Gadis yang berasal dari keluarga sederhana harus terpaksa jadi pembantu pribadi anak yang mempunyai perusahaan Shengu tempat gadis itu bekerja.
Awalnya gadis itu menolak karena pria yang dipanggilnya Tuan muda itu sangat arogan, kasar, pemabuk dan pemain perempuan.
Namun karena kebaikan pemilik perusahaan Shengu kepadanya, dia tidak bisa lagi menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syakira edianwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
like, komen dan vote sebanyak-banyak yah.
biar author tambah semangat lagi.
selamat membaca 🙂🙂
Alena mengistirahatkan tubuh nya di kamar nya setelah Sarah Pulang.
Karena hari juga sudah malam.
Sama hal nya seperti Arka setelah selesai makan dia membersihkan tubuh nya dan setelah itu dia membaringkan tubuhnya di kasur mahalnya.
Fikiran nya tidak luput dari Perjodohan dan juga Alena tiba-tiba handphone nya Berdering. .
Ketika melihat Siapa yang menelpon senyum nya terukir indah di bibir nya.
"Halo Sayang! kamu udah sampai di rumah?" tanya Arka.
"Udah kok, kalau kamu?" tanya Alena balik.
"Udah juga kok," jawab Arka.
"Kamu jadi ke Rumah ayah kamu! bagaimana keputusan nya?" tanya Alena.
"Tidak! aku gak jadi ke sana, aku Capek, aku mau istirahat, aku lagi tidak ingin membahas apa pun, dan aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan yang mereka rencanakan!" ucap Arka.
"Tapi sekarang sudah terlanjur, Mereka sudah merancang semua nya, kamu tidak bisa menolak lagi, ini juga permintaan almarhum ibu mu!" ucap Alena.
"Tapi aku cinta sama kamu Alena, aku gak ingin dengan siapa-siapa," ucap Arka.
"Hmm, ya udah Kamu istirahat yah, Besok siang aku akan ke kantor, pagi aku harus kuliah!" ucap Alena.
"Baik lah, kamu juga istirahat, kamu jangan mikir yang aneh-aneh, Kita tetap harus bersama!" ucap arka.
Alena pun mengiyakan. Dan mematikan sambungan telepon.
"Hmm, aku tau cinta kita ini akan sampai di sini saja, dan tidak mungkin cinta kita ini menyatu!" Batin Alena.
Keesokan harinya Alena sudah sampai di kampus, kampus nya sangat terasa lain karena sudah tiga bulan dia tidak mengikuti pelajaran tatap Muka.
Jadi wajar saja jika dia sedikit tinggal mata pelajaran, dia pun harus belajar fokus-fokus.
Mata kuliah pertama telah usai dia Jajan ke kantin, dia hanya bisa diam, karena dia juga masih kefikiran terus tentang Arka.
Sarah pun menyusul Alena ke kantin.
Sementara Arka baru saja sampai di kantor nya, dia akan bekerja seperti biasa, sebenarnya dia tidak ingin ke kantor hari ini.
karena pasti Ayah nya di kantor, dan akan membahas Clara lagi, Namun karena ingin bertemu Alena dia harus berangkat ke kantor.
Dan benar saja Wijaya langsung datang ke ruangan nya Tampa mengetuk pintu.
Arka menoleh ke arah Wijaya.
"Kamu jangan buat Ayah malu ya Arka!" ucap Wijaya sedikit kesal.
"Apa maksud Ayah!" ucap Arka.
"Kamu tau kan, orang tua Clara sudah di rumah Ayah, kamu sengaja tidak mau ke rumah, dan membuat mereka kecewa!" ucap Wijaya.
"Asal kamu tau yah, pernikahan kalian sebentar lagi di laksanakan, semua nya sudah ayah atur!" ucap Wijaya.
"Aku tidak ingin menikah dengan Clara, aku mau itu semua di batalkan, perjodohan! pernikahan, itu semua sia-sia, Arka tidak akan mau!" ucap Arka dengan tegas nya.
"Jangan pernah kamu mengucapkan kata-kata itu lagi, ayah tidak mau dengar, kamu Jangan hanya bisa menentang Terus, Ayah mau kamu tetap menikah dengan Clara!" ucap Wijaya. Dan pergi begitu saja dari ruangan Arka.
Arka menggebrak meja nya, dia sangat tidak suka dengan cara Ayah nya itu.
"Ini yang ku benci dari Ayah, selalu memaksakan kehendak nya," Batin Arka.
