NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 20

KLIK.

Suara mekanisme Pump Shotgun di tangan Franklin membentur batas akhir. Kosong. Andika mengocok laras shotgun miliknya, dan hal serupa terjadi—selongsong peluru kaliber 12 di rompi mereka telah habis dieksekusi untuk meratakan belasan penjaga lantai satu.

Tanpa membuang waktu, keduanya melemparkan shotgun kosong itu ke atas lantai marmer yang bersimbah darah. Suara dentang besi berat menggema di dalam hall yang remang. Dari balik pinggang, Andika mencabut pistol kustomnya, sementara Franklin mengokang Combat Pistol miliknya. Tatapan mereka terkunci rapat ke tangga melingkar menuju lantai dua, siap naik dan menyeret Lee Dong keluar dari persembunyiannya.

Namun, sebelum langkah kaki pertama mereka menapak di anak tangga, suara raungan mesin berkaliber besar dan decitan ban yang sangat keras mengejutkan seluruh isi bangunan!

SREEEEEECH! BRAK!

Sebuah SUV Albany Cavalcade ungu gelap menerobos sisa-sisa kayu gerbang depan yang hancur, meluncur melintasi pelataran bawah, dan berhenti melintang tepat di depan Pintu kaca hall utama! Disusul dua unit van Gang Burrito warna senada yang langsung memblokir seluruh akses keluar.

Dari dalam SUV ungu tersebut, keluar seorang pria tinggi berotot mengenakan kaus tanpa lengan, kacamata hitam, dan kain bandana ungu di kepalanya. Di belakangnya, 13 orang anggota geng bersenjata lengkap menyebar cepat dengan senapan serbu dan pistol otomatis.

Mata Franklin membelalak tajam saat mengenali pria berbandana ungu itu. "Lil Zi?!"

Lil Zi adalah salah satu petinggi Ballas—geng wilayah timur yang terkenal rakus. Namun, pergerakan Lil Zi malam ini sama sekali di luar sepengetahuan Kane, pemimpin tertinggi Ballas, maupun para anggota veteran lainnya yang masih setia pada hirarki geng. Lee Dong, dalam kepanikannya yang luar biasa, telah melakukan kesepakatan haram di belakang layar: menawarkan tumpukan uang tunai jutaan dolar dan dukungan persenjataan dari jaringan Ying Long untuk membantu Lil Zi melakukan kudeta terhadap Kane, dengan syarat tunggal—Lil Zi harus menghabisi Franklin dan Andika malam ini!

"Ayy, Franklin! Dunia ini sangat kecil, huh?!" teriak Lil Zi sambil menyeringai licik dari balik kacamata hitamnya, memegang Compact Rifle di tangannya. "Lee Dong memberi tawaran yang terlalu manis untuk dilewatkan! Setelah saya habisi kalian berdua dan mengambil uang Lee Dong, seluruh wilayah Davis dan Little Seoul akan jadi milikku!"

"Dasar anjing pengkhianat!" raung Franklin dari balik pintu hall. "Kau menjual kehormatan gengmu demi uang bos Tionghoa yang sudah sekarat ini?!"

"Di jalanan ini tidak ada kehormatan, Frank! Yang ada cuma uang dan kekuasaan!" jerit Lil Zi murka. "BUNUH MEREKA BERDUA! JANGAN BIARKAN ADA YANG HIDUP!"

RATATATATATATATATAT!

Tiga belas anak buah Lil Zi langsung memuntahkan tembakan membabi buta dari luar pintu glass hall utama! Peluru-peluru berkaliber berat menghantam pilar marmer, menghancurkan dinding, dan memercikkan api serta pecahan semen ke segala arah.

"Rapat ke tembok, Frank! Jangan sampai terekspos!" jerit Andika menembus gemuruh tembakan.

Andika dan Franklin terpaksa melempar tubuh mereka ke balik pilar beton terbesar di sisi kiri dan kanan hall. Situasi berubah menjadi sangat kritis. Jika sebelumnya mereka menghadapi penjaga berjas dengan amunisi shotgun yang melimpah, kini mereka harus berhadapan dengan 14 anggota geng Ballas yang mengurung mereka dari area luar dengan persenjataan otomatis masif—sementara mereka berdua hanya berbekal pistol dan sisa magasin yang makin menipis.

BANG! BANG! BANG!

Franklin mencoba keluar sebentar dari balik pilar, membalas tembakan menggunakan pistolnya. Dua peluru presisi Franklin berhasil mengenai dada salah satu anak buah Lil Zi hingga roboh, namun balasan hujan peluru dari lima senapan serbu sekaligus memaksa Franklin melompat kembali ke balik perlindungan dengan bahu tergores pecahan semen!

"Sial! Mereka menang jumlah dan amunisi, Andika!" teriak Franklin dengan napas memburu, mengelap darah tipis di tangannya. "Pistol kita tidak akan tahan kalau mereka terus menekan masuk!"

