NovelToon NovelToon
Retak Di Antara Kita

Retak Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Priska Heriska

Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.

sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.

dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Tekan yang bulat menjadikan damai

Keesokan harinya aku terbangun bersemangat untuk sekolah. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah jendela seolah ikut merayakan kegembiraanku hari ini. Tanpa menunda waktu, aku langsung melompat dari tempat tidur, membereskan selimut, dan segera bersiap-siap. Seragam sekolah yang rapi melekat pas di badanku. Di cermin, aku melihat pantulan diriku yang tersenyum lebar penuh energi dan siap menghadapi apa pun.

yang ada di depan.

Seperti biasa ibu menyiapkan mangkok- mangkok di grobak bubur dan bapak siap Berdagang mendorong grobak-nya yang perlahan jauh.

Aku dan kakak bersarapan

"Makan yang banyak, Nak, biar belajarnya fokus," ucap ibu lembut, meletakkan sepiring bubur hangat di depanku.

Tangannya yang kasar karena setiap hari mencuci mangkok dan terkena uap panas menyentuh bahuku. Kehangatan itu menjalar, namun sekaligus menghantamku dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

Aku menatap bubur di depanku, lalu beralih ke tangan ibu yang pecah-pecah itu.

di beberapa bagian. Di balik seragam rapi yang kubanggakan tadi, di depan cermin ada peluh bapak yang mendorong gerobak di bawah terik matahari, dan ada sisa lelah ibu yang terbangun sejak sepertiga malam untuk memasak bubur.

Jawabku

"Iya, ibu," jawabku lirih berusaha menyembunyikan getaran di suara.

Aku menyuap bubur itu pelan. Rasanya tetap senikmat biasanya, namun entah kenapa hari ini terasa lebih berat untuk ditelan. Kakak yang duduk di sebelahku tampaknya menyadari perubahanku. Ia menyenggol lenganku pelan, dan menatapan mengkuat seolah berkata.

“Kita harus membalas ini semua nanti.”

Air mataku hampir saja menetes, namun cepat-cepat kuhapus dengan mengalihkan pandangan "aku tidak boleh cengeng."

Selesai sarapan aku dan kakak berpamitan

"Kami berangkat." tanya kakak. Kita keluar rumah bersama, aku menoleh ke jalan tempat bapak berjalan tadi. Sosok gerobaknya sudah tidak terlihat, namun tekadku kini sudah bulat.

sampai nya di sekolah aku masuk kelas duduk membuka tas dan mengambil buku aku mulai membaca buku-buku lagi sebelum ujian dimulai. pikiran ku hanya belajar dan belajar tidak lagi kupikirkan omongan orang-orang dan sahabatku yang membutuhkan ku saat butuh saja itu semua tidak berguna. Suasana kelas pagi itu terasa riuh, namun suara obrolan teman-teman seakan meredup begitu aku mulai fokus pada baris demi baris kalimat di buku bahasa Indonesia. Lembar demi lembar kubalik. Setiap paragraf, ide pokok, dan lain-lain aku mencoba kurekam kuat-kuat di dalam kepala.

Beberapa menit kemudian, kursi di sebelahku bergeser. Itu sebangku yang selalu menceritakan saudara-saudaranya.

"Ehh liat dong catatan kamu aku belum belajar baru sedikit" tanya sebangku

Jawabku

"aku juga mau baca."

Disaat yang tepat bel masuk berbunyi suara kelas yang bising perlahan mulai sunyi. Guru membagikan lembar soal, dan lebaran untuk jawaban memutus rantai lamunanku. Aku menarik napas dalam-dalam, menatap kertas di hadapanku, dan tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, tidak ada rasa cemas yang berlebihan karena aku sudah latihan soal semalam. "Fokusku sepenuhnya murni untuk diriku sendiri."

Selama dua jam ke depan, hanya ada bunyi gesekan pulpen, gemerisik kertas dan bisik-bisik.

"aku liat nomor satu jawaban nya!" tanya teman-teman sambil berbisik-bisik.

Sementara itu aku mengisi setiap barisan jawaban dengan keyakinan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Saat bel tanda ujian berakhir berbunyi, aku mengumpulkan kertasku dengan kepala tegak.

Tiba-tiba sebangku berbicara

"liat nomer 4 apa?"

Namun aku tidak mempedulikannya aku tetap mengumpulkan soal aku langsung membalikkan badan dan berjalan pergi. Langkahku terasa jauh lebih ringan. Aku akhirnya sadar bahwa melepaskan orang-orang beracun bukan berarti aku kalah. Itu artinya aku tahu cara menghargai diriku sendiri. Hari ini, "masa depanku adalah prioritas utama, dan tidak akan kubiarkan siapa pun merebutnya lagi."

Ujian telah usai aku melangkah keluar kelas menuju taman sekolah yang tenang untuk menenangkan pikiran. Angin siang berembus pelan menggoyangkan daun-daun pohon mahoni yang mulai berjatuhan di atas kepalaku. Riuh rendah suara tawa dari koridor sekolah terdengar samar dengan kesunyian yang sengaja kubuat di sudut taman ini.

