Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Kamuflase
Sampai di mobil, Rea menutup pintunya dengan keras, lalu menangis tersedu di sana.
Gala yang ada di sampingnya hanya mampu menenangkannya, dengan mengusap punggung gadis itu.
Mungkin, bagi sebagian orang respons yang Rea berikan adalah hal yang berlebihan.
Namun, jika dipikir ulang, bukankah wajar jika Rea melakukan hal itu.
Althan Ayahnya, tetapi dia lebih sayang dengan Bella, anak angkatnya. Althan selalu mengedepankan Bella, Bella dan Bella.
Apapun yang Bella inginkan selalu dituruti, sedangkan Rea justru harus menuruti segala keinginan Ayahnya.
Apakah itu adil, tentu saja tidak. Rea juga menginginkan keadilan, bukan pilih kasih seperti ini.
"Sudah, jangan nangis terus," kata Gala setelah dengan setia mendengar tangisan Rea.
Rea membuka tangan yang menutupi wajahnya, lalu beralih memeluk leher Gala, menangis di sana.
"Gue gak suka, Kak. Gue gak suka kayak gini. Kenapa Ayah selalu membela Bella dari pada gue."
Gala menghela nafas, lalu bergerak mengusap kepala Rea. "Kadang, apa yang ada di pikiran kita, gak selalu sesuai dengan apa yang terjadi. Mungkin, menurut lo Ayah itu pilih kasih. Tapi, yang Ayah tau, dia cuma ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya."
Rea melepas pelukannya, lalu mengusap air matanya dengan kasar. "Terbaik apanya sih, Kak? Semua ucapannya tadi sudah jelas kalau Ayah egak menganggap gue anaknya lagi. Anaknya cuma Bella, gak ada yang lain, termasuk gue."
Gala mengangguk mengerti, lalu bergerak mengusap sisa air mata di pipi Rea.
Ia juga melihat luka bekas tancapan kuku di tangan gadis itu, ada empat total luka goresan. Bukan, bukan goresan, karena lukanya cukup dalam dan mengeluarkan darah cukup banyak.
"Obatin dulu."
Gala hendak mengambil kotak obat di belakang, namun Rea menahannya.
"Jalan dulu, jangan di sini."
Gala mengangguk dan menjalankan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah Althan.
Tak lama, mereka sampai di pinggir jalan yang lapang, dan Gala menghentikan mobilnya di sana.
"Kenapa gak pulang dulu aja, sih? Gak usah lah, berhenti di pinggir jalan gini," ucap Rea saat Gala mengambil kotak obat di belakang.
Gala kembali ke posisi semula, lalu menghadapkan dirinya ke arah Rea.
"Keburu rabies. Lo gak lihat, kukunya kayak drakula."
Rea menahan tawa mendengar ucapan Gala yang tanpa filter, memang kuku Bella panjang-panjang dan bercat kuku.
Gala mulai mengambil alkohol dan kapas untuk membersihkan darah yang mengering di tangan Rea.
Rea meringis dan meremas tangan Gala, menahan sakit.
"Tahan."
Gala meniup pelan luka itu, agar sedikit meredakan rasa perihnya.
"Sakit, Kak," ringis Rea seraya menyandarkan kepalanya di pundak Gala, memejamkan mata berusaha mengalihkan rasa sakitnya.
Gala terus mengobati luka itu, meniupnya pelan, dan kemudian membungkusnya dengan kain kasa.
"Sudah."
Gala melepas tangan itu dengan pelan, lalu beralih menatap wajah Rea. Ia mengusap keringat di pelipis gadis itu karena menahan sakit, menggunakan tangannya.
Rea menatap Gala dalam, masih dengan posisi bersandar di pundaknya.
"Katanya mau ke cafe?"
Gala menghela nafas pelan, memasang seatbelt milik Rea dengan benar.
"Niatnya iya, tapi pas mau pergi, malah dengar suara lo teriak."
Gala kembali menjalankan mobilnya, dengan posisi Rea yang tak berubah sama sekali.
"Kesal, lah! Niat mau minta maaf, malah dengar pernyataan kalau Ayah lebih sayang ke dia, dan selalu bela dia. Lagian, faedahnya apa sih? Gue jadi mikir, apa gue yang sebenarnya anak pungut?"
Gala tak menjawab, ia masih fokus ke depan. Posisinya saat ini adalah menjadi sosok pendengar yang baik untuk Rea berkeluh kesah.
