DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Tragedi
Malam itu turun begitu tenang, begitu sunyi, hingga seakan seluruh dunia ikut menahan napas. Langit di atas Kediaman Kenzaburo bersih tanpa awan, menampakkan ribuan bintang yang berkelap-kelip lembut, seolah tak ada sesuatu pun yang mengganggu ketenangan di bumi. Lampu-lampu minyak yang biasanya menyala di sepanjang lorong kini sudah dipadamkan, hanya tersisa satu atau dua nyala temaram di ruang tengah, memberi tanda bahwa penghuninya telah beristirahat. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan ujung-ujung dahan pohon sakura tua yang berdiri menjaga halaman, membawa aroma tanah lembap dan bunga melati yang mekar di kegelapan.
Namun bagi Kakashi, ketenangan ini bukanlah kedamaian. Ia adalah topeng.
Ia berdiri di tempat yang sama sejak matahari terbenam — di sudut halaman belakang, tempat bayangan paling pekat menyembunyikan sosoknya. Topi jerami lebar menaungi wajahnya, menyisakan sepasang mata yang tak pernah berkedip lelah, menyapu setiap jengkal tanah, setiap celah di antara pepohonan, setiap sudut tembok yang bisa menjadi tempat persembunyian. Luka di lengannya yang dibalut kain putih terasa berdenyut pelan, irama yang seakan menyatu dengan detak jantungnya — cepat, waspada, tak tenang.
Sepuluh tahun ia menjaga tempat ini. Sepuluh tahun ia berdiri di kegelapan, memastikan tak ada satu pun ancaman yang menyentuh keluarganya. Namun malam ini, beban itu terasa lebih berat dari biasanya. Kata-kata pemimpin ninja tadi pagi terus bergaung di telinganya — "Tuanmu sudah ditandai. Tak ada tempat yang aman baginya." — dan ia tahu, janji itu bukan sekadar ancaman kosong. Musuhnya adalah jenis yang tak akan mundur sebelum tujuannya tercapai.
Ia melangkah pelan, mengitari bangunan sekali lagi. Langkahnya tanpa suara, seakan kakinya tak menyentuh tanah. Matanya tertuju pada setiap bayangan yang bergerak, setiap suara yang terlalu halus untuk didengar telinga biasa. Namun semuanya tetap hening. Tidak ada langkah kaki, tidak ada benda yang beradu, tidak ada tanda kehidupan di luar mereka yang sudah tidur.
Hingga pandangannya terhenti pada satu titik.
Di sudut paling jauh, di balik rimbunan semak belukar yang tumbuh rapat di batas belakang halaman, sesuatu bergerak. Bukan karena angin — angin malam berhembus dari arah berlawanan. Sesuatu yang kecil, cepat, berusaha tak terlihat.
Jantung Kakashi berdegup kencang. Ia tidak berteriak, tidak memanggil siapa pun. Tubuhnya bergerak sendiri, meluncur menuju arah itu dengan kecepatan yang hampir mustahil. Mereka kembali, pikirnya. Mereka mencoba masuk lagi.
Semua perhatiannya tersedot ke satu titik itu. Ia lupa melihat ke belakang. Ia lupa bahwa ini bisa jadi sama seperti tadi pagi — sebuah pengalih perhatian.
Saat ia hampir mencapai semak itu, sesuatu melesat keluar — seekor burung hantu yang terbang rendah, terkejut karena kehadirannya. Kakashi terhenti sejenak. Hanya burung.
Dan di detik yang sama, dari arah dalam rumah, terdengar suara benda berat jatuh, diikuti jeritan yang memecah keheningan malam.
"TIDAK!"
Suara itu — Aoi.
Darah Kakashi seketika membeku. Ia berbalik secepat kilat, berlari kembali ke arah rumah, napasnya tercekat di tenggorokan, rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mencengkeram dadanya. Tidak, tidak, tidak...
Saat ia mendobrak pintu belakang yang terbuka lebar, pemandangan di hadapannya membuat kakinya lemas seketika.
