Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vila ungu
Asap tipis berbau karet terbakar masih mengepul dari kolong spakbor mobil Alex dan Rehan. Keduanya berhenti cuma beberapa meter sebelum garis finis.
Di depan sana, kerumunan penonton sudah riuh merubung mobil merah milik Adrian.
Alex langsung melompat turun, membanting pintu dan setengah berlari menghampiri mobil itu. “Adrian! Kau gila ya? Maksud kau apa kayak tadi?!”
Rehan menyusul di belakangnya dengan napas memburu dan muka tegang. “Kau bosen hidup?! Balapan di jalur gunung dengan kecepatan segitu sama aja nyari mati, Adrian!”
Adrian tidak menoleh sedikit pun. Matanya terpaku pada gadis yang terkulai lemas di kursi penumpang di sebelahnya.
Tanpa membalas teriakan sahabatnya, Adrian membuka pintu lalu dengan hati-hati menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung gadis itu mengangkat tubuhnya yang terasa sangat ringan ke dalam pelukan.
Alex melongo kakinya terpaku di aspal.
“Bentar… Jadi dari tadi bukan kau yang nyetir?”
“Bukan,” sahut Adrian pendek.
“Terus ini siapa?” Rehan menatap gadis itu dengan dahi berkerut dalam. “Gue nggak pernah liat dia. Dan gimana bisa dia bawa mobil kau sebrutal itu?”
“Nggak ada waktu buat jelasin.” Adrian mempererat dekapannya saat kepala gadis itu terkulai lemas ke dadanya. “Dia butuh dokter sekarang.”
Seorang asistennya berlari tergopoh-gopoh mendekat. “Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?”
“Hubungi Dokter Sela. Suruh dia langsung ke Vila Ungu sekarang juga. Jangan pakai lama.”
“Baik Tuan.” Si asisten buru-buru merogoh kantong celananya, berjalan menjauh sambil menempelkan ponsel ke telinga.
Adrian membawa gadis itu ke kursi belakang mobilnya membaringkannya perlahan, lalu ikut masuk ke dalam.
Alex masih menahan pintu mobil yang terbuka. “Adrian, seenggaknya kasih tahu aku ini cewek siapa?”
“Cari tahu sendiri.”
“Minimal kasih petunjuk, lah!”
Adrian menatap wajah pucat di pangkuannya, lalu mendongak menatap Alex. “Cek semua CCTV di sepanjang jalur gunung. Aku mau tahu dia muncul dari mana, dan siapa yang ngejar dia sebelum masuk ke mobilku.”
Alex tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Oke. Aku urus.”
Pintu mobil ditutup rapat. Adrian langsung tancap gas meninggalkan sirkuit. Sorak-sorai penonton di belakang perlahan senyap, digantikan raungan mesin dan suara napas cewek itu yang terdengar putus-putus.
Matahari baru saja naik di Vila Ungu.
Di salah satu kamar, gadis misterius itu masih terpejam dengan botol infus yang menggantung di atas kepalanya. Napasnya sudah mulai teratur, meski gurat lelah belum hilang dari wajahnya yang pucat.
Di tepi ranjang, Dokter Sela sibuk memeriksa denyut nadi dan membersihkan sisa luka di pelipis si pasien.
Sementara itu, Adrian memilih bungkam di sofa sudut ruangan, kedua tangannya bersedekap. Sejak menginjakkan kaki di vila ini semalam, dia sama sekali belum bergeser dari posisinya.
Dokter Sela melirik Adrian sekilas dari balik kacamata petaknya. “Kau dapet kiriman dari mana lagi kali ini?”
“Nemu di sirkuit.”
“Nemu?” Dokter Sela mendengus, kembali sibuk dengan kasa sterilnya.
“Luka lebamnya kayak habis jatuh dari ketinggian. Lereng gunung atau mungkin gedung. Jujur, dengan kondisi remuk kayak gini, harusnya dia udah mati.”
Adrian menegakkan duduknya. “Maksudnya?”
“Nggak tahu yah tapi aneh aja.” Dokter Sela menyenter pupil mata cewek itu.
“Fungsi saraf dan otaknya masih bagus banget. Tapi dilihat nggak cocok dengan hancurnya fisik bagian luar. Kayak ada seduatu yang nahan supaya badannya nggak mati.”
“Bisa sembuh total?”
“Tergantung kemauan badannya buat bertahan.” Dokter Sela tersenyum tipis jenis senyum yang agak mengerikan.
“Aku malah penasaran pengen bedah isi kepalanya. Mau liat apa yang bikin dia masih hidup.”
Tatapan mata Adrian langsung menajam. “Jangan macem-macem sama dia.”
Dokter Seka terkekeh pelan sambil merapikan peralatan medisnya ke dalam tas. “Santai tuan Adrian aku ini dokter militer. Hormati dikit malaikat penolong ini.”
“Malaikat?” Adrian mendengus sinis. “Kau lebih mirip psikopat eksperimen.”
“Pujian yang bagus. Makasih.”
“Sekarang keluar.”
Dokter Sela cuma menggeleng-gelengkan kepala lalu melangkah menuju pintu, Tepat sebelum memutar knop pintu dia menoleh lagi.
“Kalau dia bangun langsung kabari aku. Ada yang nggak beres sama dirinya.”
Adrian tidak menyahut sampai pintu benar-benar tertutup rapat dan menyisakan kesunyian di dalam kamar.
Matanya kembali tertuju pada gadis yang terbaring di sana, gadis asing yang tiba-tiba masuk ke mobilnya, menaklukkan tikungan maut di tepi jurang menyelamatkan posisinya di finis lalu tumbang begitu saja setelah mesin mati.
Adrian menyandarkan kepalanya ke sofa, menatap langit-langit kamar. Dia sendiri bingung, kenapa dia masih betah bertahan di kamar ini demi orang asing.