Read this prequel novel first : AKU HARUS BAIK
Berdasarkan kisah nyata atau tidaknya itu terserah bagaimana kalian mempercayainya
18 tahun keatas untuk bisa memahami cerita
Novel ini khusus buat yang open minded
[Peringatan : Diharapkan bisa dalam berpikir dua sudut pandang dan berpikir majemuk sebelum membaca]
[Dukung terus author dengan like, komen, vote, favorit, dan share. Terimakasih]
Ini cerita tentang suatu keharusan kita dalam berperan jahat, bahwa kejahatan dirasa adalah hal yang terbaik dan perlu dilakukan saat itu juga.
Tidak peduli sekeras apapun kita mencoba dalam menghindarinya, pastilah akan ada seseorang yang memang harus berperan jahat didalam kehidupan kita
Dan,
Inilah aku sekarang.
Aku Harus Jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon After.Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 - Membantu Diri Sendiri
"Tadi"
"Ditelpon sama temenku suruh kuliah. Jadinya langsung kekampus"
"Maafin aku cepetan"
Tersenyum dibuatnya saat kubaca pesannya,
"Apasih" balasku
"Ngapain aku maafin? Kamunya gak bersalah" balasku
Kumatikan layar handphoneku,
Melamun.
Bagiku. Hal yang paling membuatku sangat menderita yaitu aku yang ingin melakukan sesuatu untuk membantu orang lain, tapi, aku tidak diperkenankan oleh seseorang, kemudian aku hanya bisa terdiam dan tidak melakukan apapun didepan orang yang ingin kubantu tersebut, sampai pada akhirnya orang tersebut seakan membenciku padahal sebenarnya akulah yang paling menderita. Sepertinya. Diriku yang memang terlalu memperdulikan orang lain dalam hidupku, dan mulai dari sana berubah menjadi suatu masalah bagi diriku sendiri, kebanyakan dari masalah dalam hidupku memang berawal dari kepedulianku terhadap orang disekitarku, bahkan aku sampai mengabaikan akibat yang akan terjadi kepada diriku nantinya.
Perasaanku itu menyiksaku,
Begitulah. Aku selalu teringat apa yang tidak bisa kulakukan untuk orang lain, kemudian seiring berjalannya waktu aku seperti merasa bersalah, dan sampai beberapa waktu aku tidak berani menatapnya setiap kali melihat orang tersebut, perasaan yang membuatku susah dalam menjalani kehidupanku, misalnya aku tidak mempunyai perasaan itu pastilah hidupku penuh akan ketenangan. Harapanku. Selagi aku mampu pasti akan kubantu, tapi, ada banyak orang yang semakin menggantungkan terhadap bantuanku, dan beberapa dari mereka bahkan meminta lebih kepadaku, maka dari itu bukannya aku tidak ingin membantu orang lain, aku hanya tidak bisa memilih siapa yang sebenarnya harus aku bantu.
"Jangan kamu bantuin" ucap Citra
"Enggak. Nuduh aku bantu. Parah" ucapku, tersenyum simpul
"Pokoknya jangan dibantuin" ucap Citra, tertawa
"Baik aku nurut" ucapku
"Bagus" ucap Citra
"Iya" ucapku
...Bantulah dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum membantu lainnya...
Masalahnya. Orang yang ingin aku bantu itu memang sudah tidak masuk kuliah, bahkan dia tidak mengikuti sekalipun ujian tengah semester, dan tidak ada satupun orang digrup yang menanggapinya, kemudian dia bertanya tugas denganku karena hanya aku yang menanggapinya digrup, tapi, aku hanya membaca pesannya tanpa mengirimkan tugasku kepadanya. Aku benci itu. Ada banyak orang yang tidak berpikir, padahal aku sudah memperlihatkan secara utuh tugasku, kemudian orang tersebut dengan tanpa dosanya menyalinnya sama persis dan mulai dari sana aku seringkali harus mengubah tugasku dengan tidak karuan, atau menyiapkan tugas yang berbeda untuk secara khusus mengirimkan kepada orang tersebut, aku menyembunyikan tugasku yang sebenarnya, kecuali tugas yang berisi hitungan pasti aku kirim digrup karena jawaban dari tugas itu sudah mutlak, tapi, ada banyak orang yang salah mengartikan kalau pasti akan kukirimkan semua tugasku kepada orang tersebut.