Di tengah ruangan yang remang-remang, Kenzaburo terjatuh ke lantai. Tubuhnya yang biasanya tegap kini terkulai, kedua tangannya menekan dada tempat sebilah pedang pendek menancap dalam, darah merembes keluar membasahi jubah sutra krem yang ia kenakan. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan napas terdengar menyakitkan. Di sekelilingnya, beberapa pelayan berdiri terpaku, wajah mereka pucat tanpa suara, tak mampu bergerak sedikit pun.
"Tuan!" teriak Kakashi, meluncur berlutut di samping tuannya, tangan gemetar menahan tubuh yang mulai dingin itu. "Tuan Kenzaburo! Tahan! Tolong... tahanlah!"
Kenzaburo membuka matanya perlahan, menatap pengawalnya yang telah bersamanya sepuluh tahun ini. Bibirnya bergetar, mencoba mengucapkan sesuatu, namun yang keluar hanyalah napas berdarah. Ia mengangkat tangan yang gemetar, menyentuh lengan Kakashi — lengan yang dulu sering ia tepuk dengan kasih sayang — lalu menunjuk lemah ke arah pintu depan yang terbuka.
"Aoi..." suaranya nyaris tak terdengar, lemah dan pecah. "Aoi... dibawa..."
"Tuan... jangan bicara dulu, saya panggil tabib sekarang!" Kakashi hendak bangkit, namun tangan Kenzaburo mencengkeram jubahnya dengan sisa tenaga terakhir.
"Dengarkan aku, Kakashi..." matanya berkaca-kaca, penuh permohonan sekaligus kepasrahan. "Mereka... membawa Aoi. Ke arah hutan utara... cepat... selamatkan dia..."
"Tuan, saya mohon bertahanlah!" Kakashi meremas tangan tuannya, rasa bersalah yang menghancurkan mulai menelan kesadarannya. Aku pergi. Aku membiarkan mereka masuk. Aku gagal.
"Kau... adalah anakku..." Kata-kata itu keluar perlahan, diiringi darah yang menetes dari sudut bibirnya. "Jangan biarkan... dia terluka..."
Tangan itu perlahan terkulai. Tatapan matanya yang hangat perlahan menjadi kosong, dan napas terakhirnya berhembus pelan, membaur dengan udara dingin malam.
"Tuan!" panggil Kakashi, bergetar, berharap suara itu masih bisa menariknya kembali. "Tuan Kenzaburo!"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menjawabnya, dingin dan kejam.
Kakashi menunduk, tubuhnya gemetar hebat, tangannya menutupi wajah yang selama sepuluh tahun tak pernah menunjukkan kelemahan apa pun. Ia tidak menangis — air mata terasa terlalu kecil untuk kehilangan sebesar ini. Yang ada hanyalah kekosongan yang menghancurkan, rasa bersalah yang membakar dari dalam. Ia dikirim. Ia tertipu. Ia membiarkan mereka masuk. Dan karenanya, orang yang paling ia sayangi telah pergi.
"Kakashi-san!"
Suara Daiki terdengar terengah-engah dari arah pintu. Ia berlari masuk, wajahnya pucat ketakutan, dan saat melihat pemandangan di hadapannya, langkahnya terhenti mendadak. "Paman... tidak... ini tidak mungkin..." Ia mendekat perlahan, berlutut di samping tubuh pamannya yang sudah diam, lalu menatap Kakashi dengan mata yang memerah. "Siapa? Siapa yang melakukan ini?"
"Mereka membawa Aoi," jawab Kakashi, suaranya rendah dan kasar, seakan digerogoti dari dalam. "Ke arah hutan utara. Kita harus mengejar."
Daiki mengangguk cepat, menahan tangis yang hendak meledak. "Aku ikut. Aku tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja."
Kakashi melepaskan pelukannya pada tuannya untuk terakhir kali, menata tubuh itu dengan hormat, lalu berdiri. Tatapannya telah berubah — tidak lagi tenang, tidak lagi lembut. Sesuatu yang gelap dan tajam kini menyala di sana. Ia menyambar pedang panjang yang tersimpan di dinding — pedang yang selama ini ia simpan sebagai kenang-kenangan, yang belum pernah ia cabut dalam pertempuran. Gagang terasa dingin di tangannya, seakan ikut merasakan kemarahan yang tumbuh tak terkendali.
