Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Hari Minggu pagi di kawasan Jalan Melati tidak pernah benar-benar sepi. Suara tukang sayur yang menjajakan dagangannya dengan gerobak dorong, debu jalanan yang mengepul disapu angin, dan obrolan para tetangga kos di teras depan menciptakan latar kebisingan yang akrab. Burung-burung gereja berkicau ribut di atas genting asbes yang mulai berkarat, sementara bau masakan dari dapur umum kos-kosan sebelah menguar membawa aroma bawang putih dan minyak goreng panas.
Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter itu, Keira sedang duduk bersila di atas lantai karpet tipisnya. Ia tengah merapikan tumpukan buku dan kertas catatan kuliah lamanya yang sudah berbulan-bulan mendekam di sudut ruangan. Di hadapannya, dompet kulit sintetis berwarna hitam tergeletak terbuka. Jemari Keira terulur menyentuh kartu nama kecil dari Galeri Senja Bimantara yang kemarin sempat ia temukan lalu disembunyikan kembali di balik tumpukan kertas.
Kartu itu kini berada di dalam genggamannya. Permukaannya sudah sedikit pudar di bagian ujung, tetapi tulisan tangan di belakangnya masih terbaca dengan jelas.
Sudah beberapa hari sejak ia melihatnya, dan gagasan tentang pekerjaan paruh waktu itu terus berkelebat di kepalanya seperti bayangan yang enggan pergi.
Bukan karena ia ingin menentang Davin secara terang-terangan, melainkan karena ada bagian dalam dirinya yang mulai lelah merasa sepenuhnya bergantung.
Setiap kali ia ingin membeli sesuatu bahkan untuk kebutuhan kecil sehari-hari, seperti pembalut, sabun muka, atau sekadar buku catatan baru ia harus menunggu Davin membawakannya atau mentransfer uang saku ke rekeningnya.
Rasa tidak enak, rasa bersalah, dan sensasi menjadi beban itu kian hari kian menumpuk di ulu hatinya, menciptakan rongga hampa yang semakin sulit diabaikan.
Hanya untuk mengisi waktu luang, batin Keira mencoba meyakinkan dirinya sendiri, merumuskan alasan yang paling aman dan masuk akal jika nanti hal ini harus dibicarakan. Dan setidaknya aku bisa punya pegangan sendiri tanpa harus merepotkan Davin terus. Dia juga pasti capek kalau apa-apa harus mikirin keuanganku.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal.
Layar retak itu menyala memperlihatkan wallpaper hitam polos.
Tanpa pikir panjang sebelum keraguannya sempat menciutkan nyalinya Keira mengetik nomor telepon yang tertera di bagian depan kartu nama galeri tersebut ke dalam aplikasi pesan singkat.
Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
Sensasi melakukan sesuatu secara mandiri, tanpa meminta izin terlebih dahulu, terasa begitu asing sekaligus mendebarkan, seolah ia sedang melangkah di atas tali tipis yang membentang di atas jurang.
Ia menuliskan pesan singkat yang disusunnya sesopan mungkin.
Selamat pagi. Saya Keira, mantan mahasiswi seni rupa. Apakah lowongan staf administrasi paruh waktu di Galeri Senja Bimantara masih tersedia?
Begitu tombol kirim ditekan, ada kelegaan aneh yang menyergap dadanya.
Tangannya bahkan sedikit gemetar.
Keira menarik napas dalam-dalam, lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja plastik seolah benda itu menyimpan rahasia besar yang berbahaya. Ia kembali berpura-pura merapikan tumpukan buku, meski pikirannya melayang entah ke mana, menunggu dengan cemas apakah pesan itu akan dibalas atau justru diabaikan.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, sebuah ketukan terdengar di pintu kayunya. Ketukan tiga kali yang sudah sangat ia hafal ritmenya.
Keira sontak berdiri, merapikan letak kerudungnya di depan cermin kecil, lalu membuka pintu.
Ia mendapati Davin berdiri di sana dengan senyuman lebar.
Lelaki itu mengenakan kaos putih polos dan celana pendek jins, membawa kantong plastik berlogo toko kue terkenal yang berisi martabak mini dan dua gelas kopi susu kesukaan mereka.
"Pagi, Sayang," sapa Davin riang, langsung melangkah masuk tanpa menunggu aba-aba dan mencium puncak kepala Keira sekilas sebelum meletakkan kantong makanannya di atas meja plastik.
"Tumben pintu kamarmu agak lama dibukanya.
Lagi ngapain sih di dalam serius banget?"
Keira mengerjap, dadanya mendadak terasa sedikit ketat mendengar pertanyaan ringan itu.
