NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Rahasia di Balik Pintu Terkunci

Kesempatan yang Yao tunggu-tunggu datang lebih cepat dari yang ia duga. Gerald harus pergi ke Palermo selama tiga hari untuk urusan bisnis keluarga, meninggalkan mansion dengan pengamanan yang sedikit lebih longgar dari biasanya.

"Aku benci harus meninggalkanmu begitu cepat setelah malam yang luar biasa itu," kata Gerald pagi itu, mengemas beberapa dokumen ke dalam tas kulitnya sambil sesekali melirik Yao yang duduk di tepi ranjang hotel tempat mereka menghabiskan malam sebelumnya. "Bisnis keluarga tidak pernah menunggu siapa pun, bahkan untuk hal-hal yang jauh lebih penting."

"Aku akan baik-baik saja," jawab Yao, tersenyum meski di dalam hatinya ia sudah mulai menyusun rencana untuk memanfaatkan kepergian itu sepenuhnya. "Pergilah. Urus bisnismu. Aku akan menunggu kepulanganmu."

Gerald mencium keningnya sebelum pergi, meninggalkan instruksi pada staf keamanan mansion untuk memperlakukan Yao sebagai tamu kehormatan yang bebas mengakses sebagian besar area properti — sebuah kepercayaan yang, meski tulus dari pihak Gerald, justru menjadi celah sempurna yang telah lama ditunggu Yao.

Ia menghabiskan hari pertama kepergian Gerald mempelajari rutinitas para penjaga mansion, mencatat waktu pergantian jaga, jalur patroli, dan momen-momen ketika perhatian mereka paling longgar. Marco, melalui saluran terenkripsi mereka, berhasil meretas sebagian denah keamanan mansion dari basis data kontraktor yang pernah memasangnya bertahun-tahun lalu — tapi hanya sebagian. "Aku tidak bisa melihat pola kamera di sayap barat," pesannya memperingatkan. "Sistemnya pasti sudah diperbarui setelah kontrak lama itu berakhir. Kau akan bergerak buta di sana, Yao."

Malam kedua, setelah memastikan sebagian besar staf telah beristirahat, ia akhirnya bergerak menuju sayap barat mansion tempat ruang arsip keluarga berada — sebuah ruangan yang menurut informasi Marco jarang dikunjungi siapa pun kecuali Enzo sendiri. Ia menghitung jeda antara dua penjaga yang biasa berpatroli di lorong itu: empat menit tiga puluh detik, cukup singkat untuk membuat telapak tangannya berkeringat.

Sebuah kamera kecil terpasang di sudut langit-langit lorong, lampu merahnya berkedip pelan setiap tiga detik — pola yang sudah ia hafal dari dua malam mengamati dari kejauhan, celah yang menunjukkan sudut pandangnya tidak mencakup penuh area di depan pintu arsip, hanya jika seseorang menempel rapat ke dinding sebelah kiri. Yao bergerak dengan punggung menyusuri dinding itu, napasnya tertahan, menghitung detik dalam kepala.

Kunci pintu arsip ternyata bukan kunci pengait biasa seperti yang ia duga dari laporan lama Marco — melainkan kunci elektronik dengan panel angka kecil yang berkedip menunggu kode. Jantung Yao nyaris berhenti. Ia tidak menyiapkan alat untuk ini. Untung saja, latihan bertahun-tahun dengan Sofia mengajarkannya satu trik terakhir: ia melepas panel penutup kecil di bawah keypad dengan pisau lipatnya, menyambungkan dua kabel yang ia kenali dari pelatihan darurat elektronik dasar yang pernah diajarkan seorang kontak lama di Jenewa. Panel itu berkedip merah, lalu hijau, dengan bunyi klik pelan yang terasa seperti ledakan di telinganya sendiri.

Ia punya waktu, ia memperkirakan, tidak lebih dari sepuluh menit sebelum penjaga berikutnya lewat.

Ruangan itu gelap, dipenuhi rak-rak kayu tua berisi map dan buku besar yang menyimpan sejarah kelam keluarga Moretti. Yao mencari dengan cepat, menggunakan lampu kecil dari ponselnya yang ia redupkan seminimal mungkin, jantungnya berdegup semakin kencang setiap kali ia mendengar derit lantai kayu di atasnya — entah dari staf yang masih terjaga, atau hanya rumah tua yang mengerang karena angin malam. Jarinya gemetar membalik map demi map, matanya terus melirik jam di ponselnya. Delapan menit. Tujuh. Akhirnya ia menemukan map bertuliskan tahun kejadian pembantaian keluarga Conti.

Isinya membuat darahnya membeku.

Sebuah kontrak, ditandatangani oleh Salvatore Moretti dan seseorang bernama "E.B." — inisial yang bisa saja mengarah pada Enzo Bastiani — yang menyebutkan pembayaran besar untuk "penyelesaian masalah Conti" beberapa minggu sebelum pembantaian terjadi.

Tapi ada detail lain yang membuat Yao terpaku: sebuah catatan tangan kecil di sudut kontrak, tertulis dengan tinta yang berbeda, seolah ditambahkan belakangan.

"Conti tahu tentang pengkhianatan E.B. terhadap keluarganya sendiri sebelum kematiannya. F.C. mencoba menghubungi S.M. untuk aliansi melawan E.B., tapi terlambat."

Yao membaca catatan itu berulang kali, mencoba memahami implikasinya. Jika benar, itu berarti ayahnya, Ferdinand Conti, sudah mengetahui pengkhianatan Enzo sebelum kematiannya — dan mencoba mencari aliansi dengan Salvatore Moretti, ayah Gerald, untuk melawannya.

Itu berarti keluarga Moretti mungkin bukan dalang di balik pembantaian itu.

