Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.Foya foya
Pagi yang cerah menyambut Naya di halaman mansion mewah keluarga Diksara. Di sana, sebuah mobil sedan hitam keluaran terbaru beserta seorang sopir pribadi berbaju rapi sudah menunggunya dengan pintu yang dibukakan lebar-lebar. Pak Mamat, sopir setia keluarga Diksara yang biasanya melihat Naya berjalan menunduk dan selalu meneteskan air mata, kini dibuat terperangah. Naya melangkah anggun memakai kacamata hitam berbingkai besar, gaun peach yang melambai ditiup angin, dan senyuman percaya diri yang memancar dari wajahnya.
"Selamat pagi, Pak Mamat!" sapa Naya riang sambil masuk ke dalam mobil.
"S-selamat pagi, Bu Naya..." Pak Mamat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung melihat aura Naya yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat berkilau. "Kita mau menuju ke mana hari ini, Bu?"
"Ke Grand Galleria Mall, Pak! Mall paling mahal, paling megah, dan paling menguras dompet di kota ini. Hari ini kita punya misi penting: mengikis saldo Black Card milik Mas Kulkas!" seru Naya bersemangat seraya menepuk-nepuk tas kecilnya yang berisi kartu kredit milik Damar.
Pak Mamat makin bingung, tetapi ia hanya bisa mengangguk patuh dan mulai menjalankan mobil. Di dalam perjalanan, Naya menyandarkan tubuhnya dengan nyaman sambil memandangi pemandangan Kota Medan yang sibuk dari balik jendela mobil yang gelap.
Di kepala Naya, potongan-potongan memori Naya Fiksi kembali berputar. Mengapa Mamah Ratna yang sebegitu membencinya tidak bisa mengusir Naya keluar dari mansion Diksara secara terang-terangan? Jawabannya murni karena keberadaan Papah Hendra—ayah kandung Damar sekaligus kepala keluarga Diksara!
Papah Hendralah yang paling berutang budi besar kepada mendiang orang tua Naya. Di masa lalu, ketika bisnis keluarga Diksara berada di ambang kebangkrutan tragis, almarhum ayah Nayalah yang mengorbankan seluruh harta dan jiwa demi menyelamatkan Papah Hendra. Karena itulah, Papah Hendra bersumpah akan menjaga Naya dan menjadikannya menantu utama di keluarga Diksara.
Mamah Ratna sebenarnya sangat takut dan tunduk pada perintah Papah Hendra. Namun, berhubung saat ini Papah Hendra sedang berada di luar kota selama beberapa bulan untuk mengurus ekspansi bisnis internasional keluarga Diksara, Mamah Ratna memanfaatkan celah ini! Wanita paruh baya itu merasa bebas bertindak semena-mena, bicara kasar, dan menindas Naya Fiksi di belakang suaminya.
Cah! Dasar Tante Ratna mukanya dua! Pas ada Papah Hendra aja manis-manis pura-pura sayang, begitu Papah pergi langsung kumat taringnya! batin Naya tertawa sinis. Tapi sory ya, Tante. Naya yang sekarang bukan cewek cengeng yang bisa ditindas lagi. Tante jual, gue borong plus bonus pita merah!
Tidak terasa, mobil yang dikendarai Pak Mamat sampai di area parkir VIP Grand Galleria Mall. Pak Mamat bergegas membukakan pintu untuk Naya.
"Bu Naya, saya tunggu di parkiran ya? Nanti kalau Bu Naya sudah selesai, tinggal panggil saya," ujar Pak Mamat sopan.
"Loh, jangan di parkiran dong, Pak Mamat. Mending Pak Mamat ikut saya masuk. Nanti kalau belanjaan saya kebanyakan, siapa yang mau bawain? Tenang aja, nanti saya traktir kopi mahal di dalam!" jawab Naya terkekeh pelan.
Pak Mamat hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah nyentrik bos mudanya itu dari belakang. Begitu menginjakkan kaki di atrium mall yang megah, mata Naya langsung berbinar-binar bagai anak kecil di dalam toko mainan. Aroma toko-toko barang bermerek langsung menyambut inderanya.
Destinasi pertama Naya adalah toko pakaian desainer papan atas. Begitu Naya masuk, para pelayan toko yang biasanya menilai pelanggan dari penampilan sempat memandang Naya dengan sebelah mata karena Naya hanya mengenakan gaun santai biasa. Namun, begitu Naya mengibaskan Black Card milik Damar di depan meja kasir dan memesan lima gaun malam paling mahal tanpa perlu melihat label harga, sikap para pelayan toko itu langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat! Mereka membungkuk-bungkuk sopan dan melayani Naya bak seorang putri raja.
