Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Kafe kantor di jam istirahat kerja selalu punya ciri khasnya sendiri. Orang datang berlalu-lalang, sebagian berwajah lelah, sebagian lagi setengah lega. Setidaknya dengan secangkir kopi, pikiran ruwet yang membuat suasana hati buruk itu lenyap untuk sesaat.
Cyan masuk kafe kantor sendirian. Ia melangkah pasti dengan wajah tertunduk, malas berinteraksi dengan orang lain meski sekadar menyapa ramah.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa detik, menit, hari terakhir, jelmaan siluman singa galak itu sengaja nggak ngajak Alya. Bukan karena sedang bertengkar atau sibuk. Jauh dalam lubuk hatinya ingin sendiri, menikmati waktu, merenungi nasib yang terlalu menekan batin.
Setidaknya hari ini saja, tidak ada yang mengomentari ekspresinya dan bertanya, “Lo kenapa, Cyan? Ada masalah kah? Harusnya lo cerita sama gue. Jangan dipendem sendiri. Gak baik, entar bisa jadi gila.”
Ya, emang harus diakui dikit bahwa limit otaknya udah ada tulisan “space not available”. Dalam arti kata dia setengah gila sekarang. Hanya malas mengambil peran dan memilih menjalani hidupnya seperti sediakala.
Cyan duduk bersandar kemudian memesan minuman favoritnya, lalu memilih meja kecil di sudut kafe, dekat jendela. Tempat yang cukup jauh dari keramaian, jauh juga dari perhatian orang-orang. Sejak dulu ia benci menjadi bahan obrolan, tetapi takdir membuatnya menjadi seorang atasan galak yang berprinsip tegas. Nggak bakal yang berani melawan dan menyentuhnya kecuali pria kecil banyak ngomong, Magenta.
Cyan duduk, menyesap minumannya perlahan. Ia merasa sedikit aneh. Ada rasa yang berbeda di kopi ini. Apakah pegawai kafe lupa menambahkan sesuatu?
“Sendirian aja, Sayang?”
Suara itu datang dari belakang, disusul tepukan ringan di bahu kirinya. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Cyan hampir tersedak. Wanita itu sontak terkejut. Ia refleks menegakkan badan, hampir menjatuhkan cangkirnya, lalu menoleh cepat.
Sementara sang pelaku, tidak lain dan tidak bukan. Magenta berdiri di belakang kursinya, senyum lebar terpasang di wajahnya. Ia bangga berhasil menemukan Cyan sendiri di sini.
“Lho, kenapa? Kaget amat, Bu Cyan.”
Cyan masih melongo. Butuh beberapa detik baginya untuk benar-benar mencerna apa yang baru saja didengar. Apa tadi? Sayang?
“A-apasih?”
Magenta mengerutkan kening, lalu menunjuk wajah Cyan, “kenapa? Kok bengong? Ada yang salah gitu?”
Cyan menatapnya lurus. Tidak berkedip dan enggan langsung menjawab. Ekspresi keterkejutan ini membuat Magenta merasa gemas.
“Sayang? Tadi kamu manggil aku ... Sayang?”
Magenta tersenyum lebih lebar, lalu menarik kursi di seberang Cyan dan duduk tanpa permisi.
“Iya.”
“IYA?”
“Iya. Bagiku gak salah. Kan kita sepasang kekasih, Cyan. Ya ... walaupun palsu, tapi menurutku kita harus terbiasa punya panggilan kesayangan.”
“Latihan sih oke, tapi jangan panggil aku pake sebutan itu di kantor, Genta.”
“Justru di kantor. Ini medan paling berbahaya. Kalau di sini aja kamu bisa tenang, di depan orang tua kamu nanti bakal lebih gampang.”
“Aku lagi istirahat. Lagi gak mau diganggu siapa pun.”
“Oke, oke.” Magenta mengangkat kedua tangan. “Aku gak ganggu sekarang.”
“Bagus.”
