Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : Saat Takdir Memilihku
Kini Devan, Sudah bersama raja Bon-teng, dan beberapa pengawal, mereka bersiap menuju ke tempat, dimana Eyang suro berada.
"Baiklah, baginda sudah siap?" tanya raja Bon-teng.
"Tentu saja, raja Bon-teng mari kita pergi" jawab Devan.
Karena mereka semua, memiliki kekuatan ghoib, jadi mereka melesat secepat kilat, menuju sebuah lereng gunung berapi, yang di kelilingi hutam yang sangat lebat, dan jauh dari pemukiman warga tentunya. Malea dan syafir ikut serta, di pencarian itu, begitupun Manjo,
sementara Yunsi dan yang lain nya. Menjaga istana mereka. Tak lama setelah itu, Devan pun sampai, di sebuah lereng gunung berapi.
"Disini kah, tempat dia berada?", tanya Devan.
"Ya, disini lah tempat aku dulu, belajar semua bersama nya", jelas Bon-teng.
Benar saja setelah itu, terdengar suara tawa yang menggelegar di atas gunung itu. Sehingga semua orang, menatap ke asal suara. Disana sudah, duduk berdiri sosok berbaju serba hitam, dengan janggut putih, dan ikat kepala menghiasi nya.
"Hahahha, akhirnya kalian, datang juga kemari, murid ku Bon-teng, sudah lama tak berjumpa dengan ku", ucap pria yang tak lain, adalah Eyang Suro.
Raja Bon-teng, mengepalkan tangan nya, dirinya dilema, antara dia harus menghormati mantan guru nya, atau kah dia harus melawan nya. "Maaf guru!, tetapi kau sudah berbuat onar, di dunia jin!, kau telah mengadu dombakan kami, apa maksud mu?", tanya raja Bon-teng.
"Benar!, itu memang aku, karena untuk membalaskan dendam ku hahahaha!", jawab Eyang Suro.
Tanpa berbasa basi, dia pun melesat ke arah Devan, dan raja Bon-teng, di iringi ratusan mahluk, peliharaan Eyang Suro. Para pengawal, dan prajurit istana pun menghadang ratusan Jin peliharaan Eyang Suro itu.
Devan serta Raja Bon-teng, pun sama hal nya dengan, Eyang Suro. Mereka melesat bersamaan. Sehingga benturan energy magis, menimbulkan suara dentuman keras.
Bummmmmm!!!
Daun kering, berterbangan, debu pun terhempas, karena angin yang di timbulkan oleh, pertarungan Devan melawan, Eyang Suro. Sementara itu raja Bon-teng. Melawan mahluk yang menghadangnya, dan membiarkan Devan melawan Eyang suro.
"Kau sekarang, cukup kuat bocah tengil!", ucap Eyang Suro. Dirinya mulai mewaspadai, sosok Devan yang mulai terlihat lebih kuat, dan memiliki kekuatan magis.
"Kau diam saja pak tua! Mari kita selesai kan ini!", jawab Devan.
Wushhhh!! Srattt!! Trangg!!
Lengan Eyang Suro, sedikit tersayat, oleh keris milik Devan, dan diri nya segera menangkis, keris milik Devan dengan keris milik nya. "Kurang ajar kau!! Hiaaaattt!!" Eyang Suro, mulai membabi buta, menyerang ke arah Devan.
Sehingga, pertarungan itu semakin sengit. Menimbulkan efek kerusakan pada hutan di sekitar mereka.
Sementara Malea serta syafir, membantu Manjo dan raja Bon-teng. Mereka terus saja menghabisi, pasukan genderuwo milik Eyang Suro.
Aarrrrrrrggghhh!!
Ggrrrrrr!!
Salah satu genderuwo itu, terseret mundur, saat terkena serangan, dari raja Bon-teng. Tangan nya sambil memegangi perut nya, yang terasa sakit.
"Hanya seperti itu, kemampuan mu mahluk menjijikan!", ucap Raja Bon-teng.
Mendengar itu, sang genderuwo itu marah, dirinya kembali menyerang, ke arah raja Bon-teng. Namun sayang, nasib nya buruk, raja Bon-teng menghunuskan, pedangnya. Sehingga menembus perut, si genderuwo itu.
Aaarrreggghhh!!
Sreettt!!
Bruugghh!
Setelah selesai, melenyapkan satu mahluk hitam itu, raja Bon-teng membantu yang lain nya.
Sementara Devan, masih bertarung sengit dengan, Eyang Suro yang mulai kelelahan.
"Bagaimana, apakah kau ingin menyerah pak tua?" tanya Devan dengan pongah nya.
