Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Arsen Yang Membingungkan
“Sekarang gimana? Sudah agak enakan?” Rina bertanya dengan wajah masih dipenuhi kekhawatiran.
Keira mengangguk perlahan.
“Lumayan... cuma kepala masih terasa pusing.”
Salah seorang teman yang berada di dekatnya segera menyodorkan sebotol air.
“Minum dulu, Kei. Jangan sampai kamu tambah lemas.”
Keira menerima botol itu dan meneguk beberapa kali.
Tubuhnya memang mulai terasa lebih baik, tetapi pikirannya justru semakin kacau.
Dari tempatnya berbaring, Keira bisa melihat pintu balai desa yang masih terbuka. Dari sana, ia melihat Arsen sedang berbicara dengan beberapa perangkat desa.
Pria itu kembali menunjukkan sikap profesionalnya.
Tenang, tegas, dan terlihat sangat bertanggung jawab.
Seolah beberapa menit lalu ia bukanlah pria yang panik saat menangkap tubuh Keira.
Tidak seorang pun di luar sana tahu bahwa perempuan yang tadi ia gendong adalah istrinya sendiri.
Tidak ada yang tahu bahwa hubungan mereka sebenarnya sedang berada di ujung tanduk.
“Hei...” bisik salah seorang mahasiswa kepada temannya. “Dosen galak itu ternyata perhatian juga, ya?”
Temannya mengangkat alis.
“Tadi aku lihat wajahnya. Panik banget waktu Keira hampir jatuh.”
Keira yang mendengar percakapan itu langsung terdiam.
Panik?
Tanpa sadar, pikirannya kembali pada kejadian tadi.
Tatapan Arsen ketika melihat dirinya kehilangan keseimbangan.
Tangan pria itu yang refleks menahan tubuhnya.
Bahkan nada suaranya berubah ketika memanggil namanya.
Untuk sesaat, Arsen tidak terlihat seperti suami yang dingin dan sulit didekati.
Ia terlihat seperti seseorang yang benar-benar takut sesuatu terjadi padanya.
Namun, jika memang peduli...
Lalu kenapa setelah itu dia pergi begitu saja?
Keira menundukkan pandangan.
“Ah, mungkin dia cuma menjalankan tanggung jawabnya,” pikirnya mencoba mencari alasan.
“Dia dosen pembimbing. Wajar kalau dia khawatir kalau ada mahasiswa yang sampai pingsan.”
Keira menghela napas pelan.
Ia tidak ingin salah mengartikan perhatian kecil itu.
Beberapa menit berlalu.
Pintu balai desa kembali terbuka.
Arsen masuk sebentar.
“Bagaimana keadaannya?” tanyanya dengan nada formal.
“Sudah lebih baik, Pak,” jawab Rina.
Arsen mengangguk.
Tatapannya kemudian beralih kepada Keira.
Mata mereka bertemu.
Hanya sesaat.
Ada sesuatu dalam tatapan Arsen yang seolah ingin disampaikan, tetapi pria itu kembali menahannya.
“Kalau sudah cukup istirahat, kamu bisa menyusul ke posko,” katanya datar. “Tapi jangan memaksakan diri kalau masih pusing.”
Keira hanya mengangguk.
“Baik, Pak.”
Arsen kembali berbalik.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia meninggalkan balai desa.
Keira memejamkan mata.
Entah mengapa, sikap Arsen yang sempat menunjukkan kekhawatiran kemudian kembali menjadi dingin justru membuat dadanya terasa lebih sakit.
Mungkin akan lebih mudah jika sejak awal Arsen benar-benar tidak peduli.
Setidaknya, Keira tidak akan dibuat bingung oleh perubahan sikapnya.
Dari luar, suara para mahasiswa kembali terdengar ramai.
Pembagian kelompok telah selesai. Beberapa mahasiswa mulai membicarakan program kerja yang akan mereka jalankan selama berada di desa.
Sementara Keira masih berbaring sambil menatap langit-langit balai desa.
Ia menarik napas panjang.
“Kenapa juga aku sampai pingsan...” gumamnya kesal.
Ia mengepalkan tangan kecil-kecil.
“Aku harus kuat. Aku gak boleh kelihatan lemah di depan dia.”
Terlebih lagi, Keira tidak ingin Arsen menganggap dirinya sebagai beban selama dua bulan KKN ini.
Ia ingin membuktikan bahwa meskipun mereka akan segera berpisah, ia tetap mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Malam itu, suasana di balai desa terasa jauh lebih hangat.
Lampu-lampu berwarna kuning menerangi ruangan sederhana tersebut. Beberapa tikar telah digelar di lantai, sementara berbagai hidangan buatan Pak Kades dan warga desa tersaji di atasnya.
Ada nasi putih yang masih mengepul, sayur daun singkong, sambal terasi, tempe goreng, dan ikan asin.
Hidangannya memang sederhana. Sangat sederhana.
Beberapa mahasiswa sempat terdiam ketika melihatnya. Bukan karena mereka tidak menghargai makanan yang disediakan, melainkan karena malam itu mereka benar-benar menyadari bagaimana kehidupan masyarakat di desa tersebut.
Semuanya benar-benar apa adanya.
“Terima kasih banyak, Pak,” ujar Arsen dengan sopan kepada Pak Kades.
“Iya, Pak. Maaf kalau hidangannya cuma seadanya,” jawab Pak Kades dengan senyum ramah.
“Ini sudah lebih dari cukup, Pak,” balas Arsen tegas.
Para mahasiswa kemudian mulai duduk dan mengambil makanan masing-masing. Beberapa di antara mereka bahkan berusaha tersenyum untuk menghilangkan rasa canggung.
“Makan semuanya,” ujar Arsen kepada anak-anak bimbingannya.
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup tegas hingga membuat semua mahasiswa langsung menurut.
Di antara mereka, Keira duduk di samping Rina.
Ia menatap piring di hadapannya cukup lama. Hanya ada nasi putih, daun singkong rebus, dan sambal.
Sebenarnya, sejak siang perut Keira memang terasa kurang nyaman. Ditambah lagi, ia memang tidak menyukai daun singkong.
Aroma khas sayuran itu saja sudah cukup membuat seleranya hilang.
Keira hanya mengaduk-aduk nasi dengan sendok tanpa benar-benar menyentuhnya.
“Keira, makan,” bisik Rina pelan. “Nanti kamu dimarahin Arsen lagi.”
Keira menggeleng kecil.
“Tapi aku nggak mau.”
Rina menghela napas pelan.
“Kei, jangan bikin suasananya jadi aneh.”
Di sisi lain, Arsen yang sedang berbicara dengan salah seorang mahasiswa tiba-tiba menghentikan pembicaraannya.
Tatapannya beralih kepada Keira.
Ia memperhatikan gadis itu selama beberapa detik. Piring di hadapan Keira masih hampir tidak tersentuh.
Akhirnya, suara Arsen terdengar tegas.
“Makan, Keira.”
Suasana yang semula ramai seketika menjadi hening.
Beberapa mahasiswa langsung menoleh.
Keira perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapannya bertemu dengan tatapan Arsen.
Pria itu menatapnya dingin dan tegas, seolah tidak memberikan sedikit pun ruang untuk membantah.