DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Malam Kelabu di Balik Gerbang Emas

Langit Jakarta malam itu seolah tengah menumpahkan seluruh kemarahannya. Petir menyambar-nyambar dengan buas, membelah awan hitam yang menggulung pekat, disusul oleh suara guruh yang menggelegar hingga menggetarkan kaca-kaca jendela. Hujan turun bukan lagi berupa rintik, melainkan seperti ribuan jarum es yang ditusukkan tanpa ampun ke bumi. Di tengah cuaca yang begitu brutal, seorang gadis muda bernama Dara berdiri dengan tubuh gemetar, basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pakaian sederhana yang ia kenakan—sebuah blus katun pudar dan rok kain murahan—kini melekat erat pada tubuhnya yang ringkih, tak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

Namun, rasa dingin di tubuhnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai es yang tengah menghancurkan hatinya. Dara berdiri mematung di depan sebuah gerbang besi tempa berlapis cat emas yang menjulang tinggi. Di balik gerbang itu, terhampar sebuah rumah mewah bak istana peninggalan zaman kolonial, dengan pilar-pilar marmer yang kokoh dan lampu-lampu kristal yang memendarkan cahaya hangat dari balik jendela kacanya yang lebar. Itulah kediaman keluarga Aditama, sebuah dinasti bisnis yang namanya selalu bertengger di jajaran keluarga paling berpengaruh dan dihormati di negeri ini.

Dara mencengkeram jeruji gerbang emas itu dengan jari-jarinya yang pucat dan keriput karena terlalu lama terendam air hujan. Di dalam genggamannya yang lain, sebuah benda kecil plastik berbentuk pipih dengan dua garis merah tercetak jelas tersembunyi erat di balik saku roknya. Garis merah yang baru saja menghancurkan seluruh masa depan dan mimpi-mimpi sederhananya.

"Buka... tolong buka gerbangnya," rintih Dara, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menderu. Air matanya mengalir deras, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya yang jelita namun kini tampak begitu tirus dan pucat. "Riko... aku mohon, temui aku, Riko..."

Setelah hampir satu jam ia berdiri di sana bagai pengemis yang memelas, suara decit mesin penggerak terdengar. Gerbang emas itu terbuka perlahan, menyisakan celah yang cukup untuk dilewati satu orang. Jantung Dara berdegup kencang, secercah harapan kecil mekar di dadanya yang sesak.

Dari balik bayang-bayang pohon palem hias di pekarangan, dua orang pria berbadan tegap melangkah maju, memayungi seorang pemuda yang berjalan dengan langkah tegap dan angkuh. Pemuda itu adalah Riko Aditama. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna gelap yang lengannya digulung rapi hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang harganya mungkin bisa menghidupi keluarga Dara seumur hidup. Rambutnya tertata sempurna, tidak ada satu pun tetes hujan yang berani menyentuh kulitnya yang terawat.

Dara menatap pria itu, pria yang selama setengah tahun terakhir membisikkan kata-kata cinta yang begitu manis, pria yang memberikannya ilusi bahwa kelas sosial bukanlah penghalang bagi dua hati yang bertaut. Pria yang pada suatu malam, dengan rayuan maut dan janji-janji palsunya, menjebaknya dalam sebuah kehancuran yang tak bisa ditarik kembali.

"Riko..." suara Dara bergetar hebat saat Riko akhirnya berdiri hanya satu meter di hadapannya, dipisahkan oleh garis batas antara jalanan aspal yang tergenang air dan lantai batu alam pekarangan rumahnya yang kering.

Namun, harapan Dara hancur berkeping-keping saat ia menatap sepasang mata pemuda itu. Tidak ada lagi tatapan penuh puja dan kasih sayang. Yang ada hanyalah sorot mata yang sedingin es, penuh dengan rasa jijik, keangkuhan, dan gangguan yang tidak ditutup-tutupi.

"Untuk apa kau datang ke sini malam-malam, membuat keributan di depan rumahku, Dara?" Suara Riko terdengar begitu asing, tajam dan menyayat. Tidak ada kelembutan, tidak ada nada khawatir melihat keadaan Dara yang nyaris pingsan kedinginan.

Dara menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Dengan tangan bergetar, ia mengeluarkan alat tes kehamilan itu dari sakunya dan menyodorkannya ke arah Riko. "A-aku... aku hamil, Riko. Ini anakmu. Kejadian malam itu... malam di mana kau mabuk dan memaksaku..."