"Mbak, tolong gaun yang warna emerald green ini, lalu yang warna champagne, sama yang sutra merah ini bungkus ya. Oh iya, sama koleksi kemeja dan mantel terbaru itu juga!" perintah Naya santai.
"Baik, Ibu! Semuanya langsung kami proses ke kasir!" jawab kepala pelayan toko dengan wajah berseri-seri.
Tidak berhenti di situ, Naya melanjutkan aksinya ke toko perhiasan dan tas kulit premium. Ia membeli dua buah tas limited edition yang harganya bisa buat membeli satu unit mobil keluarga. Setelah itu, ia melangkah ke toko skincare dan kosmetik mewah, memborong satu set perawatan kulit komplit, parfum-parfum impor kelas atas, hingga alat pemijat wajah elektrik.
Pak Mamat yang berjalan di belakang Naya kini kewalahan membawakan belasan kantong belanjaan mahal berlogo merek-merek ternama dunia. Napas Pak Mamat sampai tersengal-sengal.
"B-bu Naya... ini belanjaannya udah banyak banget, Bu," bisik Pak Mamat prihatin. "Pak Damar... apa tidak marah kalau lihat nota pembayarannya nanti?"
Naya tertawa renyah sambil meminum es kopi krimer yang baru ia beli. "Aduh, Pak Mamat sayang... Mas Damar itu uangnya kagak bakal habis tujuh turunan delapan tanjakan! Kartu ini kan diserahkan sendiri sama beliau buat pemenuhan hak saya. Lagian, uang segini tuh cuma seiprit dibanding harga diri saya yang harus ditahan buat tinggal seatap sama manusia es batu itu!"
Tepat saat Naya sedang asyik tertawa, sebuah suara wanita bernada centil dan melengking tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
"Loh? Ini Naya, kan?! Istri pajangannya Damar?"
Naya menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya perlahan dan mendapati seorang wanita bertubuh jenjang dengan balutan pakaian designer yang sangat ketat sedang berjalan mendekat. Rambut wanita itu dicat cokelat keemasan, wajahnya dipenuhi riasan tebal, dan tas di lengannya dipamerkan secara sengaja.
Deg!
Seketika memori novel di kepala Naya berdenyut. Wajah ini... gaya bicara tengil ini... dan aura kepalsuan yang menyeruak ini!
"Lea...?" gumam Naya pelan.
Iya! Ini dia Lea! Wanita yang di dalam novel seharusnya menjadi pasangan serasi Damar. Lea adalah mantan gebetan Damar yang merasa dirinya jauh lebih layak menjadi ratu di keluarga Diksara ketimbang Naya yang dianggap cewek miskin kampungan.
Lea melangkah mendekati Naya dengan senyuman meremehkan yang membentang lebar di wajahnya. Matanya melirik ke arah belasan kantong belanjaan yang dibawa oleh Pak Mamat.
"Aduh, Naya... Kaget banget aku ketemu kamu di sini," ujar Lea dengan suara yang dipasang-pasangkan seolah ramah, padahal matanya memancarkan ejekan tajam. "Kamu belanja sebanyak ini? Jangan-jangan kamu mencuri kartu kredit Damar ya? Setahu aku, Damar itu mana sudi membiayai cewek kampung kayak kamu."
Dua bulan lalu di dunia novel, jika Lea menyindirnya seperti ini, Naya Fiksi pasti akan menundukkan kepala, gemetaran, dan meminta maaf dengan suara terisak-isak karena takut Lea akan mengadu pada Damar. Namun, Naya dari dunia nyata ini justru membuka kacamata hitamnya perlahan, lalu menatap Lea dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh rasa kasihan.
"Aduh, Mbak Pancong... eh, Mbak Lea," jawab Naya dengan suara lantang yang sengaja dibuat terdengar oleh pengunjung mall di sekitar mereka. "Ngomongnya dijaga ya. Masa cewek cantik berkelas kayak saya dituduh mencuri? Ini Black Card dikasih langsung kok sama suami sah saya, Mas Damar Diksara. Dijamin halal dan tanpa paksaan!"
Muka Lea mendadak memerah mendengar panggilan "Mbak Pancong" dan penekanan kata "suami sah".
"Kamu... kamu panggil aku apa tadi?!" bentak Lea, raut wajah cantiknya mendadak kusam karena emosi. "Jaga mulut kamu ya, Naya! Kamu itu cuma cewek beruntung karena utang budi! Damar itu enggak pernah cinta sama kamu! Dia cuma cinta sama aku! Kamu itu cuma beban di rumah tangga Diksara!"