"Ah... enggak, Vin. Aku tadi lagi beberes buku lama di pojok meja, agak berantakan kena debu."
Davin mengangguk-angguk, tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia duduk di tepi kasur busa, menarik kantong plastik makanan itu ke hadapannya dan membuka ikatan simpulnya.
"Oh, kirain apa. Nih, aku sengaja beliin martabak mini yang kemarin kamu bilang pengin coba lagi. Masih hangat, yuk dimakan."
Mereka duduk bersila di atas karpet, menikmati makanan yang dibawa Davin.
Suasana pagi itu terasa hangat seperti biasa.
Davin bercerita tentang rencananya mencuci mobil nanti siang di dekat kompleks apartemennya, lalu membahas rencana mereka untuk akhir pekan depan.
Di sela-sela obrolan itu, Keira beberapa kali melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja plastik. Layar itu masih gelap, belum ada balasan dari nomor galeri seni tersebut.
Rasa cemas kecil mulai merayap di dadanya, bercampur dengan rasa bersalah yang menusuk karena ia baru saja mengambil langkah rahasia di belakang lelaki yang sedang duduk di hadapannya ini.
Keira merasa seperti seorang penjahat yang menyembunyikan barang bukti di balik senyumannya.
"Kamu kenapa, Kei? Dari tadi kayaknya bolak-balik ngelirik HP mulu. Ada pesan penting dari grup keluarga atau dari siapa?" tanya Davin tiba-tiba, menghentikan kunyahannya.
Matanya menatap tajam ke arah wajah Keira dengan insting yang mendadak waspada.
Keira tersentak kecil, nyaris tersedak gigitan martabaknya. Ia buru-buru menggeleng, memaksa seulas senyum tipis tersungging di bibirnya untuk meredakan ketegangan.
"Enggak kok, Vin. Cuma... ngecek grup chat lama aja, sepi banget, heran sendiri."
Davin menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik, seolah sedang menimbang kejujuran di balik bola mata Keira.
Namun, karena tidak menemukan tanda-tanda kebohongan yang mencolok, raut wajah lelaki itu kembali santai.
Ia tersenyum tipis.
"Oh, kirain siapa. Jangan terlalu sering main HP terus, mending fokus ke aku aja di sini. HP mulu yang diurusin."
Kalimat itu diucapkan sambil tersenyum manis, jemarinya bahkan mengusap lembut punggung tangan Keira.
Tetapi di telinga Keira, ada makna berlapis yang langsung mencubit ulu hatinya. Fokus ke aku.
Sederhana, bernada manja, namun pada praktiknya mengunci seluruh ruang gerak dan atensinya.
Tepat saat itu, layar ponsel di atas meja berdenging pelan.
Sebuah getaran singkat yang langsung membuat napas Keira tertahan di tenggorokan.
Nama pengirim tidak muncul di layar kunci yang retak itu, hanya sebuah nomor asing dengan balasan pesan teks yang menyala terang di ruangan remang-remang tersebut:
Halo Keira.
Terima kasih sudah menghubungi Galeri Senja Bimantara. Lowongan staf administrasi paruh waktu kami masih terbuka. Apakah kamu bersedia datang untuk wawancara singkat besok Senin pukul dua siang di galeri?
Mata Keira terpaku pada barisan kalimat di layar ponsel tersebut.
Jantungnya berdegup kencang, nyaris melompat keluar dari rongga dadanya.
Ada gelombang kebahagiaan dan kelegaan yang luar biasa sebuah validasi bahwa ia masih punya kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri, bahwa keterampilannya masih dianggap berharga oleh dunia luar. Namun, di detik yang sama, bayangan jadwal kesehariannya langsung berputar di kepala, berbenturan dengan kenyataan mutlak tentang siapa yang memegang kendali atas hidupnya saat ini.
Besok Senin pukul dua siang.
Itu adalah jam kerja biasa.
Dan yang jauh lebih penting dari sekadar waktu, bagaimana ia harus menjelaskan hal ini kepada Davin?
Bagaimana cara ia merangkai kata agar lelaki itu tidak marah, tidak menduga macam-macam, atau tidak menganggapnya tidak menghargai segala fasilitas yang sudah diberikan?
Davin, yang duduk tepat di sebelah meja kecil itu, melirik sekilas ke arah layar ponsel Keira yang menyala terang.
Meskipun jarak pandangnya terbatas, sorot mata lelaki itu langsung menyipit ketika melihat barisan kalimat balasan dari nomor asing tersebut.
Jemari Davin yang tadinya memegang gelas kopi susu perlahan berhenti di udara.