Hari pun sudah jam Satu siang, Alena sudah berada di ruangan nya.
Saat dia sedang asik kerja tiba-tiba pintu nya ada yang mengetuk dan itu adalah Wijaya.
"Eh Bapak! masuk pak!" ucap Alena sambil tersenyum.
"Terimakasih! " ucap Wijaya dan duduk di depan Alena.
"Saya sangat salut dengan kemampuan kamu, dan juga kecerdasan kamu!" ucap Wijaya, Alena hanya senyum saja.
"Namun yang saya Cemas kan sekarang adalah Arka!" ucap Wijaya.
"Kenapa lagi dengan Tuan muda Pak?" tanya Alena.
"Dia ingin membatalkan semua pertunangan, dan juga pernikahan nya dengan Clara." ucap Wijaya lesu.
Alena terdiam, dia juga bingung harus apa, malah sekarang dia merasa takut hubungan mereka terbongkar.
"Kalau mereka sempat batal menikah, Bapak bingung harus apa lagi, karena bapak masih ingin kerjasama dengan perusahaan Clara!" ucap Wijaya.
"Apa kah bapak hanya ingin perusahaan bapak berkembang, dan cara nya menikah kan mereka!" ucap Alena.
Wijaya menatap wajah Alena.
"Ini juga amanah dari almarhum istri saya!" ucap Wijaya.
"Hmm kalau saran saya pak, ijinkan mereka saling mengenal dulu, memang dari kecil mereka sudah tunangan, tapi mereka tidak pernah bertemu, acara pernikahan mereka harap di undur saja dulu!" ucap Alena.
"Saran kamu bagus juga Alena, kenapa bapak tidak kefikiran ke sana yah!" ucap Wijaya.
"Makasih yah Alena, kalau gitu bapak ke ruangan bapak dulu!" ucap Wijaya dan pergi meninggalkan Alena.
"Huff, lagi-lagi aku harus sedih seperti ini!" batin Alena.
"Tapi aku gak boleh sedih, jika Arka bahagia dengan Clara aku juga bahagia, dan orang tua ku bisa tenang tidak memikirkan aku di sini!" batin Alena.
Namun tiba-tiba Aris datang setelah Wijaya keluar seperti biasa dia akan memberikan laporan atau apalah yang akan di periksa oleh Alena.
"Hmm ngapain pak Wijaya?" tanya Aris.
"Biasa pak, bahas Tuan muda!" ucap Alena mengambil Berkas-berkas dari tangan Aris.
"Hmm ngomong-ngomong bagiamana pembangunan Finansial Pak?" tanya Alena.
"Alhamdulillah semua nya lancar, dan tidak ada kendala, penyelesaian semua nya sudah ada di situ!" ucap Aris menunjuk berkas-berkas yang di tangan Alena.
Aris pun diam, dia memerhatikan Alena yang sedang membaca berkas itu.
"Hmm kalau boleh tau Kamu asal mana?" tanya Aris.
Alena menoleh ke arah Aris.
"Saya?" tanya Alena menunjuk dirinya.
"Ya iyalah lah, emang ada orang lain di sini!" ucap Aris kesal.
"Santai aja dong pak, Tapi tumben-tumbenan bapak nanya, biasa nya cuek banget!" ucap Alena.
"Kalau di tanya itu di jawab, jangan malah banyak tanya sama protes, jadi nyesal saya nanya nya!" ucap Aris.
Alena yang melihat muka kesal Aris dia pun tersenyum.
"Iya! iya! maaf pak, saya Asli Bogor, dan sudah dua tahun lebih di sini," ucap Alena.
"Tapi masa iya Bapak tidak tau asal saya dari mana, hampir semua pengurus dan yang dekat dengan pak Wijaya tau riwayat saya!" ucap alena.
"Saya tidak ingin tau, jadi saya tidak ada tanya sama pak Wijaya!" ucap Aris.
"jadi sekarang mau tau yah pak?" tanya Alena sambil memasang senyum manis di bibir nya.
...----------------...
***Assalamualaikum kakak-kakak semuanya terimakasih sudah mau mampir ke karya ku ini ya jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author jangan pernah lupa tinggalkan jejak dukungan untuk author, jika ada saran tulis di kolom komentar ya jangan pernah Bosan tungguin terus kelanjutan ya.
like, komen dan vote sebanyak-banyak nya.
Terimakasih 🙏***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
tapi ada tapinya thor
ceritanya jangan di gantung yah seperti ikan asin yang di jemur