NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Dalam Cengkeraman Sorot Lampu

Gema tepuk tangan ratusan tamu undangan masih membahana di langit-langit ballroom Hotel Grand Hyatt. Sorotan lampu spotlight yang menyelimuti panggung utama memancarkan pendar keemasan yang hangat, membuat gaun emerald green yang melekat di tubuh Alya tampak makin berkilau dan hidup.

Namun di balik raut wajahnya yang tampak begitu tenang, tegas, dan penuh percaya diri, dada Alya berdebar kencang.

Ia memandangi lautan manusia di hadapannya. Para pengusaha kawakan yang biasanya menatapnya dengan sebelah mata, para istri pejabat yang dulu sering berbisik-bisik di belakang punggungnya, hingga para jurnalis media korporat—semua mata memaku ke arahnya tanpa berkedip. Tidak ada rautan cemooh. Tidak ada tatapan kasihan. Yang terpancar dari wajah-wajah orang di ruangan itu hanyalah decak kagum, rasa hormat, dan ketakjuban yang murni.

Apakah ini sungguh-sungguh terjadi? batin Alya, benaknya masih sulit mencerna perubahan drastis situasi ini.

Di kehidupan pertamanya, Alya adalah sosok yang selalu bersembunyi di balik bayang-bayang. Ia mengingat betapa mengerikkannya perasaan cemas setiap kali harus menghadiri pesta besar. Dulu, ia selalu melangkah dengan bahu membongkok, kepala menunduk, dan terus-terusan menarik ujung pakaiannya untuk menutupi lipatan tubuhnya. Ia selalu merasa bahwa tubuhnya yang berbobot di atas rata-rata adalah sebuah cela besar yang membuat semua orang merasa risih.

Namun malam ini, dengan bobot 70 kg yang masih berisi, ia berdiri tegak di tengah panggung megah. Tanpa perlu menyembunyikan apa pun, orang-orang justru memandangnya bagaikan seorang ratu yang anggun dan berwibawa.

"Alya..."

Suara bergelombang berat dan lembut di sampingnya memecah lamunan Alya.

Alya menoleh pelan. Kai sedang menundukkan kepalanya sedikit ke arah Alya, menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat tulus. Ibu jari Kai mengusap punggung tangan Alya yang masih melingkar di lengannya—sebuah sentuhan hangat yang seketika menyalurkan ketenangan luar biasa ke dalam aliran darah Alya.

"Lihat ke depan, Bu Direktur," bisik Kai pelan, hanya bisa didengar oleh mereka berdua di tengah bisingnya riuh tepuk tangan. "Mereka semua terpukau padamu. Dan mereka memang pantas terpesona."

Alya menatap iris mata kecokelatan Kai, menemukan kejujuran yang begitu bening di sana. "Aku... aku masih merasa ini seperti mimpi, Kai. Aku pikir orang-orang akan berbisik ejekan saat melihatku turun dari tangga tadi."

Kai tertawa kecil—suara tawa yang begitu renyah dan sarat akan rasa bangga. "Ejekan? Alya, kalau ada orang di ruangan ini yang berani mengejekmu malam ini, artinya mata mereka perlu diperiksa. Kamu memancarkan keanggunan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kamu memimpin ruangan ini hanya dengan berlapang dada dan berdiri tegap."

Kata-kata Kai meresap masuk ke dalam relung hati Alya yang paling dalam, menghancurkan sisa-sisa cangkang ketidakpercayaandirinya di masa lalu. Alya menghembuskan napas pelan, mengutuhkan senyuman di bibir merah tuanya, lalu kembali menatap lautan tamu dengan kepala terangkat tinggi.

Di bawah panggung, di barisan depan sebelah kanan, Papa Alya berdiri menyalami Ayah Kai. Kedua pria paruh baya itu tampak mengangguk-angguk bangga menatap panggung.

"Hendra," bisik Ayah Kai seraya menepuk bahu Papa Alya. "Putrimu luar biasa sekali malam ini. Wibawanya benar-benar mengingatkan saya pada almarhumah ibunya saat masih muda. Anggun, tegas, dan sangat cerdas."

Papa Alya mengusap sudut matanya yang agak basah oleh rasa haru yang teramat sangat. "Terima kasih, Pak Aditya. Jujur... saya sendiri hampir tidak mengenali Alya. Beberapa minggu terakhir ini dia berubah drastis. Dia tidak lagi membiarkan orang lain menyudutkannya. Saya bangga sekali punya putri seperti dia."

