"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan Bodoh
Samantha berdiri di samping tempat tidur Matthew. Wajahnya yang biasa terlihat dingin, dan tegas karena dia juga adalah salah satu pimpinan elit Pendragon, dan juga bangsawan tertinggi kedua di kekaisaran, kini diliputi perasaan campur aduk melihat kakaknya bertindak bodoh dan nekat.
Atas nama cinta katanya? Bego banget kak, kamu bener-bener bego.
Sepasang mata keemasannya, terlihat merah dan sembab. Mata dengan Ia menatap wajah Matthew yang pucat pasi, terbaring lemas dengan perban tebal melilit bahu dan dadanya.
Ia melangkah mendekat hingga berdiri tepat di samping ranjang Matthew.
"Beberapa bulan belakangan ini, Kakak selalu memikirkan Evelyn!" seru Samantha. Suaranya bergema tebal, kali ini amarahnya yang ditahan sejak semalam pecah berpadu dengan air mata yang menetes deras membasahi pipinya.
"Kakak melakukan hal-hal yang tidak perlu demi gadis itu! Kita seorang bangsawan, Kak! Kita berdarah Pendragon! Bukankah harusnya dia yang memohon-mohon agar kamu mau mencintainya, Kak? Tapi kenapa... kenapa kamu seperti ini, Kak?" Samantha mulai terisak, dadanya kempas-kempis menahan rasa sesak yang membakar.
"Keputusan konyolmu ini membuat aku bingung dan takut. Kamu penerus utama keluarga Pendragon ini, Kak. Kalau Putra Mahkota tidak ada, kamulah yang paling berhak menggantikannya di tahta kekaisaran. Posisimu sepenting ini! Nyawamu terlalu berharga untuk Kekaisaran! Tapi kenapa malah mengejar dan mempertaruhkan nyawa demi gadis yang tidak jelas seperti dia?"
Matthew mendengarkan setiap jeritan hati adiknya tanpa memotong sedikit pun. Ia paham betul dari mana asal kemarahan Samantha. Sejak kecil, mereka berdua dibesarkan di tengah kerasnya politik istana yang penuh intrik dan racun. Bagi Pendragon, kelemahan adalah vonis mati. Dan bagi Samantha, tindakan Matthew malam ini adalah bentuk kelemahan paling berbahaya yang pernah dilakukan seorang Grand Duke.
Matthew menunduk sejenak, menghela napas panjang yang terasa sesak dan panas di dadanya. Setelah menata napasnya yang masih lemah, ia kembali mendongak, memandang adik semata wayangnya itu. Sudut bibirnya yang kering terangkat, membentuk senyuman tipis yang lembut.
"Sam, adikku tersayang..." suara bariton Matthew terdengar parau dan amat pelan, namun getaran kehangatannya begitu nyata. "Suatu saat kamu pasti mengerti kenapa aku mengambil keputusan konyol seperti ini. Mungkin salahku karena menunjukkan sisi ku yang lemah ini padamu, Sam. Maafkan kakakmu yang bodoh ini, ya?"
Pernyataan lembut itu bukannya meredakan tangis Samantha, melainkan makin menyulut amarah dan rasa kekecewaannya.
"Tapi Kak, dia tadi bilang sendiri kalau dia tidak pantas dilindungi olehmu!" tegas Samantha dengan nada suara tinggi, matanya menatap tajam ke arah Matthew. "Dia merasa bersalah! Dia ketakutan! Bagaimana kalau rasa cintanya padamu cuma dipenuhi rasa kasihan dan utang nyawa? Kakak mau mengorbankan nyawa demi cewek yang bahkan tidak sadar betapa berharganya pengorbanan Kakak?!"
"Evelyn mungkin masih shock," potong Matthew lembut namun berwibawa. Matanya menerawang, mengalihkan pandangan ke pendar cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat kaca jendela besar.
"Selama delapan kehidupannya... dia dihancurkan dan dimanfaatkan oleh keluarga Ashworth. Dia merasa dirinya tak berharga, Sam. Dia terbiasa dianggap sebagai pion murah yang bisa dibuang kapan saja. Dan di tengah semua penderitaan yang ia alami, dia tetap mempertahankan kepolosan dan kebaikan hatinya. Aku justru jatuh cinta karena kepolosannya itu. Seperti cerita dongeng, kan, Sam? Aku pangeran berkuda putih yang menyelamatkan seorang Putri. Tidak peduli dia bukan dari kalangan bangsawan, aku ingin bersamanya. Tidak bisakah kamu menghormati keputusan kakakmu ini, Sam?"
