Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga
Rea membuka matanya perlahan, menyesuaikan dengan cahaya lampu di sebuah ruangan serba putih, ruang kesehatan.
Saat matanya terbuka sempurna, ia kembali menutupnya dengan tangan memegangi kepala.
Di hadapannya kini, tampak Gala berdiri tegap dengan kedua tangan terlipat di depan dada, menatapnya penuh ketajaman.
"Bisa gak sih, lo itu hidup mandiri, gak usah nyusahin orang lain?" nyinyir Gala yang membuat Rea membuka matanya dengan datar.
"Gue gak minta lo tolongin."
Mendengar jawaban tersebut, Gala semakin tajam menatapnya. "Memang, harusnya tadi gue biarin aja lo di lapangan, biar kering kayak ikan asin."
"Gak ada yang nyuruh lo bawa gue ke sini."
Gala mendengus dan tak lagi menjawabnya. Ia mengambil semangkuk bubur di atas nakas, lalu memberikannya pada Rea.
"Makan."
Rea melirik mangkuk itu dengan malas. "Gak suka bubur," katanya.
"Banyak mau ya, lo?"
Gala menatap Rea dengan sinis, lalu meletakkan kembali mangkuknya, sebelum berlalu keluar ruangan itu.
Rea menghembuskan nafasnya, ia bangkit seraya memegangi kepala yang terasa sangat berat.
Rea menoleh, kemudian bergerak mengambil gelas di atas nakas, untuk meminumnya.
Namun, belum sempat gelas itu berhasil ia genggam, justru lebih dulu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara pecahan.
"Astagfirullah," seru Gala yang baru kembali dengan membawa satu kresek putih.
"Hati-hati, bisa?!" bentak Gala tanpa sadar yang membuat Rea menunduk, ia paling tidak suka dibentak.
Gala meletakkan kresek yang dibawanya di dekat Rea, lalu berjongkok untuk mengambil serpihan gelas tadi.
Tak lupa, ia juga mengelap air yang berceceran di sana hingga bersih.
"Ada yang sakit?" tanya Gala dengan suara dingin, membuat Rea mendongak untuk menatap wajahnya.
Raut wajah cowok itu sangat tidak enak untuk dipandang, membuat ia kembali menunduk.
"Gak usah sok peduli."
Gala memejamkan mata seraya menghela nafas. "Makan rotinya, gue pergi dulu."
Gala berlalu meninggalkan Rea yang menatap langkahnya dalam diam.
Baru Gala menghilang, dering ponsel di atas nakas membuat Rea menoleh.
Sepertinya ponsel Gala, karena ponselnya ada di dalam tas dan dimatikan.
Tak peduli, Rea lebih memilih untuk membuka roti yang Gala bawa tadi, lumayan untuk mengganjal perutnya yang kosong sejak pagi tadi.
Tak lama, pintu ruang kesehatan kembali terbuka, dan menampilkan Gala dengan wajah datarnya.
Ia berjalan mendekat untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Melihat sebuah panggilan tak terjawab, membuatnya menoleh ke arah Rea yang menunduk sambil menyantap roti dalam diam.
"Kalau mau minum ambil di sana." Gala menunjuk dispenser yang ada di pojok ruangan, menggunakan dagunya.
Tak lama, dering ponsel kembali terdengar, membuat Gala segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumussalam, kamu lagi istirahat, sayang?"
Gala tersenyum tipis, meski ia tahu Ibunya tidak akan melihat. "Iya, ini lagi istirahat. Kenapa, Bu?"
"Bekalnya jangan lupa dimakan."
Gala berdehem singkat, seraya mengangguk pelan.
"Nanti sore ada acara, Bang?"
Gala mengerutkan kening sambil berpikir. "Kayaknya gak ada. Memang kenapa?"
"Kalau gitu, nanti kamu pulang langsung ke cafe barunya Papa, ya? Kita ketemu di sana."
Gala semakin mengerutkan keningnya. "Ada apa, tumben?"
Terdengar kekehan pelan dari Ibunya. "Pokoknya kamu ke sana aja, nanti juga kamu tau."
Gala memilih mengangguk dan mengiyakan, lalu menutup teleponnya setelah ia menjawab salam penutup dari Revin.
"Kak Gala?"
Gala menoleh dengan alis terangkat, tumben sekali gadis itu memanggilnya dengan embel-embel sopan.
