Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 34
Bab 34 — Kebohongan yang Disebut Cinta
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan dari dalam kapsul terdengar semakin jelas.
Clara berdiri membeku.
Tatapannya tidak pernah lepas dari kapsul yang berada di ujung ruangan.
Lampu merah berkedip di seluruh ruangan.
Alarm berbunyi tanpa henti.
Namun bagi Clara, semua suara itu seolah menghilang.
Yang tersisa hanya satu pertanyaan.
Siapa C-00?
Dan kenapa suara itu mengenalnya?
Clara perlahan menoleh kepada Amara.
“Mami tahu.”
Amara tidak menjawab.
“Mami pasti tahu.”
“Clara…”
“Jangan.”
Suara Clara bergetar.
“Jangan panggil aku seperti itu seolah semuanya masih sama.”
Amara menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak ada yang berubah tentang perasaanku kepadamu.”
“Perasaan?”
Clara tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar pahit.
“Setelah semua yang aku dengar, Mami masih mau bicara tentang perasaan?”
Amara menundukkan kepala.
“Aku melakukan semuanya untuk melindungimu.”
“Melindungiku?”
Clara menunjuk kapsul-kapsul di belakangnya.
“Ini yang Mami sebut melindungi?”
Amara diam.
“Kalian memasukkan anak-anak ke dalam tempat seperti ini.”
“Tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Clara melangkah mendekat.
“Jelaskan kepadaku.”
Amara menghela napas.
“E-17 awalnya bukan proyek untuk mengendalikan manusia.”
Clara mengerutkan kening.
“Lalu apa?”
“Penelitian tentang ingatan.”
Rafael menyela,
“Amara…”
“Biarkan aku bicara.”
Amara menatap Rafael.
“Kali ini aku akan menjelaskan semuanya.”
Kemudian ia kembali menatap Clara.
“E-17 dimulai dari satu pertanyaan sederhana.”
“Apa?”
“Apakah ingatan seseorang dapat dipindahkan tanpa menghancurkan kepribadiannya?”
Clara terdiam.
Amara melanjutkan.
“Awalnya penelitian itu hanya dilakukan pada simulasi.”
“Lalu?”
“Lalu mereka mulai menggunakan manusia.”
Clara mengepalkan tangan.
“Dan Mami membiarkan itu terjadi?”
“Tidak.”
Jawaban Amara terdengar tegas.
“Aku menentangnya.”
“Kalau begitu kenapa Mami ada di sini?”
“Karena aku mencoba menghentikannya dari dalam.”
Clara menggeleng.
“Tidak masuk akal.”
“Karena aku tidak bisa memberitahumu.”
“Kenapa?”
“Karena seseorang mengawasi kami.”
Clara terdiam.
Amara menatapnya.
“Setiap orang yang mencoba membocorkan E-17 akan diburu.”
“Termasuk Mami?”
“Termasuk aku.”
“Dan karena itu Mami menghapus ingatanku?”
Amara tidak menjawab.
Clara langsung tahu jawabannya.
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Jadi benar.”
Amara menatapnya.
“Benar apa?”
“Mami memang menghapus ingatanku.”
“Clara…”
“Jawab!”
Suara Clara menggema di ruangan.
“Mami yang menghapus ingatanku?”
Amara akhirnya mengangguk.
“Ya.”
Clara terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian ia bertanya dengan suara lebih pelan.
“Kenapa?”
Amara mendekat.
“Karena saat itu kau sudah mengetahui terlalu banyak.”
“Aku masih anak kecil.”
“Aku tahu.”
“Lalu bagaimana aku bisa mengetahui sesuatu sebesar ini?”
Amara memejamkan mata.
“Karena kau melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah kau lihat.”
Clara menatapnya.
“Apa?”
Amara belum sempat menjawab ketika suara dari kapsul kembali terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Clara menoleh.
F-01 berdiri beberapa meter darinya.
“Dia sudah sadar.”
Clara menatapnya.
“C-00?”
F-01 mengangguk.
Fedro langsung bertanya,
“Siapa dia sebenarnya?”
F-01 menatap kapsul itu.
“Orang pertama yang mereka ciptakan.”
Clara mengerutkan kening.
“Bukankah kau F-01?”
“Ya.”
“Jadi kenapa C-00 disebut sebagai subjek pertama?”
F-01 diam.
Rafael menjawab,
“Karena C-00 bukan bagian dari kelompok yang sama.”
Clara menatap Rafael.
“Jelaskan.”