"Lo bilang, Ayah sayang gue. Dia hidup dalam ancaman, tapi kenapa gak pernah cerita ke gue?"
Rea menjauh dari Gala, beralih menatap wajah cowok itu dalam.
"Apa lo yang bohong?"
Raut wajah Gala berubah datar, terlebih saat Rea menuduhnya dengan tatapan sinis dan penuh intimidasi.
"Buat apa gue bohong? Biar lo bisa akur sama Ayah? Biar lo maafin beliau?" Gala ikut melirik Rea sinis, meski tatapannya masih fokus ke jalanan.
"Bagi gue, lebih baik jujur meski menyakitkan, dari pada gue mendukung kebohongan."
"Gue tau tentang Ayah. Tentang semua sikapnya ke lo selama ini, tentang ancaman yang Bella dan Papanya berikan, tentang seberapa kuatnya Ayah menutupi semua masalah yang dia punya dari putri kesayangannya."
Rea mengalihkan pandangan ke luar jendela, bullshit!
Bayangan tentang Althan yang berjanji pada Bella bahwa tidak akan menemuinya lagi, bahwa ia lebih sayang pada Bella, bahwa tidak ada anaknya selain Bella, benar-benar masih membekas di benak Rea, dan meninggalkan jejak kesesakan di dalamnya.
Lantas, haruskah Rea percaya pada Gala atas segala ucap tentang kebaikan hati Althan?
"Re, lo dengerin gue. Ayah itu sayang sama lo, cuma caranya yang salah. Gak ada cara lain, selain membuat lo terlihat menderita karena dia. Dari pada melihat lo terluka karena kecerobohannya."
Gala lagi-lagi membuang nafas berat, sulit memang jika diterima dengan akal sehat akan alasan yang Althan berikan, namun memang begitulah kenyataannya.
"Lo boleh marah, boleh kecewa. Tapi--"
"Tapi apa, Kak?! Gue dengar dengan telinga gue sendiri, kalau Ayah gak sayang sama gue! Lo enak di sayang sama Papa dan Ibu lo, sedangkan gue?! Bunda pergi, Ayah gak peduli. Gue harus apa?!"
Berteriak lantang dan menatap Gala dengan sorot penuh luka, matanya tampak berair.
Bertepatan dengan itu, Gala memarkirkan mobilnya di parkiran cafe, tempat dia bekerja.
Ia melepas seatbeltnya, sebelum menatap fokus ke arah Rea.
"Ada gue. Papa sama Ibu gue, juga orang tua lo. Jangan pernah menganggap bahwa lo sendirian. Lo cuma butuh sabar. Akan ada waktunya, Ayah kembali ke lo."
Rea menunduk, menutup wajahnya dengan tangan, dan mulai terisak. Punggungnya bergetar hebat.
Gala dengan segera menariknya, membawanya ke dalam pelukan.
"Ayah selalu melarang gue buat cerita tentang masalah beliau ke lo. Tapi hari ini, gue bakal bilang semuanya ke lo, biar lo tau kalau Ayah itu sayang banget sama lo."
Rea masih sibuk terisak, kini tangannya sudah melingkar di pinggang Gala, sedangkan kepalanya tersebunyi di dada bidang laki-laki itu.
"Seperti yang gue bilang kemarin, Ayah hidup dalam ancaman Bella dan Papa kandungnya."
"Kalau Ayah lebih sayang sama lo, mereka mengancam akan melenyapkan lo dari hidup Ayah. Kalau Ayah mengabaikan Bella, mereka juga mengancam akan membuat lo terluka."
Dari posisinya, Rea menatap Gala yang juga menunduk. Dapat ia lihat dengan matanya yang basah, Gala berucap dengan penuh kejujuran.
"Ayah lemah kalau soal anak perempuannya. Makanya Ayah memilih untuk pura-pura. Sampai akhirnya, beliau menyerahkan lo ke gue, karena gak kuat melihat lo selalu menangis karena sikapnya yang lebih membela anak angkatnya itu."
Rea yang semula sudah berhenti menangis, kini kembali meneteskan air mata. Apa ia tidak mengenal sosok Ayahnya selama ini?
"Sekarang sudah tau, kan? Kenapa Ayah terlihat lebih sayang ke Bella dari pada lo? Itu hanya pura-pura, kamuflase. Nyatanya, Ayah sudah menjadi aktor protagonis terbaik untuk putrinya selama ini, meski putrinya sendiri menganggap beliau adalah tokoh paling antagonis dalam hidupnya."
.
.
To be continue ...