"Keduanya tampak sangat serasi," tambah Ayah Kai seraya terkekeh pelan. "Lihat saja bagaimana Kai menatap Alya. Saya tidak pernah melihat putra saya sebahagia itu di depan umum."

Sementara itu, tepat di sudut kiri panggung, atmosfer terasa jauh berbeda. Udara di sekitar Rendy dan Siska bagaikan membeku oleh rasa frustrasi dan kepanikan yang membakar.

Siska meremas tas genggam mewahnya hingga kain bahan tas itu berkerut parah. Matanya yang menyala iri menatap tak berkedip pada gaun emerald green yang dikenakan Alya.

"Tidak mungkin..." desis Siska parau, suaranya gemetar menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. "Bagaimana bisa gaun hijau itu kelihatan sangat pas di badannya?! Dulu waktu kita belanja, aku sudah memastikan baju-baju berpotongan lurus cuma bakal bikin badannya kelihatan makin lebar! Siapa yang memilihkan gaun itu buat dia?!"

Rendy yang berdiri di sebelah Siska tidak menjawab. Matanya yang licik terus memaku pada Alya. Ada kilatan rasa tak percaya, kekesalan, namun sekaligus gejolak ketertarikan asing yang mendadak muncul di benak Rendy.

Selama ini, Rendy memandang Alya tak lebih dari sekadar "sapi perah"—seorang cewek gemuk, lugu, dan kaya raya yang gampang dimanfaatkan untuk mengeruk harta keluarganya. Di mata Rendy, Alya adalah sosok yang membosankan dan tidak menarik secara fisik.

Namun malam ini... melihat Alya dalam balutan gaun mahal, berpoleskan riasan berkelas, serta berdiri anggun di samping pria dari kasta tertinggi seperti Kai Aditya... ada rasa kepemilikan yang terusik di dalam diri Rendy.

Cewek itu harusnya bertekuk lutut di bawah kakiku! jerit batin Rendy, rahangnya mengeras. Dia harusnya memohon-mohon perhatianku, bukan tersenyum manis pada Kai Aditya!

"Rend!" senggol Siska keras, menyadarkan Rendy dari lamunannya. "Kamu dengar aku tidak?! Kamu harus melakukan sesuatu sekarang juga! Lihat media di depan sana! Mereka sudah mulai mengambil foto Alya dan Kai! Kalau berita ini naik besok pagi, seluruh relasi bisnis bakal menganggap Alya dan Kai sudah dijodohkan! Posisimu bakal tertutup total!"

Rendy menelan ludahnya, matanya menyempit tajam. "Tenang, Siska. Jangan panik."

"Bagaimana aku tidak panik?!" bisik Siska setengah berteriak, matanya melotot tegang. "Semua skenario kita hancur! Gaun konyol yang aku pilihkan tidak dia pakai! Rencana kamu naik ke panggung bawa bunga juga gagal total karena ada Kai di sampingnya! Mau pakai cara apa lagi kita?!"

Rendy menarik napas panjang, merapikan kembali kerah jas merah marunnya dengan gerakan arogan yang dipaksakan. "Skenario panggung memang gagal. Tapi acara ini belum selesai. Setelah sesi sambutan ini, pasti ada sesi ramah tamah dan berdansa. Di situ kesempatan kita."

"Maksudmu?" tanya Siska tak paham.

"Aku akan mendatangi Alya secara langsung di depan Kai dan Papa Alya," ujar Rendy dengan senyum percaya diri yang kembali terulas di bibirnya. "Aku tahu betul celah emosional Alya. Cewek seperti Alya itu haus akan pengakuan romantis dari pria yang dia sukai. Dia cuma sedang bersikap jual mahal karena ada Kai di dekatnya. Kalau aku menyapanya dengan manis, mengajaknya berdansa di depan semua orang, dan menunjukkan kepedulianku sebagai 'Manajer Operasional baru' yang berdedikasi... dia pasti bakal luluh lagi."

Siska menatap Rendy ragu. "Kamu yakin, Rend? Kamu tidak lihat bagaimana cara Alya menatap kita waktu turun tangga tadi? Tatapannya dingin sekali, seperti..."