Andika merapatkan punggungnya di pilar, napasnya naik turun. Dari balik celah pilar yang terus digerus hujan peluru musuh, ia menyenggol magasin pistolnya yang tersisa dua kotak lagi. Pasukan Lil Zi bergerak sangat rapi dan agresif, memanfaatkan tembakan perlindungan untuk merayap makin dekat ke pintu hall.

RATATATATATAT! BUK! BUK! BUK!

Serpihan beton menampar wajah Andika. Dinding perlindungan mereka mulai terkelupas hancur dihantam ratusan peluru otomatis. Untuk pertama kalinya sejak pertempuran di Little Seoul dimulai, Andika dan Franklin benar-benar dibuat kewalahan, terdesak total di balik pilar sempit tanpa celah untuk melakukan serangan balik yang berarti.

Hujan peluru yang memukulkan serpihan beton dan membakar udara di dalam hall mulai terasa tidak tertahankan. Dinding pilar marmer tempat Andika dan Franklin merapatkan punggung semakin terkikis hancur. Dengan amunisi pistol yang menyusut tajam dan gempuran belasan senapan serbu otomatis dari pasukan Lil Zi, posisi mereka berdua berada di ambang batas kematian.

Franklin mengatupkan rahangnya erat-erat, memegang pistolnya yang tersisa beberapa peluru dengan genggaman gemetar menahan lelah. Di sisinya, Andika mengusap darah yang menetes dari dahi ke pipinya, menyandarkan kepala di beton yang panas akibat gesekan peluru. Untuk pertama kalinya di tengah pertempuran Little Seoul, tidak ada lagi celah untuk menerjang maju. Mereka berdua hanya bisa bersembunyi di balik pilar sempit, menarik napas dalam-dalam, dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika pasukan Lil Zi berhasil menerobos masuk.

"Kalian tidak akan punya jalan keluar, Frank!" jerit Lil Zi dari luar, suaranya menggema penuh kemenangan. "Habisi mereka sekarang! Merapat ke pilar!"

Anak buah Lil Zi bergerak maju secara bersamaan, memanfaatkan tembakan perlindungan untuk memotong jarak. Namun, tepat ketika langkah kaki musuh berada hanya beberapa meter dari pintu hall utama—

DSHUUKK!

Sebuah dentuman rendah berkekuatan tinggi yang sangat khas mengguncang udara dari kejauhan!

CRASH!

Pria Ballas yang memegang senapan serbu paling depan mendadak terlempar ke belakang dengan dada jebol dihantam peluru berkaliber besar! Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, dentuman keras kedua kembali membahana dari atas atap gedung di seberang jalan.

DSHUUKK!

SPLAT!

Anak buah Lil Zi kedua roboh seketika saat peluru penembak jitu menembus kepalanya dari jarak jauh, menyemburkan darah ke kap kendaraan ungu milik mereka!

"SNIPER! ADA PENEMBAK JITU DI ATAS ATAP!" jerit salah seorang anggota Ballas histeris.

Kepanikan massal mendadak melanda pasukan Lil Zi. Satu per satu, dengan jeda ritmis yang sangat presisi dan dingin, peluru sniper kaliber berat mendarat tepat di sasaran. Setiap kali suara DSHUUKK bergema di udara malam, satu anggota Ballas dipastikan tewas di tempat. Tiga... empat... lima orang anak buah Lil Zi tumbang secara beruntun dalam hitungan detik!

"Sembunyi! Sembunyi di balik mobil, bajingan!" teriak Lil Zi panik, melompat tiarap di balik SUV ungu miliknya sambil celingukan mencari arah lintasan peluru di kegelapan malam.

Dari dalam hall, tembakan yang tiba-tiba berhenti membuat Franklin dan Andika saling pandang dengan dahi berkerut. Ketegangan yang membunuh perlahan berganti rasa bingung yang luar biasa. Siapa yang memiliki akurasi tingkat tinggi dan posisi strategis seperti ini di tengah pertempuran mereka?

"Siapa itu, Frank? Penembak jitu dari mana?" bisik Andika menyipitkan mata menatap luar.

"Saya tidak tahu... saya tidak kenal siapa pun di area ini yang—"

Dring... dring... dring...

Ponsel pintar di dalam saku jaket Franklin mendadak berdering nyaring.

Franklin merogoh saku dengan kening berkerut, melihat layar yang menunjukkan panggilan masuk, lalu menyapu tombol hijau ke telinganya.

"Halo?" tekan Franklin dengan suara serak.

Dari balik sambungan telepon, suara pria paruh baya yang sangat akrab, berat, dan dipenuhi nada tenang khas seorang veteran profesional terdengar memecah keheningan.

"Hey yo, kid..." kekeh pria di seberang telepon. "Jika kau punya masalah sebesar ini di tengah kota, kenapa kau tidak menghubungiku, nak? Padahal kau tahu aku akan selalu bersiap membantumu."

Mata Franklin membelalak lebar, rasa terkejut dan lega meledak seketika di dalam dadanya. Pria di seberang telepon itu adalah Michael De Santa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!