Rea bergumam pelan, lalu berucap dengan ragu. "Boleh minta tolong ambilin minum?"
Gala mendengus, pantas saja, ada maunya. "Sopan kalau lagi ada maunya doang."
Rea mengembungkan pipinya. "Kepala gue pusing kali, Kak."
Tanpa mau berdebat lebih lama, Gala segera mengambilkan minum untuk gadis itu.
"Minum obatnya."
Gala memberikan gelas itu, bersamaan dengan satu butir obat yang berukuran seujung jari kelingkingnya pada gadis itu.
Melihat hal tersebut, Rea sontak menggeleng tegas dan meneguk minumannya dengan tergesa.
Gala menarik gelas itu, hingga airnya sedikit tumpah membasahi baju yang Rea kenakan.
"Minum obatnya dulu."
Gala kembali memberikan obat itu pada Rea, yang dibalas dengan gelengan kuat dan bibir gadis itu yang terkatup rapat.
"Minum, gak?" Gala melotot tajam, memberikan ancaman untuk Rea.
"Gue gak suka obat," kata Rea sembari mendorong tangan Gala agar menjauhkan obatnya.
"Minum sendiri atau pakai cara gue?"
Rea meneguk ludahnya berulang kali. Ia tidak bisa meminum obat, tapi jika Gala turun tangan, tentu itu lebih menakutkan.
Cara yang Gala lakukan tentu sangat sadis, Rea tahu itu.
Dari pada harus mendapat perlakuan tidak senonoh dari Gala, Rea lebih memilih menerima obatnya, lalu menatapnya dengan ringisan pelan.
Gala membantu Rea dengan memegangi gelasnya. "Minum," tekan Gala yang membuat Rea mengangguk pelan.
Dengan mata terpejam dan tangan yang bergerak ragu, Rea mulai memasukkan butir obat itu ke dalam mulutnya, lalu disusul Gala yang meminumkan sisa air di dalam gelas tadi.
Gala tersenyum bangga saat melihat Rea berhasil meminum obatnya tanpa mual. Ia menepuk puncak kepala gadis itu beberapa kali.
"Anjing pintar," canda Gala yang membuat Rea mendelik tak terima.
"Sialan lo!"
***
"Sudah mandi, Bang?" tanya Saka yang baru sampai di cafe barunya, dan mendapati Gala tengah duduk bersama beberapa karyawan di sana.
Gala tersenyum dan menyalami tangan kedua orang tuanya. "Sudah, Pa. Sudah ganteng gini," katanya seraya memperlihatkan pakaiannya.
Kemeja hitam polos yang ia lipat hingga ke siku, celana yang senada, kontras dengan kulitnya yang putih.
Saka terkekeh dan menepuk pundak putranya. "Kita langsung masuk aja, ya?"
Salah satu karyawan mempersilahkan mereka untuk masuk ke sebuah ruangan privat, yang sengaja disewa oleh salah satu keluarga yang membuat janji temu dengan keluarga mereka.
Gala mengernyit bingung saat melihat Rea dan keluarganya berada di sana.
"Rea?"
Rea yang semula menunduk bermain ponsel, pun mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Apaan?" jawab Rea dengan ketus.
Gala tersenyum singkat, sembari mengusap pelan puncak kepala gadis itu.
"Jangan nunduk terus, nanti cantiknya gak kelihatan," katanya sembari terkekeh.
Rea yang digoda seperti itu hanya mampu mendengus, sok manis sekali orang itu.
Orang tua mereka dibuat tersenyum oleh kelakuan keduanya, namun tidak dengan seorang wanita yang menatap mereka sinis.
"Lebay!" katanya.
Gala menoleh pada wanita itu, kemudian tersenyum dan mencium punggung tangannya.
"Tante," sapanya dengan sangat sopan.
Namun bukan mendapat respon baik, wanita itu justru melotot dan memukul kepala Gala cukup keras.
"Sialan! Gue masih muda!"
"Arabella!" tegur pria paruh baya, yang Gala tahu bernama Althan.
Gala hanya mampu meringis, lalu duduk di samping Revin-Ibunya. "Maaf, saya gak tau," kata Gala sedikit merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Gala. Bella yang salah," balas Althan.
Memang itu salah Bella, salahnya menggunakan mini dress dan make up tebal, yang membuat Gala salah sangka. Gala kira, gadis itu sudah seusia hampir tiga puluh tahunan.
