Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.
Ayudia duduk di samping ibunya, berusaha menahan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Sejak menerima telepon dari Alfa, hatinya dipenuhi kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
Pak Danu mengangkat alis, menatap Ayudia dengan senyum penuh selidik. "Ada kabar baik apa malam-malam begini, Ayu? Sampai-sampai wajahmu begitu sumringah, hmmm?" tanyanya.
"Mas Alfa barusan menelepon. Dia bilang akan datang bersama keluarganya untuk melamarku," jawabnya dengan mata berbinar.
Seketika wajah Pak Danu berubah cerah. "Syukurlah! Akhirnya Alfa mengambil langkah yang kita harapkan."
Melihat putrinya sebahagia itu membuat hati Bu Farida ikut merasa lega. Ia memang berharap putrinya mendapatkan pasangan yang mampu menghargai dan menyayanginya.
"Kamu sendiri bagaimana, Nak? Sudah siap menjadi seorang istri?" tanyanya sambil menggenggam tangan Ayudia.
Ayudia mengangguk mantap. "Aku siap, Ma."
Pak Danu mengusap dagunya pelan, mulai memikirkan persiapan yang diperlukan untuk menyambut keluarga Alfa.
"Kalau begitu, kita sambut keluarga mereka dengan baik. Papa akan menghubungi Alfa besok untuk membicarakan hari kedatangannya."
"Terima kasih, Pa," ucap Ayudia sambil memeluk lengan ayahnya.
Pak Danu mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Ada kelegaan di hatinya karena laki-laki yang dipilihnya untuk mendampingi Ayudia ternyata juga bersedia melangkah atas kesadaran dan keinginannya sendiri. Dia tidak ingin putrinya menjalani pernikahan yang hanya didasari keinginan orang tua.
Malam itu, Ayudia tidur dengan hati berbunga-bunga. Bayangan tentang hari ketika Alfa datang bersama keluarganya terus memenuhi pikirannya. Meski masih ada banyak hal yang harus mereka persiapkan, satu hal sudah pasti: ia ingin membangun masa depan bersama pria itu.
*
*
*
Hari yang disepakati akhirnya tiba.
Sejak pagi, Bu Mala dan Ulya sudah disibukkan dengan berbagai persiapan. Keduanya menata bingkisan yang akan dibawa sebagai buah tangan, sementara Alfa sesekali melirik jam tangannya.
Tak lama kemudian, Pak Ikhsan masuk setelah memastikan kendaraan siap.
"Kalau semua sudah beres, sebaiknya kita segera berangkat. Jangan sampai mereka menunggu kita," ujarnya.
Bu Mala mengangguk. "Ayo, Ulya. Bantu ibu membawa bingkisan ini ke mobil," pintanya pada putri bungsunya.
"Baik, Bu," jawab gadis itu.
Alfa ikut membantu tak mau hanya berpangku tangan. Begitu semuanya telah berada di dalam mobil, pria itu menatap kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, terima kasih sudah mendukungku."
"Cuma Ayah sama Ibu saja, nih? Aku tidak terhitung?" celetuk Ulya sambil menyebikkan bibirnya.
"Iya-iya, adikku yang bawel. Terima kasih atas bantuannya," ucap Alfa akhirnya.
Pak Ikhsan menepuk bahu putranya. "Kami hanya ingin kamu bahagia, Nak. Semoga langkahmu hari ini menjadi awal yang baik bagi kalian berdua."
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka pun berangkat menuju rumah Pak Danu.
*
*
*
Di rumah Pak Danu
Persiapan telah dilakukan untuk menyambut kedatangan keluarga Alfa. Hidangan tersaji di meja, beberapa anggota keluarga membantu memastikan ruang tamu tertata rapi.
Ayudia tampak mondar-mandir di ruang tamu. Ia berusaha terlihat tenang dan mengendalikan debaran jantungnya, tetapi tetap saja ada kegugupan yang sulit dihilangkan.
Hingga kemudian, suara kendaraan terdengar memasuki halaman rumah. Ayudia spontan menoleh ke arah pintu, senyumnya merekah tanpa bisa ditahan.
Dari ruang tamu, ia melihat Alfa turun dari mobil bersama Pak Ikhsan dan Bu Mala. Tak ketinggalan Ulya turut membantu membawa barang bawaan mereka.
"Mas Alfa dan keluarganya sudah datang, Ma," bisiknya.
Bu Farida menggenggam tangan putrinya. "Ayo, kita sambut mereka."
Ayudia mengangguk, lalu mengikuti kedua orangtuanya berjalan menuju pintu.