“C-00 adalah prototipe.”
“Prototipe?”
Amara mengangguk.
“Dia adalah dasar dari seluruh E-17.”
Clara kembali menatap kapsul.
“Dan kenapa dia mengenalku?”
Tidak ada jawaban.
Clara menatap Amara.
“Mami.”
Amara menghela napas.
“Karena kau pernah berada di sana.”
“Di dalam kapsul?”
“Bukan.”
Amara menatap putrinya.
“Di ruangan C-00.”
Clara membeku.
Ingatan samar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Ruangan putih.
Lampu terang.
Suara seseorang menangis.
Seorang anak laki-laki berdiri di balik kaca.
Dan dirinya sendiri…
berdiri di depan kaca itu.
Clara memegang kepalanya.
“Aku…”
Fedro langsung mendekat.
“Clara?”
“Aku pernah melihatnya.”
Amara memejamkan mata.
“Ya.”
Clara menatap ibunya dengan tatapan penuh luka.
“Mami tahu.”
“Ya.”
“Mami tahu aku akan mengingatnya suatu hari nanti.”
“Ya.”
“Dan Mami tetap membiarkanku hidup dalam kebohongan?”
Air mata Amara jatuh.
“Karena aku ingin kau memiliki kehidupan.”
Clara menggeleng.
“Bukan kehidupan.”
Ia menunjuk kepalanya sendiri.
“Ini kebohongan.”
Amara menahan tangis.
“Kalau aku mengatakan semuanya waktu itu, kau tidak akan selamat.”
Clara terdiam.
“Maksud Mami?”
“Orang-orang yang mengendalikan E-17 akan mencarimu.”
“Dan sekarang?”
Amara menatap sekeliling.
“Sekarang mereka sudah menemukanmu.”
Hening.
Clara menatap layar.
E-17 — MEMORY RESTORATION.
PHASE ONE: ACTIVE.
Kemudian sebuah tulisan baru muncul.
C-00 CONNECTION DETECTED.
Clara menahan napas.
Raka langsung terdengar melalui alat komunikasi.
“Clara, aku tidak bisa menghentikannya!”
“Raka, coba matikan sistem utama.”
“Aku sudah mencoba!”
“Berapa lama sebelum proses berikutnya?”
“Dua menit.”
Clara menatap Amara.
“Dua menit untuk apa?”
Amara menjawab dengan suara pelan.
“Untuk membuka ingatan kalian.”
“Kalau begitu biarkan.”
Amara menggeleng.
“Tidak.”
Clara terkejut.
“Apa?”
“Kau tidak boleh melihat semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena ada ingatan yang tidak seharusnya dibuka.”
Clara menatap ibunya dengan marah.
“Sekali lagi Mami mencoba menentukan apa yang boleh aku ketahui?”
“Clara, dengarkan aku.”
“Tidak!”
Clara mundur.
“Seumur hidupku Mami mengambil keputusan untukku.”
“Aku ibumu.”
“Justru itu!”
Clara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku mempercayai Mami.”
Amara terdiam.
“Aku percaya ketika Mami bilang semuanya baik-baik saja.”
Clara menunjuk dirinya sendiri.
“Aku percaya ketika Mami bilang masa kecilku normal.”
Suaranya mulai bergetar.
“Aku percaya ketika Mami bilang semua mimpi buruk yang aku alami hanyalah mimpi.”
Amara menangis.
“Ternyata semuanya benar.”
Clara menggeleng.
“Bukan mimpi.”
Ia menatap kapsul.
“Itu ingatan.”
Amara tidak mampu menjawab.
Clara berjalan mendekatinya.
“Yang paling menyakitkan bukan E-17.”
Amara mengangkat wajah.
“Lalu apa?”
“Bahwa setiap kali aku bertanya tentang masa laluku…”
Clara berhenti di depan Amara.
“…Mami berbohong.”
Amara menangis tanpa suara.
“Aku takut kehilanganmu.”
Clara terdiam.
“Aku sudah kehilanganmu sekali.”
“Maksudnya?”
“Ketika ingatanmu dihapus, kau masih hidup.”
Amara menyentuh dadanya.
“Tapi rasanya seperti kehilangan anakku.”
Clara memalingkan wajah.
“Jangan gunakan itu untuk membenarkan semuanya.”
“Aku tidak sedang membenarkan diri.”
“Lalu apa?”
“Aku sedang meminta kesempatan untuk menjelaskan.”
Clara menatapnya.
“Kesempatan?”
Amara mengangguk.
