya tak lagi menahan diri dan menarik gadis itu ke pelukannya.
"Ayo pulang. Aku harus membersihkan tanganku dan tubuhmu dari kuman-kuman bocah itu," ajak Jimmy.
Leana mendongak. "Kau sangat keren tadi. Seperti serigala sungguhan."
"Diamlah, Nona. Kau tetap kena hukuman karena tidak patuh padaku." Jimmy membopong Leana dan membawanya masuk mobil.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