Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi berikutnya, Elara bangun dengan satu tekad yaitu pura-pura sakit.
Ia sudah menyiapkan skenarionya. Ia akan memegang perutnya, mengerang pelan, dan mengklaim bahwa sisa racun Nightshade sedang kambuh. Tabib Istana pasti menyarankan istirahat total, dan Kaisar Lucian yang konon sangat rasional pasti akan membatalkan sesi "konsultasi" pagi ini.
Namun, rencana itu hancur berkeping-keping ketika pintu kamarnya dibuka paksa sebelum matahari bahkan sempat mengintip dari balik tirai.
“Bangun.”
Elara tersentak dari selimut bulu angsanya. Kaisar Lucian berdiri di sana, sudah mengenakan pakaian resmi berwarna hitam dan emas, rambutnya diikat rapi. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan kertas perkamen yang tebalnya setengah lengan Elara.
“Yang Mulia..” Elara menyeka air liur di sudut bibirnya, suaranya serak. “Saya.. Perut saya sakit. Racunnya.. racunnya sedang berdemo di usus saya.”
Kaisar Lucian menatapnya datar. “Tabib Morvan sedang menunggu di ruang luar. Dia membawa jarum suntik berisi cairan yang akan ‘mengeluarkan’ racun itu. Kau mau disuntik, atau mau menjelaskan padaku apa itu ‘manajemen risiko’?”
Elara menelan ludah. Sial. Dia membawa ancaman fisik. Ini pelanggaran HAM.
“Saya pilih menjelaskan,” jawab Elara cepat, langsung melempar selimut dan duduk tegak. “Tapi tolong, beri saya waktu sepuluh menit untuk mencuci muka. Wajah saya bengkak karena kurang tidur, dan itu tidak baik untuk negosiasi.”
***
Sepuluh menit kemudian, Elara sudah duduk di meja makan Paviliun Matahari Terbit, menatap semangkuk bubur ayam dengan tatapan kosong. Di hadapannya, Kaisar Lucian membentangkan peta provinsi selatan beserta laporan pajak yang membuat kepala Elara berdenyut.
“Provinsi selatan menghasilkan gandum dan teh,” ucap Kaisar, menunjuk sebuah titik di peta. “Namun, pendapatan pajak dari daerah itu terus menurun selama lima tahun terakhir. Para petani mengklaim gagal panen, sementara tuan tanah mengklaim mereka tidak punya untung. Menteriku menyarankan untuk menaikkan pajak bagi tuan tanah dan menurunkan pajak bagi petani.”
Elara mengunyah buburnya. Ah, kebijakan populis klasik. Menarik.
“Jika Yang Mulia melakukan itu,” ucap Elara di sela kunyahannya, “dalam dua tahun, tuan tanah akan bangkrut atau memberontak. Dan petani? Mereka akan tetap miskin karena tuan tanah yang bangkrut akan menaikkan harga sewa tanah secara diam-diam untuk menutupi kerugian.”
Kaisar Lucian menyipitkan matanya. “Lalu apa solusi dari ‘desa kuno’-mu itu?”
Elara meletakkan sendoknya. Ia menatap Kaisar. “Yang Mulia, apakah Anda tahu cara memerah susu sapi tanpa membuat sapinya mati kelaparan?”
Kaisar menatapnya seolah-olah Elara baru saja berbicara dalam bahasa alien. “Apa hubungannya sapi dengan pajak provinsi selatan?”
“Banyak,” Elara menghela napas. Ia mengambil tiga buah roti dari nampan sarapan dan menatanya di atas meja. “Anggap roti pertama ini adalah petani. Roti kedua adalah tuan tanah. Dan roti ketiga adalah pedagang sutra dan rempah di ibukota provinsi.”
Elara menunjuk roti pertama. “Saat ini, kerajaan memotong roti pertama secara paksa. Petani sudah tidak punya apa-apa. Jika Anda memeras mereka, mereka akan memberontak. Itu bukan manajemen risiko, itu bunuh diri massal.”
Lalu ia menunjuk roti kedua. “Tuan tanah memang kaya, tapi aset mereka berupa tanah. Jika Anda memajaki tanah terlalu tinggi, mereka akan menyembunyikan hasil panen dan menyogok petugas pajak. Anda butuh biaya lebih besar untuk mengaudit mereka daripada pajak yang Anda dapat.”
Terakhir, Elara menunjuk roti ketiga, yang ukurannya paling kecil tapi dihiasi kismis di atasnya. “Ini adalah pedagang mewah. Mereka tidak menanam gandum. Mereka menjual teh kelas atas, sutra, dan rempah. Margin keuntungan mereka ratusan persen. Orang-orang ini yang punya uang tunai, Yang Mulia.”
Kaisar Lucian menatap ketiga roti itu, lalu menatap Elara. Otak brilian sang Kaisar sedang memproses informasi dengan cepat. “Kau menyarankan aku memajaki barang mewah?”
“Bukan hanya memajaki,” Elara mengoreksi, mode dosen ekonominya mulai keluar tanpa ia sadari. “Berikan insentif pajak untuk tuan tanah yang mau membuka lahan baru atau membangun saluran irigasi. Biarkan mereka sibuk berinvestasi daripada menimbun uang. Lalu, terapkan pajak progresif untuk pedagang mewah. Semakin mahal barang yang mereka jual, semakin tinggi persentase pajak yang mereka bayar. Dan yang paling penting..”
Elara mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Kaisar.
“Buat sistem pencatatan yang terpusat. Jangan biarkan petugas pajak lokal memungut seenaknya. Buat satu standar. Kalau pedagang tahu mereka hanya perlu membayar satu kali dengan angka yang jelas, mereka akan senang. Kalau petani tahu tuan tanah tidak bisa memeras mereka dua kali, mereka akan bekerja lebih giat. Itu namanya Good Corporate Governance.. eh, Tata Kelola Kerajaan yang Baik"
Keheningan menyelimuti meja makan itu.
Nira, yang berdiri di sudut ruangan memegang handuk basah, menahan napas. Ia tidak mengerti setengah dari kata-kata Yang Mulia Elara, tapi ia bisa merasakan aura yang berubah di ruangan itu.