Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Selembar kertas ditempel di papan pengumuman dekat pintu belakang dapur, sebelum ada yang datang.
Tulisannya diketik rapi, dicetak hitam di atas putih, dan di bagian bawahnya ada tanda tangan yang tidak perlu ditanyakan siapa pemiliknya. Teh Lilis yang pertama kali membacanya, dengan mata yang makin lama makin melebar.
"Mbak Sari, Mbak Sari, sini deh."
"Apaan sih, Lis. Masih pagi."
"Baca ini."
Mbak Sari berjalan mendekat sambil mengelap tangan di celemek. Ia membaca dalam diam, dari atas sampai bawah, dengan wajah yang makin lama makin datar.
*PERATURAN BARU KARYAWAN.*
*1. Jam kerja wajib dipatuhi tanpa terkecuali. Tidak ada lembur kecuali atas persetujuan tertulis.*
*2. Pegawai dilarang menerima atau memberikan barang pribadi kepada sesama pegawai selama jam kerja.*
*3. Pembicaraan di luar urusan pekerjaan di area dapur dibatasi.*
*4. Pelanggaran akan ditindak sesuai kebijakan manajemen.*
"Peraturan baru," kata Teh Lilis pelan. "Ini yang kata Mas Reyhan waktu itu, kan?"
"Waktu itu dia bilang peraturan baru buat izin sakit." Mbak Sari mengangkat satu alis. "Yang ini beda."
"Nomor dua itu... itu kan buat Dimas, ya?"
"Atau buat yang nerima."
Teh Lilis menutup mulutnya. "Aduh. Aduh. Aduh."
Dan tepat saat itu, Anindya masuk, dengan tas di bahu dan wajah yang masih mengantuk. Ia berhenti di depan papan, membaca selembar kertas itu satu kali, dua kali, lalu menatap dua perempuan di sampingnya yang mendadak sangat tertarik pada lantai.
"Ada apa, Mbak?"
"Nggak ada, Nin," jawab Mbak Sari, terlalu cepat. "Peraturan. Biasa."
"Oh."
Anindya menatap nomor dua sekali lagi. Dan di dadanya, sesuatu yang dingin dan lama menetap kembali: perasaan seseorang yang sedang dibicarakan lewat selembar kertas tanpa pernah disebut namanya. Dulu, di toko roti, pengumuman seperti ini pun pernah ia baca. Dan dua minggu kemudian, ia kehilangan segalanya.
Ia mengangguk pelan, menaruh tas di loker, dan mengambil apron. Tidak ada satu pun yang ia katakan. Tapi Teh Lilis berani bersumpah bahwa ketika Anindya membalikkan badan, ia sempat melihat rahang perempuan itu mengeras, dengan cara yang sama persis dengan cara seseorang mengeras ketika ia memutuskan sesuatu dalam hati.
---
Jam sepuluh lewat lima belas, ruang kerja diketuk tiga kali.
"Masuk."
Anindya membuka pintu. Reyhan duduk di balik meja dengan laptop terbuka, kemeja putih digulung rapi, dan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan apa pun. Ia tidak mengangkat kepala.
"Mas panggil saya?"
"Duduk."
Anindya duduk di kursi seberang meja. Kursi itu agak terlalu tinggi, dan ia harus menjaga kakinya tetap menapak lantai agar tidak terlihat gugup. Ruangan itu sempit, beraroma kertas dan kopi, dengan satu jendela kecil yang menghadap halaman belakang.
Seperti ruang wawancara beberapa minggu lalu. Bedanya, dulu ia tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Sekarang, di dalam dadanya, ada sesuatu yang kecil dan hangat yang ia takut kehilangan.
"Kamu sudah baca pengumuman?" tanya Reyhan.
"Sudah, Mas."
"Ada yang mau ditanyakan?"
"Nggak ada, Mas."
"Bagus." Reyhan akhirnya mengangkat kepala, tapi pandangannya jatuh sedikit di atas bahu Anindya, ke arah dinding. "Saya ingin menegaskan satu hal. Peraturan nomor dua. Soal pemberian barang."
"Iya, Mas."
"Itu berlaku untuk semua orang. Tidak ada pengecualian."
"Iya, Mas."
"Jadi sarung tangan yang dari Dimas..."
"Saya akan ganti uangnya, Mas. Saya sudah bilang ke Mas Dimas."
"Itu bukan intinya."
Anindya menatapnya. Reyhan masih menatap dinding.
"Intinya," lanjut Reyhan, "di dapur ini ada aturan. Dan aturan itu harus dihormati. Kalau tidak, orang mulai berpikir macam-macam."
"Berpikir macam-macam apa, Mas?"
Hening.
"Mas," ulang Anindya, pelan. "Orang berpikir macam-macam apa?"
Rahang Reyhan bergerak sedikit. "Itu tidak penting."
"Penting buat saya."
"Anin."
"Mas nggak pernah menyebut nama saya kalau lagi serius," kata Anindya tiba-tiba, dan ia sendiri terkejut dengan suaranya yang lebih tenang dari yang ia kira. "Kalau mau nyalahin saya, nyalahin aja. Tapi jangan bikin peraturan buat nutupin sesuatu yang Mas sendiri nggak mau bilang."
Hening yang jatuh di antara mereka kali ini berbeda. Bukan hening canggung, bukan hening yang menunggu, melainkan hening seperti kaca tipis yang baru saja diretakkan dan semua orang menahan napas, menunggu apakah ia akan pecah atau tidak.