"Beneran kesel banget" ucap Citra
"Kesel. Seminggu aku coba buat ngerjainnya, tapi, kamu cuman butuh waktu dua jaman. Beneran" ucap Citra, tersenyum simpul
"Aku tugasnya cuman gak sengaja bener aja" ucapku
"Bisa ngomong gitu" ucap Citra
"Yaudah. Tanganku gerak sama jawab sendiri. Diganti" ucapku
"Terserah" ucap Citra
Kubuka pintu kelasku, sepersekian detik setelahnya aku menabrak seseorang dan kulihat orang itu hampir terjatuh, setelahnya aku memegang dengan erat tangannya, kemudian aku tersenyum saat melihat siapa yang kutabrak, seseorang itu awalnya terlihat sangat kesal sampai ingin memukulku, tapi, dia tidak jadi melakukannya saat melihat wajahku. Tanaya yang kutabrak. Tangannya yang meremas kain dibahuku tidak kunjung dilepaskannya, padahal semua itu sudah berlalu, dan kulihat bahuku dalam waktu yang lama, kemudian dia menyadarinya, lalu, melepaskan tangannya yang meremas kain dibahuku secara perlahan, kita berdua tertawa begitu saja dengan apa yang terjadi, sembari melanjutkan perjalanan kembali yang sempat tertunda oleh kecelakaan tersebut. Sebelum dia ketangga.
"Kemana?" ucapku
"Kebawah mau pulang" ucap Tanaya
Aku melihatnya langsung menghentikan langkahnya,
Tanaya tersenyum manis, sembari memegangi pembatas ditangga, "Pulangnya. Mampirlah nanti kekosanku. Sebentar"
"Gimana nanti ajalah" ucapku
"Yaudah" ucap Tanaya
"Iya" ucapku
...*********...
Dikamarnya. Aku menyentil sedikit pipinya dengan pelan, kemudian dia menoleh kearahku dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan, dan langsung aku tertawa saat melihatnya, sampai pada akhirnya kita berdua tertawa dengan apa yang terjadi, padahal kita tidaklah bisa menjelaskan alasan menertawakannya, kemudian suasana menjadi canggung bahkan akupun bisa mendengarkan suara angin yang berhembus. Terasa begitu hening. Aku merapikan rambutnya yang berantakan, lalu, menguncir rambutnya dan kulihat matanya berbinar, aku menatap lurus kearah depan sembari tersenyum simpul, tapi, dia tetap saja tidak berniat melepaskan pandangannya dariku, kemudian aku mendorong pipinya dengan telunjukku agar dia mengalihkan pandangannya itu dariku.
Tanaya menahan senyuman. Tanaya mendekatkan wajahku dengan tatapan matanya yang begitu lekatnya, dan perlahan tangannya itu melepas kancing dibajunya, walaupun dua kancing dibajunya itu sudah dilepasnya, tapi, aku masih terdiam dengan apa yang dilakukannya, kemudian dia membalikkan badannya, lalu, terdengar suara tangisannya yang sangat lirih. Tanaya memeluk lututnya. Aku memberikan tisu dimeja kepadanya, dia menutupi kancing yang dibukanya itu dengan tangannya, sembari terus menerus air matanya terus menetes, dan akupun mengalihkan pandanganku dari pakaiannya, akupun juga tidak akan tahu apa yang terjadi, kalau, aku terus memaksa untuk melihat pakaiannya yang terbuka nantinya. Peringatan.
"Maafin" ucap Tanaya
"Kenapa aku ngelakuin itu semuanya?" ucap Tanaya
Tanaya memasangkan kancing dibajunya kembali, "Terlintas gitu aja, terus, aku gak nyadar udah ngelakuin"
"Kamu pasti nganggep buruk tadi?" ucap Tanaya
"Aku nahan itu" ucap Tanaya
kak thor ngulang baca lagi 🤗 setelah pernah usai
kan gelap....