I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pusat Kekaisaran Aethelgard—Benteng Utama Val-Rune—tidak hancur oleh ledakan sihir megah ataupun gempuran jutaan tentara musuh. Tempat itu runtuh karena Rune Dasar Ortografi yang menopang fondasi fisik bangunan tersebut mendadak terhapus dari memori alam semesta.
Menara Sentral tempat tempat jasad Ren Vaelen sebelumnya terbaring kini telah berubah menjadi zona mati berdiameter lima ratus meter. Di area tersebut, tatanan realitas mengalami glitch yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Aethel-Prima.
Prasasti batu kuno bersimbol Aethel-Vex—yang selama ribuan tahun memberikan ketahanan abadi pada dinding benteng—mendadak kehilangan goresan hurufnya. Tanpa lambang pembentuk konsep "kokoh", batu gajah seberat ribuan ton itu melayang tanpa bobot, berubah menjadi deretan angka-angka logika transparan, lalu terurai begitu saja menjadi debu hampa.
Hukum kausalitas di sekitarnya pun jungkir balik. Air terjun di taman kerajaan mengalir meliuk ke atas menuju celah langit yang retak, sementara kobaran api penyihir tidak lagi memancarkan panas, melainkan membekukan apa pun yang disentuhnya menjadi kristal hitam rapuh.
Di pinggir zona mati tersebut, Grand Sovereign Vael-Kaelen bersama sisa Komandan Shadow Guard berlutut dengan napas memburu dan wajah sepucat mayat. Baju zirah besi-mithril milik Kaelen retak-retak bukan karena sabetan pedang, melainkan karena hukum densitas materi di sekitarnya mendadak berubah acak.
"Sihir pelindung tingkat Dominion tidak merespons..." bisik seorang Komandan Shadow Guard dengan suara gemetar. Tangannya yang mencoba merapalkan mantra pembatas dimensi mendadak terpotong di udara—bukan tebas pedang, melainkan karena kata "tangan" dalam bahasa sihir lokal tiba-tiba mengalami error saat diucapkan.
"Ini bukan sihir musuh..." Vael-Kaelen mengepalkan tinjunya ke tanah yang terus bergetar. "Penyebabnya adalah jasad pemuda itu. Kematian Ren Vaelen telah meninggalkan 'lubang' pada hukum kausalitas Val-Rune!"
Getaran dari lubang realitas di Val-Rune tidak berhenti di bumi tatanan mortal. Gelombangnya merambat menembus lapisan-lapisan dimensi, naik melampaui benua hingga menggoncang ranah suci yang berdiri di atas benang-benang hukum fisika.
Aether-Sanctum.
Di dalam ruang hampa yang menjadi pusat kendali dunia ini, berdiri Mesin Logika Aethel-Prima (The Grand Engine of Prima). Mesin berbentuk susunan 12 Lingkaran Roda Cakra Emas ini berputar konstan untuk mengaliri hukum fisika dan sihir ke seluruh benua.
CLANG!
Satu dari 12 Roda Cakra Emas—yang khusus mengatur stabilitas wilayah Aethelgard—mendadak berhenti berputar. Percikan api kosmik menyembur keras, dan benang-benang hukum (Threads of Architecture) yang menghubungkan Aethelgard terputus satu per satu.
Sesosok raksasa bertubuh kristal elemen murni, Aethel-Genesis, melangkah mendekati Mesin Logika. Wajah sang Dewa Arsitek yang tak memiliki fitur manusia itu memancarkan kilatan energi merah—tanda bahaya tertinggi bagi sebuah dunia.
"Satu variabel mortal di Benua Tengah... mengalami pemutusan keberadaan yang abnormal," suara Aethel-Genesis menggelegar, mengguncang pilar-pilar Aether-Sanctum. "Dia tidak sekadar mati. Kematian jiwanya menciptakan Celah Logika yang membuat algoritma Aethel-Prima tidak dapat menghitung total massa duniamu!"
Aethel-Genesis merentangkan kedelapan tangannya. Jika celah ini dibiarkan, glitch dari Val-Rune akan menyebar dan meruntuhkan seluruh benua Aethel-Prima. Lebih berbahaya lagi, getaran dari Celah Logika ini berisiko menembus Dinding Ketiadaan—memancing perhatian entitas-entitas pemangsa purba yang bersemayam jauh di luar batas dunianya.
"Keberadaan anomali ini harus direkonstruksi," putus Aethel-Genesis dengan tegas. "Aku akan menarik jiwanya dan menambal hukum yang rusak sebelum tatanan Aethel-Prima runtuh sepenuhnya."
Di antara kepanikan Vael-Kaelen di bumi dan kesibukan Aethel-Genesis di Aether-Sanctum, kesadaran murni The Absolute Anomaly mengamati seluruh kejadian tersebut seperti seseorang yang sedang menonton tayangan hiburan.
Ia melihat algoritma rumit milik Aethel-Genesis yang bersusah payah menambal glitch di Val-Rune. Bagi sang Anomali, seluruh keagungan Dewa Arsitek dan Mesin Logika itu hanyalah susunan program sederhana di dalam sebuah wahana permainan.
"Dewa ini bertindak persis sesuai prediksi," batin sang Anomali dengan senyum santai di balik ketiadaan. "Baguslah. Mari biarkan dia memberikan 'berkah kebangkitan' itu, lalu kita gunakan avatar Ren Vaelen ini untuk melihat sejauh mana Kerajaan Sol-Vane bisa menghiburku."