Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
.
.
Alena berjalan menuju ruang kerja Nathan dengan tablet di tangannya. Langkahnya tenang dan pikirannya hanya tertuju pada pekerjaan. Sama sekali tidak menggubris apa pun yang sedang ramai dibicarakan orang di luar sana.
Sesampainya di depan pintu, Alena mengetuk dua kali.
Tok.
Tok.
"Masuk." Terdengar suara sahutan dari Nathan di dalam sana.
Alena membuka pintu kemudian melangkah masuk. Terlihat olehnya Nathan yang sedang berdiri di dekat jendela dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Tampaknya pria itu baru saja selesai menerima panggilan telepon ketika Alena datang.
"Anda memanggil saya?"
Nathan berbalik. Matanya langsung tertuju pada Alena.
"Hum. Duduklah."
Alena menarik kursi di hadapan meja kerja Nathan lalu duduk dengan posisi tegak. Tablet yang dibawanya diletakkan di atas meja.
"Ada yang perlu saya siapkan?"
Nathan tidak langsung menjawab. Pria itu justru berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah dokumen kemudian duduk di kursinya.
"Besok pagi ada pertemuan lanjutan dengan pihak Vantage. Aku ingin seluruh materi presentasi proyek sudah selesai sebelum sore ini."
"Baik." Alena segera membuka tabletnya. “Untuk materi presentasi, apakah saya menggunakan proposal yang kemarin?"
"Gunakan yang terbaru. Bagian proyeksi keuntungan dan rencana ekspansi harus diperbarui. Dan aku ingin kamu ikut dalam pertemuan itu.”
"Saya?” tanya Alena yang spontan mengangkat wajahnya.
Nathan menatapnya datar. "Tentu saja. Proyek dari Vantage Internasional kita tetapkan karena kerja keras kamu. Jadi kamu yang harus mengawasinya sampai akhir. Apa kamu keberatan?"
"Tidak. Saya hanya ingin memastikan karena biasanya yang menghadiri pertemuan seperti itu adalah jajaran direksi."
"Justru karena kamu yang menangani negosiasi awal dengan Vantage, kamu harus ikut."
"Baik. Saya akan menyiapkan semuanya." jawab Alena mengangguk tegas.
Nathan masih menatapnya. Wajah gadis ini terlihat biasa saja. Sama sekali tidak terlihat kalau dia baru saja mengalami perundungan media sosial. Tidak mungkin kan dia belum melihat berita itu? Karena penasaran akhirnya Nathan bertanya, "Kamu sudah melihat berita pagi ini?"
Gerakan jari Alena yang sedang mengetik di tablet berhenti. Beberapa detik gadis itu hanya diam sambil menatap ke arah Nathan. "Sudah."
Nathan mengamati perubahan kecil pada wajahnya. Tetapi sama sekali tidak ada perubahan. Ekspresi gadis itu masih sama seperti semula saat pertama kali masuk ke dalam ruangannya. "Lalu bagaimana?"
"Ya tidak bagaimana bagaimana," jawab Alana santai. “Memangnya harus bagaimana?”
Nathan menatap wajah gadis itu dengan mata menyipit. "Kamu tidak marah atau sedih?"
Tapi gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Untuk apa? Toh saya tidak melakukan apa yang mereka katakan."
Nathan membuang nafas kecewa. Bukan jawaban seperti itu yang ia bayangkan saat tadi memanggil Alena. Tadinya ia pikir Alena akan merasa terpukul atau setidaknya syok lalu meminta bantuan padanya. Lalu dirinya akan tampil sebagai superhero yang menyelamatkan sang Putri.
“Lalu bagaimana dengan Anda?" Alena mengangkat wajahnya menatap ke arah Nathan. "Apa Anda mempercayai berita itu?”
"Kalau aku percaya pada semua yang ditulis orang di internet, menurutmu aku masih akan mempertahankanmu sebagai asistenku?"
