NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:97.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelang Pengaman

“Itu siapa?” tanya Gilang, membuyarkan lamunan Kania.

Tadi dia sempat melihat isi tas pemuda itu yang berserakan di lantai. Semua adalah alat pertahanan diri. Namun, ada satu benda yang membuat Gilang curiga, yakni pisau lipat.

“Dia teman sekelasku, namanya Aden,” jawab Kania sambil terus melihat Aden yang semakin menjauh.

“Dia ngapain bawa alat-alat kayak gitu?” tanya Gilang dengan bingung.

“Sebenarnya Aden itu sering dibully sama teman sekelasku juga, namanya Andro. Mungkin dia beli alat itu untuk membela diri.”

“Tapi kenapa ada pisau lipat segala?”

Kania hanya mengangkat kedua bahunya. Pikirannya sedikit terusik melihat gelagat mencurigakan Aden. Namun, gadis itu segera menepis pikiran buruknya. Dia yakin bahwa Aden bukanlah seseorang yang jahat.

Gilang langsung melajukan motornya begitu Kania duduk di belakangnya. Dia menarik tangan gadis itu lalu melingkarkannya ke pinggangnya.

“Pegangan, nanti jatuh,” ujar Gilang sambil tersenyum.

“Modus,” gumam Kania pelan. Namun, dia tidak melepaskan pelukannya dari pinggang Gilang.

Motor milik Gilang terus melaju. Sesekali dia menyalip kendaraan di depannya yang berjalan lambat. Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan kediaman Salma.

Gilang turun dari motor, lalu membantu Kania melepaskan helmnya. “Besok kamu berangkat jam berapa?” tanya Gilang.

“Aku dijemput jam enam. Kenapa?” jawab Kania seraya mengembalikan helm kepada Gilang.

“Besok Abang mau kasih sesuatu buat kamu. Jangan berangkat dulu sebelum Abang datang. Ngerti?”

“Mau kasih apa? Kenapa nggak sekarang aja?”

“Barangnya ketinggalan di rumah. Besok sebelum kamu berangkat, Abang udah di sini. Awas, jangan pergi sebelum Abang datang!”

Kania hanya mengangguk. Gilang mengusap puncak kepala Kania dengan lembut sebelum menaiki motornya lagi. Pria itu membunyikan klakson saat meninggalkan kediaman Salma.

Setelah Gilang tidak terlihat, barulah Kania masuk ke dalam rumah.

***

“Nia! Ayo berangkat,” ajak Salsa.

Sesuai janji, Salsa menjemput Kania setelah menjemput Debby dan Lala.

Setelah memasukkan tas ke dalam bagasi, Kania belum masuk ke mobil. Dia masih menunggu Gilang. Kemarin, pria itu mewanti-wanti agar menunggunya sebelum berangkat. Ada yang ingin diberikan pria itu kepadanya.

“Bentar, aku lagi nunggu Bang Gilang,” jawab Kania sambil mencoba menghubungi Gilang.

“Gilang siapa sih? Ayo, Nia. Nanti kita kesiangan sampai di Jakartanya,” desak Salsa.

“Bentar, Sal. Kayaknya Bang Gilang masih di jalan.”

Salsa hanya bisa mengembuskan napas kesal melihat Kania yang begitu keras kepala.

Hampir sepuluh menit berlalu, tetapi Gilang belum juga tiba.

“Nia, ayo! Mau nunggu sampai kapan sih? Udah siang, nih!” seru Salsa dengan kesal.

“Sebentar lagi,” jawab Kania. Gadis itu benar-benar tidak mau pergi sebelum Gilang datang.

Dari kejauhan, Kania melihat motor Gilang mendekat. Wajah gadis itu langsung berseri-seri. Dia langsung mendekat begitu Gilang menghentikan motornya.

“Maaf, Abang telat. Tadi ban motor bocor. Terpaksa dorong dulu sampai ke bengkel. Kamu udah mau berangkat?”

“Iya, Bang,” jawab Kania dengan wajah cemberut.

“Jangan ngambek, dong. Hari apes, kan, nggak ada di kalender.”

Gilang mengeluarkan sebuah gelang dari saku celananya, lalu memakaikannya ke pergelangan tangan Kania.

“Gelang ini jangan sampai lepas atau hilang. Di dalamnya ada GPS yang bisa memberitahu lokasi kamu. Kalau ada sesuatu, Abang bisa cari kamu.”

