Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hmmm (18+)
Grep.....
Semua orang terperangah tak terkecuali Mia dan juga Noah yang melihat kejadian dimana Marcus tengah memeluk erat Rose.
"Jangan, jangan meninggalkan ku Rose, jika kau pergi lalu dengan siapa aku hidup." terdengar nada bergetar keluar dari mulut pria itu.
Rose berusaha melepaskan pelukan pria itu tapi tidak bisa karena kekuatan pria itu jelas diatas rata-rata.
"Ehem." dehaman Mia membuat Marcus tersadar dan dengan tidak rela dia melepaskan pelukannya pada Rose. Wanita itu segera mundur kebelakang.
"Pulanglah, disini tidak ada kamar lebih semuanya sudah terisi."
Marcus menggelengkan kepalanya. "Aku akan tidur denganmu." ucapannya yang membuat wajah Rose memerah.
Mia langsung angkat bicara. "Lalu aku tidur dimana?"
Rose memutar bola matanya malas. Kenapa orang-orang ini suka sekali merecoki hidupnya.
"Tidak ada tempat untuk kalian disini, sana pergi cari hotel."
.....
Rose mendengus kesal saat mendapati Marcus yang tengah terbaring santai diatas kasurnya, dia baru memeriksa keadaan Sophia yang untungnya sudah membaik, dan Mia terpaksa harus tidur berdesakan dengan Noah di kasur satunya. Untungnya kasur anak-anak tidak begitu sempit, cukup lah untuk dua orang.
Marcus langsung meletakkan ponselnya diatas meja, dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. jujur dia merasa gugup karena ini pertama kalinya dia tidur berdua diatas kasur yang sama dengan Rose.
Wanita itu memilih untuk abai, dia duduk di pinggiran kasur, memakai handbody dan juga skincare malamnya. Sekarang sudah jam sebelas malam dan anak-anak juga Mia sudah terlelap di kamar sebelah.
"Tidurlah besok kau kerja." ucapnya sambil memunggungi pria itu. Yang Rose tidak tahu, pria itu sudah berada dibelakangnya.
Grep...
Sepasang lengan kekar pria itu sudah melingkar di pinggangnya. tubuh Rose seketika mematung, apalagi kepala pria itu sudah berada di sisi wajahnya.
"Wangi sekali." dengan rakus Marcus mengendusi leher istrinya. Rose merasa aneh dengan tubuhnya karena emm tiba-tiba tubuhnya memanas.
Ini pertama kalinya dia bersentuhan dengan suaminya, begitupun Marcus yang merasa dia tidak bisa menghentikan semua tindakannya.
Dengan lancang dia beralih menelusupkan wajahnya di leher Rose, mengecupnya berkali-kali yang membuat wanita itu merinding.
"Akh, berhenti." Rose tentunya tidak tinggal diam, dia memberontak mencoba melepaskan dirinya dari pria itu.
Ini bahaya.
"Aku suamimu Rose, aku berhak menyentuh mu, jadi jangan menolak ku, dan aku baru tahu jika kau sewangi ini."
Dan yang terjadi adalah.
.....
(Mohon yang dibawah umur skip bagian ini 🙏🫣)
Entah bagaimana ceritanya, kedua orang itu saat ini sudah tidak memakai baju sehelai pun. pakaian mereka sudah berserakan diatas lantai.
Rose yang berada dibawah Kungkungan suaminya tengah menahan desahannya.
"Akh jangan cepat-cepat." bisiknya di telinga Marcus, kedua tangannya sudah melingkar di leher Pria itu, sedangkan Marcus tetap menghujamkan miliknya dalam-dalam. Dia merasa bodoh karena selama ini tidak pernah menyentuh istrinya.
Bayangkan saja selama tiga belas tahun dia selalu mengabaikan kebutuhan biologisnya sendiri dan memilih menjadi workaholic.
"Jangan keluar didalam." Rose mencengkram erat rambut belakang suaminya saat merasakan milik Marcus yang mulai membesar didalamnya.
"Akh pelan."
Marcus tidak memakai pengaman saat ini dan dia juga tidak memakai KB apapun. Dia tidak ingin hamil karena dia masih trauma.
Tapi Marcus mengabaikan permintaan wanita itu, didalam pikirannya, dia ingin mempertahankan pernikahan mereka meskipun dengan cara yang licik seperti menghamili Rose.
