NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 — Orang yang Mengurus Tanah (Revisi)

“Mbak Raras, njenengan kok mboten dhawuh rumiyin (kok tidak mengabari dulu)? Pengacaranya sampun dugi wiwit jam pitu (sudah datang sejak jam tujuh).”

Pak Wiryo menyambutnya di halaman dengan sarung yang masih basah di ujung. Rabu pagi di Wates, udara berbau lumpur sawah yang baru dibalik, bercampur aroma rumput basah dari pematang.

“Romo masih di Magelang, Pak. Saya diminta datang menggantikan.” Raras turun dari mobil dengan map cokelat di dada. Matanya masih berat. Dua malam sesudah sidang itu, ia tidur tak lebih dari tiga jam. “Dokumennya mau dibaca dulu, jadi saya ikut.”

“Pengacaranya anak muda, Mbak. Sopan. Tapi sudah dari tadi mondar-mandir di pematang.”

“Mondar-mandir untuk apa?”

“Katanya mau melihat batas tanahnya sendiri.” Pak Wiryo terkekeh. “Biasanya yang datang dari kota tidak mau kena lumpur.”

“Pak Wiryo, sebelum kita ke sana.” Raras merendahkan suara. “Mas Danang pernah menelepon soal tanah ini?”

“Mboten, Mbak. Tapi nggih, Selasa kemarin Mas Danang rawuh.” Pak Wiryo menunduk. “Piyambakipun mboten mlebet, Mbak. Pinarak wonten njawi (Beliau tidak masuk, Mbak. Duduk di luar saja).”

“Dia bilang apa?”

“Nyuwun ngapunten, Mbak (Minta maaf). Kulo, Pak Sastro, Bu Warsih, sedoyo dipun sowani (semuanya didatangi). Piyambakipun mbeta nasi bungkus kangge kuli-kuli (membawa nasi bungkus untuk para kuli).” Ia menggaruk kepala. “Kulo sempat ajrih, Mbak (Saya sempat takut). Kulo kira badhe nyuwun tulung (Saya kira mau minta tolong).”

“Dia minta tolong?”

“Mboten, Mbak. Namung nyuwun ngapunten. Kalih matur sampun maos buku ireng (Hanya minta maaf dan bilang sudah membaca buku hitam).” Pak Wiryo mengusap hidung. “Dugi mantun, tiyang sepuh sedoyo wonten ingkang nangis (Sesudahnya, beberapa orang tua menangis).”

Dada Raras terasa sesak. Ia menelan ludah dua kali sebelum bisa menjawab. Kabar itu menyisakan sesuatu yang sulit ia beri nama, campuran lega dan sedih yang justru membuatnya enggan bertanya lebih jauh.

“Njih, Pak. Matur nuwun sampun ngandani (Terima kasih sudah memberi tahu).”

Di ujung pematang, seorang lelaki memandangi petak sawah yang baru ditanami. Batiknya berlengan pendek, celananya digulung sampai betis, dan sandal jepitnya penuh tanah.

“Pak Bram!” panggil Pak Wiryo.

Lelaki itu menoleh. Usianya mungkin tiga puluh lima tahun. Wajahnya kurus, dengan mata yang cepat menilai siapa pun yang datang.

“Pak Wiryo.” Ia menghampiri dengan langkah hati-hati di atas pematang licin. “Ini yang saya tunggu?”

“Nggih, Pak. Mbak Raras, putrinipun Romo Aditya.”

“Kerabat dari dalem?” Lelaki itu mengulurkan tangan dengan telapak yang bersih. “Bramantya Wardhana. Saya yang menyusun dokumen ini untuk kantor hukum yang melayani keluarga Pramesti.”

“Raras.” Ia menyambut tangan itu singkat. “Saya diminta membaca draf pemecahan sertifikat sebelum tanda tangan.”

“Romo Aditya sendiri tidak sempat?”

“Beliau percaya saya bisa membaca.”