Perasaan Kania menghangat saat mendapatkan perhatian yang begitu besar dari Gilang. Gadis itu memandangi gelang yang terbuat dari perak tersebut.

“Makasih, ya, Bang.”

“Ingat pesan Abang. Jangan pergi sendirian.”

“Iya, Bang. Kalau gitu, aku pergi dulu, ya.”

Kania bergegas menuju mobil. Namun, belum sempat membuka pintu, Kania kembali kepada Gilang. Gadis itu mencium punggung tangan Gilang, baru kemudian masuk ke dalam mobil.

Untuk sesaat Gilang hanya terpaku. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan Kania barusan. Lamunan Gilang terhenti saat mendengar suara Kania.

“Daah, Bang Gilang!” seru Kania sambil melambaikan tangannya. Gilang membalas lambaian tangan Kania sambil tersenyum.

Setelah mobil yang ditumpangi Kania tidak terlihat lagi, Gilang mengendarai motornya kembali ke kantor.

Sesampainya di kantor, dia langsung masuk ke dalam bus. Di sana sudah ada Leya dan Giana.

“Cerah amat tuh muka. Lagi senang, ya?” tanya Giana.

“Eh … menurut kalian, kalau ada cewek pas mau pergi, terus dia cium punggung tangan cowok yang antar dia, maksudnya apa?” tanya Gilang. Pikirannya sedari tadi berkelana memikirkan apa alasan Kania mencium punggung tangannya.

“Emang siapa yang cium punggung tangan kamu?” todong Giana langsung. “Kania, ya?”

“Iya, hehehe ….” Wajah Gilang tampak sumringah saat menjawab pertanyaan Giana.

“Kalau menurut gue, tuh cewek cium punggung tangan lo karena ….”

Leya sengaja menjeda ucapannya dan berhasil membuat Gilang tak sabaran. “Karena apa?”

“Karena dia anggap lo kakeknya, hahaha!”

Wajah Gilang langsung berubah masam mendengar jawaban Leya. Harusnya dia tidak perlu bertanya kepada dua gadis plenger ini. Pasti jawaban yang mereka berikan di luar prediksi BMKG.

Sementara itu, Kania tengah diberondong pertanyaan oleh ketiga temannya tentang Gilang. Apalagi interaksi gadis itu sebelum pergi sangat menarik perhatian mereka.

“Yang tadi siapa, Ni?” tanya Lala.

“Bang Gilang,” jawab Kania sambil melihat gelang pemberian Gilang.

“Aku nggak tanya namanya. Aku tanya, dia itu siapa kamu?” tanya Lala lebih memperjelas pertanyaannya.

“Dia teman almarhumah kakakku. Setelah kakakku pergi, aku jadi dekat dengannya.”

“Jadi kakak ketemu gede nih judulnya?” goda Debby.

“Apaan sih?” tanya Kania dengan wajah bersemu merah. “Aku cuma anggap Bang Gilang kakak aja, nggak lebih.”

“Masa? Nggak mau naik status jadi pacar?” goda Salsa.

“Ganteng lho, Ni. Nggak malu-maluin kalau dibawa kondangan,” sambung Debby sambil terkikik.

“Kalau kamu nggak mau, buat aku aja,” sahut Lala.

Kania hanya menggeleng melihat ketiga temannya yang terus menggoda. Gadis itu memilih memakai earphone untuk mendengarkan lagu kesukaannya.

Dalam waktu singkat, suara ketiga temannya sudah berganti dengan suara boyband Cortis.

***

Pukul sepuluh lewat lima menit, Kania dan ketiga temannya sudah tiba di Dermaga Marina. Di sana sudah tersedia private boat yang dipesan Andro.

Salsa segera mengajak Kania dan yang lainnya naik ke kapal cepat tersebut.

“Ini semua Andro yang sediain?” tanya Lala.

“Iya. Katanya ini persembahan spesial buat Kania,” jawab Salsa sambil melirik Kania.

“Buat aku?” tanya Kania dengan bingung.

“Iya. Sebenarnya, Andro mau nembak kamu pas di sana. Ya ampun, aku jadi keceplosan gini,” ujar Salsa sambil menutup mulutnya.

Andro memang mengatakan kepada Salsa bahwa pria itu akan mengungkapkan perasaannya kepada Kania. Rasa suka Andro kepada Kania memang sudah menjadi rahasia umum di kelas.

Mendengar itu, Salsa bersedia membantu. Sebagai imbalannya, Andro akan menyediakan vila beserta fasilitas lainnya untuk mereka berlibur.