Aku melihat teman teman lain saling mengobrol, melihat sahabatku yang seperti biasa dengan temannya sementara itu aku hanya duduk melihat nya. rasanya ingin cepat lulus dari SD. Aku menundukkan kepalaku dengan hati yang sedih ini rasanya seperti tak kasat mata di tengah keramaian. sahabatku, sosok yang dulu selalu berbagi tawa bersamaku, kini tampak begitu bahagia dengan dunianya yang baru. Setiap lengkingan tawanya yang menjauh justru menghantam hatiku dengan rasa sepi yang teramat sangat. "Mengapa begitu mudah baginya untuk melangkah maju, sementara aku masih tertinggal di sini," memeluk kenangan lama yang perlahan memudar?

Air mata yang sejak tadi kutahan mulai menggenang, membuat pandanganku mengabur. Aku benci perasaan ini, Aku benci harus berpura-pura kuat dan sibuk mengamati daun gugur hanya untuk menutupi rasa iri yang membakar.

"Enam tahun di sekolah, ini tidak ada kenangan indah yang terukir di hatiku. hanya kesunyian, kesepian dan pohon mahoni ini mengapa akhir ceritanya harus sepi begini? Aku hanya ingin waktu berputar lebih cepat."

Aku ingin melepas seragam ini, melupakan koridor ini, dan pergi jauh ke tempat di mana aku tidak perlu lagi menyaksikan diriku digantikan.

Suara bel kedua berbunyi nyaring. Memecah lamunanku di bawah bayang-bayang pohon mahoni yang setia menemaniku hari-hari yang sunyi di sekolah ini.

aku berjalan menuju kelas dengan langkah berat.

guru pengawas membagikan lembar soal dan berdiri dimeja menatap kami satu persatu dengan pandangan tajam.

Satu per satu soal kubaca dengan teliti. baris-baris pertanyaan yang biasanya terlihat rumit, kini terasa seperti kepingan teka-teki yang siap kusatukan. tanganku bergerak lincah, menggoreskan pena dan mengisi lembar jawaban tanpa ragu. Di tengah riuhnya suara gesekan kertas dan helaan napas berat dari teman-teman di sekitarku, aku justru menemukan ruang sunyi di dalam kepalaku

sebuah ruang di mana semua materi yang kupelajari semalam mengalir lancar tanpa hambatan.

tiba tak di sangka bel berbunyi waktu habis aku meletakkan pena dengan senyum tipis

Yang awalnya terasa sunyi, dan kelabu ini perlahan mulai terang.

"silakan kumpulkan waktu habis silahkan pulang!" tanya guru

Aku keluar kelas Langah kaki ku terasa jauh lebih ringan saat melewati gerbang sekolah.

siang yang biasanya matahari menyengat ini terasa hangat. Sepanjang jalan pulang berjalan kaki keramaian jalan dan suara klakson.

Begitu sampai di rumah, aroma masakan dapur langsung menyambutku. Aku meletakkan tas sekolah di kamar, mengganti seragam, dan bergegas menemui Ibu. Beliau sedang sibuk merapikan meja makan dan menyiapkan sisa bahan jualan untuk besok hari.

"Bagaimana ujian tadi?" tanya ibu lembut

"lancar semua yang kupelajari semalam masuk ke kepala semua." jawabku sambil tersenyum.

Tanpa diminta aku langsung menyapu lantai dapur.Keheningan di sekolah yang kurasakan saat ujian tadi kini berubah menjadi rasa damai yang nyata bersama ibu.

"Bapak belum pulang?"tanya ku

"Bapak sudah pulang. langsung makan dan pergi berkerja lagi." jawab ibu

Aku mengangguk pelan

Ibu mengambilkanku nasi dan lauk

"makanlah."

Aku makan Suapan demi suapan terasa sangat lezat. di rumah hanya dengan ibu

Bapak berkerja, kakak belum pulang sekolah.

1
Gunadi Hudaya
priska, bisa ikuti aku? ada beberapa bagian yg ingin aku review dari novelmu kalo kamu tidak keberatan
Priska: Tentu saja boleh kakak
total 1 replies
Gunadi Hudaya
dulu aku memang pernah menikmati pendidikan di sekolah dasar. tp sdh lama sekali. dan ternyata saat berhadapan dengan keponakanku yg sd juga ga bisa related. sd dulu dan sd sekarang beda sekali
Priska: Benar SD sekarang berbeda, terimakasih kk udah mau mampir 🙏
total 1 replies
Jiayou
semangat ya kak
pokoknya harus Sampek ending
Priska: iya terimakasih kakak udah mampir 🙏
total 1 replies
Bayu Aksa
Berasa nostalgia jaman sekolah dasar 🤭💪semangat terus ya👍
Priska: siap, terimakasih kk
total 1 replies
Dino Prayoga
seruuu😍😍
Priska: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Dino Prayoga
💪
Huang ying308
halo kak , semangat👍
Priska: hai, terimakasih kak
total 1 replies
Pae Karjo
bagus semangat 💪💪
Priska: terimakasih
total 1 replies
jinggaarundari
waduhh, sedih juga ya jadi Riska...
Priska: iya, terimakasih sudah mampir kk
total 1 replies
Huang ying308
💪💪💪 semangat KK ⭐⭐⭐⭐⭐
Priska: terima kasih
total 1 replies
Rahman Ncusbre
yo tetap semangat
Priska: terima kasih
total 1 replies
Novita Wulan Sari
Ceritanya seru dan Emosional banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!