Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 06
“Apa ini masih Arjanti yang sama dengan gadis belia berumur 19 tahun itu?” ia bertanya pada pantulan sosok wanita kehilangan binar pada sorot mata yang dulu cerah kini redup, kulit wajah bersih namun tak bercahaya kebahagiaan.
“Kemana perginya gadis belia yang kalau tersenyum mampu menentramkan hati kedua orangtuanya itu?” lanjutnya bermonolog. Suaranya kian parau.
“Lingkaran hitam pada kantung mata ini jelek sekali ya?” sekujur badan mulai gemetaran dan air mata merebak.
Jemari Janti menyusuri kulit wajah, meraba jejak kecantikan alami yang dulu sering dipuji-puji para pemuda satu desa.
Janti mencubit, mencengkram lengan atasnya. “Terus menghilang dimana daging kenyal dulu, kok sekarang terasa tulang dan kulit saja?”
Buliran bening itu ikut menyuarakan isi hatinya. Dua tahun belakangan ini, berat badannya terus menurun. Dari bobot 59 kilogram, tinggi badan 168 sentimeter, termasuk ideal. Kini berat badannya tinggal 48 kilogram saja.
“Rambut berkilau, hitam lebat yang dulu sering menjadi pusat perhatian, dan menimbulkan rasa iri sesama gadis bahkan ibu-ibu, kenapa ikutan menghilang?”
Surai sepundak itu dilepaskan dari ikatan yang mengendur. Dahulu, berkat perawatan ibu yang cermat, rambut Janti tumbuh lebat, sehat, namun sekarang tampak lepek, dan berkurang banyak.
“Empat tahun, bisa dibilang singkat sekaligus lama, dan dalam rentang waktu itu, aku kehilangan sinar bukan karena enggan mempertahankan cahaya, namun terlalu sibuk menjadi lilin menyinari orang lain sampai membiarkan api membakar diri sendiri,” imbuhnya seraya menatap kasihan pada sosok bak bunga layu.
Biarpun kita miskin, makan seadanya, hidup sederhana, tapi satu hal yang harus dipegang teguh, Nak. Jangan pernah memberi kesempatan kepada siapapun untuk merendahkan kita, karena dimata Tuhan, semua orang itu sama derajatnya.
Petuah bapaknya kembali terngiang-ngiang. Badan Arjanti melorot, dia bersimpuh menangisi betapa naif, munafik dirinya.
“Bapak,” rintihnya memanggil pria yang tidak pernah membuatnya kecewa. “Janti kangen.”
Dalam tangis, ia tersenyum saat membayangkan sosok tua, berambut ubanan, kumis tipis, mata kelabu dimakan usia, tubuh kurus, namun ketika tersenyum — terasa tulus, mampu menenangkan jiwa gelisah.
Dug!
Dug!
Ia berbaring di lantai, sebelah tangan meremat dada, satunya lagi memukul marmer keras.
Setelahnya, hanya terdengar suara sesenggukan, badan terguncang pelan karena sedu sedan.
Dari detik berganti menit, Arjanti masih berbaring miring di lantai dingin.
Fisiknya lelah, hati sekarat, dan rasa cinta yang diagungkan mulai terasa berbeda saat pikiran terbuka, logika jalan.
Dering ponsel tersimpan disaku gamis membuyarkan lamunan wanita yang memandang kosong. Ia mengedip, pelan-pelan duduk.
Ponsel keluaran tiga tahun lalu, layarnya retak pada bagian pojok akibat terantuk lantai, dikeluarkan dari dalam saku abaya.
Janti menahan napas, membiarkan nada dering memenuhi ruangan sepi. Nyalinya menciut ketika melihat nama si penelpon bukanlah orang lain, tetapi ibu kandungnya.
“Aku gak boleh nambahin beban pikiran Ibuk sama Bapak.” Cepat-cepat dihapusnya kasar air mata. Menyimpan lagi ponsel ke saku abaya.
Dia harus tenang sebelum kembali menghubungi orang tuanya. Jangan sampai membuat mereka cemas, lalu menduga-duga.
Janti membereskan produk kosmetik berharga standar, biasa dipakai kalangan berhemat pengeluaran demi mengutamakan perut kenyang.
Sesudahnya, wanita berpenampilan acak-acakan itu membongkar 9 pigura.
Sepuluh menit kemudian — gagang koper diseret, tas dijinjing, dan bingkai berbagai ukuran dibiarkan saja, sementara lembaran foto yang besar digulung agar muat di dalam koper.