"Jangan tertinggal," ucapnya singkat, lalu melesat keluar rumah, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Daiki mengikuti di belakangnya, napasnya memburu, perasaannya campur aduk antara kesedihan, ketakutan, dan kemarahan yang meluap-luap. Mereka berlari menembus kegelapan, mengikuti jejak yang ditinggalkan — cabang yang patah, rumput yang terinjak, jejak kaki yang tergesa-gesa. Aroma manis bunga Aoi yang ia kenal tercium samar di udara, tertiup angin ke arah hutan yang semakin lebat dan gelap.
"Jangan khawatir, Aoi..." batin Daiki, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Kami datang. Tolong bertahanlah."
Semakin jauh mereka masuk ke hutan, semakin terasa bahwa musuh tidak berjalan pelan. Mereka bergerak cepat, terlatih, seakan bagian dari kegelapan itu sendiri. Namun mereka tidak bisa terbang — jejak mereka masih ada, samar namun nyata.
Hingga tiba di sebuah tempat terbuka di antara pepohonan raksasa, suara langkah kaki berhenti.
Daiki melangkah maju, napasnya terhenti. Di hadapannya, tiga sosok berpakaian gelap berdiri menghalangi jalan. Wajah mereka tertutup, hanya sepasang mata yang menatapnya dingin dan meremehkan. Di belakang mereka, sosok-sosok lain telah menghilang lebih jauh ke dalam hutan, membawa beban yang terlihat berjuang — Aoi.
"Minggir!" teriak Daiki, mencabut pedang pendek yang ia bawa, meski tangannya gemetar. "Kembalikan keponakanku!"
Salah satu ninja tertawa pelan, suara yang penuh penghinaan. "Anak kecil sepertimu? Minggirlah sebelum terluka."
Daiki tidak mundur. Ia menerjang maju, memukulkan pedangnya dengan penuh amarah. Namun ia belum terlatih sepenuhnya. Ayunan pedangnya terlalu lebar, terlalu terlihat. Ninja itu menangkis dengan mudah, lalu menendang perutnya hingga ia terhempas ke tanah, napasnya tercekat.
"Daiki!" teriaknya sendiri, berusaha bangkit kembali, namun kakinya terasa lemah.
Dua ninja lainnya melangkah mendekat, pedang mereka terhunus. Daiki mundur perlahan, punggungnya menempel pada batang pohon besar. Ia sendirian. Tidak ada Kakashi di sisinya. Ia terpojok.
"Kakashi-san..." bisiknya, takut.
Dan seakan doanya didengar, bayangan gelap meluncur turun dari dahan pohon di atas mereka. Angin berdesir tajam. Sebelum ketiga ninja itu menyadari kehadirannya, Kakashi sudah berada di antara mereka.
Satu ayunan pedang — cepat, mematikan, tanpa keraguan. Salah satu ninja jatuh tanpa sempat bersuara. Yang kedua berusaha menyerang, namun Kakashi menangkis dengan gerakan yang membuat pedang lawan terlepas dari genggamannya, lalu menghantamkan gagang pedang ke lehernya. Ninja ketiga mundur tergesa-gesa, matanya terbelalak melihat perubahan yang terjadi pada pria itu.
Kakashi tidak terlihat seperti manusia biasa lagi. Wajahnya tertutup bayangan, matanya menyala dengan amarah yang dingin dan mengerikan. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi belas kasihan.
"Di mana dia?" suaranya rendah, namun terdengar menggetarkan tanah di bawah kaki mereka.
Ninja itu menelan ludah, lalu berbalik dan melarikan diri ke dalam kegelapan, meninggalkan rekan-rekannya yang jatuh.
Kakashi tidak mengejarnya. Ia berlutut di samping Daiki yang masih terbatuk-batuk, mengulurkan tangan. "Kau baik-baik saja?"