"Kalau begitu, sebaiknya kita mulai pembicaraan dan setelah ini baru kita makan malam," titah Saka untuk menghentikan perdebatan.
Semua diam, mereka duduk dengan posisi masing-masing, kecuali Bella yang terlihat fokus pada ponselnya.
Saka, Althan dan Revin saling pandang, sedangkan Gala dan Rea hanya diam menunduk, menunggu apa yang akan disampaikan kedua orang tua mereka.
Hingga tiba salah satu dari mereka berucap, Gala dan Rea sama-sama mendongak terkejut.
"Pertemuan kita hari ini, untuk membicarakan Galaska dan Reana," kata Althan membuka suara.
"Ada apa ya, Om?"
Gala bertanya dengan hati yang mulai tidak tenang, begitu pun dengan Rea yang mulai ikut gelisah.
Althan menatap keduanya bergantian, sebelum berujar, "Kalian berdua, kami jodohkan!"
"Apa?!" ucap Rea dan Gala bersamaan, hingga membuat mereka saling pandang tidak suka.
"Yah, ini apa-apaan, sih?!" Rea menatap Ayahnya dengan nafas memburu, ia tidak suka dengan hal-hal berbau paksaan seperti ini.
Berbeda dengan Gala yang kini menatap Papa dan Ibunya bergantian. "Kenapa, Pa?" tanyanya dengan tenang.
Saka tersenyum, menepuk pundak putranya. "Kamu sudah besar, kan? Kamu sudah kerja dan kamu juga sudah tinggal sendiri di apartemen. Kalau memang kamu gak mau tinggal sama kami lagi, setidaknya kamu harus punya teman di tempat tinggal kamu."
Gala menatap mata Saka dalam, ia tahu bukan ini alasan yang sebenarnya.
"Gala gak masalah tinggal sendiri. Lagian, Gala juga masih sering pulang ke rumah, kan?"
Saka masih tersenyum. "Papa pengin kamu ada yang ngurus, ada yang nemenin. Setidaknya, Papa percaya kalau Rea bisa menjadi pasangan yang terbaik untuk kamu."
Gala masih tidak percaya. Ia membuang pandangan ke arah lain. "Kenapa gak nunggu Gala lulus?"
"Biar Papa bisa cepat-cepat program anak bungsu."
Gala sontak menatap Saka tak percaya. "Pa!" Ia tidak suka ini, ia tidak suka berbagi kasih sayang orang tuanya.
Saka tertawa pelan saat ucapannya mendapat delikan dan pukulan kecil di pundaknya, oleh sang istri.
"Bercanda, Bang. Gitu aja takut." Saka melirik Althan yang terdiam menatapnya.
"Kalau gak anak bungsu, berarti Papa butuh cucu. Kamu tau, kan kalau Papa pengin gendong bayi lagi? Itu impian Papa dari kamu masih bayi loh, Bang. Gak ada niat dikabulin gitu?"
Gala mendengus pelan, tak ada yang berubah dari Saka. Sejak dulu, selalu saja memaksa ingin program anggota keluarga baru di rumah mereka.
"Rea gak mau," putus Rea sepihak, membuat seluruh atensi terarah padanya, tak terkecuali dengan Gala.
Cowok itu menatap Rea lekat, membuat gadis itu bangkit dan hendak berlalu. Namun, sebelum itu terjadi, Gala lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Gala mau nikah sama Rea."
Rea menatap Gala tajam. "Lo gak usah ngadi-ngadi, ya?!" teriaknya tak terima sambil menunjuk wajah Gala.
Althan segera menegur gadis itu, dan memintanya untuk kembali duduk. "Bicara baik-baik," katanya.
Rea mengalihkan pandangan sambil mengusap air matanya. "Sikap Rea tergantung sikap kalian."
"Jaga sopan santun kamu, Rea," tekan Althan penuh peringatan.
Rea menoleh cepat ke arah sang Ayah, dengan tatapan sinisnya.
"Apa Ayah pernah mengajarkan itu sama Rea? Enggak, kan?!"
"REA!"
Semua terdiam mendengar nada suara keras dari Althan untuk Rea yang kini menunduk dan terisak pelan.
Revin yang tak jauh dari gadis itu, bergerak menepuk tangannya, menenangkan.
Gala menatap lurus ke arah depan dengan pandangan kosongnya. Tangan yang ada di kolong meja terkepal erat, menandakan jika ia tengah menahan emosi.
"Saya akan menikahi Rea."
.
.
.
To be continue ...