Tanpa gadis itu tahu bahwa Andro menyimpan niat jahat di hatinya terhadap Kania.

“Kalau Andro nembak kamu, bakal diterima, nggak?” tanya Lala sambil menaik-turunkan alisnya.

“Aku nggak suka sama Andro,” jawab Kania cepat. “Aku nggak suka sama sifatnya yang sombong dan suka meremehkan orang.”

Semua mengiyakan apa yang dikatakan Kania, termasuk Salsa. Andro memang terkenal arogan dan suka bersikap semaunya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Salah satu orang yang kerap dibuat menderita dan dipermalukan adalah Aden.

“Aku sih, nggak peduli kamu nolak atau terima dia. Yang penting kita bisa liburan gratis. Betul, nggak?” tanya Salsa, yang langsung disetujui oleh Lala dan Debby.

Dua jam kemudian, mereka tiba di Pulau Macan. Sesuai janji Andro, sudah ada pegawai vila yang menyambut kedatangan Kania dan teman-temannya.

Dua orang pegawai vila membawakan tas mereka, sementara yang satu memandu jalan menuju vila.

Ketiganya dibuat kagum begitu tiba di vila milik keluarga Andro. Vila ini besar, luas, dan terlihat begitu mewah. Barang-barang yang berada di dalamnya juga sangat mahal.

“Keluarganya Andro sering berlibur ke sini?” tanya Salsa penasaran.

“Kalau Bapak malah nggak pernah liburan di sini. Dia juga melarang keluarganya berlibur di sini. Vila ini hanya disewakan untuk orang aja,” terang salah satu pegawai. “Kamar kalian ada di lantai atas,” lanjutnya sambil menaiki tangga.

Kania membuka pintu kamar yang diperuntukkan untuknya. Kamarnya begitu luas dan pemandangannya langsung menghadap ke pantai.

Saat Kania sedang membereskan barang-barangnya, sudut matanya menangkap sesuatu yang berkelebat di depan kamarnya.

***

Apa tuh🫣

1
Sari Hastuti
wah²
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
yuupp mencurigakan sekali 😂
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
nahhh kek nya yg patut di curigai Viona deh...... knp ujug² mengklaim LAKSONO SUPPLY milik kita🤔....
biarpun dia itu istrinya ....sapa tau dia ingin menguasai harta suaminya....dan juga polis asuransi jiwa yang sangat besar.....kan selama ini dia selalu berselisih paham dgn adik iparnya Khalisa .... hubungannya gk baik....bisa aja setelah semua di miliki di kuasai dia akan usir Khalisa 😔
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Pintar juga pelakunya. Mobil pun di hilangkan 🤔
tehNci
Asyik...mari kita menebak-nebak, siapakah sebenarnya yg menginginkan kematian Gian? Istrinya? adik kandungnya? atau ada aorangnlain? Semakin menarik dengan penampilan sikap Viona dan Khalisa yg sungguh sangat bertolak belakang.
tehNci
Naah jadi bimbang nih. Sekarang aku pindah haluan..Khalisa dalang pembunuhan Gian? ah...ntahlah..
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Duh Astro baik" aja kan 🥺
tehNci
Jauh dari dugaan..Khalisa sangat judes dan hati² banget.... tambahnyakin kalo pelakunya adalah Viona
Teti Usmayanti
blm bisa membuktikan khalisa itu pelakunya karena blm ada bukti yg akurat dan saksi. msh abu abu euy.. pelaku pembunuh Gian.
Ayuk Witanto
sepertinya begituu
Ayuk Witanto
patut di curigai...mobilnya Gian juga hilang
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Apa Gian dibunuh oleh selingkuhan istrinya 🤔
Ani
yang mencurigakan belum tentu pelakunya mak...
Euis Sri
tapi kayaknya tetap Viona,.dia berusaha menutupinya dgn bersikap seakan lebih peduli atas menghilang nya Gian,. menurutku 🤭 ada udang di balik terigu,..peyeek 😅✌️
Febri Nayu
khalisa pantas di curigai
Khey Rachmat
fix ini mah si khalisa ..di segala berbulu dobma
Febri Nayu
kok iso ngerti lek Gian duwe vila dan sedang ada disana
secara logika haruse duduk wong adoh seh pelakune
dewi rofiqoh
Siapa ya yang tega bunuh gian? Apa motif ya?
Safitri Agus
masih belum tau🤔
Safitri Agus
coba tanya ke istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!