Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (23)
Penulis: Linda Lubi
Ia kabur meninggalkan asap. Cling. Tubuhnya menghilang. Abang Kunti sudah berada kembali di atas pohon asam, rumahnya. Lalu menyambung lagi rintihan tangisannya yang sempat tertunda akibat digusur Sutinah tadi. Hiii...hiii...hiii.....
Kalau tinggal di rumah Pak Rudi, ia jangan menunjukkan diri kepada Sutinah dan seisi rumah. Mereka jangan sampai melihat wujudnya. Kalau berwujud, ia nggak bakalan bisa tenang. Setiap saat ia bisa saja digusur Sutinah.
Abang Kunti heran. Ternyata predikat 'The Power Of ART' lebih pantas diberikan kepada Sutinah. Sampai sekarang masih terasa bekas sabetan sapu lidi di tubuhnya. Sakit sekali. Hiii...hiii...hiii.....
Lebih baik Abang Kunti ke rumah Mbak Kunti aja. Kena somasi Mbak Kunti nggak apa-apa deh. Ia butuh istirahat. Butuh teman juga. Ia butuh pemulihan. Manusia yang tak ingin dijumpai Abang Kunti saat ini adalah Sutinah. Menyeramkan baginya.
Tiba-tiba Abang Kunti sudah berada di nakas Mbak Kunti. Ia menggunakan ilmu kekuatan sihirnya tanpa terbang. Ternyata Mbak Kunti sedang tertidur. Kesempatan Abang Kunti untuk rebahan di sebelah Mbak Kunti. Bodo amat. Ia pun memejamkan matanya.
Mbak Kunti bahagia banget. Ia dan Nurdin lagi ngopi di warkop getir milik Nurdin. Salima dan Emak Nurdin lagi pulang kampung. Kok bisa? Ya bisalah namanya cuma mimpi. Cekni, Idris dan 3 karyawan Nurdin yang lain pada kenal dengan Mbak Kunti. Mereka tahu kalau Mbak Kunti, bestie Nurdin.
"Akhirnya kita ngopi lagi, Nur." Mbak Kunti menyeruput kopi dengan perasaan bahagia.
"Kita puasin minum kopi mumpung Mbak Kunti mampir di sini." Wajah Nurdin sumringah.
Lagi asik minum kopi berdua, tiba-tiba Abang Kunti datang. Ia menghampiri Nurdin.
"Nur, sorry ya. Lambreta (lambat). Baru sempat mampir." Abang Kunti langsung duduk di sebelah Nurdin.
"Eh, Abang Kunti. Nggak apa-apa." Nurdin kasih kode pada Idris untuk membuat kopi 1 lagi.
"Emang kamu kenal sama Nurdin?" Mbak Kunti malah dicuekin.
"Dese sapose, Nur? Pancaroba? (Dia siapa, Nur? Pacar?)" Mbak Kunti nggak ngerti bahasa Abang Kunti.
"Pura-pura nggak kenal? Kan kita musuh bebuyutan di luar mimpi." Ternyata Mbak Kunti juga nyadar kalau saat ini ia cuma ketemu Nurdin hanya dalam mimpi.
"Nur, akika lapangan bola. Mawar macarena yang endang (Nur, aku lapar. Mau makan yang enak)." Abang Kunti duduk pakai kipas leher yang ia beli di toko abu-abu.
"Ngomong biasa aja kale....." Mbak Kunti jambak-jambak Abang Kunti.
Nurdin sibuk melerai mereka berdua. Mbak Kunti nggak peduli. Ia masih posisi menjambak Abang Kunti. Suasana warkop jadi ngalur ngidul. Para customer sibuk memvideo-kan perseteruan Mbak Kunti dan Abang Kunti. Nurdin malah engap dijepit tubuh Mbak Kunti dan Abang Kunti. Tau-tau Nurdin jadi gepeng. Begitu melihat Nurdin gepeng, Mbak Kunti berteriak histeris. "Nurrr....."
Mbak Kunti terbangun dari mimpi. Begitu melihat Abang Kunti tidur manja di sebelahnya, Mbak Kunti beneran menjambak-jambak Abang Kunti.
"Ngapain kamu di siniii....." teriak Mbak Kunti.
Abang Kunti terbangun dan kewalahan menghadapi jambakan Mbak Kunti.
"Pliss deh Mbak Kunti. Jangan jambak aku. Sakit tau." Abang Kunti berusaha melepaskan jambakan Mbak Kunti yang seperti kerasukan setan. Memang dia setan.
Dengan perasaan sedih yang bertubi-tubi, Abang Kunti berhasil melepaskan diri dari Mbak Kunti lalu menghilang seketika. Ia pergi dengan luka yang mendalam.