"Aku keluar ahh."
Rose memejamkan matanya, air matanya keluar tanpa bisa dia tahan lagi, dia merasa hangat didalam sana, pria itu tidak pernah mendengar ucapannya. Lagi-lagi Marcus bersikap egois.
....
Keesokan harinya
Tok.... Tok...
"Ma bangun aku lapar." Sophia dengan wajahnya yang masih pucat mencoba mengetuk pintu kamar mama nya.
Mia sendiri masih molor dengan Noah diatas kasur. karena sebenarnya ini masih terlalu dini untuk bangun tidur.
Sayangnya perut Sophia tidak bisa diajak kompromi. Dia lapar dan tidak ada makanan apapun di dapur. Berharap mamanya bangun lalu memasakannya makanan.
Klek....
Senyum Sophia melebar saat melihat pintu kamar itu terbuka tapi bibirnya kembali melengkung ke bawah saat sosok yang paling dia benci muncul dari sana.
"Kenapa Sophia?" tanya Marcus yang sudah berdiri didepan gadis itu.
"Mana mama ku, kenapa kau yang muncul." mata Marcus membola mendengar ucapan tidak sopan anak itu.
"Hey bicara yang sopan, aku papa mu." ucap pria itu yang tidak suka dengan nada bicara Sophia. Bagaimana bisa dia memiliki anak yang tidak sopan seperti ini.
"Ck, berisik, mana mama ku, kau apakan mamaku. Ma Mama!" rancau Sophia yang membuat kegaduhan. Tapi dengan cepat Marcus menarik anak itu menjauh.
Sophia jelas langsung memberontak, mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman pria itu. Sayangnya tenaga Marcus sangat kuat, pria itu langsung menggendong Sophia dan membawa anak itu menjauh. Istrinya baru saja tidur jam dua tadi. Dia terlalu kalap menyentuh wanita itu hingga tidak sadar jika waktu sudah lama berlalu.
"Mau apa, mamamu lelah, bilang sama papa." ujar Marcus yang membuat Sophia menangis.
"Huaaaa lapar mau makan." tersadar sesuatu. Marcus langsung menepuk dahinya pelan. dia baru ingat jika Sophia sakit. Jadi dengan lembut dia mengelus punggung anak itu. dan Sophia sempat tertegun sejenak, seorang Marcus menggendongnya.
pria dingin yang selalu menatapnya sinis sekarang mencoba menenangkannya.
Air mata anak itu masih menggenang di pelupuk matanya. Marcus dengan cepat meraih kunci mobilnya, dia membuka pintu rumah ini dengan masih menggendong Sophia.
Meskipun umurnya sudah tiga belas tahun, tubuh Sophia terlihat kecil di gendongan papa nya.
"Mau makan apa?, kita beli saja ya, papa minta maaf sudah mengabaikanmu selama ini, jadi papa mau menebus semua kesalahan papa, dan papa harap kamu mau menerima perhatian papa." ucap Marcus di sepanjang jalan menuju mobilnya. Dia baru sadar jika saat ini masih terlalu pagi. Bahkan matahari belum muncul.
Sophia masih diam bahkan ketika anak itu sudah duduk tenang di kursi penumpang, sedangkan Marcus sudah menghidupkan mobilnya dia melirik sekilas ke arah Sophia yang masih diam mematung. Dia melirik jam di ponselnya. Masih jam setengah enam pagi. Terlalu dini untuk mencari sarapan. memangnya sudah ada orang yang berjualan di jam segini.
"pa." panggil Sophia.
"Hm, apa?" sahut Marcus tapi anak itu kembali diam.
"Mau makan apa?" tanyanya dengan lembut. Sophia kembali menoleh dan menatap lekat wajah Marcus yang terlihat sangat baik saat ini.
Apa pria itu sudah berubah?
Melihat wajah ragu anak itu membuat Marcus diliputi rasa bersalah. Sepertinya dia terlalu lama mengabaikan anaknya hingga gadis itu merasa asing dengannya.
"Papa aku mau sereal." ucap Sophia sangat pelan. Untungnya pendengar Marcus masih baik. Jadi dia bisa mendengar ucapan anak itu yang seperti bisikan.
"Baiklah."