Samantha mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di sisi tubuhnya. Giginya menggigit bibir bawahnya hingga memutih. "Ini bukan cerita dongeng, Kak! Ini dunia nyata! Di dunia nyata, pangeran yang bertindak bodoh seperti ini bisa mati tertusuk racun!"
Matthew kembali menatap Samantha. Sorot matanya yang tenang dan penuh rasa sayang mengunci pandangan adiknya yang sedang bergetar hebat.
"Tapi aku tidak mati, Sam. Karena aku tahu, aku tidak berjuang sendirian," bisik Matthew pelan. Ia mengulurkan tangan kanannya yang tidak terluka, menepuk pelan tempat kosong di tepi ranjangnya. "Kakak punya adik hebat sepertimu yang selalu bisa kakak andalkan dan selalu bantuin kakak, kan? Kamu yang menjaga punggungku saat aku lengah."
Amarah yang membakar dada Samantha mendadak luluh seketika oleh kata-kata itu. Benteng pertahanan dingin yang disiapkannya hancur berkeping-keping. Pertanyaan, keraguan, dan kekesalannya pada Evelyn seolah tak mampu menandingi besarnya kasih sayang dan kepercayaannya pada sang kakak.
Tangis Samantha kembali pecah. Meski berat dan hatinya masih dihinggapi rasa cemas yang luar biasa, ia menghormati keputusan kakaknya. Di atas segalanya, Samantha hanya ingin melihat Matthew hidup bahagia dan tidak terus-terusan memikul beban berat sendirian.
Dengan langkah pelan, Samantha mendekat dan menjatuhkan tubuhnya, memeluk leher Matthew dengan sangat hati-hati agar tidak menyentuh luka di bahu belakang pria itu.
"Tentu saja, Kak..." ucap Samantha di antara tangisnya yang teredam di bahu Matthew. "Aku tidak akan pernah membiarkan Kakak dibodohi atau disakiti orang lain. Aku cuma mau Kakak bahagia... dengan semua kekonyolan yang Kakak pilih ini."
Matthew mengukir senyum tulus. Tangan tegapnya terangkat perlahan, mengelus lembut rambut pirang adik kesayangannya itu.
"Terima kasih, Sam," bisik Matthew amat tulus. "Terima kasih sudah selalu ada untukku."
Setelah beberapa saat membiarkan kehangatan persaudaraan itu menyelimuti mereka, Samantha perlahan melepaskan pelukannya. Ia menyapu air mata di pipinya dengan punggung tangan, berusaha mengembalikan sisa-sisa wibawanya sebagai Lady Pendragon.
"Istirahatlah, Kak. Biar aku yang selesaikan sisa kotoran keluarga Ashworth," ujar Samantha seraya merapikan selimut tebal yang menutupi dada Matthew hingga ke batas leher.
Samantha berbalik dan melangkah menuju pintu ganda kamar. Namun tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, Samantha menghentikan langkahnya dan menoleh sejenak. Sorot matanya kini berubah lebih serius.
"Dan mengenai Evelyn... jujur aku belum bisa menerimanya, Kak. Bagi aku, dia tetaplah ancaman yang hampir mencabut nyawamu malam ini," kata Samantha dengan suara tegas namun jujur dari dalam hatinya. "Tapi aku menghargai keinginan Kakak dan kebahagiaan Kakak. Jadi aku akan pastikan dia sadar akan posisinya... dan tidak akan pernah membuat Kakak dalam bahaya lagi."
Matthew menatap adiknya dengan senyum tipis yang penuh pengertian. "Lakukan apa yang menurutmu benar, Sam. Tapi bersikap lembutlah padanya."
Samantha tidak menjawab lagi. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang mantap sebelum memutar gagang pintu dan melangkah keluar dari kamar utama.
Di luar kamar, lorong mansion yang megah menyambutnya. Samantha menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. Matanya yang tadi memerah kini menyala dingin dan mematikan. Pengorbanan kakaknya tidak boleh sia-sia, dan siapapun—baik Cedric Ashworth maupun Evelyn sendiri—harus paham betul seberapa mahal harga yang telah dibayar oleh Keluarga Pendragon.