“Tapi kamu belum jawab panggilan aku, Sayang.”
“Jangan panggil sembarangan, Magenta.” Ia menghela napas pelan.
“Enggak sembarangan. Itu panggilan kesayangan.”
“Tapi jangan di kantor juga,” tekan Cyan.
“Pelan-pelan aja manggilnya. Gak usah teriak-teriak.”
“Oke, tapi jangan sampe orang lain tau.”
“Kalau aku keceplosan?”
“IH JANGAN!”
“Galak banget, Syan.” Magenta menyeringai.
“Kamu mau pesan minum atau cuma ganggu aku?”
“Minum dong. Aku mau kopi pahit, kaya hidupku tanpa kamu.”
Mendengar itu, Cyan mendengkus kesal. Namun, tidak dipungkiri jokes asbun spontan dari seorang Magenta lumayan menaikkan suasana hatinya sepuluh persen.
Magenta bangkit sebentar, memesan minuman, lalu kembali dan duduk di seberang Cyan. Kali ini lebih santai dengan satu tangannya menopang dagu.
“Oke. Sekarang giliran kamu ngomong.”
“Giliran ngapain?”
“Ya kamu ngomong itulah.”
“Aku? Itu? Ah nggak jelas!”
“Yaelah, panggil aku ‘Mas’. Cepat.”
“Hah? Enggak ah,” balas Cyan hampir tersedak lagi.
“Kenapa sayang?”
“Karena kamu kan lebih muda, Genta.”
“So?” Magenta mengangkat bahu. “Panggilan itu bukan soal umur, Syan.”
“Justru itu. Kedengarannya malah jadi aneh.”
“Aneh kenapa deh?”
“Kamu lebih muda, terus aku harus manggil kamu Mas gitu?”
“Itu namanya plot twist, Syan.”
“Ah aneh dah gak lucu.”
“Dihh… gak ada yang lagi ngelucu juga, Syan,” bantah Magenta.
“Cari panggilan lain lah,” pungkas Cyan melipat tangan.
“Mas paling aman. Netral, banyak dipakai juga.”
“Enggak.”
“Abang?”
“Gak.”
“Bubub? Terlalu gen Z, ya.” Ia ngakak, hampir terpingkal.
Cyan kembali menatapnya tajam.
“Oke, oke. Kenapa kamu keras kepala banget, sih soal ini?”
“Karena gak masuk akal. Orang lain bakal heran nanti.”
“Orang nggak akan mikir sejauh itu juga. Yang penting kedengarannya natural. Banyak kok si ceweknya lebih tua, tetap manggil suaminya ‘Mas’. Menurutku romantis dan sopan aja,” jelas Magenta.
“Natural versi kamu tuh berbahaya banget sumpah.”
“Kamu terlalu banyak mikir sih, Syan.”
“Harus dong karena aku juga bakal ikut berhadapan langsung sama keluargaku.”
“Makanya aku kan mau bantu.”
“Dengan maksa aku manggil kamu Mas gitu?”
“Bukan maksa, tapi membiasakan agar kamu terbiasa. Kan tujuannya jelas, kamu sejak awal juga maksa aku supaya terbiasa, kan? Supaya nanti kamunya nggak kaget sendiri.”
Cyan menatapnya lama, “sekali aja. Di sini, pelan-pelan. Aku yakin gak bakal ada yang denger juga.”
Cyan melirik sekitar. Beberapa orang duduk cukup jauh dan tidak ada yang memperhatikan mereka. Ia sempat memejamkan mata sejenak, merasa konyol dan lucu, tidak pantas diperlakukan seperti ini oleh seorang Magenta.
Ia menghela napas panjang, menatap lebih tajam seperti elang.
“Jujur ini konyol banget sumpah, Genta!”
“Setuju. Makanya cocok buat aku.”
“Yaudah, aku coba deh.”
“Silakan, Syan.” Magenta tersenyum picik, akhirnya Cyan mengalah juga.