"Silakan masuk. Terima kasih sudah berkenan datang ke rumah kami," sambut Pak Danu dengan senyum ramah.
Pak Ikhsan menjabat tangan tuan rumah. "Justru kami yang berterima kasih karena sudah diterima dengan baik. Kami datang membawa niat baik untuk keluarga Bapak."
"Kalau begitu, mari kita duduk bersama dan berbincang dengan nyaman."
Setelah saling menyapa, kedua keluarga duduk berhadapan di ruang tamu dalam suasana yang terasa hangat. Bu Mala menyerahkan bingkisan yang mereka bawa kepada tuan rumah, kemudian duduk di samping Pak Ikhsan.
Alfa sempat melirik Ayudia yang duduk di samping Bu Farida. Gadis itu membalas tatapannya dengan senyum manis, membuat kegugupannya sedikit berkurang.
Pak Danu kemudian membuka percakapan. "Baiklah, Pak Ikhsan, Bu Mala. Saya rasa kita semua sudah mengetahui maksud kedatangan keluarga kalian. Namun, saya ingin mendengar langsung dari Alfa."
Semua pandangan beralih kepada Alfa. Pria itu duduk lebih tegak, menatap Pak Danu dan Bu Farida dengan santun.
"Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak dan Ibu yang sudah menerima kedatangan kami. Saya datang kemari dengan niat baik untuk meminang Ayudia menjadi istri saya."
Sesaat dia berhenti, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan isi hatinya.
"Saya memang tidak bisa menjanjikan kehidupan yang selalu mudah. Namun, saya akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab, menghargai Ayudia, dan mendampinginya dalam keadaan apa pun. Karena itu, dengan segala kerendahan hati, saya ingin meminta izin untuk menikahi putri Bapak dan Ibu."
Bu Mala menunduk, menyembunyikan rasa haru yang mulai memenuhi dadanya. Ia bangga melihat putranya berbicara dengan sungguh-sungguh tentang masa depan yang ingin dibangunnya.
Pak Ikhsan pun mengangguk. Sadar bahwa keputusan menikah merupakan langkah besar bagi Alfa, terlebih setelah berbagai pengalaman yang pernah dilalui putranya. Namun, beliau percaya Alfa sudah mempertimbangkannya dengan matang.
Pak Danu terdiam, lalu mengalihkan pandangan kepada putrinya.
"Ayu, kamu sudah mendengar sendiri apa yang disampaikan Alfa. Papa ingin tahu jawabanmu. Apakah kamu bersedia menerima pinangannya?"
Ayudia meremas jemarinya sambil menatap Alfa yang menunggu jawabannya dengan penuh harap, lalu menganggukkan kepala dengan mantap.
"Iya, Pa. Aku bersedia."
Senyum bahagia langsung menghiasi wajah kedua keluarga. Bu Mala bahkan mengusap sudut matanya yang mulai basah, karena terharu.
"Kalau begitu, dengan senang hati kami menerima niat baik ini. Kami berharap bisa menjadi awal yang baik bagi kalian berdua," ujar Pak Danu, lalu tersenyum lebar.
Alfa mengembuskan napas lega. Dia menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha menjaga kepercayaan yang Bapak berikan."
Pak Danu menepuk bahu Alfa dengan hangat. "Saya percaya kamu pria bertanggungjawab. Namun, ingatlah bahwa rumah tangga bukan hanya tentang janji. Kalian harus terus belajar saling memahami dan menjaga kepercayaan."
"Baik, Pak. Saya akan mengingatnya," jawab Alfa mantap.
Pak Ikhsan kemudian ikut berbicara. "Kami pun berharap mereka berdua bisa saling menguatkan nantinya. Jika kelak ada masalah, harus dibicarakan baik-baik dan mencari jalan keluar bersama."
"Tentu, Pak Ikhsan. Itu juga harapan kami," sahut Pak Danu.
Percakapan berlanjut dengan pembahasan mengenai rencana pernikahan sambil menikmati hidangan yang telah disediakan. Suasana begitu penuh kehangatan. Kedua keluarga sepakat membicarakan tanggal dan persiapan lebih lanjut agar semuanya dapat berjalan dengan baik.
Di sela pembicaraan, Alfa dan Ayudia sempat saling pandang. Ada kebahagiaan yang tak perlu diungkapkan dengan banyak kata. Namun, mereka bersyukur akhirnya sampai pada titik yang selama ini dinantikan. Bukan karena semua persoalan telah menemukan jawaban, melainkan karena keduanya memilih untuk melangkah bersama.
Duaarrr .... sport jantungku 🤭🫰