NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*

Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.

Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.

Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.

Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...

Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Penyamaran Sang Kaisar

Debu vulkanik perlahan turun, menutupi kawah yang telah berubah menjadi lautan mayat.

Pertempuran besar itu akhirnya berakhir. Tidak ada lagi raungan naga bercahaya ataupun jeritan para Dewa Kuno. Yang tersisa hanyalah darah emas, pecahan zirah, dan tulang-belulang yang berserakan di atas tanah hitam Alam Primordial.

Lin Xuan berdiri di tengah kawah sambil mengatur napas.

Dari luar, tubuhnya tampak seperti manusia biasa. Namun di balik kulitnya, setiap bagian tubuh terus menghasilkan tenaga tanpa henti.

Ia telah mencapai Tungku Daging Kesepuluh yang tidak ia bayangankan sebelum nya.

Hun Yuan melayang turun dari udara dan berdiri di sampingnya.

“Tubuhmu kini mampu menekan ruang hanya dengan kekuatan tubuh, Tuanku.”

Lin Xuan tidak menjawab.

Tatapannya justru menembus lembah dan berhenti pada sebuah tebing yang diselimuti badai abu.

“Ada seseorang yang mengawasi kita.”

Pupil ganda Hun Yuan menyipit.

Persepsinya segera menyapu tebing tersebut. Di balik celah ruang yang begitu tipis hingga hampir tidak terlihat, tersembunyi sesosok bayangan.

Makhluk itu tidak sebesar monster-monster tulang yang mereka hadapi sebelumnya. Tubuhnya menyerupai manusia, dibalut jubah compang-camping yang terbuat dari kulit bintang mati. Sepasang rongga matanya menyala merah.

Seorang mata-mata Ras Tulang atau Iblis Kuno.

Begitu menyadari keberadaannya telah diketahui, makhluk itu langsung merobek ruang dan melarikan diri.

“Berani sekali tikus itu mengintipmu,” ujar Hun Yuan. “Biarkan hamba mengejarnya.”

“Tidak perlu.”

Lin Xuan mengangkat tangannya.

Hun Yuan menghentikan langkahnya.

“Jika ia kembali untuk melaporkan keberadaan kita, biarkan saja.”

Lin Xuan berjalan menuju sisa zirah Jenderal Dewa Kuno yang berserakan di tanah.

“Biarkan mereka tahu bahwa seseorang telah membantai pasukan para dewa. Kabar itu akan membuat kedua pihak semakin curiga.”

Ia memandang jutaan mayat yang memenuhi lembah.

“Pertempuran tadi mungkin hanya perang kecil di wilayah perbatasan. Namun seorang jenderal di tempat seperti ini sudah memiliki kekuatan yang sangat kuat.”

Tatapan Lin Xuan menjadi semakin dalam.

“Jika kita terus bertarung tanpa memahami alam ini, cepat atau lambat kita akan menarik perhatian makhluk yang belum mampu kita hadapi.”

Hun Yuan mengangguk. “Lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Kita membutuhkan mata dan telinga.”

Lin Xuan mengambil sebuah pecahan zirah emas dari tanah.

“Untuk memahami alam sebesar ini, kekuatan saja tidak cukup. Kita harus mengetahui siapa yang menguasainya, seberapa kuat mereka, dan di mana bahan-bahan alkimia langka dapat ditemukan.”

Senyum tipis muncul di wajah Hun Yuan.

“Jadi kita akan menyusup ke wilayah Ras ras itu?”

“Benar.”

Lin Xuan berjongkok dan mengangkat telapak tangannya.

Sisa Inti api Hun Yuan yaitu Api Primordial Kekosongan perlahan muncul.

Api hitam itu tidak membakar pecahan zirah. Sebaliknya, logam suci tersebut mulai meleleh di bawah nyalanya dan ditempa kembali sedikit demi sedikit.

Dalam waktu singkat, pecahan zirah itu berubah menjadi sebuah lencana emas serta jubah perang putih yang dihiasi ukiran bintang.

Lin Xuan mengenakan jubah tersebut lalu menyematkan lencana di dadanya.

Setelah itu, ia mengubah aliran Qi di dalam tubuhnya.

Aura manusia perlahan lenyap.

Sebagai gantinya, muncul tekanan emas yang menyerupai seorang Dewa Kuno.

Bahkan aura tubuhnya berubah begitu sempurna hingga sulit menemukan sedikit pun jejak manusia dari alam bawah.

“Bagaimana dengan hamba?”

“Kau tetap berada di dalam bayanganku.”

Lin Xuan menatap Hun Yuan.