Alena menatap pria itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Terima kasih atas kepercayaannya," ucapnya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Suasana terasa hening, Nathan menyandarkan punggungnya pada kursi. Kedua matanya menatap ke arah Alena yang kembali sibuk dengan tabletnya. Senyum tipis seketika tersungging di sudut bibirnya. Inilah gadis yang ia sukai. Gadis yang begitu tegar dan kuat. Gadis yang sama sekali tidak bisa ditindas.
"Tapi mereka sudah membuat masalah denganku,”ucap pria itu tiba-tiba. “Aku pasti akan menemukan mereka dan memberikan pelajaran yang setimpal yang tak pernah mereka bayangkan."
Nathan mengambil ponselnya yang berada di atas meja, kemudian mengetikkan sebuah pesan dan mengirimkannya kepada orang kepercayaannya.
"Tapi kamu jangan salah paham."
Alena yang sedang memperhatikan tabletnya seketika mengangkat wajah mendengar suara Nathan. Sementara Nathan yang sedang diperhatikan pura-pura kembali membuka dokumen di hadapannya.
"Aku mempertahankanmu bukan karena kasihan. Tapi karena aku tidak mau rugi jika harus membayar penalti sepuluh milyar."
Alena mendengus kesal. Apa tidak bisa, bosnya itu berbicara yang menyenangkan sedikit saja? Memangnya siapa juga yang minta dikasihani? Enggan membalas kata-kata Nathan yang pasti akan punya seribu satu cara untuk membalas, dan balasannya pasti akan membuat naik darah, Alena lebih memilih menyibukkan kembali dirinya dengan tablet di tangannya.
Sama sekali tidak ada jawaban dari Alena, membuat Nathan meliriknya sekilas. Tampak olehnya gadis itu bekerja dengan wajah tenang. “Kenapa dia sama sekali tidak merespon?” gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba Alena mengangkat wajahnya membuat Nathan yang sedang memandangi nya sedikit gelagapan.
“Apa masih ada lagi yang ingin Anda perintahkan? Kalau tidak saya akan kembali ke ruangan saya. Masih banyak yang harus saya kerjakan."
"Ya pergi saja sana.” Nathan yang masih sedikit gugup berpura-pura membetulkan dasinya. "Siapa yang menyuruhmu duduk diam di situ? Kamu mau makan gaji buta?”
Alena mengetatkan rahangnya hingga gigi-giginya saling beradu. Berada di dekat Nathan benar-benar membutuhkan kesabaran tingkat dewa. Gadis itu memejamkan mata rapat dan mengambil napas dalam mencoba mempertahankan kesabaran, kemudian segera berdiri.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan,” ucapnya sambil menundukkan kepala sedikit dengan senyum yang dipaksakan.
“Satu lagi!"
Baru saja Alena akan membuka pintu, suara Nathan membuatnya menghentikan langkah. “Ya, Tuan?"
"Kalau ada wartawan atau pihak luar yang menghubungimu mengenai rumor itu, jangan memberikan pernyataan apapun. Karena semua pertanyaan yang berkaitan dengan perusahaan akan ditangani bagian humas."
Raut kesal di wajah Alena seketika pudar.
"Baik, Tuan. Terima kasih,” ucapnya sambil tersenyum manis. "Sebenarnya Tuan Nathan tidak seburuk itu. Beliau termasuk bos yang baik,” gumamnya dalam hati.
"Aku tidak suka melihat asistenku kehilangan konsentrasi hanya karena hal sepele. Karena itu akan membuatku rugi karena sudah membayarmu mahal."
"Ralat.” Gigi Alena kembali saling beradu. “Dia itu bos yang gak punya peri- keasistenan.”
“Baik, Tuan."
Alena keluar sambil menghentakkan kakinya kesal.
Begitu pintu tertutup rapat, Nathan tertawa tergelak sampai wajahnya menghadap ke atas. “Dia itu imut sekali kalau lagi kesal.”
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