Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Kelas Karyawan
"Alhamdulillah dikabulkan. Mulai minggu depan, Ning Sopiah kuliahnya Sabtu saja tatap muka, selebihnya Zoom dari ndalem."
Kalimat Gus Azam itu masih terngiang di telingaku sampai kami turun ke parkiran. Hatiku berbunga-bunga. Aku tidak perlu cuti, aku tetap bisa kuliah, tetap bisa mengejar cita-cita, tapi tetap dijaga di rumah. Betapa beruntungnya aku punya suami seperti Gus Azam.
Tapi ada satu orang yang mukanya langsung berubah.
Ning Latifah.
Dari yang tadinya ngakak nguping soal Lee Min Ho, sekarang dia berjalan sambil manyun, tas ransel pink-nya diseret-seret di aspal parkiran.
"Tipah, kenapa?" bisikku pelan sambil menggandeng tangannya.
Ning Latifah melirikku dengan tatapan drama Korea level maksimal.
"Enak banget ya Piah," katanya dengan suara dibuat merajuk. "Kamu bisa kuliah sambil rebahan, sambil dielus-elus perutnya sama Gus Azam. Lah aku? Tetep harus berangkat jam 6 pagi, desak-desakan di kelas, masih harus dengerin Pak Wahyu ceramah 3 SKS tanpa jeda."
Aku menahan tawa. "Ya Allah Tipah..."
Gus Azam yang jalan di depan kami, mendengar itu, berhenti dan menoleh. Wibawanya balik lagi.
"Ning Latifah, kamu iri?"
"I... Iya Gus!" jawab Tipah jujur, malah histeris. "Tifah iri berat! Tifah juga mau kelas karyawan! Tifah juga mau Zoom-an sambil ngemil! Kenapa Piah doang yang dimanjain!"
Aku langsung mencubit Tipah lagi, tapi kali ini pelan. Aku tahu dia bercanda tapi ada sedikit seriusnya.
Gus Azam menghela nafas. Dia membuka pintu mobil Avanza untuk kami, mempersilakan kami masuk dulu. Setelah kami duduk, dia tidak langsung menyetir. Dia memutar badannya, menatap kami berdua dari kursi supir.
"Tipah, Piah dengerin," katanya, suaranya lembut tapi tegas. Bukan marah, tapi menjelaskan. "Piah dapat kelas karyawan bukan karena dimanjain. Karena dia sedang membawa amanah. Dia butuh istirahat. Kamu sehat, Alhamdulillah kuat, IPK kamu juga bagus, kamu harus tetap regular biar ilmu kamu tidak putus. Lagian..."
Gus Azam melirik Tipah dengan tatapan jahil yang jarang sekali keluar.
"Kalau kamu ikut kelas karyawan juga, nanti siapa yang gosipin Lee Min Ho di kelas regular? Kasian teman-temanmu kehilangan sumber gosip."
Seketika...
"GUS AZAM!!" teriak Ning Latifah sambil melempar tisu ke arah Gus Azam. Aku ngakak sampai perutku sakit.
"Ya Allah Gus, Tipah diledekin terus sama Pak Rektor sama sampean!" Tipah manyun tapi akhirnya ketawa juga.
Mobil pun jalan meninggalkan UNHASY. Di perjalanan pulang, suasana jauh lebih cair.
Ning Latifah yang sudah tidak ngambek lagi malah mulai berimajinasi.
"Gus, Gus, nanti kalau Piah Zoom-an dari ndalem gimana? Pasti lucu ya. Dosennya lagi nerangin Fiqih Munakahat, terus Piah tiba-tiba mual..."
"Tipah!" Aku memukul lengannya.
"Atau," lanjut Tipah tidak berhenti, "Dosennya nanya, 'Ning Sopiah, apa hukumnya suami menikah lagi?' Terus Piah jawab sambil ngelirik Gus Azam yang lagi ngintip di belakang laptop, 'Haram hukumnya kalau tidak izin istri pertama dan kedua, Pak!'"
Aku dan Gus Azam langsung auto batuk barengan.
"Astgafirullah Tipah!" Gus Azam melotot lagi, tapi kali ini sambil menahan senyum.
Aku hanya bisa menutup wajahku yang memerah. "Tipah kamu ya kalau ngomong..."
Sepanjang jalan Cukir menuju Darunnajah, kami penuh tawa. Gus Azam yang wibawa itu ternyata bisa juga digoda. Dan dia menikmati saat melihat aku dan Tipah tertawa lepas.
Sampai di Darunnajah, Ning Ummah sudah menunggu di teras ndalem utama dengan secangkir teh anget.
"Gimana Gus? Dikabulkan?"
Gus Azam turun, mencium tangan Ning Ummah, lalu menyerahkan surat dispensasi itu.
"Alhamdulillah dikabulkan Ummah, Ning Sopiah dapat kelas karyawan hybrid, Sabtu saja tatap muka, selebihnya online."
Ning Ummah tersenyum haru, langsung memelukku. "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Jadi kamu bisa istirahat di rumah ya, Nduk. Pinter Gus Azam ini carikan solusi."
Aku mengangguk, mataku berkaca-kaca.
Lalu Ning Ummah menatap Ning Latifah yang masih manyun sambil gendong tas pink.
"Lho Tipah kenapa manyun?"
Ning Latifah langsung mengadu dengan drama, "Ummah! Tifah iri! Piah enak bisa kuliah sambil rebahan, Tifah harus tetep berangkat pagi!"
Ning Ummah dan Gus Azam saling pandang, lalu tertawa bersamaan.
Ning Ummah mencubit pipi Tipah, "Dasar Tipah... Kamu itu kalau disuruh rebahan terus malah bingung mau gosipin siapa. Sudah, sana ganti baju, nanti sore kita yasinan di ndalem."
Azan Ashar berkumandang dari masjid Darunnajah.
Aku masuk ke kamar, merebahkan diri di kasur. Perutku yang masih rata ku elus pelan.
Gus Azam masuk menyusul, membawa segelas susu putih anget.
"Minum dulu, Ning," katanya pelan, duduk di tepi ranjang. Wibawanya yang di kampus tadi hilang, berganti menjadi suami yang lembut.
Aku mengambil gelas itu. "Matursuwun Gus..."
Gus Azam menatapku lama. Tangannya terulur, mengusap kerudungku pelan.
"Tadi di ruangan rektor, saat saya bilang ada amanah di rahim kamu... saya bangga sekali, Ning," bisiknya.
Deg. Jantungku berdegup kencang.
"Terima kasih sudah kuat, Piah," lanjutnya. "Mulai minggu depan, kamu tidak usah kemana-mana. Belajarnya di sini saja, di samping saya. Biar saya yang bacakan kitabnya kalau kamu capek Zoom."
Air mataku menetes. Ya Allah... laki-laki sewibawa ini, bisa selembut ini.
Aku mengangguk. "Iya Gus..."
Di luar kamar, terdengar suara Ning Latifah teriak dari dapur, "UMMAH! GORENGAN TAHU YANG TADI MANA? KOK HILANG? PIAH YANG MAKAN YA?"
Aku dan Gus Azam langsung tertawa bersamaan. Suasana haru itu pecah lagi karena Tipah.
Gus Azam menggeleng, "Istri saya yang satu ini... nggak bisa diem 5 menit."
Aku tertawa, "Tapi kalau nggak ada Tipah, sepi Gus ndalemnya."
Gus Azam mengangguk, lalu menatapku dalam.
"Besok kita harus siap, Ning. Setelah urusan kampusmu selesai, kita harus menyelesaikan urusan Isyana. Abah sudah telepon, Isyana besok mau datang ke Darunnajah."
Seketika tawa kami terhenti.
Isyana.
Model Cantik dan Suaminya akan mengadakan Aqiqah di DARUNNAJAH