Arjanti melangkah gontai, dia tidak menoleh ke belakang, dan enggan melirik kamar sudah ditempati 4 tahun itu. Membiarkan tempat tersebut bak kapal pecah.
Mulai hari ini, Janti pindah ke kamar lebih kecil terletak di lantai satu.
***
“Assalamualaikum, Bu. Maaf, tadi Janti diajak Mama beli kue di toko roti perempatan jalan komplek perumahan. Ponselnya tak tinggal di kamar,” sebelum ibunya bertanya, lebih dulu dia menjelaskan dengan berbohong.
“Waalaikumsalam, Nduk. Gapapa, Ibu seneng dengernya kalau kamu selalu akur sama mamanya Herlan,” jawab suara ringan di seberang sana.
Senyum masam Janti menghiasi bibir pucat. Dia baru saja selesai mandi setelah memindahkan barang pribadinya ke dalam lemari kamar lantai satu.
“Gimana gak akur, Bu, Mama orangnya asik, suka bercanda. Ngomong-ngomong, Ibu, Bapak, Tyo, apa kabarnya?” sengaja Janti mengalihkan obrolan.
“Alhamdulillah baik, Nduk. Adikmu belum pulang ngojek. Sebenarnya Ibu kasihan, tapi Tyo keukeuh mau ngebantu bayar kuliah biar gak terlalu membebani kita,” ia bersyukur memiliki putra pengertian, namun disatu sisi merasa gagal memenuhi tanggung jawab sebagai orang tua, sampai pemuda yang seharusnya hanya fokus belajar, ikut mencari nafkah.
“Ya gapapa, Bu, biar Tyo mengerti susahnya cari uang,” tanpa berucap seperti itu, Janti yakin adiknya paham, sebab sedari kecil mereka sudah biasa hidup hemat.
Obrolan ringan berganti dengan pembicaraan serius. Bu Ratri mengutarakan maksudnya menghubungi sang putri.
“Janti, hutang kita ke ibu mertuamu tinggal berapa juta lagi, Nduk?”
“Dua belas kali bayar, totalnya 18 juta, Bu. Kan setiap bulan kita rutin nyicil 1,5 juta,” jelas Janti. “Kenapa, Bu? Ibu sama Bapak lagi butuh uang?”
“Alhamdulillah Allah cukupkan, Nak. Ini Ibu sudah diskusi sama bapakmu, berniat mau minjem ke juragan Daiyan, biar untuk ngelunasi hutang itu. Rasanya kok ya ngeganjel di hati, takut kamu diperlakukan gak baik karena kita punya hutang,” bu Ratri mengungkapkan kegelisahan.
“Nduk, kamu beneran bahagia kan di sana? Kenapa sudah satu tahun lebih gak pulang ke desa? Padahal jarak kita cuma 2 jam perjalanan, apa ada sesuatu yang Janti sembunyikan dari kami?” ia mencecar putrinya.
Arjanti menggigit kuat-kuat bibirnya. Ia menatap plafon, menghalau laju air mata. Sebelum menjawab, terlebih dahulu menelan ludah supaya suaranya tenang.
“Janti bahagia disini, Bu. Mama, Papa, mas Herlan, memanjakanku. Apa-apa gak boleh, cuma disuruh bernapas saja. Suamiku lagi sibuk di toko bangunan, Janti gak tega ninggalin dia,” ucapnya sembari memejamkan mata, dan air matanya lolos.
“Kamu ini ya jangan keterlaluan! Walaupun disayang, tetep sadar diri. Namanya hati orang siapa yang tau, bisa berubah sewaktu-waktu. Alhamdulillah kalau mereka baiknya awet, Ibu jadi tenang,” suara bu Ratri terdengar bahagia.
“Iya, Bu.”
“Terus menurutmu, baiknya Ibu pinjam uang ke juragan Daiyan apa gak usah ya, Nduk?” bu Ratri membutuhkan saran dari putri yang selalu membantunya meski telah menikah.
“Jangan lah, Bu. Takutnya nanti dikenakan bunga, malah kita susah melunasi. Kasihan Tyo kalau sampai biaya kuliahnya terganggu, terus —”
Bu Ratri menyela cepat. “Juragan Daiyan itu anti makan uang riba. Banyak temen Ibu sesama pekerja pemetik daun teh yang pinjem ke Beliau, gak ada satupun yang dimintai uang lebih selain yang wajib dibayarkan.”
Meskipun begitu, Janti masih ragu. Sementara dirinya tidak bisa berbuat banyak kalau semisal ibu dan bapaknya tersandung masalah uang, karena selama ini ....
.
.
Bersambung.
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti