Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Waktu terus berjalan tanpa henti di tengah kesunyian Danau Beracun.
Arga duduk termenung di atas tanah basah dengan pandangan kosong menatap air ungu di depannya.
Golok kebanggaannya tergeletak begitu saja di lumpur seolah sudah tidak ada harganya lagi.
Pria itu merasa sangat tidak berguna sebagai seorang kepala keluarga karena tidak bisa menyelamatkan nyawa istrinya.
Di sisi lain, Natasya mondar-mandir dengan langkah kecil di pinggir danau.
Gadis kecil itu menggigit jari telunjuknya sambil menatap Bunga Teratai Merah yang mekar di tengah pulau batu.
Otaknya yang cerdas bekerja keras mencari celah dari penjelasan monster purba di depannya.
"Tuan Salamander, bolehkah aku bertanya satu hal penting kepadamu?"
Natasya akhirnya berhenti melangkah dan berteriak memanggil penjaga danau itu.
Salamander raksasa itu sedikit mengangkat kepalanya dari permukaan air yang mendidih.
"Apa lagi yang ingin kau tanyakan, anak manusia yang keras kepala?"
"Waktumu tidak banyak karena matahari akan segera terbit beberapa jam lagi."
"Kamu bilang bunga itu adalah penyerap racun dari seluruh Hutan Larangan."
Natasya menunjuk bunga bercahaya merah itu dengan wajah yang sangat serius.
"Tapi ibuku tidak butuh seluruh tanaman itu untuk menyembuhkan penyakitnya."
"Lalu apa yang sebenarnya kau butuhkan dari bunga suci itu?"
Salamander itu mendengus pelan mengeluarkan sedikit uap hijau dari lubang hidungnya.
"Manusia biasanya selalu mencabut paksa bunga itu beserta akarnya karena keserakahan mereka."
"Tabib di desaku bilang ibuku butuh penawar untuk membersihkan darahnya yang kotor."
Natasya berjalan selangkah lebih dekat ke arah bibir danau tanpa rasa takut.
"Apakah aku benar-benar harus mencabutnya, atau ada bagian lain dari bunga itu yang bisa menyembuhkan ibuku?"
Salamander tua itu terdiam cukup lama mendengar pertanyaan kritis dari anak berusia tujuh tahun tersebut.
Matanya yang kuning menatap Natasya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau ternyata jauh lebih cerdas dari kelihatannya, anak kecil."
"Penyakit demam darah adalah kutukan yang merusak aliran darah dari dalam tubuh."
Salamander itu mulai menjelaskan rahasia yang tidak pernah diketahui oleh manusia manapun.
"Kekuatan penyembuh mutlak dari Bunga Teratai Merah sebenarnya tidak terletak pada akar atau kelopaknya."
Arga yang sedari tadi menunduk lesu tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan cepat.
Pria itu menajamkan pendengarannya meskipun ia tidak mengerti bahasa monster itu sama sekali.
"Apa yang dia katakan padamu, Natasya?"
"Tunggu sebentar, Ayah, Tuan Salamander sedang menjelaskan rahasia bunga itu padaku."
Natasya menjawab ayahnya tanpa menoleh ke belakang agar fokusnya tidak terpecah.
"Lalu di mana letak obat penawarnya, Tuan Salamander?"
"Obat penawarnya ada pada setetes embun suci yang berkumpul tepat di tengah putik bunga tersebut."
Salamander itu menunjuk ke arah pulau batu menggunakan ekornya yang panjang.
"Embun itu adalah sari pati kehidupan yang dihasilkan bunga teratai merah di setiap tengah malam."
Mata Natasya langsung berbinar terang mendengar fakta yang sangat melegakan hati itu.
"Jadi kalau aku hanya mengambil setetes embunnya, bunga itu tidak akan mati kan?"
"Dan racun di danau ini tidak akan meluap keluar menghancurkan desa?"
"Benar sekali, embun itu akan kembali terbentuk di malam berikutnya."
Salamander itu menganggukkan kepalanya yang besar perlahan-lahan.
"Mengambil embunnya tidak akan merusak keseimbangan alam Hutan Larangan sedikitpun."
"Syukurlah, akhirnya kita menemukan cara yang aman."
Natasya bersorak kegirangan sambil melompat-lompat kecil di tempat.
"Ayah, Gaga, kita hanya perlu mengambil setetes embun di tengah bunga itu saja."
Gaga yang sedari tadi bersiaga langsung berdiri dan mengibaskan ekornya.
"Itu berita yang sangat bagus, tapi kita masih punya satu masalah besar yang belum selesai."
Serigala raksasa itu menatap permukaan air ungu yang terus mengeluarkan asap mendesis.
"Air danau ini sangat beracun dan kita tidak punya cara untuk menyeberang ke batu itu."
Gaga mengingatkan Natasya pada realitas pahit yang masih menghalangi jalan mereka.
"Ayahmu juga sudah mengatakan bahwa pohon di sini terlalu besar untuk ditebang menjadi jembatan."
Sorak-sorai Natasya langsung terhenti seketika mendengar ucapan masuk akal dari Gaga.
Gadis kecil itu kembali menatap jarak sejauh dua puluh meter yang memisahkan mereka dari pulau batu.
Air ungu di bawah sana terlihat sangat lapar menunggu siapapun yang berani menyentuhnya.
"Apa kita bisa menggunakan tali tambang milik Ayah untuk dilempar ke batu itu?"
Natasya bergumam pelan memikirkan ide yang melintas di kepalanya.
"Ayah kan punya tali tambang panjang di dalam tasnya."
"Itu ide yang sangat bodoh, Natasya."
Gaga langsung menolak mentah-mentah rencana nekat tersebut.
"Batu itu terlalu licin untuk dijerat tali, dan kalau ayahmu terpeleset saat bergelantungan, dia akan langsung mati meleleh di air."
Arga yang melihat putrinya kembali murung langsung berdiri dan menghampiri Natasya.
"Ada apa lagi, nak?"
"Bukankah kamu tadi bilang kita hanya perlu mengambil embunnya saja?"
"Masalahnya kita tidak bisa menyeberang ke sana, Ayah."
Natasya menunjuk ke arah air beracun itu dengan raut wajah putus asa.
"Gaga bilang tali Ayah tidak akan kuat dan sangat berbahaya kalau Ayah sampai jatuh."
Arga menatap jarak pulau batu itu dengan saksama dan mengukur kemampuannya sendiri.
"Ayah akan mencoba melompat dari dahan pohon terdekat ke batu itu."
Pria kekar itu mulai menggulung lengan bajunya bersiap melakukan tindakan bunuh diri.
"Jangan, Ayah."
Natasya langsung memeluk kaki ayahnya erat-erat untuk menahannya.
"Jaraknya terlalu jauh dan Ayah pasti akan jatuh ke dalam air beracun itu."
Di tengah kepanikan dan kebingungan mereka, Natasya tiba-tiba menoleh ke arah Salamander raksasa itu.
Sebuah ide yang sangat gila dan tidak masuk akal tiba-tiba muncul di kepala kecilnya.
"Tuan Salamander, punggungmu itu sangat panjang dan besar sekali."
Monster purba itu menyipitkan matanya mendengar ucapan gadis kecil itu.
"Lalu apa hubungannya punggungku dengan urusan kalian mengambil embun itu?"
"Jangan bilang kau sedang merencanakan sesuatu yang sangat kurang ajar padaku."
"Tuan Salamander kan tidak terpengaruh oleh racun air danau ini."
Natasya melepaskan pelukannya dari kaki sang ayah dan berjalan mendekati monster itu.
"Maukah kamu membentangkan tubuhmu dari pinggir sini sampai ke pulau batu itu?"
Gaga dan Arga terbelalak kaget mendengar permintaan yang keluar dari mulut Natasya.
Meskipun Arga tidak mengerti bahasa monster, dari gestur putrinya ia tahu Natasya sedang meminta bantuan monster itu.
"Kamu sudah benar-benar gila, Natasya."
Gaga menggeram panik mencoba memperingatkan kecerobohan sahabat kecilnya itu.
"Kau ingin menjadikan punggung mulia penjaga danau sepertiku sebagai jembatan injakan kakimu?"
Salamander raksasa itu menggeram sangat keras hingga udara di sekitar danau bergetar hebat.
Uap hijau menyembur deras dari mulutnya menunjukkan amarah yang mulai terpancing.
"Kumohon Tuan Salamander, ini satu-satunya cara agar ibuku bisa selamat."
Natasya sama sekali tidak bergeming dari posisinya dan menatap mata kuning monster itu dengan penuh permohonan.
"Tuan sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh merusak hutan ini, jadi tolong bantu aku membuktikannya."
Keheningan yang sangat mencekam kembali menyelimuti area danau beracun tersebut.
Monster purba itu menatap tajam ke arah sosok kecil yang berdiri tak gentar di depannya.
Selama ratusan tahun hidupnya, belum pernah ada satu makhluk pun yang berani meminta hal sekonyol ini padanya.
"Hahahaha."
Suara tawa berat yang menggelegar tiba-tiba keluar dari mulut besar salamander tersebut.
Tawa itu terdengar seperti suara bebatuan besar yang saling bergesekan di dasar jurang.
"Nyali anak manusia sepertimu benar-benar patut dipuji, Natasya."
Salamander itu berhenti tertawa dan menatap gadis kecil itu dengan pandangan geli.
"Kau adalah makhluk pertama yang berani memanfaatkan monster Hutan Larangan sebagai alat transportasi."
"Jadi Tuan Salamander mau membantuku?"
Natasya tersenyum sangat lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat jelas.
Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya menyadari permohonannya diterima.
"Hanya untuk malam ini saja aku akan membiarkan kaki kotor manusia menginjak sisikku."
Salamander itu memutar tubuh besarnya perlahan menyampingi bibir danau.
Ia kemudian merentangkan tubuhnya yang panjang membentang dari pinggir tanah hingga ujung ekornya menyentuh pulau batu.
"Jembatannya sudah siap, silakan lewat anak manusia yang aneh."
Monster itu mendengus pelan menahan posisi tubuhnya agar tetap stabil di atas air beracun.
"Tapi ingat, sisikku ini sangat licin jadi kalau kau sampai terpeleset jatuh, itu bukan salahku."
"Terima kasih banyak, Tuan Salamander yang baik hati."
Natasya langsung melepas jaket tebalnya dan menyerahkannya kepada Arga.
"Ayah, pegang ini sebentar, aku akan berjalan mengambil obatnya sekarang."
"Tunggu, Natasya, apa kamu yakin monster ini tidak akan memakanmu?"
Arga menahan lengan putrinya dengan wajah yang pucat pasi karena ketakutan luar biasa.
"Ayah saja yang berjalan ke sana, biarkan Ayah yang mengambil risikonya."
"Tubuh Ayah terlalu berat, Tuan Salamander pasti akan marah kalau Ayah yang menginjaknya."
Natasya melepaskan tangan ayahnya dengan lembut dan memberikan senyuman menenangkan.
"Tolong lemparkan botol bambu kosong dari Tabib Karta itu kepadaku, Ayah."
Arga dengan tangan gemetar merogoh tas kainnya dan mengeluarkan sebuah botol bambu kecil seukuran ibu jari.
Ia menyerahkan botol itu kepada Natasya dengan berat hati.
"Berjanjilah pada Ayah kalau kamu akan berhati-hati melangkah di sana, Natasya."
"Aku janji, Ayah."
Natasya mengambil botol bambu itu dan menggenggamnya erat di tangan kanannya.
Ia berjalan perlahan menuju bibir danau dan bersiap melangkah naik ke atas tubuh monster tersebut.
"Aku akan mengawasi pergerakan monster ini dari sini, Natasya."
Gaga merendahkan tubuhnya dalam posisi siap menerkam di pinggir daratan.
"Kalau dia berani bergerak sedikit saja untuk menjatuhkanmu, aku akan langsung menggigit putus lehernya."
"Jangan galak-galak begitu, Gaga, dia sedang menolong kita."
Natasya tertawa pelan mencoba mencairkan suasana tegang dari sahabat serigalanya itu.
Gadis kecil itu menarik napas panjang lalu menginjakkan kaki kanannya ke atas moncong tebal sang salamander.