"Seperti apa? Seperti musuh?" potong Rendy seraya tertawa meremehkan. "Itu cuma akting, Siska! Cewek gemuk kalau lagi dicintai pria tampan seperti aku memang suka pura-pura jual mahal biar kelihatan berkelas. Percaya sama aku, dalam sekali bisikan manis, aku bisa bikin dia lupa sama Kai Aditya."

Sesi sambutan resmi dan penandatanganan berkas aliansi simbolis di atas panggung akhirnya selesai. Pembawa acara mengumumkan dimulainya sesi ramah tamah, musik orkestra kembali mengalun lembut, dan para tamu mulai menyebar mengelilingi meja-meja hidangan mahal.

Alya dan Kai turun dari panggung, langsung dikerumuni oleh beberapa jajaran direksi senior dan wartawan yang ingin mengambil foto serta mengajukan beberapa pertanyaan bisnis.

Alya menjawab setiap pertanyaan wartawan dengan sangat lugas, menyebutkan proyeksi pertumbuhan perusahaan dan efisiensi rantai pasok dengan bahasa teknis yang begitu matang. Setiap kali Alya berbicara, Kai berdiri tepat di sampingnya, mengangguk-angguk mendukung dan sesekali menimpali dengan argumen yang makin memperkuat posisi Alya.

Para wartawan tampak sangat terkesan. Mereka sibuk mencatat setiap kata dari mulut putri tunggal Hendra Kusuma tersebut.

"Luar biasa sekali pemaparan dari Bu Alya," puji salah seorang wartawan senior dari media bisnis nasional. "Kami tidak menyangka di usia yang masih muda, Bu Alya sudah memiliki visi ekspansi yang begitu tajam."

Alya tersenyum hangat. "Terima kasih. Nusantara Industri Utama dibangun di atas kerja keras ayah saya dan seluruh staf selama 25 tahun. Tugas saya adalah memastikan pondasi ini terus berkembang menyesuaikan zaman."

"Dan tentu saja, dengan dukungan penuh dari PT Aditya Nusantara Abadi," tambah Kai seraya menatap Alya dengan senyuman hangat. "Kami akan memastikan seluruh garis investasi berjalan beriringan dengan visi Bu Alya."

Di tengah suasana yang sangat profesional dan harmonis itu, sebuah suara yang bernada sok akrab mendadak memotong pembicaraan dari arah belakang kerumunan wartawan.

"Wah, luar biasa sekali wawancaranya! Bolehkah saya ikut bergabung?"

Kerumunan wartawan terpisah sedikit. Rendy melangkah masuk ke dalam lingkaran dengan senyuman lebar, membawa dua gelas seloki minuman di tangannya. Siska menyusul di belakangnya dengan raut wajah yang dibuat-buat ramah.

Alya menghentikan kalimatnya. Tatapan matanya yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sedingin es saat melihat sosok Rendy yang mendekat.

Kai yang menyadari perubahan aura Alya langsung bergeser setengah langkah ke depan, secara refleks pasang badan untuk melindungi ruang pribadi Alya.

Rendy mengabaikan aura intimidatif dari Kai. Dengan rasa percaya diri yang kelewat batas, ia menyodorkan salah satu gelas minuman ke arah Alya, menatap Alya dengan pandangan matanya yang bernada PDKT.

"Selamat ya, Al—maksud saya, Bu Alya," ujar Rendy dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, mencoba memanggil nama kecil Alya untuk menunjukkan keakraban di depan media. "Penampilan Anda di panggung tadi benar-benar memukau. Saya sampai tidak bisa berpaling. Sebagai Manajer Operasional baru yang direkomendasikan untuk mendampingi Anda, saya betul-betul bangga melihat kepemimpinan Anda malam ini."

Rendy sengaja menekankan kata "mendampingi Anda" dengan lirikan mata yang sarat akan makna intim, berharap media dan orang-orang di sekitar menyimpulkan bahwa ada hubungan khusus di antara mereka.

Siska ikut menimpali seraya tersenyum manis yang dipaksakan. "Iya, Al! Kamu cantik sekali malam ini! Rendy dari tadi puji-puji kamu terus lho di bawah panggung. Dia sampai bela-belain datang telat cuma buat bawakan minuman kesukaan kamu ini."