“Ya.”
“Setelah semua kebohongan?”
“Ya.”
Clara diam cukup lama.
Kemudian ia berkata,
“Kalau begitu jawab satu pertanyaan.”
“Apa?”
“Siapa ayah kandung C-00?”
Amara langsung membeku.
Rafael menatapnya.
Fedro juga memperhatikan perubahan wajah Amara.
Clara menyadarinya.
“Mami tahu.”
Amara menggeleng.
“Clara…”
“Jawab.”
Amara menatap lantai.
“Tidak semua hal harus kau ketahui sekarang.”
Clara tertawa pahit.
“Jadi masih ada rahasia?”
Rafael akhirnya berkata,
“Amara, cukup.”
Amara menoleh kepadanya.
“Jangan.”
Rafael terdiam.
Clara memandang keduanya.
“Aku sudah mengerti.”
“Clara…”
“Kalian masih menyembunyikan sesuatu.”
F-01 tiba-tiba berkata,
“Bukan hanya satu.”
Clara menatapnya.
“Apa maksudmu?”
F-01 berjalan mendekat.
“Amara tidak pernah memberitahumu siapa yang membiayai E-17.”
Clara menatap Amara.
“Siapa?”
Amara diam.
F-01 melanjutkan,
“Dan Rafael tidak pernah memberitahumu kenapa dia bisa mengakses tempat ini.”
Clara menoleh kepada Rafael.
Rafael tidak berkata apa-apa.
Clara mulai memahami sesuatu.
“Kalian semua terlibat.”
Rafael menggeleng.
“Tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Kalimat itu lagi.”
Clara menatap mereka satu per satu.
“Kenapa tidak ada satu pun dari kalian yang mau mengatakan kebenaran?”
Amara menjawab,
“Karena kebenaran itu bisa membunuh lebih banyak orang daripada kebohongan.”
Clara menggeleng.
“Tidak.”
Ia menggenggam tangan Fedro.
“Yang menghancurkan kami bukan kebenaran.”
Clara menatap Amara.
“Yang menghancurkan kami adalah ketika orang yang kami percaya memilih berbohong.”
Fedro berdiri di sampingnya.
“Aku setuju.”
Amara menatap mereka.
Kemudian terdengar suara keras.
BRAK!
Salah satu kapsul terbuka.
Cairan di dalamnya mulai mengalir keluar.
Seorang subjek terbangun.
Kemudian kapsul kedua.
Ketiga.
Keempat.
Alarm semakin keras.
Raka berteriak,
“Clara! Sistem sudah masuk fase kedua!”
“Berapa lama?”
“Empat puluh detik!”
Clara menatap layar.
PHASE TWO — MEMORY SYNCHRONIZATION.
F-01 langsung berubah tegang.
“Tidak.”
“Apa?”
“Kalau fase kedua dimulai, semua subjek akan terhubung.”
Clara menatapnya.
“Dan apa yang terjadi?”
“Ingatan mereka akan saling terbuka.”
Fedro mengerutkan kening.
“Termasuk ingatan Clara?”
“Ya.”
Amara langsung maju.
“Kita harus menghentikannya.”
Clara menatap ibunya.
“Bagaimana?”
Amara menunjuk panel di tengah ruangan.
“C-01 harus memutus koneksi.”
Clara mendekati panel.
“Sendirian?”
“Tidak.”
Amara menatap Fedro.
“C-01 dan F-09 harus melakukannya bersama.”
Fedro berdiri di sisi Clara.
“Kalau kita gagal?”
Amara terdiam.
Clara menatapnya.
“Jawab.”
“Semua ingatan akan terbuka sekaligus.”
“Dan?”
“Kalian mungkin tidak bisa membedakan mana ingatan asli dan mana yang ditanamkan.”
Clara terdiam.
Fedro menatapnya.
“Kita tetap lakukan.”
Clara mengangguk.
“Ya.”
Mereka menempelkan tangan pada panel.
BIP.
ACCESS DENIED.
Fedro mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Amara menatap layar.
“Karena masih ada satu orang yang belum terhubung.”
Clara menatapnya.
“Siapa?”
Amara tidak menjawab.
F-01 melihat ke arah kapsul terakhir.
Kapsul yang sejak tadi mengetuk.
Tok.
Tok.
Tok.
F-01 berbisik,
“C-00.”
Tiba-tiba kaca kapsul retak.
KRAK!
Clara mundur.
Retakan menyebar ke seluruh permukaan.
Amara berteriak,
“Semua menjauh!”