“Jangan keluar kecuali aku memanggilmu atau nyawaku benar-benar terancam. Aura ketiadaanmu terlalu mudah membongkar penyamaran ini.”

“Seperti kehendakmu.”

Hun Yuan berubah menjadi kabut hitam dan putih sebelum kembali ke dalam bayangan Lin Xuan.

Setelah memastikan penyamarannya sempurna, Lin Xuan meninggalkan Dataran Kematian Zhentian.

Tiga hari kemudian.

Setelah melewati badai abu dan gurun vulkanik yang seolah tidak berujung, pemandangan di hadapan Lin Xuan perlahan berubah.

Langit ungu yang suram berganti menjadi langit keemasan yang dipenuhi cahaya suci.

Di ujung cakrawala berdiri sebuah kota raksasa.

Kemegahannya bahkan membuat Istana Dewa Sembilan Benua tampak sederhana.

Itulah salah satu Kota Suci Perbatasan milik Ras Dewa Kuno.

Kota tersebut tidak berdiri di atas tanah. Ia melayang di langit dan ditopang pilar-pilar cahaya sebesar gunung. Temboknya terbuat dari kristal bintang yang berkilauan, sementara puluhan pulau kecil mengelilinginya sebagai benteng penjaga.

Tekanan langit dan bumi di sekitar kota begitu berat hingga makhluk biasa mungkin akan hancur hanya dengan mendekatinya.

Namun bagi Lin Xuan, tekanan itu tidak lebih dari hembusan angin lembut.

Ia berjalan melewati jembatan cahaya menuju gerbang kota.

Gerbang raksasa yang terbuat dari tulang naga bercahaya menjulang di hadapannya. Dua barisan Ksatria Emas berdiri menjaga pintu, sementara sebuah patung dewa bersayap enam di belakang mereka terus mengawasi setiap pendatang.

Begitu Lin Xuan mendekat, kedua barisan ksatria menyilangkan tombak.

“Berhenti!”

Seorang kapten bermata tiga melangkah maju.

“Ini Gerbang Suci Tianyu. Sebutkan asal-usulmu dan tunjukkan lencanamu.”

Patung bersayap enam di belakangnya mulai bersinar.

Lin Xuan tetap tenang. Ia sengaja memasang wajah lelah sebelum melemparkan lencana emas ke tangan sang kapten.

“Dataran Zhentian telah diserang.” Suaranya terdengar berat dan dingin. “Pasukan Ketiga Belas telah musnah. Aku membawa kabar penting untuk Penguasa Kota.”

Kapten itu menunduk dan memeriksa lencana di tangannya.

Cahaya emas murni mengalir dari permukaannya.

Wajahnya seketika berubah. “Pasukan Ketiga Belas... musnah?”

“Jika kau masih ingin berdiri di sini dan terus bertanya, silakan.”

Tatapan Lin Xuan menjadi tajam.

“Namun jika kabar ini terlambat sampai kepada Penguasa Kota, jutaan nyawa mungkin akan berada di tanganmu.”

Sang kapten terdiam.

Ia merasakan aura murni dari lencana tersebut dan tidak lagi berani mempertanyakan identitas Lin Xuan.

“Buka gerbang!”

Suara sang kapten menggema.

Gerbang raksasa perlahan terbuka.

Lin Xuan melangkah masuk dengan tenang.

Tidak seorang pun menyadari bahwa sosok yang baru saja mereka izinkan masuk ke Kota Suci Tianyu bukanlah seorang Dewa Kuno, melainkan manusia dari alam bawah yang baru saja membantai pasukan mereka sendiri.

1
Raju
jossssss
Raju
alankah terjadi perang besar dan menghancurkan kota atau awal dri sebuah aliansi ??
Raju
lin xuan sang kaisar obat jadi pegawai dadakan ....😁😁
Celestial Quill: hahahah, mungkin cape jadi kaisar terus😄
total 1 replies
Raju
hm... lin xuan... keanya serba bisa ni org... dri kultivator, pemusnah massal, pembuat drama terbaik, hingga jadi tukang bengkel pun bisa keanya ...🤣🤣🤣
Celestial Quill: hahaha😄😄
total 1 replies
Raju
poin yg q kumpulkan selama ribuan tahun Meluncur Thor....!! 😁😁
Raju
ternyata pendatang lbih ganas dri pada penunggu....🤣🤣🤣
Raju
perebutan kristal dimulai...
Raju
vote meluncur buat karyamu Thor...!!
Celestial Quill: Terimakasih, semoga karya baru dapat menghibur. Selamat membaca
total 1 replies
Green Boy
Mantap Thor
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!