Enzo bertindak sendiri — atau setidaknya, dengan motif yang jauh lebih personal dari sekadar perintah keluarga Moretti.

Yao duduk terpaku sejenak di lantai ruang arsip yang gelap, pikirannya berputar cepat mencoba merekonstruksi ulang seluruh pemahamannya tentang malam pembantaian itu. Selama tujuh belas tahun, ia telah membangun seluruh hidupnya di atas satu keyakinan sederhana: keluarga Moretti adalah musuh, Enzo adalah alat mereka, dan membalas dendam berarti menghancurkan keduanya secara bersamaan. Tapi catatan kecil ini mengguncang fondasi itu sepenuhnya.

Jika Ferdinand benar-benar mencoba mencari aliansi dengan Salvatore Moretti melawan Enzo, itu berarti ada dua kemungkinan yang mengerikan: pertama, bahwa Salvatore menolak aliansi itu dan malah bersekongkol dengan Enzo untuk mengkhianati Ferdinand; atau kedua, jauh lebih rumit, bahwa Enzo bertindak lebih cepat dari keduanya, membunuh Ferdinand sebelum aliansi itu sempat terwujud, demi melindungi rahasianya sendiri dari kedua belah pihak.

Sebelum Yao bisa menganalisis lebih jauh, ia mendengar suara langkah kaki mendekat di lorong luar — lebih cepat dari perkiraannya, jauh lebih cepat. Pola patroli yang ia hafal dua malam terakhir ternyata berubah malam ini, entah kebetulan atau karena kewaspadaan ekstra yang diperintahkan seseorang. Dengan tangan gemetar, ia memfoto dokumen itu secepat mungkin, mengembalikan map ke tempatnya dengan gerakan kasar yang nyaris membuat setumpuk map lain jatuh, dan menyelinap keluar ruangan tepat sebelum lampu lorong menyala penuh.

Ia tidak sempat mengunci kembali panel elektronik itu dengan sempurna — hanya menekan penutupnya kembali dengan cepat, berharap tidak ada yang memeriksanya cukup dekat untuk menyadari bekas congkelan kecil di sudutnya.

"Siapa di sana?" suara seorang penjaga bergema di lorong, lebih dekat dari yang pernah ia dengar sebelumnya.

Yao bersembunyi di balik tirai jendela besar, memaksa tubuhnya menempel serapat mungkin ke dinding, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin bisa terdengar. Cahaya senter penjaga itu menyapu lorong, berhenti sesaat tepat di depan tirai tempat ia bersembunyi — cukup lama untuk membuat Yao yakin permainannya telah berakhir malam ini. Tapi penjaga itu, mungkin lelah, mungkin hanya rutin, akhirnya berjalan melewati ruang arsip, memeriksa pintu yang kini terlihat kembali terkunci sekilas saja, lalu melanjutkan patrolinya tanpa curiga.

Yao menghembuskan napas lega yang tertahan begitu lama hingga dadanya terasa nyeri, tapi pikirannya masih dipenuhi kebingungan dan ketakutan baru. Jika Enzo bertindak sendiri untuk mengkhianati kedua keluarga, apa motifnya? Dan yang lebih penting — apakah Gerald tahu apa pun tentang kebenaran ini?

Ia harus mencari tahu lebih banyak, tapi ia juga sadar bahwa setiap langkah yang ia ambil sekarang membawanya lebih dekat pada bahaya yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan — dan bahwa perubahan pola patroli malam ini mungkin bukan kebetulan. Seseorang, entah siapa, mungkin sudah mulai lebih waspada dari yang ia kira.

Ia tidak berani mengambil risiko kedua malam itu. Rasa penasaran mendorongnya untuk kembali sekali lagi keesokan malamnya, dengan persiapan yang lebih matang, untuk memeriksa satu map lagi — sebuah folder tipis berlabel tahun kelahirannya sendiri. Isinya hanya berupa surat-surat bisnis biasa antara Salvatore dan beberapa mitra dagang, tidak ada yang istimewa, sampai ia menemukan selembar foto terselip di antara halaman-halaman itu: Ferdinand Conti dan Salvatore Moretti berjabat tangan di sebuah pelabuhan, tersenyum seperti dua rekan bisnis yang saling menghormati, jauh dari kesan permusuhan yang selama ini digambarkan dalam ingatan Yao tentang dunia ayahnya.

Ia memfoto gambar itu juga, tangannya gemetar menyadari betapa banyak yang tidak ia ketahui tentang hubungan sesungguhnya antara kedua keluarga sebelum malam pembantaian itu mengubah segalanya.

Kembali ke kamar tamu yang disediakan untuknya, Yao menghabiskan sisa malam itu menganalisis foto dokumen yang berhasil ia ambil, membandingkan tanggal-tanggal dan tanda tangan dengan catatan-catatan yang telah dikumpulkan Marco selama bertahun-tahun investigasi mereka. Semakin ia menggali, semakin jelas bahwa kebenaran di balik malam pembantaian itu jauh lebih rumit dari narasi sederhana yang telah membentuk seluruh hidupnya.

Ia mengirim foto-foto itu pada Marco melalui saluran terenkripsi mereka, menambahkan pesan singkat: Kita perlu bicara segera setelah aku kembali ke Milan. Apa yang kutemukan mengubah segalanya.

Balasan Marco datang cepat, penuh kekhawatiran: Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?

Aku baik-baik saja,* balas Yao. *Tapi aku pikir kita salah tentang siapa musuh sebenarnya selama ini.

Ia tertidur menjelang fajar, pikirannya dipenuhi bayangan ayahnya yang mencoba mencari pertolongan dari orang yang salah, terjebak dalam jaring pengkhianatan yang telah dirancang jauh sebelum malam itu tiba.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!