"Pesan dari siapa, Kei? Kok kayaknya serius banget bacanya dari tadi?" suara Davin mendadak berubah datar, menghilangkan seluruh kehangatan yang tadi sempat memenuhi ruangan sempit itu dalam satu kedipan mata.
Keira menelan ludah yang terasa sangat kering.
Tenggorokannya tercekat, seolah ada serpihan kaca yang menyangkut di sana. Ia buru-buru meraih ponselnya, membalikkan layar benda itu ke bawah agar tidak terlihat, lalu mendongak menatap Davin dengan senyum yang dipaksakan kaku.
"Oh... itu... cuma pesan dari nomor gak dikenal, Vin. Nawarin promo kartu kredit atau apa gitu, gak penting," dusta Keira, meluncurkan kebohongan kedua dengan jantung yang bergemuruh hebat.
Davin tidak langsung percaya. Ia meletakkan gelas kopinya ke atas meja dengan bunyi pelan yang terdengar mengerikan di telinga Keira.
Lelaki itu menatap lurus ke dalam mata Keira dengan tatapan menyelidik.
"Nomor gak dikenal tapi kamu bacanya sampai tegang begitu? Kok kamu sampai kelihatan tegang begitu, Kei?" tanya Davin, nadanya tenang namun menusuk.
Darah di tubuh Keira terasa mendadak mendingin.
Seluruh kepanikan yang ia takuti selama ini seolah meledak seketika di hadapannya.
Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat di bawah meja.
"Ah... udah kehapus otomatis tadi, Vin. Spam galeri iklan gitu, makanya langsung aku clear," kilah Keira cepat, mencoba mempertahankan ketenangannya meski suaranya sedikit bergetar di akhir kalimat. Ia bahkan memaksakan tawa kecil yang terdengar hambar.
Davin terdiam. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kos dengan tatapan yang masih belum sepenuhnya melunak. Ada kecurigaan yang kentara jelas di garis wajahnya.
"Kei, kamu gak lagi nyembunyian sesuatu dari aku, kan?" tanya Davin pelan, namun setiap suku kata yang keluar terasa begitu berat.
"Akhir-akhir ini kamu sering banget nutup-nutupin sesuatu. Suka ngelamun sendiri, pegang HP langsung disembunyiin pas aku datang. Kamu jujur sama aku... ada apa?"
Mendengar pertanyaan itu, rasa bersalah yang luar biasa menghantam dada Keira hingga ia nyaris tidak bisa bernapas. Ia melihat keletihan di wajah Davin lelaki yang sering datang membawakan makanan kesukaannya setiap kali ia butuh ditemani dan di saat yang sama, ia sedang berbohong demi sebuah kesempatan kecil untuk bekerja.
Apakah ia telah menjadi perempuan yang jahat? Apakah keputusannya untuk mencari pekerjaan ini adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap lelaki yang sudah menyelamatkannya dari keterlantaran?
"Enggak ada apa-apa, Vin... Sumpah," jawab Keira lirih, air matanya tanpa sadar menggenang di pelupuk mata karena tekanan emosional yang terlampau besar. Ia meraih tangan Davin, menggenggamnya erat-erat seolah ingin membuktikan kesetiaannya.
"Aku cuma... lagi pusing aja sama urusan diriku sendiri, ngerasa gak berguna karena cuma bisa diam di kamar terus. Maaf kalau bikin kamu curiga..."
Sentuhan tangan Keira dan nadanya yang memohon perlahan-lahan meredakan ketegangan di wajah Davin.
Lelaki itu menghela napas panjang, lalu membalas genggaman tangan Keira dengan erat. Kemarahan yang tadi sempat membara di matanya kini mereda, berganti dengan tatapan protektif yang sudah amat sangat dikenal Keira.
"Makanya, jangan suka mikir yang aneh-aneh," kata Davin lembut, mengusap pipi Keira dengan ibu jarinya.
"Kamu itu gak perlu pusing mikirin apa pun. Tugas kamu cuma tinggal tenang di sini, nurut sama aku. Soal kerjaan atau uang, itu urusanku. Paham ya, Sayang?"
"Paham, Vin..." bisik Keira lemah.
Di dalam pelukan Davin, Keira kembali merasakan perasaan yang sulit ia jelaskan. Ada lega karena pertengkaran tidak terjadi, tetapi juga ada rasa kehilangan kecil yang diam-diam mengganjal di dadanya.
Pesan di ponselnya tentang wawancara di Galeri Senja Bimantara masih belum ia balas. Untuk sementara, langkah kecil yang baru saja berani ia ambil harus ia hentikan.