"Tutup mulutmu!" bentak Riko seketika, matanya membelalak waspada, melirik ke arah rumah mewahnya seolah takut suara Dara akan menembus dinding-dinding tebal keluarganya. Riko melangkah maju, tidak mempedulikan sepatunya yang mahal terciprat air hujan, dan menepis tangan Dara dengan kasar hingga alat tes itu terlempar ke kubangan lumpur.

"Kau gila?! Jangan berani-beraninya kau menyebarkan fitnah di depan rumahku!" desis Riko dengan nada mengancam. "Dari mana aku tahu itu anakku? Perempuan dari kelas sosial sepertimu, yang tinggal di gang kumuh, bisa saja tidur dengan pria mana pun untuk mencari jalan pintas keluar dari kemiskinan, lalu menjadikan aku sebagai kambing hitamnya!"

Kata-kata itu bagaikan belati tak kasat mata yang menghunus tepat ke jantung Dara. Ia terhuyung mundur, matanya membelalak tak percaya. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Fitnah? Kau bilang aku perempuan murahan? Riko, kau tahu betul aku tidak pernah disentuh laki-laki lain selain dirimu! Kau yang menjebakku, kau yang berjanji akan bertanggung jawab apa pun yang terjadi!"

"Janji seorang laki-laki di ranjang tidak bisa dijadikan kontrak hukum, Dara. Harusnya kau cukup pintar untuk menyadari itu," balas Riko dengan senyum sinis yang mengiris hati. Pemuda itu memberi isyarat pada salah satu pengawalnya. Sang pengawal merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat, lalu melemparkannya ke arah dada Dara. Amplop itu jatuh ke genangan air, memuntahkan tumpukan uang seratus ribuan yang begitu banyak.

"Di dalam situ ada uang seratus juta. Ambil uang itu, pergi ke dokter besok pagi, dan gugurkan gumpalan daging itu," perintah Riko dengan nada final yang mutlak. "Keluarga Aditama tidak akan pernah menerima benih dari rahim perempuan kelas bawah sepertimu. Kehadiranmu dan bayi itu hanya akan menjadi noda kotor di silsilah keluargaku, merusak nama baikku, dan menghancurkan rencana pertunanganku dengan putri keluarga konglomerat minggu depan."

Dara merasa bumi tempatnya berpijak runtuh seketika. "Pertunangan? Jadi... selama ini kau hanya mempermainkanku? Kau menjadikanku mainan sementaramu?"

Riko mendengus pelan, merapikan kerah kemejanya yang sama sekali tidak kusut. "Kau harus tahu batasanmu, Dara. Cinderela hanya ada di dongeng anak-anak. Di dunia nyata, elang tidak akan pernah terbang bersama burung gereja. Gugurkan bayi itu, atau jangan salahkan aku jika hidupmu di kota ini hancur berantakan. Tutup gerbangnya."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Dara untuk membalas, Riko berbalik badan dan berjalan kembali ke dalam pelukan istana hangatnya. Gerbang besi bertahtakan emas itu perlahan merapat, diiringi suara decit mekanis yang mengakhiri segalanya. Bunyi bantingan logam saat kunci otomatis terkait menjadi ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis kematian pada kisah cinta tragis Dara.

Dara jatuh terduduk di atas aspal yang kasar. Lututnya menghantam bebatuan, namun ia tak merasakan sakitnya. Ia menatap tumpukan uang basah yang berserakan di sekitarnya. Uang itu seolah menertawakan harga dirinya. Dengan isak tangis yang meledak, memecah derasnya suara hujan, Dara memeluk perutnya yang masih datar dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia menangis meraung-raung, merutuki kebodohannya, merutuki kenaifannya yang begitu mudah termakan janji manis seorang pemuda kaya raya.

Entah berapa lama ia menangis di sana, membiarkan badai menyiksa fisiknya. Ketika kesadarannya mulai menipis, instingnya bertahan hidup mengambil alih. Dengan sisa-sisa tenaga, Dara memaksakan diri untuk berdiri. Ia tidak mengambil sepeser pun uang dari lantai lumpur itu. Ia melangkah tertatih, meninggalkan kawasan elit tersebut, berjalan berkilometer-kilometer di bawah guyuran hujan badai menuju satu-satunya tempat yang ia sebut rumah.