Cyan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sempat menatap ragu beberapa detik. Tapi Magenta nggak bergeming, tatapannya terus berharap.
“Mas sayang,” panggil Cyan sangat pelan, hampir tidak terdengar. Magenta pun sempat membeku, menahan senyum yang hampir lolos itu.
“Coba ulang sekali lagi.”
“Nggak ah,” kata Cyan cepat.
“Tadi terlalu cepat. Aku belum siap denger.”
“Aku gak peduli. Kan kata kamu cuma sekali doang.”
“Oke.” Kemudian mencondongkan tubuh sedikit, menurunkan suaranya. “Ulangi sekali lagi sayang, boleh kan?”
Cyan mengatupkan bibir. Jantungnya berdetak tidak keruan. Ditambah kedekatan Magenta yang semakin mengikis jarak di antara keduanya. Cyan bahkan hampir merasakan deru napas Magenta.
“Ituu kedengerannya agak terlalu aneh deh, Genta,” katanya.
“Tapi kamu berhasil tuh,” balas Magenta lembut.
Cyan menyesap latte-nya cepat, seolah butuh pegangan. “Enggak boleh. Nanti kita jadi kebiasaan, Magenta,” katanya.
“Ya trus kenapa kalau jadi kebiasaan? Kamu takut ya?”
“Enggak kok, biasa aja.”
“Yaampun biasa aja keles, kayak kamu belom pernah pacaran aja dah,” godanya.
Cyan meliriknya tajam, tapi tidak benar-benar marah. Untuk beberapa detik, mereka saling terdiam. Hanya terdengar suara mesin kopi dan obrolan jauh di belakang.
“Iya kan kamu tahu aku emang belom pernah pacaran dari orok. Ciuman yang kemarin juga itu pertama buatku!”
Padahal Magenta tadi hanya bercanda, tapi denger jawaban ini Magenta malah salting sendiri. Bos kaku cantik depan dia emang begitu bawaan pabriknya karna emang nggak pernah punya pacar sebelumnya. Berarti yang kemarin itu first kiss nya dong?
“Hehehe…. Cyan, aku tiba-tiba kepikiran aja nih. Kalau misal nanti orang tua kamu benar-benar percaya gimana? Terus tetep maksa kita nikah dan kamu harus terima, daripada kamu di jodohin sama bapak-bapak botak blakang yang punya anak lima, hayo?”
“Duh, akunya nggak kepikiran sampe sana lagi.”
“Tapi tenang, ada babang tamvan disini, tiada masalah tanpa solusi, Syan. Worst case nya, kalau kita harus jadi beneran, aku tetep nggak bakalan mundur kok,” lanjut Magenta.
“Genta, otakku lagi kusut jadi gausah ribet muter-muter! Intinya aja gimana?”
“Kamu tau lah maksudku. Kalau emang kita harus nikah beneran. Akunya nggak keberatan.”
Mereka duduk berdampingan, menikmati keheningan itu yang tidak sepenuhnya canggung. Cyan menghabiskan tegukan terakhir latte-nya, lalu berdiri cepat. Magenta mendongak, menatap wanita itu nanar.
“Dih! Udah ah, jangan aneh-aneh lagi! Jam istirahat udah mau abis tuh!”
“Baik, Bu Cyan.”
Cyan melangkah dua langkah, lalu berhenti. “Dan satu lagi, Mas?” panggilnya pelan, sekali lagi. Sudah cukup membuat Magenta menoleh cepat dengan bola mata yang membesar.
“Iya sayang?”
“T-tolong banget jangan ulangi panggilan itu di depan orang lain, ya. Aku takut banget kena sembelih rasa malu.”
“Siap sayang.”
Cyan pergi lebih dulu, melangkah menjauh dari kafe itu dengan jantung yang masih berdebar kencang, seakan langkahnya tak pernah benar-benar sinkron dengan hatinya yang kini berdebar tak keruan.
“Ah, sialan! Kendalikan diri lo, Cyan! Kendalikan!”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