Eyang Suro semakin geram, mendengar itu, dirinya kembali meradang. "Kurang ajar kau!"
Wusshhh!!!
Hiatttt!!! Sreekkk!! Hoeeeeggghh!!
Telak mengenai perut Eyang Suro, keris yang di hunuskan, oleh Devan itu menusuk dalam, ke arah perut Eyang suro. Cairan merah mulai mengalir keluar, Eyang Suro sadar, kini diri nya sudah di ujung tanduk.
Pemuda yang dulu, dia remehkan ternyata sudah melewati batas, dan melampaui dirinya. "Hahahaha, baiklah kau menang bocah!,"
Uhukk!! Uhuk!!
Eyang Suro terbatuk, saat Devan mencabut kembali, keris yang dia tusukan.
"Tentu aku harus menang!, untuk melindungi rakyat ku!" jelas Devan.
Pandangan mata Eyang Suro, mulai meredup, akhirnya kini dia menemui ujung hidup nya, dirinya di kalahkan oleh seorang pemuda, yang tak pernah dia duga sama sekali.
Brugghh!!
Tubuh Eyang Suro, luruh dan jatuh, terbaring di atas tanah. Melihat itu, para anak buah Eyang Suro, mulai melarikan diri, Devan serta raja Bon-teng, hanya membiarkan nya saja. Karena itu hanya keroco dari Eyang Suro yang sudah tak bernyawa.
"Akhir nya, satu pembuat onar, sudah ku lenyapkan", gumam Devan.
"Kau sangat hebat baginda!", celetuk Raja Bon-teng.
Begitupun yang lain nya, mulai mengucapkan hal yang sama kepada Devan. Sehingga dirinya hanya tersipu malu seraya menjawab. "Kalian terlalu berlebihan", ucap Devan.
Dan kini, pelaku kekacauan sudah tak ada, sehingga dua alam semakin damai. Devan kemudian, beranjak pergi bersama yang lain nya. Tak lama setelah itu, Devan sudah sampai di istana, yang tentu sudah du sambut baik oleh para dayang.
"Sepertinya baginda kelelahan, apakah hendak membersihkan diri?, biar aku bantu" ucap seorang dayang yang baru pertama kali, Devan melihat nya
"Tentu saja, aku ingin membersihkan diri terlebih dulu Hei, apakah kau baru?, kenapa aku baru melihat mu?" tanya Devan.
Namun sebelum dayang itu menjawab, Malea terlebih dulu menjawab nya.
"Dia baru kembali dari persemayaman nya, karena butuh waktu puluhan tahun untuk memulihkan tubuh nya", jelas Malea.
Devan mengangguk mengerti, mendegar itu. "Baiklah, siapa nama mu?" tanya Devan.
"Namaku, Judis Baginda", jawab Dayang bernama Judis
"Baiklah, Judis bantu aku membersihkan diri", Sambung Devan.
Tentu Judis hanya menurut saja, ini pertama kali dia akan melayani Devan, setelah kembali dari pertapaan nya yang lama. Saat di ruangan milik Devan, Judis membantu membuka Jubah Devan, dengan perlahan dan telaten. Sementara Malea menyiapkan makanan untuk Devan. Dan Syafir sudah bersiap di dalam kamar mandi, menunggu Devan menyusul nya.
"Apakah baginda, perlu ku bantu membersihkan diri juga?", tanya Judis dengan hati-hati
"Tentu, ikut dengan ku", jawab Devan.
Devan membalikan badan nya, lalu beranjak pergi menuju kamar mandi istana nya. Devan tersenyum penuh arti, terlebih saat melihat Ekspresi wajah Judis, yang tersipu malu. Malea yang melihat itu, hanya tersenyum karena dia sudah terbiasa dengan sikap Devan. Tak ada cemburu, tak ada iri, itu lah dayang yang di miliki Devan. Terlihat Syafir sudah menunggu, di bak besar berisikan air hangat, Judis masih menunduk malu.
Namun suara Syafir, membuat nya segera mengangkat, wajah nya yang tertunduk. "Judis, angkatlah wajah mu, mari bergabung dengan ku disini" ajak Syafir.
"Baiklah kak", jawab Judis.
Judis adalah yang termuda, jika Malea yang tertua maka Judis adalah yang paling muda, di antara yang lain nya. Judis mulai melucuti pakaian nya, Tubuh yang putih cerah, serta buah dada yang ranum, membuat Devan semakin bergejolak melihat nya.
Judis memiliki rambut coklat, bermata biru serta hidung mancung dan tubuh yang ramping namun berisi. Sehingga siapapun yang melihat nya akan terpana.