Episodes
1 Malam Kelabu di Balik Gerbang Emas
2 Sumpah untuk Pintu yang Terkunci
3 Mekar di Atas Lumpur dan Sayatan Tinta Merah
4 Pecahan Kaca yang Diinjak dengan Senyuman
5 Tetes Kopi di Atas Papan Ketik dan Bayangan Masa Lalu
6 Konspirasi di Balik Meja Jati dan Tiket Menuju Medan Perang
7 Napas yang Tertahan di Ambang Pintu Takdir
8 Layar Merah yang Meremukkan Hati dan Tangan Penyelamat di Ujung Jurang
9 Kilau Emas yang Meleleh di Atas Lembaran Tagihan Rumah Sakit
10 Surat Hitam di Atas Meja Marmer dan Pilihan Tanpa Jalan Keluar
11 Topeng Senyum di Balik Air Mata dan Jalan Buntu yang Menyesakkan
12 Fajar di Ujung Malam dan Secercah Harapan yang Menyelamatkan
13 Rencana Keji di Balik Layar
14 Badai Kedua di Balik Layar dan Genggaman Tangan yang Melemah
15 Detak Jantung yang Menggantung di Ujung Nafas
16 Tamparan Keadilan dari Arah yang Tak Terduga
17 Topeng Kepalsuan di Atas Puing-Puing Keangkuhan
18 Air Mata Buaya di Balik Topeng pengampunan
19 Bisikan di Balik Jendela dan Peringatan yang Terabaikan
20 Senyuman Manis di Atas Lubang Perangkap
21 Senyuman Palsu di Atas Abu Kemenangan
22 Topeng yang Mulai Retak
23 Darah yang Dihapus dan Kebenaran yang Menghancurkan
24 Coding Gratis untuk Sang Saudara Tiri
25 Detik-Detik Maut yang Digagalkan
26 Umpan di Atas Papan Catur
27 Jejak Yang Hilang
28 Jeritan Di Balik Dinding Beton
29 Jeruji Besi dan Api yang Menghitam
30 Pertukaran yang ingkar
31 Palu putusan yang menyakitkan
32 Pesta di Atas Puing Kebenaran
33 Langkah Terakhir di Tanah Pengasingan
34 Bayangan yang Hilang
35 Permainan Kucing Tangkap Tikus
36 Umpan Manis di Atas Singgasana Kaca
37 Pelukan dalam Cahaya Merah
38 Jebakan Bau Terasi
39 Ruang Kelas Tiga
Episodes

Updated 39 Episodes

1
Malam Kelabu di Balik Gerbang Emas
2
Sumpah untuk Pintu yang Terkunci
3
Mekar di Atas Lumpur dan Sayatan Tinta Merah
4
Pecahan Kaca yang Diinjak dengan Senyuman
5
Tetes Kopi di Atas Papan Ketik dan Bayangan Masa Lalu
6
Konspirasi di Balik Meja Jati dan Tiket Menuju Medan Perang
7
Napas yang Tertahan di Ambang Pintu Takdir
8
Layar Merah yang Meremukkan Hati dan Tangan Penyelamat di Ujung Jurang
9
Kilau Emas yang Meleleh di Atas Lembaran Tagihan Rumah Sakit
10
Surat Hitam di Atas Meja Marmer dan Pilihan Tanpa Jalan Keluar
11
Topeng Senyum di Balik Air Mata dan Jalan Buntu yang Menyesakkan
12
Fajar di Ujung Malam dan Secercah Harapan yang Menyelamatkan
13
Rencana Keji di Balik Layar
14
Badai Kedua di Balik Layar dan Genggaman Tangan yang Melemah
15
Detak Jantung yang Menggantung di Ujung Nafas
16
Tamparan Keadilan dari Arah yang Tak Terduga
17
Topeng Kepalsuan di Atas Puing-Puing Keangkuhan
18
Air Mata Buaya di Balik Topeng pengampunan
19
Bisikan di Balik Jendela dan Peringatan yang Terabaikan
20
Senyuman Manis di Atas Lubang Perangkap
21
Senyuman Palsu di Atas Abu Kemenangan
22
Topeng yang Mulai Retak
23
Darah yang Dihapus dan Kebenaran yang Menghancurkan
24
Coding Gratis untuk Sang Saudara Tiri
25
Detik-Detik Maut yang Digagalkan
26
Umpan di Atas Papan Catur
27
Jejak Yang Hilang
28
Jeritan Di Balik Dinding Beton
29
Jeruji Besi dan Api yang Menghitam
30
Pertukaran yang ingkar
31
Palu putusan yang menyakitkan
32
Pesta di Atas Puing Kebenaran
33
Langkah Terakhir di Tanah Pengasingan
34
Bayangan yang Hilang
35
Permainan Kucing Tangkap Tikus
36
Umpan Manis di Atas Singgasana Kaca
37
Pelukan dalam Cahaya Merah
38
Jebakan Bau Terasi
39
Ruang Kelas Tiga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!