“Saya tidak meragukan itu.” Bram tersenyum tipis. “Saya hanya biasa menjelaskan hal ini kepada orang yang menunggu penjelasan.”

“Saya tidak menunggu penjelasan, Pak Bram. Saya minta drafnya.”

Alis Bram terangkat sedikit. Ia mengeluarkan map biru dari tas kainnya dan menyerahkannya tanpa komentar. Raras duduk di balai-balai bambu, membuka halaman pertama, lalu meratakan telapak tangannya di atas kertas sampai getar tangannya mereda.

“Tanah seluas satu hektare dua ratus meter, dibagi dua petak,” ucapnya sambil menelusuri baris. “Petak timur tetap atas nama keluarga, petak barat dialihkan untuk dikelola Pak Wiryo secara bagi hasil.”

“Betul.”

“Di mana hak airnya?”

“Maaf?”

“Saluran irigasi di sisi timur.” Raras mengangkat wajah. “Petak barat mendapat air dari saluran yang melewati petak timur. Itu sudah ada sejak zaman kakek buyut Pak Wiryo. Kalau petak dipecah dan hak lewat air tidak ditulis, suatu hari ada yang menutup saluran itu, lalu petak barat kekeringan.”

Bram terdiam. Ia mengambil kembali map itu, membalik tiga halaman, lalu membacanya lagi dengan bibir bergerak tanpa suara.

“Tidak ada,” katanya akhirnya.

“Memang tidak ada, Pak.”

“Saya sudah memeriksa peta ukur dan buku tanah. Saluran itu tidak tercatat di mana pun.”

“Memang tidak tercatat, karena itu bukan milik siapa-siapa. Itu kebiasaan desa.” Raras menunjuk selokan kecil di pinggir pematang. “Ulu-ulu yang mengatur gilirannya. Kalau Pak Bram bertanya kepada Pak Wiryo, beliau pasti tahu.”

“Nggih, Pak,” kata Pak Wiryo sambil mengusap leher. “Kulo mboten nate ngertos menawi niku kedah ditulis (Saya tidak pernah tahu kalau itu harus ditulis).”

“Itu salah saya, Pak.” Bram menutup map dan memandang Raras dengan sorot berbeda dari tadi. “Draf ini saya revisi sebelum Jumat. Tapi saya mau tanya, dari mana Anda tahu tentang saluran itu?”

“Dari Eyang saya. Beliau berjalan di pematang ini setiap musim tanam sampai saya kecil.” Raras berhenti, lalu menambahkan dengan suara lebih lirih, “Saya pernah mengikutinya, memegang ujung jarik beliau supaya tidak terpeleset.”

“Beliau ahli tanah?”

“Beliau orang yang bertanya sebelum membaca peta.”

Bram tertawa kecil. Suaranya terdengar tulus, bukan sekadar sopan santun. “Itu pelajaran yang tidak pernah saya dapat di kampus hukum, sungguh.”

“Mungkin karena di kampus hukum tanahnya sudah selesai diukur.”

“Anda tajam, Bu Raras.”

“Bukan ‘Bu’, Pak Bram.” Raras mengatupkan map di pangkuannya. “Raras saja.”

“Baik, Raras.” Bram mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh, tidak soal status, tidak soal cincin, tidak pula soal alasan perempuan berkebaya sutra datang ke sawah sendirian. Justru sikap itulah yang membuat Raras lebih waspada, bukan lebih tenang.

“Raras,” kata Bram sambil berdiri dari balai-balai, “kalau saya minta Anda menunjukkan saluran itu, Anda mau?”

“Sekarang?”

“Saya tidak bisa memperbaiki sesuatu yang belum saya lihat.”

Mereka menyusuri pematang. Raras berjalan di depan, Bram mengikuti dengan langkah yang terlalu yakin untuk tanah selicin itu. Di tikungan kedua, Raras berhenti.

“Jangan injak sisi kiri, Pak Bram. Itu lumpur dalam.”

“Kelihatannya keras.”

“Itu bagian yang selalu kelihatan keras.”