Clara menatap kapsul itu.
Retakannya semakin banyak.
Kemudian…
pecah.
Kaca berjatuhan ke lantai.
Uap putih memenuhi ruangan.
Siluet seorang anak berdiri di tengah kabut.
Clara menahan napas.
Sosok itu perlahan berjalan keluar.
Seorang anak laki-laki.
Usianya terlihat sekitar sepuluh tahun.
Wajahnya pucat.
Namun matanya sangat tenang.
Ia menatap semua orang.
Kemudian tatapannya berhenti pada Clara.
“Clara.”
Clara tidak bisa bergerak.
Anak itu tersenyum.
“Aku menunggumu.”
Clara menelan ludah.
“Siapa kamu?”
Anak itu tidak menjawab.
Ia justru menatap Amara.
“Mama.”
Amara membeku.
Clara langsung menoleh.
“Mama?”
Anak itu tersenyum kepada Amara.
“Bukankah begitu?”
Wajah Amara kehilangan warna.
Clara menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Mami…”
Amara tidak mampu berkata-kata.
Clara mundur perlahan.
“Dia memanggil Mami…”
Anak itu menatap Clara.
“Kau juga pernah memanggilnya Mama.”
Clara membeku.
“Apa?”
Anak itu tersenyum.
“Dulu.”
Amara langsung berteriak,
“Jangan dengarkan dia!”
Clara menatap ibunya.
“Kenapa?”
“Karena dia akan membuatmu percaya pada sesuatu yang tidak benar.”
Anak itu tertawa kecil.
“Masih sama.”
Amara gemetar.
“C-00…”
Anak itu menatapnya.
“Aku tidak suka nama itu.”
“Lalu siapa namamu?”
Anak itu menatap Clara.
“Kau yang memberiku nama.”
Clara membeku.
“Aku?”
Anak itu mengangguk.
“Ya.”
Kemudian layar utama tiba-tiba menyala.
ORIGINAL MEMORY RECOVERED.
FILE: C-00 / C-01.
Clara menatap layar.
Muncul rekaman masa lalu.
Seorang anak perempuan kecil berdiri di samping seorang anak laki-laki.
Anak perempuan itu tersenyum.
Kemudian suaranya terdengar dari rekaman.
“Aku akan memberimu nama.”
Clara menutup mulut.
Itu suaranya.
Suara Clara ketika masih kecil.
Rekaman berlanjut.
“Aku akan memanggilmu…”
Layar berkedip.
Nama itu muncul.
NOAH.
Clara membeku.
Anak laki-laki di hadapannya tersenyum.
“Akhirnya kau ingat.”
Fedro menatap Clara.
“Clara…”
Namun Clara tidak mendengar.
Air matanya jatuh.
Satu nama terus bergema di kepalanya.
Noah.
C-00.
Anak yang pernah ia kenal.
Anak yang pernah ia beri nama.
Dan seseorang yang ternyata mengenalnya jauh sebelum Fedro hadir dalam hidupnya.
Clara menatap Amara.
“Mami…”
Amara menangis.
“Maafkan Mami.”
Clara menggeleng.
“Bukan itu yang ingin kutanyakan.”
Ia menunjuk Noah.
“Kenapa Mami membuatku melupakannya?”
Amara tidak menjawab.
Clara mendekat.
“Kenapa?”
Amara akhirnya berbisik,
“Karena dulu…”
Ia menatap Noah.
“…kau memilih menyelamatkannya.”
Clara membeku.
“Dari siapa?”
Amara menatap layar.
Kemudian suara lain terdengar dari speaker.
Suara Dr. Vincent.
“Dari kami.”
Clara menoleh ke kamera.
Vincent tertawa kecil.
“Selamat datang kembali, C-01.”
Kemudian seluruh pintu ruangan terkunci.
CLANG!
Lampu berubah merah.
Raka berteriak melalui komunikasi.
“Clara! Ada orang yang mengambil alih sistem!”
Clara menatap Noah.
Noah justru tersenyum.
“Dia sudah datang.”
“Siapa?”
Noah menatap pintu.
“Orang yang selama ini membuat kalian takut.”
Pintu utama perlahan terbuka.
Dan di baliknya…
berdiri seseorang yang seharusnya tidak mungkin berada di sana.
Clara menahan napas.
Amara langsung berbisik,
“Tidak…”
Fedro menatap sosok itu.
“Siapa dia?”
Amara menjawab dengan suara gemetar,
“Pencipta E-17.”
Bersambung…