Daiki mengangguk, menerima uluran tangan itu, berdiri perlahan meski perutnya masih terasa perih. "Terima kasih... Kakashi-san. Mereka... mereka membawa Aoi lebih jauh ke dalam."
Kakashi menatap ke arah kegelapan tempat mereka menghilang. "Aku tahu. Mereka sengaja meninggalkan orang-orang ini untuk menahan kita. Mereka ingin menjauhkan kita."
"Kita kejar sekarang!" Daiki melangkah maju, namun Kakashi menahannya.
"Tunggu." Ia berjongkok, menyentuh tanah yang lembap, melihat arah jejak yang tertinggal. "Mereka bergerak ke arah utara, menuju tebing sungai yang deras. Tapi lihatlah — jejak mereka semakin memburu. Mereka tidak berjalan secepat tadi."
"Mungkin Aoi melawan," kata Daiki, berharap.
"Mungkin." Kakashi berdiri, menggenggam pedangnya erat. "Namun mereka juga sudah menyiapkan sesuatu. Jalan ini terlalu mudah diikuti."
"Apakah kita akan berhenti?" tanya Daiki, suaranya bergetar. "Aku tidak bisa membiarkan mereka membawanya pergi. Paman... sebelum meninggal, dia meminta kita menyelamatkannya."
Kakashi menatap pemuda itu lekat-lekat. Ia melihat ketakutan sekaligus keberanian di mata Daiki — keberanian yang tumbuh di tengah kehilangan. "Kita tidak akan berhenti. Tapi kita harus berhati-hati. Mereka tahu kita mengejar. Mereka menunggu."
Mereka melanjutkan perjalanan, namun kali ini Kakashi berjalan lebih dulu, matanya tak lepas dari setiap jejak, setiap suara yang terdengar di antara pepohonan. Semakin jauh mereka masuk, semakin terasa bahwa hutan ini telah menjadi tempat yang asing dan berbahaya. Angin berhembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan besar yang seakan ingin menutup jalan mereka. Suara sungai yang deras mulai terdengar dari kejauhan — semakin lama semakin keras, menderu mengancam.
Saat mereka tiba di tepian sungai yang lebar dan berarus deras, pandangan mereka menyapu seberang dan tebing-tebing batu di sisi lain. Tidak ada siapa-siapa.
"Di mana mereka?" Daiki melangkah maju, matanya mencari-cari di antara kegelapan. "Tidak ada jejak yang menyeberang..."
Kakashi berdiri diam, menatap ke arah tebing curam di sebelah kanan. Di sana, di permukaan batu yang licin, terlihat sisa kain pakaian yang tersangkut — kain yang dikenakan Aoi.
"Mereka naik ke atas," gumamnya, suaranya berat.
"Kalau begitu kita kejar!" Daiki melangkah hendak memanjat, namun Kakashi menahannya lagi. Kali ini genggamannya lebih kuat.
"Daiki."
Daiki menoleh, dan melihat ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya di wajah pengawal itu — kepasrahan yang menyakitkan, disertai kesadaran yang menghancurkan.
"Lihat ke bawah," ucap Kakashi pelan.
Daiki menunduk. Di dasar tebing, di antara bebatuan tajam dan arus yang memutih, terlihat sesuatu yang kecil dan berwarna pucat — pita rambut yang selalu dipakai Aoi. Pita yang ia ikatkan sendiri setiap pagi.
Darah seakan berhenti mengalir di tubuh Daiki. "Tidak..."
Kakashi mendekat ke tepian, menatap ke bawah dengan tatapan yang kosong. Tidak ada tanda mereka turun ke bawah. Tidak ada tanda mereka menyeberang. Tidak ada jejak yang melanjutkan ke mana pun. Mereka menghilang. Seperti kabut yang tersapu angin.
"Mereka pergi," bisik Kakashi, suaranya pecah. "Aku terlambat."
"Kita cari lagi!" Daiki menarik lengan Kakashi, matanya berkaca-kaca, menolak menerima kenyataan. "Mungkin mereka menyembunyikannya! Kita periksa gua-gua di sekitar sini!"
"Daiki..."