"Saya tidak menyalahkan kamu," kata Reyhan akhirnya, pelan.
"Terus kenapa Mas bilang saya manja?"
Reyhan membeku.
"Kenapa waktu itu Mas bilang begitu? Di depan semua orang? Padahal Mas yang..." Anindya berhenti, menelan sesuatu yang naik dari tenggorokannya. Suaranya mulai bergetar. "Padahal dulu waktu saya sakit, Mas ngasih saya dua hari. Gaji tetap. Itu pertama kalinya ada orang yang... Mas nggak tahu apa artinya itu buat saya."
"Anin..."
"Padahal sarung tangan kuning itu..."
"Bukan dari saya."
Kalimat itu keluar begitu cepat dan begitu datar, sampai Anindya hampir bertanya apakah ia salah dengar.
"Bukan dari saya," ulang Reyhan, menatap dinding. "Saya tidak tahu siapa yang ngasih."
"Mas."
"Saya benar-benar tidak tahu."
"Mas." Suara Anindya mengecil, tapi tidak goyah. "Mas nggak pandai bohong."
Sesuatu bergerak di wajah Reyhan. Tidak banyak. Hanya sedikit di sudut mata, hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat Anindya yakin bahwa ia sedang berdiri di depan sebuah pintu yang selama ini ia kira terkunci, padahal hanya ditahan dari dalam.
"Ukurannya pas," lanjut Anindya, hampir berbisik. "Terlalu pas buat ditebak orang yang cuma lewat. Dan ada yang pernah bilang ke saya, hari itu, di mobil, kalau minum obat jangan berhenti pas udah enakan. Itu kalimat orang yang ngerti rasanya."
"Anin..."
"Saya nggak minta Mas ngaku. Saya cuma mau Mas berhenti pura-pura nggak peduli sambil nyakitin orang yang Mas nggak mau nyakitin."
Anindya berdiri. Tangannya gemetar sedikit, dan ia menyembunyikannya di balik punggung. Matanya basah tapi ia tidak membiarkan air mata itu jatuh.
"Itu aja, Mas. Permisi."
Ia berbalik. Saat meraih gagang pintu, tatapannya jatuh sekilas ke lantai, ke bawah meja, ke sudut yang sepi di mana sesuatu yang kusut dan putih tergeletak.
Sebuah gumpalan kertas kecil.
Ia berhenti satu detik. Hanya satu detik.
"Jangan," kata Reyhan tiba-tiba.
Kata itu keluar tanpa sempat ia pikirkan. Kursinya bergeser, dan dalam sekejap, ia sudah berdiri dengan satu kaki menginjak gumpalan kertas itu, seperti anak kecil yang baru saja ketahuan menyembunyikan sesuatu.
Anindya menoleh perlahan. Menatap kaki Reyhan. Lalu wajahnya.
"Jangan apa, Mas?"
"...Jangan lupa makan siang."
Hening yang paling panjang dalam hidup Anindya dimulai di sana. Di wajah laki-laki itu ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat: bukan dingin, bukan marah, melainkan ketakutan yang telanjang, seperti seseorang yang berdiri di tepi sesuatu dan tidak tahu apakah harus melompat atau mundur.
Lalu, tanpa kata, ia membuka pintu dan keluar.
---
Setelah pintu tertutup, Reyhan berdiri diam cukup lama dengan satu kaki masih menginjak kertas itu.
Kemudian ia menunduk, mengangkat kakinya, dan memungut gumpalan kecil itu dari lantai. Tangannya sedikit gemetar. Ia membukanya pelan-pelan, meratakan lipatan kusutnya di atas meja dengan ujung jari, dan menatap dua kata yang ditulis dengan tulisan miring.
*Pakai ini.*
Dan di kepalanya, kalimat Anindya terulang tanpa ampun. *Itu pertama kalinya ada orang yang...* Ia tidak tahu apa lanjutannya. Tapi ia tahu persis siapa yang pernah memberi seseorang dua hari untuk sembuh, dan siapa yang kemudian menyuruh orang yang sama melepas sarung tangannya sambil menyebutnya manja.
Ia menatap kata-kata itu cukup lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ia tidak membuangnya. Ia melipat kertas itu dengan sangat hati-hati menjadi kotak kecil dan menyelipkannya di dalam dompet, di balik kartu identitasnya, di tempat yang tidak akan dilihat orang.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
Reyhan membukanya, dan darahnya terasa mendingin sedikit demi sedikit saat ia membaca.
Di layar, ada sebuah foto. Diambil dari kejauhan, sedikit buram karena hujan, tapi cukup jelas untuk dikenali: sebuah mobil abu-abu berhenti di mulut gang sempit, dan seorang perempuan berkerudung sedang menunduk di jendelanya.
Di bawah foto itu, hanya satu kalimat.
*Apa ini juga yang disebut perlengkapan kerja?*
Reyhan menatap layar itu tanpa bergerak. Di luar, dari dapur, terdengar suara piring beradu, tawa pelan Teh Lilis, dan suara air mengalir dari keran bengkok yang sama.
Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Ia tidak tahu sejak kapan foto itu diambil. Tapi untuk pertama kalinya sejak warung ini berdiri, Reyhan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
Dapur yang ia bangun dengan tangannya sendiri ternyata punya mata.
Bersambung ke Bab 11...