Terlambat. Kaki kiri Bram sudah tenggelam sampai lutut, sementara buku catatannya terangkat tinggi di atas kepala. Raras menggigit bibir. Sudut matanya menghangat karena ia menahan tawa yang hampir lepas.

“Silakan,” kata Bram datar. “Tertawalah, saya tidak keberatan. Saya tidak akan mencantumkannya di berkas.”

“Saya tidak tertawa, Pak.”

“Bahu Anda bergerak.”

“Itu karena angin, Pak.” Raras mengulurkan ujung tongkat bambu yang tersandar di pohon. “Pegang ini. Tarik pelan, jangan melawan lumpurnya.”

Bram menurut. Lumpur itu melepaskan kakinya dengan bunyi basah yang panjang. Ia berhasil berdiri, tetapi sandalnya hilang sebelah.

“Saya biasa menang debat soal pasal,” ujarnya. “Soal lumpur, saya kalah telak.”

“Lumpur tidak membaca pasal.”

“Saya mulai paham.” Ia menunduk memandangi sandal yang hilang. “Tolong jangan bilang Romo Aditya.”

“Saya tidak janji. Tapi sandalnya akan kami cari, Pak Bram. Pak Wiryo punya galah, dan bebeknya lebih tahu letak lumpur ini daripada kita.”

“Bebeknya yang tadi lewat itu?”

“Nggih. Yang kelihatannya tidak peduli.”

Di selokan kecil itu, Bram jongkok, mengukur panjangnya dengan langkah kaki, lalu bertanya kepada Pak Wiryo tentang giliran air. Raras memperhatikan cara lelaki itu mendengarkan: tidak memotong, tidak berpura-pura mengerti. Sesekali ia mencatat jawaban Pak Wiryo, lalu mengulang pertanyaannya untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Kembali di bawah pohon nangka, Pak Wiryo sudah menyiapkan nampan.

“Raden Roro, tehnya!”

Pak Wiryo muncul membawa nampan kayu berisi dua gelas. Ia berhenti setengah langkah, matanya melebar karena baru menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Raras meliriknya sekilas. Pak Wiryo buru-buru mengubah nada.

“Tehnya, Mbak. Maksud kulo, Mbak Raras, tehnipun dipun unjuk (tehnya diminum).”

“Matur nuwun, Pak.”

Bram mengambil gelas tanpa berkomentar. Ia hanya melirik sekali ke arah Pak Wiryo, lalu ke Raras, sebelum menghirup uap teh. Raras menahan napas selama tiga detik itu.

“Tehnya enak,” kata Bram. “Dan saya tidak akan bertanya soal yang tadi.”

“Soal apa, Pak?”

“Itu maksudnya.”

“Saya menghargainya, Pak.”

“Jangan dulu. Saya masih penasaran.”

“Penasaran boleh. Mengorek jangan.”

“Saya pengacara, Raras. Mengorek itu pekerjaan saya.”

“Kalau begitu, hari ini Bapak libur.”

“Libur sampai sandal saya ketemu.” Bram menyesap tehnya. “Revisi drafnya saya kirim Jumat. Tanda tangan setelah Anda membaca ulang?”

“Setelah Eyang membaca, Pak. Saya hanya pembaca pertama.”

“Gulanya dari Wates juga, Pak Bram. Pak Wiryo yang menanam tebunya di pekarangan.”

“Saya perhatikan.” Ia menurunkan gelas. “Saya tidak biasa disuguhi teh oleh pemilik tanah yang baru saya temui. Biasanya mereka menyuruh orang lain.”

“Saya bukan pemilik tanah.”

“Lalu Anda siapa?”

“Orang yang diminta membaca.”

Bram memandangnya lebih lama. Sinar matahari menembus daun nangka dan jatuh di kacamata yang dipegangnya.

“Anda bukan orang kantor, kan? Bukan sekadar yang diminta membaca?”

“Saya Raras, Pak Bram,” jawab Raras.

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!