Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Pertempuran di Reruntuhan
Bab 25 — Pertempuran di Reruntuhan
Pedang beradu dengan pedang, suara logam berdenting memenuhi reruntuhan kuil yang gelap. Pengawal Arkapura yang jumlahnya kalah jauh berjuang mati-matian, namun satu per satu mulai terdesak mundur oleh pasukan bayangan Paman Surya.
"Wening, tetap di belakangku," Aryasatya berkata tegas, pedangnya menangkis serangan dari dua arah sekaligus.
Rania mundur ke dekat altar batu, jantungnya berdegup liar menyaksikan pertempuran yang semakin tidak seimbang. Ia menatap sekeliling, mencari apa pun yang bisa membantu—senjata, jalan keluar, apa saja.
Matanya jatuh pada Nyonya Ratih, yang berdiri mematung di dekat altar, wajahnya penuh konflik batin.
"Bibi Ratih," panggil Rania cepat, "tolong kami!"
Ratih menatapnya lama, lalu menatap Paman Surya yang berdiri tenang mengawasi pertempuran dari kejauhan, seolah semua ini hanya pertunjukan yang sudah ia rencanakan dengan sempurna.
Sesuatu di mata Ratih berubah—dari ketakutan menjadi tekad yang keras.
"Aku sudah cukup lama jadi bidaknya," gumam Ratih, lalu bergerak cepat menuju salah satu obor yang tertancap di dinding reruntuhan.
Dengan gerakan yang mengejutkan, ia melemparkan obor itu ke arah tumpukan jerami kering yang entah kenapa ada di sudut reruntuhan—mungkin sisa perkemahan pasukan bayangan sebelumnya. Api langsung menyambar cepat, asap tebal mulai mengepul, menciptakan kekacauan tambahan di tengah pertempuran.
"LARI!" teriak Ratih pada Rania, sambil mendorongnya menjauh dari pusat kekacauan.
Di tengah asap dan kebingungan, pasukan bayangan mulai kehilangan formasi mereka, beberapa batuk-batuk karena asap yang menyesakkan. Aryasatya memanfaatkan momen itu, menebas jalan keluar bersama sisa pengawalnya yang masih bertahan.
"Ke sini!" Aryasatya menarik tangan Rania, membawanya berlari menjauh dari titik pertempuran menuju celah reruntuhan yang lebih gelap.
Rania menoleh ke belakang, melihat Nyonya Ratih masih berdiri di tengah asap, menghadapi Paman Surya yang kini menatapnya dengan kemarahan dingin.
"Bibi!" teriak Rania, mencoba berhenti, namun Aryasatya menahannya kuat.
"Tidak ada waktu," katanya tegas. "Kita harus pergi sekarang."
"Tapi dia—"
"Dia membuat pilihannya sendiri untuk menyelamatkan kita," potong Aryasatya, suaranya berat namun penuh keyakinan. "Jangan sia-siakan itu."
Rania merasakan air mata menggenang, namun ia tahu Aryasatya benar. Mereka berlari lebih dalam ke hutan sekitar reruntuhan, sisa pengawal Arkapura mengikuti dari belakang, beberapa terluka namun masih bisa berjalan.
Di belakang mereka, suara pertempuran masih terdengar samar, bercampur dengan kobaran api yang semakin membesar melahap reruntuhan kuil tua itu.
***
Mereka berhenti berlari setelah merasa cukup jauh, di tepi sungai kecil yang mengalir tenang di tengah hutan. Rania jatuh berlutut, napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat—bukan hanya karena lelah, tapi karena semua yang baru saja terjadi.
"Bibi Ratih," bisiknya, suaranya pecah. "Dia masih di sana."
Aryasatya berjongkok di sampingnya, wajahnya sendiri penuh luka gores kecil dari pertempuran, namun matanya tetap fokus menenangkan Rania.
"Aku akan kirim orang untuk mencarinya begitu kita aman," katanya. "Tapi sekarang, prioritas kita adalah membawamu kembali ke istana dengan selamat."
Rania mengangguk lemah, meski hatinya masih dipenuhi rasa bersalah. Nyonya Ratih—wanita yang selama ini ia curigai, yang pernah membantu kejahatan besar, namun di detik terakhir memilih mengorbankan diri untuk menyelamatkan mereka.
Salah satu pengawal yang tersisa mendekat, melapor dengan napas terengah. "Paduka, pasukan Paman Surya terlalu banyak. Kita butuh bala bantuan dari istana secepatnya."
Aryasatya mengangguk, berdiri dan mulai memberi instruksi cepat. "Kirim orang tercepat kita ke Arkapura, minta bala bantuan penuh. Yang lain, kita amankan rute menuju Wanunggalih untuk melaporkan ini ke Raja."
Di tengah kesibukan itu, Rania duduk sendirian di tepi sungai, menatap pantulan bulan di air yang mengalir tenang—kontras yang aneh dengan kekacauan yang baru saja mereka lalui.
"Sistem," bisiknya lagi, lebih pelan kali ini, hampir seperti doa daripada panggilan. "Kalau kau masih di sana... aku butuh bantuanmu."
Keheningan menjawabnya untuk sesaat, sebelum akhirnya—
[Ting!]
Rania tersentak kaget. Suara itu kembali, meski terdengar lemah dan terputus-putus.
[Host... koneksi tidak stabil... sistem berusaha... bertahan.]
"Sistem!" Rania hampir menangis lega. "Kau masih ada!"
[Peringatan... ketidakstabilan dunia semakin parah... bertambah sejak konflik besar terjadi... kemungkinan terkait langsung dengan... tindakan Host yang mengubah alur cerita secara signifikan.]
"Maksudmu, karena aku bongkar kejahatan Mukti, semuanya jadi kacau?"
[Bukan kesalahan Host... namun perubahan besar dalam... alur cerita asli... menciptakan tekanan pada stabilitas dunia ini.]
Rania merasakan dadanya sesak. "Jadi kalau aku terus ikut campur, dunia ini bakal makin nggak stabil?"
[Kemungkinan itu... valid.]
Aryasatya, yang sejak tadi mendekat mendengar percakapan satu arah itu, berjongkok di samping Rania dengan wajah khawatir. "Sistemmu bicara lagi?"
Rania mengangguk pelan, menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dia bilang... semakin aku ikut campur sama cerita di dunia ini, semakin nggak stabil dunianya."
"Apa artinya itu?"
Rania menggigit bibir, mencoba mencerna implikasi mengerikan dari kata-kata sistem itu sendiri.
"Mungkin," katanya pelan, suaranya bergetar, "semakin aku coba selamatkan semua orang di sini... semakin cepat aku bakal kehilangan dunia ini."
Di kejauhan, asap hitam dari reruntuhan kuil yang terbakar masih mengepul tinggi ke langit malam, menyaksikan diam-diam bahwa pertempuran yang baru saja mereka menangkan mungkin hanya permulaan dari konsekuensi yang jauh lebih besar.