Naya bukannya marah, malah menepuk tangan pelan sambil terkekeh riang. "Wah, keren banget Mbak Lea! Kalimatnya persis kayak naskah sinetron Indosiar jam dua siang! Tapi sayangnya ya Mbak... kenyataannya, yang tidur seranjang sama Damar tiap malam itu saya, yang memegang kartu kredit tanpa batasnya itu saya, dan yang punya status 'istri sah' di mata hukum dan negara itu... tetap saya!"
Naya melangkah satu tindak mendekati Lea, lalu berbisik tajam tepat di samping telinga wanita itu.
"Lagian, kalau Mas Damar beneran cinta mati sama Mbak Lea, kenapa bukan Mbak yang dinikahi? Kenapa malah saya yang dipajang di rumahnya? Apa jangan-jangan... Mbak Lea cuma penonton bayaran yang enggak laku?"
DEG!
Kalimat savage dari Naya menghantam dada Lea bagai petir di siang bolong. Muka Lea langsung pucat pasi bercampur merah padam. Wanita itu mengepalkan tangannya rapat-rapat, matanya melotot tidak percaya menatap Naya. Naya Fiksi yang ia tahu biasanya gampang ditekan dan langsung menangis jika dibentak, kenapa sekarang bisa memiliki mulut setajam silet begini?!
"Kamu... kamu bener-bener kurang ajar ya, Naya! Aku bakal aduin semua perlakuan kamu ini ke Tante Ratna dan Damar!" ancam Lea dengan suara gemetar menahan malu karena beberapa pengunjung mall mulai berbisik-bisik memperhatikan mereka.
Naya mengibaskan tangannya di udara dengan santai seraya memakai kembali kacamata hitamnya. "Aduin aja, Mbak! Mau aduin ke Tante Ratna, ke Damar, atau ke Satpol PP sekalian juga boleh! Saya enggak takut. Dahhh Mbak Lea! Jangan lupa beli obat penurun darah tinggi ya!"
Dengan gaya anggun dan memikat, Naya memutar tubuhnya lalu melangkah pergi meninggalkan Lea yang masih berdiri mematung sambil menghentakkan kakinya ke lantai karena emosi jiwa.
Pak Mamat yang mengikuti di belakang Naya sampai menganga tak percaya. Gila... Bu Naya bener-bener udah berubah jadi srikandi! batin Pak Mamat takjub setengah mati.
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Diksara Tower, Damar Diksara sedang memimpin rapat penting bersama para direktur utama. Ponsel genggam milik Damar yang tergeletak di atas meja rapat mendadak bergetar tanpa henti.
BZZZ! BZZZ! BZZZ!
Damar melirik layar ponselnya. Sederet notifikasi transaksi perbankan masuk secara berturut-turut:
Transaksi Black Card: Rp85.000.000 - Boutique De Luxe
Transaksi Black Card: Rp120.000.000 - Royal Jewelry
Transaksi Black Card: Rp45.000.000 - Beauty & Glow Skincare
Transaksi Black Card: Rp15.000.000 - Cafe Latte & Bakery
Damar membelalakkan matanya tipis. Total transaksi yang dilakukan Naya dalam waktu tiga jam saja sudah menembus angka ratusan juta rupiah! Para direktur yang sedang presentasi mendadak terhenti karena melihat ekspresi wajah bos besar mereka yang tampak terusik.
Belum selesai Damar mencerna gesekan kartu kreditnya, ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan telepon masuk dari ibunya, Mamah Ratna.
Damar mengangkat telepon itu dengan tenang. "Halo, Ma?"
"Damar! Kamu harus pulang sekarang juga atau pecat istri kamu itu!" teriak Mamah Ratna histeris dari seberang telepon. "Lea baru aja telepon Mama sambil menangis-nangis! Katanya si Naya foya-foya di mall pakai kartu kamu, terus dia maki-maki dan ngatain Lea dengan kata-kata kasar di depan umum! Perempuan itu bener-bener udah tidak bisa ditoleransi lagi, Damar!"
Damar menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, menyapu dagunya yang tegas. Mendengar laporan bahwa Naya baru saja memborong barang mewah dan membalikkan serangan Lea di mall, bukannya murka, sebaris senyuman tipis yang sangat misterius justru kembali terbit di bibir pria dingin itu.
"Nanti saya urus di rumah, Ma," sahut Damar pendek lalu mematikan sambungan telepon.
Damar menatap layar ponselnya yang masih menayangkan rincian belanjaan Naya. Kamu benar-benar cari masalah ya, Naya... batin Damar. Ada rasa jengkel karena nama baiknya diusik, tetapi di dasar hatinya yang paling dalam, Damar mendadak tidak sabar untuk segera pulang ke rumah dan melihat drama apa lagi yang akan ditunjukkan oleh istri ajaibnya itu malam ini.
_Bersambung