Alya tidak menyentuh gelas yang disodorkan Rendy. Tangannya tetap terlipat anggun di depan tubuhnya. Ia menatap Rendy dari atas ke bawah—meneliti jas merah marun pria itu, senyuman tebal penipunya, dan kepalsuan murni yang terpancar dari setiap pori-pori kulitnya.

Rasa mual sempat bergejolak pelan di perut Alya, namun kali ini rasa mual itu kalah jauh oleh rasa dominasi dan kebencian yang dingin.

"Pak Rendy," panggil Alya dengan suara yang tenang, jernih, dan cukup kencang hingga terdengar oleh para wartawan dan direktur di sekeliling mereka.

Rendy menyunggingkan senyum lebih lebar, mengira Alya mulai luluh. "Iya, Alya?"

"Pertama," ujar Alya dingin, mata tajamnya menatap lurus ke dalam iris mata Rendy. "Di depan media dan para kolega bisnis, panggil saya Bu Alya. Jangan memanggil nama kecil saya seolah-olah kita memiliki hubungan pribadi yang dekat. Kita berada di lingkungan profesional."

Senyuman di wajah Rendy seketika membeku. Gelas di tangannya bergetar sedikit. "Al... Bu Alya, saya kan cuma—"

"Kedua," potong Alya tanpa memberi ruang sedikit pun bagi Rendy untuk membela diri. "Tugas Anda sebagai Manajer Operasional masa percobaan adalah memastikan laporan keuangan divisi produksi kuartal ketiga diselesaikan tepat waktu, bukan berkeliaran membawakan minuman dan mengurus penampilan pribadi saya."

Beberapa wartawan di sekitar mereka mulai saling bertukar pandang kaget, berbisik-bisik melihat teguran terbuka dan tegas dari sang calon pemilik perusahaan kepada staf barunya.

Wajah Rendy mendadak merah padam oleh rasa malu yang amat sangat. Ia merasa seperti baru saja ditampar di depan umum.

Sebelum Rendy sempat merangkai kata-kata untuk menyelamatkan mukanya, Kai melangkah maju satu tapak penuh. Postur tubuh Kai yang tinggi tegap sepenuhnya mengintimidasi Rendy yang berbadan lebih pendek.

Kai menatap Rendy dari ketinggian dengan pandangan mata yang sangat dingin dan berwibawa—pandangan seorang pimpinan korporat kelas atas yang menatap seorang bawahan yang tidak tahu sopan santun.

"Pak Rendy, bukan?" suara Kai terdengar pelan, namun berbobot sangat berat. "Saya rasa Bu Alya sudah menyampaikan poinnya dengan sangat jelas. Jika Anda ingin menunjukkan dedikasi sebagai Manajer Operasional, tunjukkan lewat kinerja di kantor besok pagi, bukan dengan mengganggu ruang gerak pimpinan Anda di tengah acara resmi."

Rendy mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya. Gigi-giginya bergemelutuk menahan malu dan amarah yang membakar dada. Ia menatap Kai dengan pandangan penuh dendam, namun aura wibawa Kai yang begitu kuat membuat Rendy tak berkutik sedikit pun.

Siska yang berdiri di samping Rendy ikut pucat pasi, tak berani membuka mulutnya lagi melihat tatapan tajam dari Alya dan Kai.

"Mari, Pak Kai," ajak Alya dengan senyuman anggun yang kembali terulas di bibirnya, berpaling sepenuhnya dari Rendy dan Siska seolah-olah kedua orang itu hanyalah kerikil tak berguna di jalanannya. "Papa dan Ayah Anda sudah menunggu kita di meja utama."

"Tentu, Alya," balas Kai lembut. Kai mengulurkan sikunya, dan Alya melingkarkan tangannya di sana dengan penuh keanggunan.

Mereka berdua melangkah pergi meninggalkan kerumunan, berjalan menuju meja utama dengan disambut anggukan hormat dari para tamu lain.

Rendy berdiri membeku di tengah ballroom, memandangi punggung Alya dan Kai yang makin menjauh. Muka Rendy merah padam, napasnya memburu tegang. Gelas champagne di tangannya diremas begitu kuat hingga hampir pecah.

"Alya..." desis Rendy parau dengan nada penuh kebencian yang pekat. "Kamu pikir kamu sudah menang malam ini? Jangan senang dulu... Aku akan pastikan kamu menyesal sudah mempermalukan aku di depan semua orang!"

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!