"Ayo! Aoi butuh kita!" Daiki menariknya lebih kuat, namun Kakashi tidak bergerak. Ia berdiri tegak, namun seolah tulang punggungnya baru saja dipatahkan.
"Mereka sudah pergi," ucapnya pelan namun tegas. "Mereka menghilang tanpa jejak. Seperti bayangan. Dan kita tidak tahu ke mana."
Daiki melepaskan genggamannya, mundur selangkah, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya. "Lalu apa? Kita biarkan saja? Paman Kenzaburo... sebelum meninggal, dia memohon padamu..."
"Aku tahu!" Kakashi membentak, lalu menunduk, menahan emosi yang meluap. "Aku tahu. Dan aku gagal. Aku membiarkan mereka masuk. Aku membiarkan tuanku tewas. Aku membiarkan Aoi dibawa pergi. Semua itu karena aku lengah."
Ia mencengkeram dadanya, seakan ingin merobek rasa sakit yang menyiksanya. "Mereka menggunakan jejak palsu untuk menarikku menjauh. Dan aku tertipu. Sepuluh tahun menjaga, dan aku tertipu secepat itu."
Daiki terdiam, melihat Kakashi yang selama ini tampak tak terkalahkan kini runtuh di hadapannya. Ia mendekat perlahan. "Kakashi-san... tidak ada yang menyalahkanmu."
"Aku menyalahkan diriku sendiri." Kakashi mengangkat wajahnya, menatap ke arah hutan yang gelap dan tak berujung. "Aku berjanji pada Tuan Kenzaburo. Aku berjanji melindungi mereka semua. Dan aku gagal."
Ia berbalik perlahan, menatap ke arah jalan pulang — jalan yang kini terasa berbeda, tempat di mana orang-orang yang dicintainya telah tiada.
"Kembalilah, Daiki," ucapnya pelan. "Urus pemakaman Tuan Kenzaburo. Aku..."
"Ke mana kau akan pergi?" tanya Daiki cemas.
Kakashi menggenggam gagang pedangnya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya kini tajam dan dingin, seperti baja yang ditempa dalam api.
"Mereka melanggar batas. Mereka membunuh tuanku. Mereka menculik Aoi. Dan mereka mengira aku akan diam saja?" Suaranya rendah, namun penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Aku tidak lagi menjadi pengawal yang berdiri di gerbang. Aku tidak lagi terikat aturan siapa pun. Mulai hari ini, aku melanggar hukum para ronin. Aku akan mengejar mereka ke ujung dunia."
"Tapi sendirian..."
"Aku sendirian sejak awal," potong Kakashi. "Dan ini adalah urusanku. Urusan balas dendam."
Ia melangkah pergi, tidak menoleh ke belakang. "Kembalilah, Daiki. Jaga sisa keluarga kita. Aku akan membawa Aoi pulang. Atau mati mencobanya."
Daiki berdiri terpaku, melihat sosok Kakashi yang perlahan menghilang kembali ke dalam kegelapan hutan — bukan lagi sebagai pelindung yang tenang, melainkan sebagai bayangan yang bertekad menghancurkan apa pun yang menghalanginya.
Malam semakin larut. Angin menderu di antara pepohonan, seakan meratapi nasib yang telah berubah begitu drastis. Di kejauhan, di tempat yang tak terlihat, tawa pelan terdengar — tawa kemenangan. Rencana mereka berhasil. Pengawal itu telah dikeluarkan dari sarangnya. Dan sekarang, ia berjalan sendirian ke jalan yang tak ada ujungnya.
Namun mereka salah menilai satu hal.
Kakashi bukan sekadar pengawal yang kehilangan tuannya. Ia adalah pedang yang telah dibiarkan tumpul terlalu lama, dan kini diasah kembali dengan amarah yang tak akan padam sebelum tujuannya tercapai.
Di kejauhan, cahaya fajar mulai menyelinap samar di ufuk timur. Kakashi berjalan sendirian, pedang di tangannya, dendam di dadanya, dan satu nama yang terpatri di hatinya — Aoi. Ia akan menemukannya. Ia akan menebus kesalahannya.